
"Kakak tidak pernah salah. Kakak sangat baik padaku. Terimakasih kak, selalu ada buatku."
"Fanny! panggil Siska dengan mata berkaca-kaca.
"Tante Siska! Hiks...
Mereka saling berpelukan melepas rindu "Kau memang keponakan Tante yang bandel dan keras kepala."
"Ma'afkan Fanny Tante." hiks...
Mereka semua saling berangkulan. Fanny tersenyum bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
Setelah melepas pelukannya. Fany menatap perut Siska dan tersenyum.
"Tante, apakah disini ada Dede bayi ya." menyentuh lembut perut Siska yang masih terlihat datar.
Siska terkejut "Apa kelihatan aku sedang hamil? tanyanya bingung.
"Sis, apa kamu sedang hamil? dan menutupi dari kami? tanya Andini curiga.
"Tante terlihat pucat dan sedikit lemas, sejak tadi aku perhatikan." ujar Delena, menyoroti perut dan wajah Siska.
Siska menelan salivanya dan tercengang.
"Tante jujur saja kalau sudah hamil, jangan menutupi dari kami? aku senang banget akhirnya punya keponakan yang lucu-lucu." Fany terkekeh.
Andini berjalan mendekati Siska, menepuk bahunya pelan "Kenapa dirahasiakan kalau kau sedang hamil."
Helaan nafas Siska terdengar pelan "Sebenarnya aku ingin memberikan kejutan untuk mas Tommy, seminggu lagi ia ulang tahun yang ke 40. Aku ingin kehamilan ku untuk kado dihari kelahirannya."
Seketika wajah Andini berbinar cerah "Berarti benarkan adikku sedang hamil."
"Iya kak, aku hamil."
"Siska selamat ya." Andini memeluk erat tubuh Siska, butiran bening menetes di pipinya "Akhirnya aku punya keponakan dari kalian." Andini begitu bersemangat.
"Kakak jangan menangis." Siska mengusap airmata di pipi Andini.
"Aku terharu dan bahagia."
"Tante, selamat ya. semoga baby nya baik baik saja. Akhirnya kak Tommy memiliki keturunan juga, senangnya." ujar Delena ikut gembira.
"Iya, sengaja kami buat program kehamilan. karena usiaku yang rentan hamil, dan mas Tommy sudah tidak muda lagi."
"Berati kita semua orang pertama yang mengetahui kau hamil?"
"Iya kak, kalianlah orang pertama yang mengetahui kehamilan ku." Siska tersenyum sumringah.
"Tante, aku ingin secepatnya gendong Dede bayi." pinta fany terlihat gemes.
"Sudah berapa bulan kehamilan mu."
"jalan dua bulan kak!
"Fanny kau juga nanti akan memiliki baby dari Frans." goda Siska tergelak.
Fanny tersipu malu malu sambil mengigit kecil selimut di pangkuannya. Membicarakan Frans. fanny teringat akan Ayahnya yang belum datang.
"Mah, Kenapa Papa tidak datang menjenguk ku? apakah masih belum bisa merestui aku? ucapnya lirih.
Andini tertunduk sambil meremas ujung bajunya. menahan getir dihatinya.
"Mah! tolong jangan menutupi dariku, kalau Papa belum merestui aku dan Frans," mata fanny mulai berkaca-kaca.
Andini berjalan kearah jendela. menatap liar sudut taman diluar jendela. Delena mendekat, mengelus lembut punggung ibu mertuanya. "Mah, aku tahu perasaan Mama, walau Papa belum bisa merestui hubungan frans dan Fany. paling tidak Mama sebagai ibu kandung fany, sudah merestuinya. Masih ada mas Reno yang bisa jadi wali untuk pernikahan Frans dan Fanny nanti."
Andini menatap Delena dan tersenyum haru "Kau benar Dena, masih ada Reno untuk wali Fany. Semoga Papa mau menerima frans."
__ADS_1
Ceklek!
"Siska! suara Tomy mengagetkan mereka berempat. Semua menoleh ke arah pintu.
"Mas Tom! Siska berjalan mendekat, dan memeluk suaminya. "Ayok kita pulang, sayang, sudah malam."
"Iya Mas! masih bergelayut manja.
"Mba Andin, aku pulang, besok pagi balik lagi kerumah sakit." ujar Tomy menyalami Andini.
"Iya Tommy, jaga adikku baik baik ya."
Tommy mengangguk.
"Dena, kakak pulang dulu, salam buat Mama Helena dan si kembar ya."
"Iya kak! hati hati dijalan."
"Fan! semoga cepat sembuh ya." mengusap kepala Fany.
"Iya! terima kasih banyak ya Om."
Mereka berdua keluar dari ruangan Fany.
"Senang sekali melihat Om sama Tante ku begitu mesra." Fany tersenyum lebar.
*****
Reno sudah berada di depan Bandara. ia sudah berganti pakaian hoodie dan celana jeans hitam. Wajahnya tertutup masker dengan topi menutupi dahi. Sepatu kets berjalan ringan masuk kedalam bandara. penyamaran Reno sangat sempurna. Tidak ada yang tahu kalau Pria itu adalah seorang CEO.
Dua jam menunggu tidak ada yang mencurigakan sama sekali, semua terlihat biasa saja. getaran ponsel Reno menandakan kabar dari barak dan boy. Reno mengagkat telpon itu.
"Hallo..."
"Tuan, Sepertinya Justin menyamar. Aku di kecohkan olehnya, ada dua orang Pria memakai baju yang sama. Saat mobil yang ku buntuti sedang mengisi bahan bakar. tak sengaja aku melihat seorang Pria bertukar posisi. Keluar dari mobil dan naik sepeda motor. satunya turun dari motor dan masuk kedalam mobil."
"Brengsek! berarti dia pakai jalan licik untuk kelabui kita."
"Kau ingat ciri-cirinya?
"Dia memakai jaket hitam, berkumis dan berjenggot, Seperti pria paruh baya."
"Oke, pasti dia akan datang kemari. kalian langsung menuju bandara."
"Baik Bos!
Baru saja selesai menerima telpon dari Barak. Mata Reno melihat Pria paruh baya berjenggot dan berkumis. Ciri ciri pria itu sama persis seperti barak ceritakan. Reno mendekati pria paruh baya itu, yang berdiri di dekat pintu masuk sambil mengetik sesuatu di ponsel.
"Hmm... maaf, mau rokok, Pak? Reno mulai berbicara sambil mengeluarkan satu bungkus rokok kpadanya. Pria ia mengangkat wajahnya, menatap Reno sekilas "Tidak, Terima kasih! meneruskan ketikan kembali tanpa peduli tawaran Reno.
"Mau pergi kemana, Pak? tanya Reno lagi.
"Kanada! jawab nya singkat.
Tangannya masih terus mengetik. Tiba-tiba ponselnya berdering. ia mengangkat telpon itu dan menjauh dari Reno. Reno berjalan pelan dan menguping pembicaraan Pria itu.
"Tidak bisa Mah! nggak mungkin aku balik lagi!"
"Tetap tidak bisa? sejam lagi pesawat akan lepas landas."
"Itu salah Papa sendiri! biarkan saja dia menerima karmanya!
Telpon terputus. Pria itu berjalan kearah pintu masuk bandara.
"Benar, sepertinya dia Justin yang menyamar jadi pria tua! tadi siang aku dapat info dari Tommy kalau Ayah Justin masuk rumah sakit. jangan-jangan yang menelpon tadi keluarganya Aku harus mengejar Justin, sebelum ia masuk kedalam ruangan pemeriksaan..
Reno berjalan cepat "Pak tunggu! menarik bahu Pria itu.
__ADS_1
"Ada apa ini? kenapa tarik tarik saya? saya mau berangkat, Mas! ucapnya sengit.
Reflek Reno menarik jenggot pria paruh baya itu. Dan benar jenggot yang Reno tarik ternyata lepas. Dengan cepat pria itu mendorong tubuh Reno dan berlari menjauh.
"Justin berhenti!
Reno terus mengejar dan memberi peringatan. Polisi sudah sejak tadi memantau dan ikut mengejar. Saat keadaan Justin mulai terdesak. ia menarik salah satu anak kecil berusia delapan tahun sedang berdir bersama ibunya di samping mobil.
"Mundur! atau anak ini akan mati aku tembak." Justin menodongkan pistol di kepala anak kecil itu. Anak itu menjerit histeris.
"Mommy! huuuuuwaaa....huuuuu
"Tiara! tolong anak ku! pekik wanita itu menjerit.
Beberapa orang polisi menenangkan ibu itu, agar tidak histeris.
"Ibu sabar! kami juga berusaha untuk menolong anak ibu." kata seorang polisi.
"Mommy....! huwaaaaa.....
"Justin! kau jangan nekad! lepaskan anak itu! perintah Reno sambil menodongkan pistolnya.
"Turunkan pistol mu! atau aku tembak kepala bocah ini! bentak Justin dengan sorot mata buas.
Reno mencoba mengalah, menurunkan pistolnya perlahan.
"Berikan kunci mobil wanita itu! baru akan aku lepaskan anak ini! teriak Justin.
"Tidak! kembalikan dulu anak ku! wanita itu berteriak, sambil menangis terisak.
"Justin! sudah tidak ada tempat diluar sana untuk mu! Menyerah lah! perintah polisi.
"Justin! kekasih mu Shella sudah lebih dulu mendekam di penjara! Reno berteriak lantang.
"Aku tidak peduli dengan wanita itu! wanita itu bukan kekasihku!
"Cihh! Dasar Pria brengsek! bisanya kau tidak mengakui kekasihmu sendiri! beruntung adik ku Fanny tidak jadi menikah dengan mu!
"Semua ini karena Frans! andai dia tidak ada dalam kehidupan kami, tidak mungkin aku jadi seperti ini!
"Jangan menyalahkan Frans! Dia memang kekasih Fany sejak dulu! kau tidak ada apa-apa nya di bandingkan Frans! Reno tergelak.
"Brengsek kau Reno!
"Klik! aku tidak main-main. Bila anak ini mati kaulah yang bertanggung jawab.
"Lima, empat, tiga, dua....
"Tunggu! ibu itu berteriak dan berjalan mendekat "Ini kuncinya, ambilah, tapi berikan anakku Tiara! ucapnya dengan tubuh gemetar.
"Baik! kau maju dan Bukakan pintu mobilnya."
Wanita itu mendekat, dan berjalan perlahan kearah mobil. Dengan rasa takut la membuka pintu mobil. Saat mobil sudah terbuka, Justin masuk kedalam dan duduk di jok kemudi. Dengan cepat, Justin mendorong anak kecil itu dan menutup mobil.
Reno tidak tinggal diam. CEO tampan berjiwa iblis bila menghadapi musuhnya, langsung menembak ban mobil Justin walau dari jarak jauh sekali pun.
"DOORR!
"DOORR!
Tembakan tepat mengenai sasaran. Dua tembakan sekaligus mengenai ban depan dan belakang. seketika mobil yang di kendarai Justin oleng dan menabrak trotoar.
"BRAKKK!
'
'
__ADS_1
'
@Bersambung......