ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Terungkap Nama Pelaku


__ADS_3

"Katakan siapa yang sudah menyuruh mu!' bentak Reno "Atau kau akan aku penjarakan seumur hidupmu!"


"Ja-ngan Tuan, saya mohon!" Toto memegangi kaki Reno memohon pengampunan.


"Cepat katakan sebelum tuan Reno berubah pikiran! seru pak polisi beri peringatan.


"Yang menyuruh saya adalah....


Toto terus mengatur nafasnya karena ancaman Reno berhasil membuatnya ketakutan setengah mati. Ia terus membayangkan meringkuk di dalam jeruji besi seumur hidupnya, bagaimana nasib kelurganya kelak. Anak dan istrinya butuh biaya hidup dan biaya sekolah, belum lagi ibunya yang sering sakit-sakitan. Dunia Toto seketika hancur karena perbuatannya sendiri, tanpa berpikir panjang ia mau melakukan hal bodoh. Ingin menghilangkan nyawa orang sama saja melakukan pembunuhan berencana, walau rencananya sudah gagal.


"Kau masih tidak mau bicara?" bentak pak polis gerami "kami punya banyak cara agar kau mengaku, kalau kau mengaku didepan Tuan Reno, mungkin akan dapat keringanan. Namun bila kami bawa ke markas kau akan habis disana!" peringatan pak polisi lagi agar Toto cepat memberitahu dalang dari pembunuhan berencana itu.


Keringat jagung keluar dari pori-pori kulitnya yang terlihat lemas.


"Ba-ik Pak! tapi tolong ringankan kasus ini, jangan penjarakan saya seumur hidup. Saya memiliki kelurga, anak dan istri saya membutuhkan biaya hidup."


"Sudah tahu resikonya akan masuk penjara, kenapa masih juga di lakukan! bodohnya tidak memikirkan akibatnya yang akan merugikan anak dan istrimu sendiri!" bentak Pria seragam coklat itu tegas.


"Ma-afkan saya Tuan? masih memegangi kaki Reno. Dengan kesal Reno menghempaskan tangannya dan menendangnya. Tubuh kurus Toto terjungkal ke belakang.


"Tidak mau katakan juga, hah?! karena geram pria berseragam cokelat-cokelat itu menjambak rambutnya "Kalau begitu kita bawa ke markas saja, disini hanya buang waktu saja. kita introgasi disana. Borgol dia!" perintah pak polisi pada bawahannya


"Baik Ndan! ucap abdi negara itu dengan sigap.


"Ba-ik pak saya akan bicara." dengan wajah pias dan suara bergetar Toto bercerita "Dia seorang wanita, tak sengaja saya bertemu dengannya sekitar pukul sembilan malam, saat sedang bertugas keliling menjaga keamanan rumah sakit. Saya melihat wanita itu mengintip dari kaca luar ruangan, kerabat tuan Reno. Saya sempat menegurnya dan ia terlihat gugup.


"Maaf Nona sedang mencari siapa?" tanyaku saat melihat gerak-geriknya yang mencurigakan.


"Eh, iya pak! wanita itu sedikit terkejut saat aku menegurnya "Apa ini korban yang kecelakaan di jalan tol sore tadi? tanyanya


"Sepertinya iya. Nona siapanya?


"Saya ini temanya." jawabnya gugup


'Kenapa tidak masuk saja?"


"Tidak ahh, masih banyak orang didalam."


"Ohh, ya sudah saya permisi, mau keliling dulu." baru beberapa langkah aku berjalan, wanita itu memanggilnya. Aku berhenti dan menoleh padanya.


"Pak Sebentar! bisa kita bicara penting yang akan menguntungkan Bapak, bila tidak menolak kerjasama dengan saya"


"Maksud Nona kerjasama apa?" keningku berkerut, karena baru kenal sudah mengajak kerjasama.


"Ayo ikut saya pak! jangan bicara di sini nanti ada yang curiga." aku mengikuti langkah wanita itu dan berhenti di sebuah lorong sepi dan tidak banyak dilewati orang.

__ADS_1


"Begini Pak, saya akan berikan sejumlah uang 100 juta bila Bapak berhasil membunuh wanita di dalam ruangan tadi."


"Ap-apa? tentu saja aku terkejut dengan penuturan wanita itu. ku pikir dia sudah tak waras menyuruh ku membunuh seseorang, tapi dia terus meyakinkan ku. Menurutnya dia ada dendam pribadi dengan wanita korban kecelakaan itu. Iming-iming uang 100 juta membuat ku gelap mata dan mau mengikuti rencananya. kebetulan aku butuh uang untuk biaya ibuku yang sedang sakit dan kebutuhan kelurgaku yang selalu kurang."


Wanita itu memberi aku uang separuhnya, sisanya setelah rencana ku berhasil. Hari itu juga Aku menelpon Kodir preman deket rumahku yang biasa menjadi bodyguard sewaan. Jam dua malam aku mulai beraksi bersama Kodir yang sudah datang ke lokasi. Tapi apes, belum sempat rencana itu berhasil. Seorang pria remaja yang ku pikir tertidur pulas disofa, menggagalkan rencana ku. Aku dan Kodir menerjang tubuhnya dan kabur. Namun diluar dugaan pria remaja itu terus mengejar dan mengetahui penyamaran ku. Dia melihat kakiku yang berjalan agak pincang bekas tendangannya saat aku kabur tadi, lalu mengenai kaki keringku yang membuat kakiku bengkak dan memaksakan ku berlari walau sakit luar biasa."


"Siap wanita yang telah menyuruh mu!" tanya pak polisi lagi.


"Merry! ya wanita itu bernama Merry. Aku menulis nomor dan namanya di dalam ponsel."


"Apa wanita itu menjelaskan secara detail, apa motif ia ingin membunuh korban."


"Tidak ada Pak! dia hanya bilang punya dendam pribadi pada wanita korban kecelakaan itu.'


"Baiklah kita sudah mengantongi satu nama, kita akan kembangkan lagi, apa masih ada orang dibelakang wanita bernama Merry."


"Kalian borgol dua pria itu dan bawa ke markas!" perintah atasan polisi itu.


"Siap Ndan, laksanakan!"


Kedua tangan Toto dan Kodir di borgol, Walau Toto terus meraung minta di ringankan hukuman pada Reno.


"Biar hukum yang berjalan, kalian berdua harus bertanggung jawab!" ujar Reno di sela langkahnya meninggalkan ruangan satpam, di ikuti Vano dan Robert.


Ceklek!"


Pintu terbuka lebar, masuk Reno, Vano, Robert dan tiga orang polisi. Mereka berjalan mendekati bangker/ranjang Davina.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Robert, mengelus pucuk kepala istrinya.


"Dada mami terasa sesak, tubuh sakit semua pih!"


"Sabar ya Mih, insyaallah akan segera pulih."


"Mami rindu Chika, Pih." airmata Davina sudah menganak sungai.


"Iya besok kita bawa Chika kesini ya, papi juga kangen."


"Maaf Nona Davina, bisa kami bicara sebentar mengenai orang yang ingin mencelakai Nona?"


"Siapa orang yang ingin mencelakai saya Pak? tanya Davina balik bertanya.


"Apa Nona mengenal seorang wanita bernama Marry?


"Merry? ada apa dengannya? dia itu sahabat saya sejak dulu."

__ADS_1


Semua orang saling bersitatap "Apa Nona yakin?" pak polisi terus meyakinkan Davina. "Apa betul wanita ini yang bernama Merry? menunjukkan sebuah profil dari aplikasi warna hijau itu.


"Iy-a itu foto sahabatku Mery? kenapa Bapak tahu nomor kontaknya? tanya Davina penasaran.


"Wanita ini yang berniat membunuh Nona dengan menyuruh seorang satpam dan teman pelaku, dengan bayaran 100 juta untuk menghilangkan nyawa Nona."


"Ap-apa?! Davina terkejut dengan bola mata membesar, dan membekap mulutnya tak percaya. "Apa tujuan Merry ingin membunuhku? aku ini sahabat baiknya sejak dulu sebelum menikah."


"Kita tidak tahu motif sebenarnya. Saran saya kedepannya, Jangan mudah percaya dengan orang lain apalagi mengaku sahabat. Sebab kita tidak pernah tahu kedalaman hati manusia." ucap pak polisi bijak.


"Lalu dimana Merry sekarang? tanya Davina dengan dada nyeri dan suaranya gemetar, menahan pedih di hatinya. Ia sungguh tak menyangka. Dulu Merry pernah terpuruk, dan Davina memberikan modal buat usaha yang ia rintis sampai sekarang. Davina tak menyangka, Merry begitu tega ingin membunuhnya.


"Apa Nona pernah punya masalah dengan wanita bernama Merry? tanya juru tulis yang berpakaian coklat itu, tangannya terus mencoret-coret diatas kertas putih yang ia pegang.


"Saya tidak ada masalah sama sekali, justru sebelum kejadian penculikan itu terjadi, saya sempat mengunjungi kerumahnya siang hari, dan ia langsung mengajak saya ke Bar, tempat tongkrongan saya dulu bersama Merry. Saya sempat menolaknya, tapi ia terus membujuk. Di dalam Bar saya ditinggalkan sendiri dengan keadaan setengah sadar. Tiba-tiba datang seorang pria yang sangat aku benci, dia memaksa dan membawa ku pergi." Davina menjelaskan semua kejadian yang ia ingat tanpa ada satupun yang ia tutupi.


"Baik Nona Davina, Terimakasih atas informasinya. Nona Merry sedang kami buru sekarang, bersama petugas gabungan. Mereka sudah berada di lokasi untuk menangkapnya. Dan pria bernama Erland masih dalam perawatan insentif, ia terluka sangat parah dan kakinya harus di amputasi, bila dia bersalah kami juga akan menindaklanjuti."


Davina sedikit bernafas lega "Akhirnya kau memuai semua perbuatannya mu Erland!" batinnya lirih.


"Tolong selidiki kasus wanita itu, apa motif ingin membunuh kakak ipar ku. Dan kabari kami bila wanita itu sudah tertangkap!" ucap Reno kemudian.


"Tentu Tuan! setelah wanita bernama Merry sudah berada di markas, kami akan mencari informasi dan motif apa yang sudah membuatnya nekad ingin membunuh sahabatnya sendiri."


"Tidak pak! wanita ular itu bukan sahabat saya lagi. wanita itu adalah penjahat yang harus mendekam di dalam penjara seumur hidupnya!" ucap Davina geram dengan nafas tersengal.


"Baiklah Nona dan semuanya. Terimakasih atas informasinya. Kami akan beritahu bila wanita ini sudah tertangkap."


"Bila wanita itu sudah berada di kantor polisi, saya akan mengunjunginya Pak, apa tujuan dia ingin membunuh dan menghancurkan hidup saya!" seru Davina dengan deraian airmata.


"Baik Nona, pasti akan kami kabari perkembangannya. kalau begitu kami permisi dulu." petugas negara itu berjabat tangan dan berpamitan pada Reno, Vano, Robert dan Delena.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


๐Ÿ’œlike


๐Ÿ’œvote


๐Ÿ’œgift


๐Ÿ’œkomen


@bersambung....

__ADS_1


__ADS_2