
Delena menutup rapat pada pukul tujuh, selesai membereskan berkas meeting diatas meja ia keluar dari ruangan meeting menuju pintu lift. diluar lobby supir sudah menunggu, Delena masuk kedalam mobil setelah seorang satpam membuka pintu.
"Pak tidak usah pulang ke mansion, langsung saja ke Hotel Horizon."
"Baik Nyonya."
Mobil berjalan meninggalkan gedung perkantoran 'Mahesa Group' menuju sebuah hotel seperti permintaan Delena
"Tak akan aku biarkan kau menang dariku Arneta! kau pikir aku seorang istri yang bodoh! akan aku buktikan siapa aku sebenarnya! setelah identitas mu terbongkar bersiaplah masuk Bui' penjara menantimu, karena kau sudah memalsukan identitas orang lain! Delena tersenyum licik.
Jalanan begitu macet dibeberapa titik, Delena harap harap cemas ingin segera sampai di Hotel Horizon. Diwaktu jam pulang kerja semua orang ingin cepat cepat sampai dirumah untuk bertemu dengan keluarganya. Mobil sudah melewati jalanan yang penuh sesak karena macet tak terhindari lagi.
Sementara didalam hotel Reno disambut hangat oleh Alvaro pemilik Perusahaan Global, mereka duduk disebuah rooms dimana tempat khusus yang sudah disewa Alvaro.
"Selamat datang Tuan Reno, apa kabarnya." sapa Alvaro ramah
"Sangat baik Tuan Alvaro." tersenyum hangat. mereka saling berjabat tangan.
Setelah mereka duduk berdua dan saling menanyakan kabar, tak lama dari pintu yang di buka pelayan masuk Arneta dan berjalan mendekat dengan senyum mengembang.
"Hallo selamat malam Tuan Alvaro, Tuan Reno." membungkuk memberi hormat.
"Selamat datang Nona Arneta? senang berjumpa anda lagi, silakan duduk." Alvaro mempersilakan Arneta untuk duduk, ia mengambil posisi disamping Reno dengan pakaian sexy dan belahan dada yang begitu menggoda, Reno tidak menoleh sedikitpun.
"Kenapa kalian tidak datang bersama? tanya Alvaro.
"Hemm... lebih baik kita mulai saja pada intinya. Tuan Alvaro" Reno mengalihkan.
"Baiklah! Alvaro memanggil Asisten nya dan pembicaraanpun dimulai. dua pelayan datang membawa hidangan pembuka dan menaruhnya diatas meja. Tak terasa obrolan mereka sudah melewati satu jam lebih, Arneta mulai menunjukkan stil nya didepan Alvaro dengan gaya bahasa yang genit, dia merasa bangga karena Alvaro selalu memujinya didepan Reno.
"Ciih! kenapa aku begitu jijik padamu Anjali, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan istriku." Reno tertegun "Darimana Anjali bisa mempelajari dunia bisnis? dia hanya seorang model, setahuku dia bukan orang yang pandai berbicara didepan client, ada seseorang yang telah merubah pribadinya." gumamnya dalam hati dengan satu alis terangkat.
"Untuk mempersingkat acara beramah-tamah ini ayo silakan kita makan dessert dulu." mereka ada enam orang didalam satu meja bundar dan mulai menikmati makanan didepan nya.
"Roy, dimana wine yang aku bawa dari Amrik."
"Ada Tuan, sudah aku berikan pada pelayan, dia akan membawanya untuk Tuan Reno sebagai tamu kehormatan."
"Cepat kau suruh pelayan membawanya, rasanya tidak lengkap bila tidak ada wine disini."
"Baik Tuan." Pria itu meningglkan room.
"Maaf Tuan Alvaro, aku sudah tidak minum alkohol lagi."
"Haii... ini acara penting, sedikit saja kurasa tidak akan membuatmu mabok bukan? ku dengar kau adalah peminum yang handal." Alvaro terkekeh.
"Itu dulu, tiga tahun yang lalu, kini aku sudah memiliki istri dan anak, kurasa manusia harus benar-benar tobat agar menemukan jalan yang baik dalam hidupnya" ucapan Reno seakan menyindir Anjali.
"Maaf, aku ketoilet dulu."
Anjali beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu meningglkan ruangan itu.
Sementara Delena sudah berada didalam hotel setelah supir parkiran mobil didepan lobby. ia menuju resepsionis.
"Mba dimana rooms Anyelir, aku datang memenuhi undangan Tuan Alvaro."
"Rooms Anyelir berada dilantai tiga Nyonya."
"Terima kasih Mba, permisi."
__ADS_1
Delena berjalan kearah lift menuju lantai tiga.
Ting!
Setelah ia keluar dari lift mulai mencari rooms dimana suaminya berada, saat melewati belokan Delena melihat Arneta keluar dari ruangan Anyelir. Dengan cepat Delena mengumpat disalah satu dinding agar Arneta tidak melihat kedatangannya.
"Mau kemana wanita itu, lebih baik aku mengikutinya sepertinya dia punya niat yang tidak baik."
Dengan penuh hati-hati Delena mengikuti Anjali yang ternyata berjalan kearah pantry.
"Mau apa dia ke pantry."
Anjali membuka pintu pantry dan masuk kedalam. Delena tampak ragu untuk mengikuti Arneta tapi rasa penasarannya membuat ia harus mengetahui apa rencana Arneta.
Didalam pantry Arneta menemui seorang pelayan dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam tasnya.
"Kau berikan cairan perangsang ini kedalam minuman Tuan Reno, ingat kau jangan salah orang, Tuan Reno yang memakai jas berwarna biru dongker duduk disamping ku, mengerti!
"Mengerti Nona."
Arneta mngambil sebuah amplop dari dalam tasnya dan memberikan pada pelayan itu.
"Ingat sekali lagi, kau jangan sampai salah memasukkan obat ini kedalam minuman Tuan Reno."
"Aku akan membedakan sedikit warna pada gelasnya Nona."
"Baiklah, lakukan tugasmu dengan benar."
Delena yang mengintip dari celah pintu begitu geram saat sebuah botol pindah ke tangan pelayan itu.
"Brengsek kau Anjali, kau ingin menjebak suamiku dengan obat perangsang itu, tidak akan aku biarkan kau melakukannya!" kedua tangan Delena mengepal kuat.
"Berhenti! Delena menghadang pelayan itu sebelum masuk kedalam rooms.
"Ada apa Nona? anda ada perlu apa menghentikan aku."
"Kau akan aku masukkan kedalam penjara, kalau kau mengikuti perintah wanita ular tadi!
"Apa maksud Nona?
"Kau jangan pura pura tidak tau maksudku, kau telah mencampur obat perangsang kedalam minuman suamiku!"
"Nona jangan menuduhku kalau tidak ada bukti!
"Berapa banyak uang yang wanita itu berikan! aku bisa membayar mu sepuluh kali lipat, tadi kau bilang butuh bukti? baiklah aku akan kasih tau bukti itu! Delena mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan membuka vidio yang baru saja ia rekam.
"Ini lihatlah, aku bisa penjarakan kau Sekarang juga!!
Pelayan itu terperanjat kaget, ia melihat dirinya dan Arneta sedang merencanakan sesuatu. wajah pelayan itu terlihat tegang dan ketakutan. "Maafkan aku Nona, jangan penjarakan aku, aku hanya disuruh." pelayan itu gemetaran saat Delena mengancamnya masuk Bui.
"Bila tidak ingin masuk penjara, bekerjasama lah denganku."
"Maksud Nona?"
Delena tersenyum licik dan berbisik pada pelayan itu.
"kau mengerti maksudku bukan?!
"Baik lah Nona, akan aku lakukan sesuai perintah Nona!"
__ADS_1
"Sekarang lakukan lah!
Pelayan itu berjalan kearah rooms Anyelir dan masuk kedalam.
Didalam ruangan mereka semua masih terus membasah masalah Malva, pembangunan proyek terbesar untuk kedua perusahaan.
Nah ini dia wine yang aku bawa dari Amerika, rasanya sangat berbeda dari wine yang ada disini, karena wine ini sudah berumur tahunan."
Pelayan itu menaruh wine diatas meja dan menaruh didepan masing-masing yang sudah berisi minuman wine, dua botol yang masih tersegel ia taruh ditengah meja.
"Ayolah kita bersulang." Alvaro mengangkat gelas berisi wine itu.
"Ayolah Tuan Reno, minumlah sedikit tak enak rasanya bila tidak minum diacara penting ini."
Karena terus didesak Reno tak enak hati, ia mngambil gelas berisi anggur merah itu."
"Untuk menghormati tuan Alvaro, Ayo kita bersulang." Reno mengangkat gelasnya dan meneguk wine ditangannya.
"Bagus Reno, minumlah wine itu, kupastikan kau akan tidur denganku malam ini, dan aku akan merebutmu dari Delena yang sombong itu! bathin Arneta tersenyum puas.
"Tuan Alvaro, Tuan Reno, aku ikut bersulang semoga kerjasama kedua perusahaan ini berjalan dengan lancar." Arneta ikut meneguk wine ditangannya.
"Kenapa minuman wine ini sangat berbeda, seperti rasa sirup bukan alkohol." gumam Reno dalam hati sambil mengerutkan keningnya.
Perbincangan hangat masih terus berlanjut. suara notifikasi dari ponsel Reno berbunyi, ia membuka isi pesan diponselnya.
"Mas segeralah pulang, aku menunggumu didepan, kau tidak akan mabok, minumanmu sudah aku ganti sirup biasa."
Reno hampir saja tertawa lepas saat membaca pesan istrinya, ia hanya tersenyum tipis.
"Baik my honey, aku pulang sekarang." pesan pun terkirim.
"Inilah yang membuat aku tergila-gila padamu sayang, kau adalah malaikat ku" gumaman Reno masih terdengar Arneta.
"Maaf Tuan Alvaro aku harus segera pulang, karena masih banyak yang harus aku urus."
"Tapi kita belum makan malam bersama."
"Tidak terima kasih, istri dan anakku sudah menunggu di rumah, permisi!
"Baiklah sampai bertemu besok."
Mereka saling berjabat tangan.
"Loh kenapa obat itu tidak bereaksi pada Reno? Arneta menatap heran, saat ia akan bangun dari duduknya tiba-tiba kepalanya merasakan pusing.
"Kenapa kepalaku tiba tiba pusing?!"
'
'
'
'
'
@Bersambung....
__ADS_1
@Sudah 1300 kata, ayo dukung Author dengan cara LIKE setelah membaca, beri Author VOTE/GIFT, Rate bintang lima, sertakan komentar positif kalian 💃💃💃💃