
Helena mengusap lembut punggung anaknya. "Ayo kita duduk dulu?" Helena mengurai pelukannya dan duduk di sofa bersama Davin.
"Chika salam sama Oma dulu." perintah Davin.
Chika mendekat dan mencium punggung tangan Helena. Dengan kasih sayang Helena mencium kening dan kedua pipi cucunya.
"Dimana Robert...? Helena bertanya seraya mencari sosok mantunya itu.
"Mas Robert masih sibuk Bu, banyak seminar diluar kota dan pasien semakin padat." ucap Davina, sorot matanya terlihat kosong.
"Ya sudah tidak apa-apa, kau harus terus dukung dan prioritaskan suamimu. jangan sampai kejadian rumah tangga hancur dengan adanya orang ketiga, seperti yang ibu alami."
Davina tercengang, yang ibunya Katakan benar, ia takut rumah tangganya hancur berantakan seperti ibunya dulu, dan terpisah dari Ayahnya dengan meninggalkan luka yang teramat dalam. Bahkan korbannya adalah dirinya dan adiknya Delena.
"Kenapa ibu bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan, apakah itu kekutan batin seorang ibu." Davina menatap nanar ibunya, ingin rasanya ia keluarkan seluruh uneg-uneg yang ada dalam hatinya, mertua yang membencinya dan suami yang tidak mengerti keadaannya.
"Ibu dan Davina, istirahat saja dulu di paviliun. Biar Dena aku yang jaga." saran Reno.
"Iya Kak, kakak baru saja datang lebih baik istirahat dulu, kasihan Chika pasti lelah."
"Ibu sangat rindu padamu dan Chika, kita ke paviliun saja." ucapan ibunya di anggukan oleh Davina.
"Vano antar Oma dan Tante Davin ke paviliun." perintah Reno.
"Iya Dad!" Vano mengangguk patuh. Vano menggandeng Oma nya berjalan bersama Davin dan Chika.
Suara Pintu terbuka lebar, masuk seorang suster "Selamat siang tuan? suster menundukkan kepala "Saya ingin antarkan makan siang untuk Nyonya." Reno mengangguk pelan. Suster menaruh makan siang, puding dari buah-buahan diatas nakas samping ranjang Delena.
"Hari ini makan bubur bayam ya Nyah. karena baru selesai operasi agar lambung dan pencernaannya tidak perih. Ada puding, buah dan juga susu untuk pelengkap.
"Terima kasih sus!" ucap Reno.
"Saya permisi dulu Tuan?" Suster itu berbicara ramah dan meninggalkan ruangan.
"Sayang.." Reno duduk di sisi Delena di atas ranjang. Ranjang berukuran besar itu memang di pesan khusus untuk kenyamanan istrinya. "Mommy pasti pegel ya nggak bisa miring."
"Bisa Mas, ntar di coba pelan-pelan."
"Jangan di paksa Kalau belum bisa, Mas nggak mau kamu kenapa-napa."
"Suster menyarankan seperti itu, biar aku cepat sembuh dan bisa beri ASI untuk bayi kita."
"Makan dulu yank, Mas suapin ya."
Delena mengangguk. "Mas ambilkan minum."
Reno membuka tutup air mineral dan menaruh pipet kedalam botol. Menepuk dua bantal di bawah kepala Delena agar lebih nyaman. Delena menyedot air putih hingga setengah botol. Setelah minum Reno mengagkat piring dan membuka mica diatas piring.
Dengan telaten Reno menyuapin istrinya.
__ADS_1
"Mas sudah, aku mual."
"Sedikit lagi baru lima sendok." ucapnya seraya mengusap lembut sisa makanan di bibir Delena dengan tissue.
"Nggak mau. Mas tahu kan? aku nggak begitu suka bubur."
Reno mendesah pelan. "Ya sudah makan pudding ya."
Delena mengangguk. Reno menyuapin kembali pudding dan buah dengan penuh kasih sayang. "Saat lahir Zevano dan Zevana, Mas tidak bisa menyuapin makan seperti ini. Setahun Mommy koma, membuatku hancur dan hidup seakan tak bergairah lagi." Netra Reno nanar bila mengingat semua itu. "Mas takut kejadian dulu akan terulang kembali. Sungguh hati ini gelisah dan takut saat Mommy di ruangan operasi." ucapnya di sela memberikan pudding terakhir.
"Delena tersenyum "Aku tidak akan pergi meninggalkan mu sendiri Mas. Aku masih ingin hidup bersamamu dan ketiga anak-anak kita."
Reno mengusap pucuk kepala istrinya dan mencium kening. Membaringkan tubuhnya di samping Delena "Thanks my wife, i promise not to leave you." mencium bibir istrinya
Senyuman merekah di bibir Delena, ia merasa paling bahagia di dunia. Di kelilingi orang-orang yang menyayanginya. dan di cintai suaminya melebihi dirinya sendiri, Reno yang tak ingin kehilangan dirinya bahkan bertaruh nyawa demi untuk keluarga yang sudah ia bina selama tujuh belas tahun bersama Delena.
"Mas, kau belum beri nama anak kita."
"Honey, Kau mau beri nama apa anak kita."
"Terserah Mas saja, aku manut Mas."
"Kau memang istri terbaik dan selalu patuh pada suami, walau sedikit keras kepala." Reno terkekeh.
"Bukan kertas kepala Mas, kadang aku punya satu keinginan yang tidak boleh terbantahkan dan itu untuk kepentingan bersama." terang Delena
"Dan Mas nggak akan bisa menolak keinginan mu kan?" mencubit hidung mancung Delena.
"Tentu saja, karena kalian adalah separuh nyawaku." Reno menaruh kepala istrinya diatas lengannya sebagai bantalan dan ia memiringkan tubuhnya menghadap Delena.
"Jadi apa nama jagoan kita, Mas."
" Zevano Hendra Mahesa, Zevana Alea Mahesa. Dan Zidan Aksa Mahesa. Bagaimana menurut mu, apa kau setuju?"
"Iya Mas, Zidan Aksa Mahesa sudah bagus itu, sangat cocok untuk bayi tampan kita." Delena tersenyum sumringah.
"Iya sayang ketampanan nya dari wajah Mas kan? tersenyum bangga.
"Ish, lebay banget Mas." Delena berdesis.
Dua insan manusia yang sedang berbahagia dalam satu ranjang yang sama. Tanpa sungkan Reno memperlihatkan kemesraan pada sang istri di rumah sakit. Asyik ngobrol berdua hingga mereka tertidur pulas. Saking pulasnya mereka tidak menyadari kehadiran suster yang bulak-balik masuk kedalam ruangan, mereka balik lagi karena tidak ingin menganggu pemilik rumah sakit itu terbagun. Mereka pikir sultan mah bebas.
Dua jam telah berlalu, sepasang suami-istri masuk kedalam ruangan kamar inap. Mereka berdua terkejut saat melihat Reno tertidur di atas ranjang istrinya.
"Lihat pah kelakuan anakmu. Tidur satu ranjang sama istrinya, padahal Delena baru tadi pagi sesar. ia kalau ini di rumah sendiri, inikan di rumah sakit." gerutu Andini melihat kelakuan anaknya yang kelewat buncin.
Ramon gelengkan kepala "Mau mesra-mesraan nggak lihat tempat! Reno.. Reno..."
"Bagus sih pah! berarti Reno suami setia hanya dengan satu istri." Andini tersenyum masam.
__ADS_1
Merasa mendapat sindiran keras dari istrinya Ramon meninggalkan ruangan.
"Pah! mau kemana sih!"
"Keluarlah, ngapain kita menunggu mereka bermesraan didalam. Biarkan saja jangan di ganggu mungkin Reno lelah." ujar Ramon seraya melangkah keluar. Andini mengikuti langkah suaminya keluar ruangan Delena.
Lima hari telah berlalu, Delena sudah di perbolehkan pulang. Sementara Davina, Chika dan Helena pulang ke mansion peninggalan Ayahnya yang sekarang di tempati Helena, setelah dua hari menginap di mansion Delena.
Seminggu telah berlalu, Davina memutuskan untuk tinggal bersama ibunya. Robert terus menghubungi istrinya, Namun tak sekalipun Davina mengangkanya. Merasa ada yang tak beres, setelah melimpahkan semua tugas di rumah sakit pada Dokter Arman, orang kepercayaan nya. Robert memutuskan untuk menjemput istri dan anaknya ke Jakarta.
Seperti biasa sore itu, selesai sholat ashar. Davina sibuk di dapur menyiapkan untuk makan malam. Di bantu dua Asisten rumah tangga yang biasa menemani ibunya di rumah besar itu. Ada Penjagaan yang ketat di depan gerbang.
Sebuah mobil berhenti di depan gerbang tinggi bercat hitam itu. Setelah membayar taksi, Robert menekan bel di depan gerbang.
"Cari siapa Pak?"
"Saya mantu dari bu Helena, ingin menjemput anak dan istri saya."
"Ohh, Nama Anda siapa? maaf kami harus detil bila ingin bertemu atau masuk kedalam mansion ini, karena ini perintah tuan Reno."
"Saya Dokter Robert dari Bali."
"Baik, tunggu sebentar!" pria bertubuh tegap itu menghubungi seseorang dari telpon genggam nya. Selesai berbicara Pria itu membuka gembok dan mendorong pintu kesamping "Silakan masuk tuan!" perintahnya.
Robert melangkah kan kakinya masuk kedalam pekarangan luas yang dua kali lipat besar rumah mertuanya di banding miliknya di Bali.
Papi....!" teriak Calista yang sedang duduk di ayunan goyang. ia berlari kearah Papinya yang baru datang. Robert tersenyum lebar dan menangkap tubuh anak gadisnya.
"Papi kenapa baru datang? Chika kangen."
"Papi juga kangen, makanya datang mau jemput Chika dan Mami.'"
"Tapi katanya Mami nggak mau pulang, mau tinggal sama Oma, kasihan Oma nggak ada temannya."
Robert terdiam, hatinya berdenyut pedih mendengar ucapan anaknya kalau Davina tak mau pulang dan Ingin tinggal bersama ibunya. "Apakah kau akan meninggalkan ku, Davin?" batinnya lirih, darahnya berdesir bila memikirkan sesuatu akan terjadi. "Apakah Davin akan menerima, kalau aku memiliki anak dari masa lalu? dan anak itu dalam kondisi memprihatinkan. Gadis yang ia tabrak malam itu karena rem mobilnya blong." Robert mendesah kasar, netral nya berkaca-kaca.
'Papi....!" ayo kita temui Mami." Chika menarik tangan dan masuk kedalam mansion.
๐๐๐๐
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat ๐ช nulis๐
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
__ADS_1
๐komen
@bersambung.....