
"Apa...?! Helena terkejut "Apa anakku bisa normal kembali Dok, atau pendarahannya bisa disembuhkan."
"Kami akan menjalani operasi bila ibu bersedia menandatangani, karena resikonya sangat fatal, anak ibu bisa hilang kesadarannya atau koma, bisa juga selamat tapi bisa mengalami stres dan kejiwaan, atau ilang ingatan."
Helena terus meneteskan airmata, rasanya ia sudah pasrah melihat kondisi anaknya yang mengalami tragis.
"Dokter, lakukan untuk operasi anakku, apapun hasilnya aku pasrah."
"Baiklah bu!"
"Aku permisi dulu Dok." Helena beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Dokter, berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit.
Langkah Helena berhenti didepan pintu kamar Zevano, ia membuka pintu dan masuk dalam, melihat Andini, Ramon, Siska dan Fanny berada di ruangan Zevano.
"Ibu Andini, Mas Ramon."
"Ibu Helen.."
Mereka berdua saling berpelukan.
"Bagaimana kabar Bu Helena."
"Aku baik baik saja, tapi cucuku.. hiks.. hiks.. maafkan aku bu Andini, Mas Ramon, karena aku sudah teredor cucuku mendapat musibah, dan aku mohon maaf yang sebesar besarnya karena ulah anak ku Davina, Zevano jadi korban." hiks... hiks...
"Bu Helena, jangan merasa bersalah begitu, ini diluar kehendak kita." ujar Ramon bijaksana.
Helena berjalan mendekat ke ranjang Zevano yang masih tertidur lemas tak berdaya.
"Zevano.." hiks... maafkan Oma nak, tidak bisa menjaga mu dengan baik." tangisan Helena semakin dalam ia benar-benar merasa bersalah.
"Ibu duduklah." Siska memegangi tubuh Helena yang terlihat rapuh, ia memberikan kursi di samping ranjang Zevano.
"Semua ini salahku, aku yang tidak bisa mendidik anak ku jadi manusia yang baik dan bermoral." hiks...
"Ibu Helena jangan bersedih, sudah bu tenang dulu" Andini memberikan keterangan dengan mengelus punggung Helena.
"Ibu minum lah dulu." Fanny memberikan gelas berisi air putih.
"Terima kasih."
"Dimana Reno dan Delena, sejak tadi aku tidak melihatnya." tanya Helena setelah meminum air putih itu.
Tadi Delena pingsan dan Reno membawanya ke ruangan pemeriksaan." ujar Tommy
"Delena pingsan? dimana dia sekarang?"
"Ada dirungan pemeriksaan."
*Antar aku kesana."
"Lebih baik ibu istirahat dulu, lihatlah kondisi ibu sangat memprihatinkan." kata Tommy khawatir.
"Tidak Tommy, ibu ingin melihat kondisi Delena, karena sudah empat hari dia baru kembali dan mengalami musibah seperti ini, sungguh aku sangat sedih." hiks.. hiks..
"Bu Helena, sungguh kami tidak tau ada masalah di keluarga Reno, kalau Delena sempat hilang dan berganti posisi dengan Davina." ujar Andini merasa bersalah.
"Semua juga tidak ada yang tau bu Andini, kejadian begitu cepat dan tiba tiba, Reno pergi ke Bali karena ada urusan disana, perusahaan Delena yang pegang kendali, dan aku pikir Delena pulang ke rumah seperti biasa, walau sebenarnya aku sempat sedikit curiga pada perilaku Delena, tapi aku berusaha untuk meyakinkan diriku kalau itu adalah Delena bukan Davina." hiks...
__ADS_1
"Sudah bu Helena, semuanya sudah terjadi jangan menyalahkan diri sendiri karena ibu juga tidak tahu."
"Tapi aku malu dengan perbuatan anakku Davina, Mas Ramon. kesalahan ku dimasa lalu telah membuat Davina jadi anak pembangkang!" hiks... hiks...
"Tapi kami tidak pernah menyalahkan ibu Helena, aku tau betapa ibu sangat menyayangi si kembar dan menjaganya dengan baik, anggap semua ini ujian.' nasehat Ramon memberi ketenangan.
"Terima kasih mas Ramon."
"Tommy tolong antarkan ibu menemui Delena aku ingin melihat kondisinya."
"Tidak ada salahnya pertemukan ibu Helena dengan Delena, sekalian diperiksa kondisi ibu Helena karena terlihat lelah dan syok." kata Ramon prihatin.
"Ayo bu.. aku antar kerungan Delena."
"ibu Andini nitip Zevano, aku temui Delena dulu."
"Iya bu, Zevano Cucu aku juga, aku pasti akan menjaganya."
"Terima kasih."
Helena bersama Tommy berjalan menuju ruangan Delena.
"Ceklek!
"Ayo masuk Bu.."
"Delena! Helena berjalan mendekat ke ranjang anaknya yang sedang terbaring.
"Ibu! panggil Delena lemah "Bu maafkan aku!
"Tidak Dena kau tidak bersalah, kau sudah melakukan yang benar, ibu tidak menyalahkan dirimu kau berhak membela anakmu." hiks...
"Tidak Dena, Davina sedang mengalami kritis, iya harus dioperasi tapi tidak mungkin bisa kembali normal,
"Maksud ibu?
Davina mengalami geger otak, ada yang retak di bagian batok kepalanya, Davin bisa cacat karena mengalami cedera otak, ada pendarahan diotaknya karena benturan keras."
"Ibu maafkan aku, semua itu aku yang melakukannya." hiks..
"Tidak sayang, kau tidak boleh merasa bersalah seperti itu, kau sudah membela dirimu sendiri juga anak kita, Davin sudah mendapatkan karmanya sendiri atas perbuatan dia pada keluarga kita!"
"Reno, Dena ibu juga perlu istirahat dan harus diperiksa kondisinya, ibu terlihat shock dengan semua yang sudah terjadi."
"Tommy tolong panggilkan dokter Iskandar untuk periksa keadaan ibu."
"Baiklah!
"Ibu istirahat saja dulu disini, aku tidak ingin ibu kenapa napa." Delena memberi ranjangnya untuk Helena.
"Kau juga sedang sakit Dena, tanganmu saja sedang di infus."
"Ibu tidak usah khawatir ya, aku akan menyuruh Dr Iskandar menaruh satu ranjang lagi buat di samping Delena.
Keesokkan nya.
Semua keluarga sudah berkumpul untuk mendapatkan hasil tentang kondisi Zevano setelah kepalanya di rekam.
__ADS_1
Dokter Iskandar masuk kedalam ruangan dan melihat keluarga sudah menunggu duduk di sofa, Reno beranjak dari duduknya dan menghampiri Dr Iskandar.
"Bagaimana kondisi Zevano? tanya Reno khawatir.
Dokter Iskandar membetulkan kacamata minus nya dan berkata dengan ekspresi datar.
"Setelah tim medis melakukan rekaman pada kepala Zevano, Alhamdulillah benturannya tidak melukai otak dan saraf nya, kami tidak jadi operasi Zevano karena tidak ada pendarahan di otak, semuanya normal."
"Alhamdulillah." semua berucap syukur.
Delena, Andini dan Helena saling berpelukan.
"Tapi Zevano masih harus dirawat dengan ekstra beberapa hari, karena jantungnya masih lemah ,bekas jatuh dari ketinggian membuat jantungnya berdebar keras dan ada rasa gelisah serta trauma bila melihat ketinggian lagi, jadi kami masih terus memperbaiki sistem syaraf nya agar Zevano tidak lemah lagj jantung nya.
"Baik lah Dok, lakukan yang terbaik untuk anak ku, Dok!
Delena dan Reno bisa bernafas lega setelah mendapatkan keterangan tentang kondisi Zevano anak kesayangan nya.
"Mas Reno!
"Sayang.." Reno dan Delena saling berpelukan.
"Akhirnya Zevano tidak jadi operasi." Reno mengusap lembut punggung istrinya.
"Iya Mas, aku juga bahagia mendengarnya." hiks..
"Maaf apa ada Nyonya Helena? tanya seorang suster yang baru masuk kedalam ruangan Zevano
"Iya saya sendiri!"
"Maaf Nyonya bisa kerungan Dr Arman, beliau sedang menunggu disana."
"Baiklah aku akan segera kesana!
"Ibu Andini, Mas Ramon, Dena juga semuanya, aku pamit sebentar keruangan Dr Arman yang menangani operasi Davina."
"Silakan ibu Helena! ujar Andini.
"Ibu aku ikut!
"Dena tidak usah, kau jaga Zevano."
"Zevano ada Mama dan papa juga yang lainnya."
"Aku juga akan ikut! ujar Reno
Helena mengangguk. Mereka bertiga pergi Ke ruangan dokter Arman untuk mengetahui kondisi Davina setelah di operasi.
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
Bersambung....