
Seorang pria berseragam SMA, ikut turun dari mobil dan membantu temannya, saat ingin memukul tubuh Vano, dengan santai Vano menendang telak kakinya dan ia langsung tersungkur ke aspal, pria itu terpekik. Tak mau meladeni mereka, Vano meninggalkan dua orang Pria yang sedang kesakitan itu, kakak tiri Isabella yang tangannya di pelintir kebelakang oleh vano, menjerit kesakitan. Satu temannya kena tendang kakinya yang juga meringis.
Vano masuk kedalam mobil, Pak Yanto melajukan mobilnya meninggalkan sekolahan favorit itu.
"Bell, apa benar pria tadi itu kakak tiri mu?! tanya Vano.
"Iya! Bella mengangguk
"Bella, maaf kalau aku dan kak Vano terlalu ikut campur masalah kehidupan mu."
"Tidak apa-apa Van, justru aku berterima kasih pada kalian berdua, saudara kembar yang kompak. Tapi.., pasti kak Jimi akan memukuli lagi bila aku pulang kerumah!"
"Untuk sementara kau boleh tinggal di rumah ku, dan berangkat sekolah bersama"
"Tapi, bagaimana dengan kelurga mu, kedua orang tua kalian apa tidak keberatan?!
"Mommy dan Daddy ku sangat baik, pasti kau diijinkan tinggal dirumah ku."
"Baiklah, sampai ibuku pulang dari luar kota aku setuju tinggal disini. Sebenarnya aku juga takut pulang kerumah, kak jimi dan Tina selalu membangunkan aku tidur, dan menyuruh aku masak malam-malam kalau mereka lapar, kalau aku tidak mau, pasti di pukuli." ucap Isabella sambil mengusap airmatanya yang terlanjur jatuh. Vana mengusap bahunya.
"DAKK! Vano menggeprak dashboard di depan nya, yang terduduk disamping Pak Yanto.
"Kakak! ada apa? tanya Vana kaget.
"Kakak paling tidak suka laki-laki yang kasar pada wanita, main pukul seenaknya." ucap Vano geram.
"Bell, kau harus berani ceritakan semuanya pada ibumu, agar kau tidak ditindas." kata Vana.
Isabella terdiam dan tertunduk, ada rasa ketakutan di wajahnya.
"Bila kau tidak berani bicara, kau akan selamanya ditindas terus oleh mereka." imbuh Vano prihatin.
"Kak Vano benar, kau pertimbangkan lagi perkataan kakak ku, dia ada benarnya, bukan?"
"Apakah ibuku akan percaya dengan semua perkataan ku, sementara kak Jimi dan Tina pintar membulak-balikan fakta."
"Kau tidak usah takut, aku yang akan menjaga dan membantu mu!" ucap Vano yakin.
Isabel merasakan kehangatan dari ucapan Vano yang ingin membelanya, darahnya berdesir ada perasaan suka yang tidak bisa ungkapkan. Sosok pria tampan dan pemberani itu telah terpatri di hati Isabella, walau Vano hanya menganggapnya sebatas teman. Namun, rasa suka tak akan pendam selamanya. Isabell berjanji, hatinya hanya untuk Vano.
Tiga puluh menit perjalanan, mobil sampai di mansion. Setelah mobil terparkir, Vana dan Isabella lebih dulu masuk kedalam ruangan.
"Mommy..." sapa Vana yang melihat Delena sedang termenung duduk di sofa santai.
"Vana kau sudah pulang?"
"Iya Mom! meraih tangan Delena dan mencium nya. "Ini teman Vana, namanya Isabella."
"Siang tante.." sapa Isabell sopan, dan mencium punggung tangan Delena.
"Siang nak, kalian pasti lelah. Makan sianglah dulu, Vana ajak teman mu makan."
"Mom...' sapa Vano mencium pipi Delena dan meraih tangannya untuk di cium.
"Mom! Vana duduk di samping Delena "Teman Vana, Isabella, mau menginap disini, sampai ibunya pulang dari luar kota, boleh kan?
"Iya sayang.., tidak apa-apa tinggal lah untuk menemani mu."
"Terima kasih Mom." mencium pipi Delena.
"Mommy sudah tidak mual lagi?! tanya Vana perhatian.
__ADS_1
"Masih sedikit-sedikit, tapi lumayan sudah bisa lihat matahari, sudah nggak pusing lagi."
"Mommy harus banyak istirahat dan minum obat mual, juga vitaminnya."
"Iya sayang, ya sudah kamu bawa teman mu masuk dan makan siang."
"Oke, Mom.."
Vana dan Isabella masuk kedalam kamar. Vano masih menemani Delena di ruangan tamu.
"Mom!
"Hemmm..."
"Apa Daddy masih tidak ingin bicara dengan Mommy." menatap nanar wajah Delena yang pucat.
Delena gelengkan kepala "Daddy pulang larut malam, kata pak Tarno yang jaga pintu gerbang. Daddy pulang jam dua dan berangkat lagi jam setengah lima."
"Apa yang Daddy kerjakan di luar sana! ucapnya. Vano seakan tidak suka dengan Daddy nya yang akhir-akhir ini sering pulang malam.
"Biarkan saja dulu, mungkin Daddy mu butuh ketenangan."
"Iya tapi tidak harus mengabaikan Mommy, Apalagi Mommy sedang hamil. Vano yang akan bicara dengan Daddy." terlihat wajah Vano menahan kesal.
"Jangan Vano! ini urusan Mommy, biar Mommy yang akan bicara sendiri."
"Tapi sikap Daddy seperti ini, sudah dua minggu! bahkan tidak ada komunikasi dengan Mommy, juga jarang bertemu kami."
"Mommy yang salah, karena kurang perhatian pada Daddy dan melarang tidur di ranjang, membuatnya kecewa dan salah paham karena telah menjauhinya. Tapi Mommy akan bicara baik-baik, kau tidak usah khawatir ya?" Delena tersenyum getir.
Vano mengangguk "Kalau ada apa-apa dengan Mommy, Vano yang akan membela paling depan!" ujarnya tegas.
πππππππ
Sudah dua hari Reno tidak pulang ke mansion, padahal Delena sudah menunggu untuk bicara padanya, khawatir karena Reno tidak pulang, Delena menghubungi frans, ternyata Reno sedang berada du keluar kota untuk mengurus pembangunan gudang yang terbakar.
"Kenapa Mas Reno tidak bilang kalau ingin keluar kota, Frans?
"Benar'kah?! Frans terkejut. "Kak Reno juga sering murung di kantor, tidak pernah fokus, dan sering marah-marah pada karyawan, setiap hari ada ajah yang kena pecat."
"Apakah hanya karena diriku, Mas Reno sampai berbuat seperti itu dan berakibat pemecatan karyawannya."
"Entahlah kak, aku juga nggak ngerti dengan jalan pikiran kak Reno akhir-akhir ini, apa yang menyebabkan ia berubah."
Karena takut salah paham, Delena menceritakan semuanya pada frans, bahkan masalah kehamilan dan sikap Reno yang berubah.
"Apa? kak Dena hamil?! syukurlah aku ikut senang mendengarnya. Sudah berapa bulan?
"Sekarang masuk dua bulan, dan Mas Reno belum tahu, sejak Dokter agung periksa ke Mansion, ia selalu pulang larut malam dan pergi subuh hari, aku ingin bicara langsung Namun, tidak ada kesempatan. Mas Reno seakan menghindar. Buktinya sekarang, keluar kota saja gak bilang." kesal Delena.
Terdengar suara isak tangisan Delena dari ujung telpon, Frans merasakan kesedihan yang Delena alami "Kalau kak Reno telah kembali, aku akan bicarakan baik-baik."
"Jangan Frans, kau tidak usah masuk kedalam rumah tanggaku, aku takut Mas Reno salah paham, biar aku yang akan meluruskannya."
"Atau bisa jadi Mas Reno sedang ngidam, kak!
"Maksud mu?
"Kadang ada juga suami yang uring-uringan nggak jelas, bisa di bilang ia ikut merasakan ngidam walau tidak semua kaum calon ayah seperti itu, aku tau dari Dokter kandungan fanny, dan sikap aneh kak Reno saat meminta belikan rujak cingur, setahu aku kak Reno tidak suka, tapi aku mencarinya demi kak Reno, setelah di belikan, cuma di colek-colek gak dimakan lagi." cerita frans kesal.
"Baiklah Frans, kabari aku bila Mas Reno akan pulang."
__ADS_1
"Iya kak, jaga keponakan ku baik-baik, pasti Calista akan senang dapat kakak baru lagi."
"Salam buat Calista dan Fanny."
"Iya, kak!
Esoknya Delena dapat kabar dari Frans, Reno akan kembali ke mansion. Delena masuk kedalam kamar tamu dan mengambil semua pakaian Reno yang sudah ia pisahiin sendri. membawanya kembali kedalam lemari dan menyusun dengan rapih. Delena sengaja tak tidur malam ini, ia bertekad ingin menjelaskan nya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Namun, tidak ada tanda-tanda mobil Reno datang. berkali-kali ia menguap, dengan sabar Delena menunggu dan beberapa kali membuka gorden, tapi tidak ada suara apapun.
Pukul dua dini hari, terdengar suara deru mobil terparkir di depan teras. Delena naik keatas ranjang dan berpura-pura untuk tidur.
Terdengar suara langkah kaki di luar sana, terdengar suara membuka pintu di kamar sebelah, tak lama di tutup kembali. Dan langkah sepatu itu berjalan semakin mendekat kearah kamarnya.
JGLEK
Pintu terbuka lebar, sosok pria tinggi besar berjas hitam masuk kedalam dan berjalan kearah lemari. Tapi sayang lemarinya tidak bisa terbuka, ia terus menarik gagang pintu tapi tidak bisa.
"Apa kau mencari kunci ini Mas?" terdengar suara Delena di belakang punggungnya.
Reno berbalik dan menatap tak suka "Apa maksud mu, mengambil semua pakaian ku dan menaruhnya di kamar ini!"
"Karena ini juga masih kamar mu, Mas?!
"Lalu untuk apa kau menguncinya? kau semakin aneh Dena, aku males ribut dengan mu."
"Siapa yang ingin ribut denganmu, aku tidak ada niat sedikitpun untuk ribut Mas. aku hanya ingin kau beri kesempatan aku bicara!"
"Mau bicara apa lagi!
"Sikap Mas, yang benar-benar sudah berubah! bahkan pulang larut malam, dan pergi pada subuh hari, lalu tiga hari tidak pulang. Ternyata pergi ke luar kota tanpa izin padaku, Apakah itu benar, menurut Mas?!
"Sudahlah, kau urus saja dirimu sendiri. Bukankah itu maumu? mana kuncinya berikan padaku! perintah Reno dengan sifat tegasnya.
"Mas! bisakah kita bicara baik-baik, bukan dengan amarah seperti ini?!
"Sudah lah Delena, aku capek, aku lelah! Kenapa kau tidak bisa mengerti diriku?!"
"Mas yang tidak bisa mengerti diriku? Aku hanya ingin memberi penjelasan padamu mas, dengan sikapku akhir-akhir ini yang sudah berubah, dan itu bukan kemauan ku, Mas!
"Ahh! Reno menghela nafas kasar "Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu, lebih baik aku pergi! Reno melangkah kan kakinya berjalan kearah pintu.
"Bila kau pergi! aku yang akan angkat kaki dari mansion ini bersama anak-anak! teriak Delena.
Seketika langkah Reno terhenti.
💜
💜
@No baper... Rumah Tangga itu tidak semua semulus jalan tol, kisah Delena dan Reno selama ini adem ayem, sekarang di ksih konflik dikit, apakah mereka bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik?! ikuti terus keseruaan kelurga Delena dan Reno, Vano dan Vana.
Jangan lupa untuk
💜Like
💜Vote
💜Gift
💜Komen
@Bersambung......
__ADS_1