
Helda masuk kedalam mandi dan mengunci pintu dari dalam. Vano mengambil golok penjahat yang berada di bawah lantai. Dengan tubuh tegap Vano berdiri di depan pintu kamar, Ia bagaikan seekor singa yang tak takut mati, dan siap mencabik-cabik lawannya. Aura membunuh mulai terasa.
"BRAKK....
"JEDAR....
Pintu berhasil di bobol, Pria legam dengan fostur tubuh besar itu menatap tajam kearah Vano, seraya memegang Ceritut dan golok di kedua tangannya, yang sudah bercucuran darah.
"Apa pria ini berhasil membunuh anak buahnya sendiri?! batin Vano.
Mata keduanya saling bersitatap.
"Mampus kau! teriak pria itu, seraya berlari ke arah Vano dan mengacungkan golok ke arah Vano. Dengan cepat vano melompat dan salto kebelakang dan tubuhnya berbalik menendang dadanya. Pria itu terpental kebelakang dan cepat bangun kembali, ia mengejar Vano ke berbagai arah, menghantamkan benda tajamnya ketubuh Vano, dengan mudah Vano dapat menghindari. Seisi kamar berantakan dan barang-barang berjatuhan. Pria itu ternyata memiliki bela diri yang cukup tinggi. Vano sempat di buat keteteran juga. vano berlari ke luar kamar dan melihat anak buahnya yang sudah di bunuh dengan banyak luka dan tubuh mengenaskan. Saat keadaan Vano tidak siap, Pria itu berhasil membacok punggung Vano dari belakang,
"Sreeettt.."
"Aaahhkk...." pekiknya, ia merasakan rasa perih pada punggung nya.
Tiba-tiba Vano teringat suara Daddy nya saat sedang latihan.
["Ingat Vano! kau harus fokus bila ingin mengalahkan lawan, terutama atur emosimu, pikiran harus jadi satu, jngan bercabang! lawan bisa membaca pikiran mu! ingat itu Vano.. jadilah macam Asia yang lebih hebat dari Daddy!]
Mata tajam Vano mulai memerah, dadanya bergemuruh, ia sudah fokus dan mengambil ancang-ancang. kini pertarungan antar hidup dan mati. Rasa sakit bacokan di punggung tidak ia hiraukan. Yang terpenting adalah keselamatan Oma dan dirinya. Darah Vano terus merembes ke bajunya.
Saat pria hitam itu ingin menyerang kembali, dengan sigap Vano meloncat dan menebas satu tangannya.
"STREET!
Pergelangan tangan pria itu putus, dan jatuh kelantai. Darah segar menetes membanjiri lantai.
Aaaahhhkkk.... jeritan histeris Pria itu sungguh memekik telinga. Pria itu terjatuh di lantai seraya memegangi tangannya yang sudah buntung.
Amarah Vano masih tersulut. Saat ia fokus bisa tepat sasaran melumpuhkan lawannya. Dengan sekali tebas tangan pria itu putus. Vano tidak ingin melepaskan pria itu, Saat tangannya ingin membacokkan ke punggungnya, terdengar suara teriakan Tommy.
"Cukup vano! jangan kau bunuh pria yang sudah tak berdaya! jangan kau lumuri tanganmu dengan darah penjahat itu!
Nafas Vano masih tersengal-sengal dan terdengar kasar. Sedikit demi sedikit emosinya menurun dan berangsur redam. Bahkan ia tak sadar sudah melumpuhkan lawannya. Tommy terus memberikan ketenangan, berbicara pelan dan hati-hati
"PRANKK!
Vano melempar golok itu ke lantai. ia berhambur memeluk Tommy erat. airmata menetes di sudut matanya. Tommy menyambut pelukan keponakannya, Saat tommy menyentuh punggungnya, tangannya berlumuran darah.
"Vano kau terluka?! pekik Tomy gusar, ia sangat terkejut dan tak percaya "Kita harus segera kerumah sakit."
Datang orang-orang kepolisian menginvestigasi keadaan. Mereka menyusuri seluruh ruangan. Dan mengangkat tubuh perampok yang sudah tak berdaya dengan banyak luka di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Pak, masih ada satu lagi di kamar saya! ucap Vano memberitahu, seraya membuka pintu kamar dan menyalakan lampu.
Jumlah perampok ada empat orang, tiga terluka parah dan satu meninggal. Polisi membawanya ke rumah sakit untuk di otopsi.
"Maaf, Tuan Tomy. keponakan Tuan harus ikut bersama kami ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan. Tiga penjahat terluka parah, satunya meninggal bekas bacokan.
"Pria yang meninggal itu bukan perbuatan saya pak! dia bertengkar dengan kepala perampok itu. untuk pembuktiannya, Bapak polisi bisa melihat langsung melalui di CCTV.
"Baiklah, Nak! tapi kau tetap harus ikut kami!
"Tapi izinkan saya, untuk membawa keponakan saya ke rumah sakit. karena dia terluka bacokan di punggungnya dan mengeluarkan banyak darah."
"Baik, Pak Tomy. tetap pihak kami yang akan mengantarkan Tuan dan ponakannya ke rumah sakit. Sebab itu sudah prosedur kepolisian.
"Tentu kami akan ikuti prosedur kepolisian, bisa sekalian amankan kami bila ada yang mencurigakan."
"Tunggu, Om! omah ada di dalam kamar mandi, sejak tadi ia belum keluar." seru vano, teringat Oma nya yang berada di dalam kamar mandi.
"Apa? Oma di kamar mandi?
"Iya, tadi Oma ketakutan saat perampok itu mendobrak pintu kamar."
Tommy berlari kedalam kamar dan membujuk Oma untuk keluar.
Bude Anna dan Mba Yuni sudah berada di lantai dua mereka semua berkumpul.
"Oma..."
Helena menarik Vano dalam pelukannya.
"Ya Tuhan Vano, punggung mu terluka? Helena terpekik dan menatap haru, airmata terus menetes.
"Oma aku tidak apa-apa, yang terpenting Oma selamat.
Seluruh kamar dan ruangan sudah di penuhi banyak darah. kepolisian mengamankan semua perampok itu, Bude Ana, Mba Yuni, supir dan satpam membantu membersihkan lantai atas. Mereka semua telah di sandra dan di ancam oleh perampok itu. Namun, perampok dengan mudah masuk kedalam mansion.
"Sekarang kita harus kerumah sakit, sebelum Vano kehabisan darah." imbuh Tomy khawatir.
"Om Tom, Oma juga harus diobati. lehernya juga terluka goresan Cerurit." tutur Vano, perhatian.
Tommy membawa Vano dan Helena kerumah sakit, di dampingi beberapa polisi.
******
Sementara di Bali, jam sudah menunjukkan pukul empat subuh. Reno menerima telepon dari Tomy, dan ia terkejut saat mendengar ada perampokan di rumah Helena, ibu mertuanya. Tommy menceritakan kronologinya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Vano dan ibu?
"Mereka sudah di tangani pihak rumah sakit. ibu tergores lehernya, Vano terkena bacok punggungnya, ia kehilangan banyak darah. Sekarang sedang menjalankan operasi."
"Ya Tuhan, Vano..? gumamnya lirih, terdengar nada kesedihan.
"Tolong jaga ibu dan Vano, aku akan pulang sekarang!"
"Baik, Ren...."
"Mas... ada apa dengan Vano dan ibu? tanya Delena yang terbangun dari tidurnya, saat mendengar suara cemas Reno di telepon.
"Sayang..., bersiaplah. kita harus pulang sekarang!"
"Mas, tolong katakan ada apa?" jangan membuat aku cemas dan penasaran." menyoroti wajah suaminya yang terlihat gusar.
Reno menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar. "Di rumah ibu ada perampokan, Vano melawan mereka dan punggungnya terkena bacok, ibu juga terkena goresan di leher."
"Apa...?! Delena terkejut dan menangis pilu "Vano, ibu... hiks... "Kenapa Vano melawan mereka? tubuh Delena langsung lemas, seluruh tulangnya seakan rapuh, Reno langsung menangkap tubuh istrinya yang hampir jatuh.
"Bagaimana keadaan Vano, mas..? hiks...
"Vano sedang berada di ruangan operasi, kau jangan banyak berfikir yang tidak-tidak, kita harus kuat demi Vano."
"Tapi Mas, aku tak tega mendengarnya, ibu mana yang tidak sedih mendengar anaknya kena bacok, dan ibu juga terluka. Vano itu masih berusia 12 tahun." hiks...
"Vano harus kuat, dia anak laki-laki. Tidak boleh cengeng dan manja. Aku sudah mendidiknya sejak kecil."
"Kau sudah kuatkan? Ayo kita ganti baju dan berangkat sekarang."
"Aku mandi dulu, Mas bangunkan Vana."
Reno mengangguk dan keluar kamar membangunkan Vana.
Mereka sudah berada di ruangan tamu dan bersiap untuk ke bandara.
"Dena, titip salam untuk ibu dan Vano." hiks... aku sangat merindukan mereka. dua hari lagi aku dan Mas Robert akan ke Jakarta."
"Iya, kak! Meraka saling berpelukan erat dan mengis haru.
"Robert, aku berangkat dulu."
"Maaf aku tidak bisa ikut kalian sekarang, dua hari lagi kami akan menyusul."
"Tidak apa-apa, do'akan saja ibu dan Vano dalam keadaan baik." Reno dan Robert saling berangkulan.
__ADS_1
Reno, Delena dan Vana masuk kedalam mobil, menuju bandara Gusti Ngurah Rai.