ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Kebahagiaan Tommy dan Siska


__ADS_3

"Frans! aku serahkan fanny padamu. Nikahi anak kesayangan ku secepatnya, jangan di tunda lagi, kalian berhak bahagia."


"Iya Tuan, terimakasih atas restunya."


"Jangan pernah panggil aku, Tuan! panggil aku Papah! karena kau sudah jadi anak ku, mantu kesayangan ku." menepuk bahu Frans.


Wajah Frans dan Fanny berbinar cerah, senyuman mengembang terukir di bibir dua calon pengantin itu.


"Fanny, Frans, Karena kalian sudah berada di sini, sekarang kita makan siang bersama Papah. sudah beberapa minggu Papah susah menelan makanan." imbuh Andini melirik wajah Ramon.


"Ayo Pah! sekarang papah harus banyak makan, Kalau sayang pada fanny dan Frans." menarik lengan Ramon dengan mode cemberut.


"Baiklah, Karena anak Papah sudah kembali pulang ke rumah, Papah mengalah." tersungging senyuman bahagia di bibir Ramon.


Mereka berempat menuju meja makan dan menikmati hidangan diatas meja."


"Tumben masakan Mama enak banget, biasanya hambar." imbuh Ramon sambil asyik menikmati Sop iga di depan nya.


Andini tersenyum sumringah, ia begitu bahagia melihat suaminya makan dengan lahap, sampai dua kali tambah. Akhirnya Ramon bisa menikmati santapannya seperti biasa.


"Dari dulu masakan Mama juga enak, Pah! kemaren menurut Papa masakan hambar dan tidak enak Karena pikiran Papah sedang kalut." tegas Andini mengingatkan.


"Frans! jangan sungkan, ayo makan lagi yang banyak. Papah sedang senang hari ini."


"Iya Pah! ini juga sudah kenyang, tadi sebelum kesini sudah makan dulu di rumah kak Reno." Frans terlihat gugup, karena satu meja bersama Ramon, pemilik perusahaan terbesar di Asia, yang bakal menjadi mertuanya.


Fanny menendang kakinya, mata Frans menoleh kearah Frans, Frans mengerti tatapan mata Fanny.


"Frans, kau harus nambah ya. ingat tidak! di hutan kita kelaparan dan tidak ada makanan yang bisa kita makan." ujar Fany seraya mengambil nasi dan menaruh diatas piring frans.


Frans hanya mengangguk, ia faham maksud calon istrinya untuk menghargai masakan Mamanya, walau sebenarnya memang sudah kenyang.


Selesai sarapan siang bersama, mereka ngobrol bersama dirungan tamu untuk membicarakan tanggal pernikahan.


"Kita adakan minggu depan pernikahan kalian, lebih cepat lebih baik." imbuh Ramon seraya menghisap kuat rokok di sela jarinya.


"Apa tidak terburu-buru pah! timpal Andini "Mamah harus persiapkan undangan teman bisnis, teman sekolah dan kuliah, arisan sosialita, belum undangan untuk luar negara, Kerabat dan kolega Papah dan Reno. Semua itu harus kita undang, Pah! apalagi Fanny anak terakhir, ya harus meriah donk, apa pula kata media sosial yang menyoroti pernikahan fanny." Andini menjelaskan panjang lebar.


"Mama tidak perlu khawatir masalah itu, kan bisa minta bantuan kerabat Mama untuk memberikan daftar nama undangan, nanti Papah suruh karyawan Papah yang mengurus undangan dan menyebarkannya."


"Bagaimana dengan EO Wedding nya Pah!


"Nanti pakai EO teman Papah ajah Mah, yang sudah di percaya kalangan pebisnis."


"Kalian berdua siapkan mental untuk menjadi sepasang suami istri, begitu berat menjalani rumah tangga, godaan tidak hanya ada dalam rumah sendiri, tapi juga dari luar rumah. Kalian harus membuat pondasi yang kuat agar tidak runtuh. Papah percayakan fanny pada Frans yang lebih dewasa, jangan sungkan untuk menegur fanny bila ia salah, sebab fanny masih manja dan kadang labil."

__ADS_1


"Iya Pah! saya sudah faham sifat kekanakan fanny. Insyaallah dengan berjalannya waktu, serta bimbingan dari Papah dan Mama, fanny bisa lebih dewasa dan menjadi istri yang soleha. Do'akan Semoga rumah tangga kami kedepannya akan terus berjalan indah dan bahagia hingga ke Jannah Nya.


"Aamiin...." ucap Ramon dan Andini, bersamaan.


"Alhamdulillah, Allah telah membukakan mata hatiku, ternyata kebenaran selalu menang dan berakhir kebahagiaan. Terimakasih Frans." Ramon menepuk pundak Frans tanda bangga, yang duduk di sampingnya. "kau telah menyadarkan ku dari sebuah kesalahan." Ramon memeluk kembali Frans.


"Mama baru dapat pesan dari Siska, besok malam kita harus ke Apartemennya, Siska ingin buat kejutan untuk suaminya."


"Pasti ulangtahun Om tommy dan juga kehamilan Tante Siska." celetuk fanny gembira.


"Apa Siska hamil? Ramon terbelalak menatap wajah fanny meminta penjelasan.


"Fanny! Andini menoleh dan mendesah kasar.


"Ada apa ini Mah, fanny? Sepertinya kalian merahasiakan sesuatu dariku? Andini jelaskan, apa benar Siska sedang hamil?!"


Benar Pah! tapi Siska sendiri yang meminta untuk merahasiakan kehamilannya, sebab ia ingin membuat kejutan untuk Tommy nanti malam, di acara ulang tahunnya."


Ramon tersenyum sumringah dengan mata berembun. "Akhirnya adikku hamil anak pertama, Ya Tuhan... aku begitu bahagia mendengarnya, fanny yang sebentar lagi mau menikah dan Siska adikku yang mau memiliki anak dari Tommy. kini lengkap sudah kebahagiaanku di masa-masa tuaku."


******


Malam hari semua sudah berkumpul di apartemen Tommy dan Siska. Mereka yang datang hanya kelurga inti saja, Reno, Delena, Helena dan si kembar Zevano dan Zevana sudah hadir lebih awal. Sementara Ramon, Andini, Fanny dan Frans baru saja tiba.


"Hallo.. Semua." sapa Ramon dari depan pintu.


Ruangan tampak rame dengan penuh hiasan balon-balon yang betebaran di atas plafon dan dinding. Aneka bunga sebagai pemanis tertata dengan indah didalam ruangan. Kue ulang tahun dua tingkat berada di atas meja tamu, dan hidangan malam tersusun rapih diatas meja makan, semua sudah tertata dengan sempurna.


"Syukurlah semuanya sudah berkumpul, Mas Tommy baru telpon, katanya ia sudah berada di bawah mau naik lift. Sekarang semua diam ya, dan kita matikan lampunya." pinta Siska.


Siska sudah mematikan saklarnya. Terdengar suara bunyi bel didepan pintu. Frans di tugaskan untuk membuka pintu apartemen.


"Sayang..." loh kenapa ruangan gelap semua? Tommy terlihat panik dan gusar.


"Siska! apa kau ada didalam? suamimu sudah pulang?" Sis....


Tiba-tiba lampu menyala terang benderang, taburan kertas warna-warni bertaburan di depan Tommy. Tommy begitu kaget dan berbinar cerah melihat semua keluarga hadir di apartemen nya.


"Selamat ulang tahun....Om tommy! seru fanny seraya membawa kue bertingkat dua ke depan wajahnya dan bertuliskan angka 40 tahun.


"Happy birthday to Tommy...." mereka semua serempak bernyanyi merayakan hari kelahiran Tommy. Tommy terlihat terharu dan berkaca-kaca. ia menarik Siska kedalam pelukannya Karena sudah buat suprise untuknya.


"Tiup lilinnya dulu Om."


Tommy meniup lilin yang disodorkan fanny. setelah lilin padam, Tommy memberikan potongan pertama untuk istrinya, berikutnya Ramon, Andini dan seterusnya.

__ADS_1


Mereka memberikan kado pada Tommy dan langsung dibuka atas permintaan mereka. Begitu mewah hadiah yang diberikan Reno dan Delena, tas kerja dan jam tangan branded limited edition buatan Paris. Berikutnya Tommy membuka hadiah dari Ramon kakak iparnya. bentuknya seperti buku tapi tipis. Saat sudah dibuka tommy terkejut.


"Bacalah isinya.' perintah Ramon.


Siska dan Tommy membelalakkan matanya "Apa?! hadiah perusahaan dan Rumah?


"Kak, apa ini tidak berlebihan? tanya Siska terharu.


"Tidak Sis, itu hak mu dan Tommy."


"Terimakasih kak Ramon." Tommy dan Siska memeluk Ramon penuh kehangatan.


"Sekarang ini hadiah dariku." Siska memberikan sebuah kotak kecil, dengan sangat hati-hati Tommy membukanya. Saat membuka sebuah kotak hatinya berdebar, jantungnya hampir saja copot melihat testpack garis dua. Seketika airmata Tommy menetes dari sudut matanya. ia menatap lembut istrinya penuh haru.


"Ja-di kau sedang mengandung anak ku? ucapnya tercekat.


"Iya Mas, aku sedang hamil dua bulan."


"Siska...." menarik cepat dalam pelukannya "Terimakasih sayang, kau sedang mengandung anak ku." keduanya menangis haru.


Mereka semua menikmati hidangan makan malam bersama, sambil mengobrol santai.


"Zevano, Zevana keponakan Tante." Fanny menciumi pipi keduanya karena gemes.


"Sini kak, biar aku dan Frans yang gendong si kembar. kakak terusin saja makannya." Delena dan Reno memberikan kedua anak kembarnya pada fanny dan Frans."


"Frans! apa nanti kau mau memiliki anak kembar seperti Zevano dan Zevana? Fanny begitu frontal bicara di depan keluarganya, membuat Frans tersipu malu.


"Tentu saja bisa! tapi kalian harus nikah dulu! sambar Reno, gelengkan kepala lihat tingkat adiknya.


"Kita tidak memiliki keturunan/gen kembar fan, kalau Reno punya anak kembar, itu keturunan dari gen Delena." imbuh Andini memberikan penjelasan.


"Sudah tidak usah di perdebatkan sekarang, dunia kedokteran sudah canggih, kau dan Frans bisa kok program anak kembar." tutur Ramon memberi semangat anaknya.


"Benarkah Pah? Yes! Frans kita bisa program bayi kembar." Fanny begitu girang layaknya bocah yang baru saja dapat mainan.


Andini hanya geleng-geleng kepala, Reno dan Delena saling melempar senyum sumringah, Helena tertawa sambil menutup bibirnya. Tommy dan Siska saling berangkulan ikut bahagia. Ramon tergelak puas melihat semua anak dan adiknya bahagia.


🌺


🌺


🌺


Masih bersambung....💃💃💃💃

__ADS_1


@Besok episode terakhir pernikahan Frans dan Fanny ❤️❤️


__ADS_2