
"Berangkat lah Nak, semoga kalian berhasil dan bisa membawa Robert pulang."
Mobil berjalan menuju kantor persidangan. Panas teriak matahari tidak mematahkan semangat Davina untuk bertemu suaminya. Mereka bertemu kembali dengan Herman Paris berserta rekannya di depan kantor.
Setelah menunggu beberapa saat, mereka semua di persilahkan masuk kedalam ruangan persidangan. Semua harap-harap cemas menunggu kedatangan Robert yang masih belum masuk kedalam persidangan.
Hakim ketua, penuntut umum dan jajarannya sudah memasuki sidang. Tak lama masuk Robert diapit dua orang polisi masuk kedalam persidangan.
Hati Davina berdenyut pedih melihat suaminya memakai baju oranye sebagai tahanan. Tiba-tiba airmata menetes memenuhi pipinya. Melihat kesedihan Tantenya, Vano yang duduk bersebelahan, mengusap lembut punggung Davina.
"Mami yang sabar ya? yakin pada Allah, papi akan segera pulang"
"Mami yang bersalah, seharusnya Mami yang berada disana, menjadi terdakwa atas kesalahan mami." hiks...
Robert berjalan di dampingi polisi masuk kedalam persidangan. Tatapan sayu terlihat lemah saat menatap wajah istrinya sembab, Robert berusaha tegar dan melempar senyum pada Davina. Hati Davina bagai tersayat melihat kondisi suaminya yang kurus dan tak terawat. Tujuh bulan terpisah, banyak perubahan pada kondisi Robert. Tulang rahangnya banyak di tumbuhi bulu-bulu halus, matanya terlihat suram dan tak bergairah. Kemana perginya wajah tampan yang tampak bersinar itu? lalu kemana tubuh atletis yang jadi kebanggaan kaum pria? semua itu sudah tidak ada lagi pada diri Robert. Bukan hanya Davina yang setiap hari selalu berada di sisinya. Reno pun menatap iba dan tak percaya pada perubahan draris sahabat baiknya. Apakah ia harus hilang kepercayaan hingga membuatnya terpuruk?"
Dokter Robert, Pria tampan berusia 42 tahun itu harus duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa. Reno mengangguk saat tatapan mata suram itu beralih kepadanya.
Kini sidang di mulai. Herman Paris dengan percaya dirinya mulai bertanya pada Cliant nya.
"Dokter Robert, apa anda mengenal Nona Kinan?
"Mengenal."
"Apa hubungan anda dengan Nona Kinanti?
"Hanya sebatas teman lama"
"Ohh, jadi atas sebatas saja ya?
"Keberatan yang mulia, menurut keterangan dari keluarga Korban, Dokter Robert punya affair pada Nona Kinanti, hingga mereka memiliki seorang anak gadis berusia 12 tahun." ujar pengacara keluarga Kinanti berapi-api."
Huuuuu... huuuuu..." seketika ruangan sidang riuh, suara sorakan dari kubu kelurga Kinanti.
"Maaf saudara Anton! Anda tidak bisa menyela apalagi menyudutkan cliant saya." ucapnya tegas.
"Maaf yang mulia, boleh saya lanjutkan? tanya Herman Paris.
"Silakan!"
"Apakah betul sebelum peristiwa kecelakaan itu terjadi, Anda dan Nona Kinanti berdebat?"
Robert mengangguk "Iya!"
"Apa yang menyulut terjadinya pertengkaran itu? bicaralah yang jujur, agar hakim ketua bisa pertimbangkan nya."
Wajah Robert tertunduk sedih, ia berusaha tegar walau hatinya rapuh. Robert harus mengakui kalau ia memang memiliki hubungan khusus dengan Kinanti di masa lalu, dan ia tidak bisa berbohong di depan keluarga Kinanti. Dengan suara bergetar Robert menceritakan. masa lalunya dengan Kinanti, bahkan memilki seorang anak yang akhirnya di asuh oleh Davina, istrinya. Sebab keluarga Kinanti tidak mau menerima Sabrina dalam keadaan lumpuh."
Suara teriakan dan sorakan kembali terdengar dari kubu kelurga Kinanti. Umpatan dan makian terus keluar dari mulut mereka.
"Dasar Dokter gadungan! cuma mau enaknya doang!"
"Kurang ajar nggak mau bertanggung jawab!
"Penjarakan saja seumur hidup!'
"Dasar pembunuh! Nggak mau bertanggung jawab tapi malah mencelakakan!" teriak Keluarga Kinanti.
Davina terlihat marah dengan wajah memerah menahan kesal, saat suaminya di bully. Lagi-lagi ia menyesalkan kejadian itu, Rasa bersalahnya terus tertanam dalam hatinya.
"Tok! tok! tok!"
Hakim ketua mengetuk palu di depan muka umum "Tolong jangan berisik! ini bukan pasar, bila kalian merusak persidangan, silakan keluar!" perintah Pak hakim.
Seketika keadaan kembali tenang.
__ADS_1
"Anda sudah selesai bertanya tuan Herman Paris? tanya jaksa penuntut umum.
"Untuk saat ini sudah, nanti kami akan berikan bukti-bukti yang akurat, kalau cliant kami tidak bersalah" ujar Herman Paris mengakhiri ucapannya.
"Baiklah, sekarang silakan saudara Anton bertanya pada terdakwa." ujar jaksa memberi waktu.
"Selamat siang tuan Robert Pattinson."
Robert mengangguk pelan.
"Seperti Yang sudah diketahui, Kalau anda dan Nona Kinanti ada hubungan di masa lalu. lalu Kenapa anda tidak menikahinya saat Nona Kinanti hamil anak anda."
"karena saya tidak mengetahui kalau ia sedang hamil, dan ia pergi meninggalkan saya untuk study S2 di Sydney."
"Lalu kapan anda tahu kalau Nona Kinanti mengandung anak anda?"
Robby terdiam sejenak dan ia terus berpikir. Bila ia berkata jujur, kalau istrinya yang menabrak Sabrina, anak Kinanti dan dirinya, sudah pasti Davina akan terseret dan pengorbanan nya akan sia-sia untuk menolong istrinya. Sejujurnya, Robert bertemu kembali dengan Kinanti saat terjadi kecelakaan Davina menabrak Sabrina.
"Tuan Robert, Apa anda mendengar perkataan saya? tanya Pak Anton, membuyarkan lamunan Robert.
"Iya! jawabnya pelan.
"Sekarang silakan anda jawab pertanyaan saya?"
Robert menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara "Tak sengaja kami bertemu di rumah sakit saat dia sedang mengantar anaknya untuk berobat. Dari sanalah saya mengetahui kalau Kinanti memiliki anak kandung hasil dari hubungan Kami."
"Apa anda yakin kalau anak itu hasil dari hubungan gelap masa lalu anda?
"Kami melakukan tes DNA dan hasilnya akurat." jawab Robert tenang.
"Apa reaksi istri anda, setelah mengetahui anda mempunyai anak hasil hubungan gelap di masa lalu? apakah istri anda marah? atau ada ancaman hingga Anda berbuat nekad untuk melakukan pembunuhan!" tekan Pengacara Anton.
"Keberatan yang mulia! ucapan saudara Anton sudah termasuk tuduhan!" seru Herman Paris membela Cliant nya.
"Tok! tok! tok!
"Keberatan di tolak! silakan saudara Anton lanjutkan."
"Terima kasih Tuan hakim.
"Saudara Robert, bisa anda jelaskan secara singkat dan padat tanpa bertele-tele."
"Tidak sedikitpun di hati saya untuk melenyapkan apalagi merencanakan untuk membunuh Kinanti! bagaimanapun juga saya memiliki seorang anak darinya. Kalau istri saya marah, karena saya memiliki wanita lain dari masa lalu. itu hal wajar, tidak ada istri manapun mau di duakan oleh suaminya."
"Baiklah, itu adalah kejujuran hati anda. Lalu Kenapa anda mengejar Nona Kinanti hingga menabrakkan mobilnya dan mantan kekasih anda harus meregang nyawa di tempat."
"Saat saya mengejar mobil Kinanti untuk menyetopnya, tiba-tiba mobil saya di salip oleh mobil Pajero, dan terjadilah penabrakan mobil Kinanti dari arah belakang." ucap Robert tenang, ia menceritakan apa yang sudah ia dengar dari istrinya.
"Tapi sayangnya, tidak ada bukti mobil lain yang menabrak selain mobil anda." Pengacara itu memperlihatkan foto-foto mobil tabrakan itu di muka umum "Semua foto ini adalah bukti-bukti Kalau tuan Robert bersalah dan sengaja menabrakkan mobilnya untuk membunuh Nona Kinanti."
"Keberatan yang mulia! tim kami sudah bekerja keras untuk mencari bukti, dan kami menemukan kejanggalan dari peristiwa kecelakaan itu." seru Herman Paris tak terima.
"Silakan tuan Herman, bila anda punya bukti."
Herman Paris maju kedepan dan memberikan bukti berupa berkas dan foto-foto pada hakim dan jaksa penuntut umum.
"Sebentar Tuan hakim! saya punya saksi yang melihat pertengkaran Tuhan Robert, istrinya dan Nona Kinanti di rumah tuan Robert, siang itu sebelum kecelakaan itu kejadian.
"Deg! jantung Davina berdebar cepat, ia teringat sosok wanita stroke, ibu mertuanya.
"Silakan hadirkan!
Pengacara Anton berjalan keluar ruangan, tak lama ia masuk bersama wanita paruh baya yang terduduk di atas kursi roda.
"Mama..? Robert tertegun.
__ADS_1
"Ini saksi dari pihak kami yang melihat langsung pertengkaran itu."
"Maaf Yang mulia, Apakah seorang saksi yang sakit fisiknya diperbolehkan untuk menjadi saksi?" tanya Herman Paris
"Maaf yang mulia, walau ibu Amelia sakit fisiknya, Namun, ia masih bisa berbicara."
"Silakan, permintaan di kabulkan."
"Terima kasih hakim ketua."
Persidangan terus berjalan alot, mereka saling ingin memenangkan Cliant nya, perdebatan dua pengacara kondang terus bergulir dengan memegang bukti-bukti, hingga hakim ketua mulai mengetuk palu.
"Melihat bukti-bukti dan saksi, kami akan tunda hingga keputusan dua Minggu kedepan. Sidang kami tutup.
Tok, tok, tok..
Semua membubarkan ruangan. Robert di bawa kembali ke lapas dengan di kawal polisi. Mereka hanya bisa iba melihat kepergian Robert.
"Yang sabar Nona Davin, saya berjanji akan memenangkan kasus tuan Robert, apalagi kami sudah menemukan bukti. Pada persidangan akhir nanti, kami akan membawa pelaku sesungguhnya ke depan persidangan!" ucap Herman Paris yakin.
"Tadi ibu mertua ku menjadi saksi."
"Tenang saja Nona Davina. ibu Amelia idak bisa menjadi saksi karena ia dalam kondisi sakit dan bicaranya pun tidak jelas. Perkataannya di anggap tidak valid."
"Kau benar, dalam bicarapun sangat sulit dan terbatas." ujar Reno menimpali.
"Pengacara Anton terlalu antusias untuk memenangkan kasus ini, dengan membawa saksi yang tidak akurat." Herman Paris tergeletak.
"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu ke Jakarta, dua Minggu lagi Kami akan kembali lagi ke persidangan ini." mereka saling berjabat tangan meninggalkan ruangan persidangan.
"Dad! vano menginap di rumah mami Davin, untuk menemani sampai persidangan selesai."
"Baiklah, kalau begitu Daddy pulang sekarang bersama Herman Paris. kau di sini saja bersama Oma, untuk menemani mami Davin."
~Dua Minggu kemudian~
Persidangan di mulai dengan menghadirkan terdakwa yang sudah memasuki ruangan persidangan. Robert terlihat lebih segar dan percaya diri saat berjalan kedepan dan duduk di kursi pesakitan.
Hakim ketua, jaksa dan jajarannya sudah duduk di depan sidang. Keluarga kedua belah pihak sudah memasuki ruangan. Dua pengacara kondang dan tim nya sudah bersiap untuk menerima hasil keputusan Hakim ketua.
"Tok! tok! tok!
"Setelah kami menimbang dan melihat hasil serta bukti-bukti yang di berikan oleh pihak terdakwa, saya hakim ketua, memutuskan "Dokter Robert Pattinson tidak bersalah dan terbebas dari segala hukuman. Keputusan ini berdasarkan realita dan kesepakatan bersama."
"Tok! tok! tok!
"Sidang kami tutup!
Semua bernafas lega, Davina berhambur memeluk suaminya.
๐๐๐
@Bab ini lebih panjang...Bunda udah update setiap hari loh! mana kopinya? sekalian bunga setaman Yee...
Yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
๐komen
@bersambung
__ADS_1