ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Ancaman


__ADS_3

"Frans dimana kau?


Reno masuk kedalam mencari keberadaan frans, tapi tidak ada "Apa Frans tidak ada disini? tunggu! tapi ini ada bekas kopi dan abu rokok."


"Frans! ayolah keluar...


Reno berjalan kearah balkon, melihat pemandangan lepas didepannya, sungguh indah terlihat dari atas balkon. Mata Reno menatap liar sosok pria yang ia kenal sedang memancing ikan disebuah danau.


"Frans! hah sial, kau disana rupanya."


Reno kembali berjalan menuruni anak tangga berbatu dengan hati hati, karena ia memakai sepatu pantofel dan takut terkilir.


Saat sudah berada dibawah villa Reno berjalan mendekati seorang pria yang ia kenal.


"Frans! jadi hanya ini pekerjaan mu!


Pria itu menoleh dan memutar tubuhnya. ia terperanjat kaget.


"Tuan Reno?!"


"Hah! Reno menghela nafas panjang "Rupanya kau berada di sini!" Reno duduk disebuah batu samping Frans.


"Tuan jangan duduk disana, itu sangat kotor!"


Tapi Reno tak peduli perkataan Frans, ia tetap duduk di batu dengan kaki menyilang.


"Kenapa kau pergi meninggalkan perusahaan hanya gara-gara masalah Fanny."


Frans terdiam, Ia sudah faham maksud kedatangan Reno untuk membicarakan masalah dirinya dengan fanny.


"Maafkan aku Tuan, aku tidak pantas untuk Nona fanny."


"Jadi kau menyerah begitu saja!'


"Aku sudah tidak tahu harus apa? aku bukannya ingin menyerah, tapi aku tak berani melawan Tuan besar." tutur frans menghela nafas berat, pandangannya menatap danau didepannya.


"Maafkan sikap papaku kemarin," ujar Reno merasa bersalah.


"Tuan besar tidak bersalah, beliau berhak melakukan itu padaku, karena aku telah lancang menyukai Nona Fanny yang tak sepadan dengan diriku."


Kenapa kau selalu merendahkan dirimu sendiri frans! ini yang aku tidak suka pada dirimu. kau terlihat lemah sekarang! mana frans yang dulu aku kenal! Kau lemah hanya karena kakimu Cacat bukan? lalu kau ingin menyerah begitu saja dan merendahkan dirimu sendiri didepan orang lain?!


Frans sudah mulai terlihat emosi dengan perkataan Reno, yang sebenarnya Reno sengaja agar frans bisa bangkit dari keterpurukannya.

__ADS_1


"Mana mungkin aku bisa melawan Tuan besar, aku sangat menghormatinya. lebih baik Aku dipukul dengan balok daripada harus melawan tuan besar yang selalu aku hormati!"


Melihat tubuh Frans bergetar Reno merangkul pundaknya "Frans, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu terluka dengan ucapan ku dan aku tidak menyuruhmu untuk melawan Papaku, tapi aku ingin kau bangkit dan tidak menyerah dengan keadaan."


"Aku tidak menyerah untuk mendapatkan Nona, tapi Tuan besar sudah menjodohkan Nona dengan pilihannya, aku tidak ingin menjadi duri dalam daging, apalagi benalu dalam hubungan Nona dan calonnya, sudah pasti jodohnya lebih sempurna dan tidak cacat seperti diriku! aku menyerah pada keadaan fisikku." airmata Frans sudah jatuh.


"Pergi lah secepatnya ke Korea, aku ingin melihat kau normal kembali, jangan pikirkan perusahaan dulu, kondisi mu lebih penting."


Frans membiarkan air matanya terus jatuh. "Kalau masalah Nona fanny aku selalu menangis, tapi saat aku tertembak atau terkena bom sekalipun, aku tidak pernah mengeluarkan airmata."


"Itu berbeda frans, pria sejati tidak akan pernah menangis bila tertembak atau mati, tapi ia akan meneteskan airmata bila wanitanya terluka."


"Frans! lihat pancingan mu tertarik! tiba-tiba Reno berteriak. "Pasti ikannya sudah makan umpan mu frans!


Frans buru buru mengambil pancingan dan menariknya kuat."


"Kena! frans terlihat bersemangat, kesedihan hilang seketika.


"Wow ikannya besar." teriak Reno, ia terlihat senang dan tergelak.


Frans menarik pancingannya kedarat, dan melepaskan mata kail itu, lalu menaruh ikannya kedalam ember yang sudah ia sediakan. Ia menaruh lagi umpan dimata kail itu lalu melemparkannya kedanau.


"Frans! ayo kita pulang!"


"Biarkan aku melepas penat selama satu minggu dulu tuan."


"Cih! apa apaan Tuan merindukan aku? bisa bisa aku kena tebas Nona Delena." gumamnya dalam hati.


"Aku tidak bercanda, ayo pulang! untuk masalah Fanny dan kau, aku pasti akan bantu. untuk sementara aku ingin melihat seperti apa calon yang di jodohkan untuk Fanny, aku berada di pihak mu frans! menepuk pundak Frans.


"Apa Nona Delena tahu Tuan kemari?


"Delena?" Ahh... sial! aku melupakan istriku! Reno merogoh kantong celananya dan melihat sinyalnya hilang. "Kenapa tidak ada sinyal disini Frans? aku tidak bisa menghubungi istriku! Reno terlihat kesal dan frustasi "Bagaimana bisa aku melupakan istriku sendiri, dasar bodoh! merutuki diri sendiri.


"Daerah pegunungan seperti ini memang susah sinyal nya, Tuan!"


"Ya sudah bersiaplah untuk kembali pulang!


"Kita makan ikan mas ini dulu tuan, aku akan membakarnya."


Reno tampak ragu, tapi ia tidak ingin mengecewakan asistennya "Baiklah kita pulang setelah makan."


****

__ADS_1


Di ruangan meeting Delena mendengarkan Arneta memberikan penjelasan tentang merekut investor agar bisa diajak kerjasama di perusahaannya dengan keuntungan besar, para pemegang saham mangut mangut seakan mengerti arah pembicaraan Arneta.


"Aku sudah gol kan sebuah proyek berkelas dan bonavit, tidak tanggung tanggung proyek ini menghabiskannya dana ratusan milyar, kurasa keuntungan ini sangat besar, dan tuan tuan terhormat sebagai pemegang saham di Mahesa Group' harus meminta kenaikan dari keuntungan yang akan diperoleh Tuan Reno." ucap Arneta melirik kearah Delena dan tersenyum licik.


"Tidak bisa! Delena membatah dan lngsung berdiri. "kau tau apa tentang proyek ini? apa hakmu menghasut para pemegang saham di perusahaan ku! suamiku sebagai pemimpin perusahaan sangat adil dan bijaksana, kau tak berhak bicara seperti itu! mata Delena menatap tajam Wajah Arneta!


"Aku yang sudah mendapatkan proyek raksasa di Malvia itu, seharusnya Nyonya membaca dulu artikel yang berada pada Tuan Reno, baru bisa bicara!"


Delena sudah tersulut emosi, dan saat akan memaki Arneta, Delena melihat semua pemegang saham menatapnya, Delena mulai mengerti siasat Arneta yang ingin mempermalukan dirinya didepan mereka. Delena langsung merubah mimik wajahnya dan terlihat anggun.


"Sekertaris Arneta yang terhormat." Delena tersenyum manis "Berapa persenkah keuntungan yang akan perusahaan kita dapatkan, bila bekerjasama dengan perusahaan bonafit dan berkelas di Malvia, kau sudah membicarakan soal keuntungan, bagaimna mungkin bisa? sedangkan proyek itu saja belum berjalan? anak kecil saja bisa paham tentang ini! bukan begitu Nona Arneta.


Tujuh orang pemegang saham yang berada disana mulai berbisik bisik.


"Aku setuju apa yang dikatakan Nyonya Reno, darimana akan ada keuntungan sementara proyek itu belum berjalan." tiba-tiba salah satu pemenang saham mulai bicara.


Wajah Arneta memerah menahan kekesalan, ia pun tidak mau dipermalukan oleh Delena dan mulai bersuara "Bukan begitu maksudku, ini hanya sebuah perencanaan awal, bilamana tuan tuan mengucurkan dana untuk Malvia yang menghabiskan dana ratusan milyar tanpa keuntungan yang jelas, bukan kah semua itu percuma?


"Anda seorang sekertaris bukan? kenapa bicara begitu, bukan kapasitas seorang sekertaris berbicara masalah keuangan! ucap pemegang saham lainnya.


Arneta semakin terdesak, bagai senjata makan tuan pada ucapannya sendiri.


"Lebih baik kita bubarkan saja meeting ini! ucap pemegang saham.


"Nyonya kami minta maaf, kami permisi? membungkuk memberi hormat.


kini tinggal Delena dan Arneta didalam ruangan itu. Delena berjalan mendekat dan..


"PLAKK!


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Arneta. "Berani kau berbicara lantang didepan para pemenang saham! Belum satu minggu kau berada disini, sudah berani lancang dan melewati batasanmu! hardik Delena menatap dengan tatapan membunuh.


Setelah puas, Delena berjalan pergi meninggalkan ruangan meeting. Arneta memegang pipinya yang terasa panas dan mengepalkan satu tangannya.


"Kau akan membayar semua ini Delena!"


'


'


'


'

__ADS_1


'


'Bersambung.


__ADS_2