
Terdengar suara ponsel berdering, Jimmy mengambil dari saku celananya dan melihat nama Tina di layar ponsel.
"Ahh! ganggu kesenangan orang saja! Jimmy langsung menon aktifkan ponselnya.
"Tangkap gadis itu juga! perintah Jimmy pada dua temannya.
"Jangan mendekat! bila tidak ingin merasakan sakitnya pukulanku." seru Vana percaya diri.
"Hahahaha... kau hanya gadis kecil yang baru kemaren sore! banyak tingkah!" cibir Jimmy.
"Cepat kalian tangkap dia! seru Jimmy.
Kedua orang temannya mendekat dan ingin menarik tangan Vana, dengan sigap Vana menarik tangannya dan menonjok perutnya, pria itu menjerit dan berjongkok menahan rasa nyeri diperutnya. Satunya menyerang dan ingin menendang dada Vana, dengan cepat Vana menangkisnya dan menarik kaki pria itu, hingga tidak ada keseimbangan dan...
GUBRAK!
Pria itu jatuh kebelakang dan lambung ke lantai dengan posisi kepala jatuh duluan.
"Aaaakkkhhhh..." jeritannya semakin keras, ia merasakan lehernya ada yang patah.
"Sialan! rupanya gadis ini jago juga berkelahi, siapa gadis ini sebenarnya? aku belum tentu bisa menang darinya, aku harus cari cara untuk melumpuhkan gadis ingusan ini, walau ia sangat cantik, namun, tidak mudah di taklukkan." gumam Jimmy pelan.
Jimmy berjalan kearah Bella dan mengambil alih pisau itu dari tangan temannya, ia membisikkan sesuatu.
"Menyerahlah, atau sahabat mu akan menjadi korban!" teriak Jimmy, "Kau tidak usah melawan!
"Mau kau apakan Bella! lepaskan Bella...! kau tidak boleh menyakitinya atau kalian semua akan menyesal."
"Cih! mana peduli aku dengan ancaman mu! tangkap gadis itu! perintah Jimmy pada dua orang bodyguard berbodi tinggi besar yang baru saja masuk kedalam ruangan.
Tubuh Vana yang kecil tidak akan sanggup melawan dua orang bodyguard bertubuh kekar itu, kedua tangannya di cekal kuat dan di dudukan di sebuah sofa.
"Mana suntikan nya." pinta Jimmy pada temannya yang sudah memegang jarum suntik dan botol kecil berisi cairan morfin.
"Dudukan Bella! perintah Jimmy lagi.
Kedua temannya mendudukkan kasar tubuh Bella di kursi dan melepas bekapan mulutnya.
"Lepaskan aku Jimmy! baiklah aku akan pulang ke Polandia dan membujuk ibuku untuk meninggalkan Ayahmu!"
'Sudah terlambat bodoh! menjambak kasar rambut Bella "Sudah seringkali aku peringatkan padamu, untuk pergi menjauh dari keluargaku!
"Lepaskan, sakittttt! teriak Bella, airmatanya sudah membasahi pipinya.
"Dasar laki-laki pengecut! beraninya cuma sama perempuan! kau lebih pantas pakai daster daripada celana!" sindiran telak langsung dari bibi Vana.
"Berani kau menghina ku! Jimmy tersulut emosi dan berjalan mendekat, satu tangannya mendaratkan tamparan ke wajah Vana.
"PLAKK!
Tamparan tangan Jimmy begitu panas di pipi mulus Vana, gambar tangannya membekas di pipinya, ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam netra Jimmy "Tunggu pembalasan kakakku! dia tidak akan biarkan adiknya tersakiti!"
"Sekali lagi kau banyak bicara, akan aku bungkam mulutmu!
"Cepet lakukan Bos, kita sudah tidak banyak waktu lagi! pinta pria yang masih memegangi tangan Bella.
Jimmy mulai menusukkan jarum suntik itu ke botol cairan yang ia pegang.
Bella membelalakkan matanya dan terus berontak, namun sayang, tubuh kecilnya tak sanggup melawan dua Pria yang memegangi pergelangan tangannya.
"Tidak! jangan kau lakukan itu, Jimmy! jangan kau hancurkan masa depan ku! teriak Bella dengan berurai airmata.
"Sumpel mulutnya agar dia tidak terus berteriak dan berontak!
__ADS_1
Seorang pria yang masih memakai seragam sekolah putih abu itu membekap mulutnya dari belakang, kini tiga orang pria memegangi tubuh kurus Bella, dua Pria lainnya pegangin tangan kanan dan kirinya. Jimmy mulai melakukan aksinya dengan menyuntikkan di bagian pergelangan tangan kanannya.
"Bella ma'afkan aku, aku tidak bisa menolong mu, Kak Vano kau dimana sekarang? kami sangat membutuhkan mu?! teriak Vana dalam hati, hatinya begitu pedih melihat Bella tak berdaya saat di suntikkan morfin kedalam urat nadinya, kini darahnya sudah menyatu dengan cairan haram itu. Kedua tangan Vana mengepal menyaksikan perbuatan Jimmy dan kawan-kawanya. Seketika tubuh Bella lemas dan tak berontak lagi. Vana melihat mata Bella terpejam dan sembab oleh airmata, tubuhnya tak bergerak, hanya terlihat nafasnya yang turun naik.
"Bella.......! teriak Vana. "kalian sangat kejam! memberikan cairan haram pada gadis tak berdosa, aku pastikan kalian akan menyesal dan membayar mahal untuk ini! bentak vana dengan nafas tersengal.
"Kita apakan gadis cantik dan molek ini!"
"Terserah kalian mau apakan dia! aku sudah tidak peduli! ujar Jimmy menyeringai.
"Wah bagus kalau begitu, kita bawa ke kamar saja, kita bermain-main sebentar." ujar tiga Pria itu dan menggotong tubuh Bella yang sudah tak perdaya masuk kedalam sebuah ruangan.
"Baguslah, kalian gilir saja bergantian!" ucap Jimmy santai tanpa dosa.
"Jangan...! teriak Vana histeris "Dengarkan kalian semua, jangan kalian nodai Bella! dimana hati nurani kalian! Vana terus mengumpat karena amarah "Kaupun memiliki seorang adik perempuan, Jimmy! Kenapa kau tega melakukan semua ini pada Bella! apa kau tidak takut karma!"
"Itu terserah padaku dan bukan urusanmu! kini giliran kau yang akan aku berikan suntikan juga, agar kau tidak banyak bacot lagi!
Jimmy mengambil suntikan lagi dan menancap kan jarum pada botol berisi cairan bening itu. "Pegang yang kuat tangannya, agar ia tidak berontak."
"Joe! nanti saja bermain dengan Bella nya, kau urus dulu gadis ini, bantu bekap mulutnya agar tidak berontak. Pria bernama Joe mendekat dan membekap mulut Vana dari belakang, Jimmy mulai mendekat dan Ingin menyuntikkan cairan itu ke urat nadi Vana.
"Aaaaaaaaa..." Joe berteriak keras saat Vana menggigit tangannya. Dengan cepat Vana mengangkat kakinya dan menendang Jimmy yang sedang membungkuk untuk menyuntikkan cairan itu. Jimmy tersungkur ke belakang dan suntikan itu terlepas dari tangannya. Vana juga menginjak kaki bodyguard itu, pria bertato itu merasakan kesakitan hingga satu tangan Vana terlepas. Saat ada kesempatan, Vana mengepalkan satu tangannya kuat dan meninju hidung bodyguard satunya.
BUKK!
"Aaaawwww... sial, tenaganya begitu kuat! pekik Pria itu, kesakitan.
Vana berhasil melepaskan diri dan berlari kearah pintu, ia memegang handle pintu, namun sayang, pintu terkunci.
JGLEK
JGLEK
"Lepaskan! tolongggg......." seru Vana.
Dua bodyguard suruhan Jimmy berhasil menangkap Vana.
"KAK VANO.........!!!!!
JEDAR.........!
Sebuah pintu terbuka lebar, dobrakan dari luar begitu keras hingga pintu itu hampir hancur.
"Lepaskan adik ku! teriak Vano yang sudah berdiri di ambang pintu, dengan rahang mengeras dan kedua tangannya terkepal, terlihat urat-uratnya keluar, sorot mata tajamnya menghunus Jimmy dan bodyguard yang memegangi adiknya. Aura membunuh sudah terasa.
"Kak Vano! akhirnya kau menemukan kami juga!
"Hey anak ingusan, kau itu hanya anak SMP! berani juga nyali mu datang kemari! hajar bocah tengil itu! perintah Jimmy pada empat orang teman-temanya yang berdiri di belakangnya.
"Kalian semua maju lah, percuma kalau hanya berempat saja! cibir Vano, menyeringai.
"Wah! wah! nantangin bocah ingusan ini! cepat habisi jangan kasih ampun! seru Jimmy dengan sombongnya.
Empat pria sekolah itu menyerang Vano secara bersamaan, Vano langsung melayangkan tinju ke wajah mereka satu persatu, tubuh Vano loncat dan melambung keatas, seraya melancarkan tendangan bertubi-tubi pada mereka satu persatu. Dalam hitungan detik mereka berempat sudah jatuh tersungkur ke lantai. Mereka hanya anak remaja biasa yang tidak punya ilmu bela diri sama sekali, tubuh mereka yang ringkih dengan mudah dapat Vano bereskan tanpa harus kerahkan tenaga dalam.
Keempatnya meringis dan mengaduh kesakitan, ada yang giginya rontok bekas tonjokan Vano, rata-rata wajah mereka babak belur dan mengeluarkan cairan merah.
Jimmy melongo dan menatap tak percaya, ia mundurkan langkahnya kebelakang, dan menoleh pada dua bodyguard
"Hajar dia! tubuh kalian besar-besar pasti dapat mengalahkan bocah tengik itu!
Kedua bodyguard itu melepaskan tangan Vana, dan berjalan mendekat kearah Vano dan langsung menyerang. Perkelahian sedikit seimbang karena dua pria itu bertubuh tinggi dan besar.
__ADS_1
Jimmy yang melihat keadaan semakin terdesak ia berlari kearah pintu belakang, dengan cepat Vana mengejarnya dan menendang bokong Jimmy dari belakang, Jimmy tersungkur kedepan. Saat ingin bangun, Vana menarik kerah bajunya.
"Mata di bayar mata, Gigi di bayar gigi." teriak Vana seraya melayangkan tinjunya ke wajah Jimmy.
"BUKK!
"BUKK!
Darah segar keluar dari bibir dan hidung Jimmy. "Ku pikir kau jago berkelahi, tapi nyatanya, kau hanya seorang pecundang yang bermulut besar!!
BUKK!
"Ini untuk membalas Bella, karena kau telah memberikan morfin padanya!
BUKK!
"Ini untuk membayar perbuatan mu, karena telah menampar wajahku!
"BUKK!
Uhuk... uhuk...uhuk....
"Jimmy terbatuk dengan mengeluarkan cairan darah dari hidung dan mulutnya, baju putihnya sudah di penuhi banyak noda darah.
"Sudah cukup, hentikan! teriak seorang gadis "Jangan kau pukuli lagi kakak ku! gadis itu berlari dan memeluk kakaknya yang sudah tersungkur di lantai.
"Dia pantas mendapatkannya! karena kakak mu sudah menghancurkan masa depan Bella dengan menyuntikkan morfin! penjara saja tak cukup untuk manusia seperti dia! maki Vana dengan amarah berapi-api.
"Dek! Vano menyentuh pundak Vana.
Vana memutar tubuhnya "Kak Vano!" Vana memeluk kembarannya dan menangis di bahunya. Dengan penuh kasih sayang Vano mengusap lembut kepala adiknya.
"Semuanya sudah berakhir!
Vana mengurai pelukannya "Kak! kita harus bawa Bella kerumah sakit."
"Iya, kita akan bawa Bella kerumah sakit."
"Lalu bagaimana dengan mereka? menunjuk Jimmy dan teman-teman nya. Juga dua orang bodyguard yang sudah Vano lumpuhkan.
"Dev sudah menghubungi Om Tomy, sebentar lagi polisi akan datang. Mereka tidak akan bisa lari kemana-mana, kakak sudah melumpuhkan mereka semua. Dan kedua bodyguard itu sudah kakak patahkan kakinya dengan ilmu karate.
"Mereka pantas mendapatkan nya. Ayo kak kita temui Bella."
Vano dan Vana dan di susul Dev, masuk kedalam sebuah ruangan, Bella berada di atas kardus dengan tubuh lemah dan sangat memprihatikan, Vano mengangkat tubuh Bella dan membawanya kedalam mobil.
Suara sirene polisi terdengar di depan sebuah gerbang. Tempat Penyekapan itu adalah sebuah gudang yang sudah tidak terpakai, polisi mengamankan mereka semua termasuk Jimmy yang sudah tidak bisa berjalan.
πππ
@Ayo kirim Bunda Hadiah, babnya lebih panjang, biar bunda semngat πͺ nulisπ
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
@bersambung......πππ
__ADS_1