
Dua orang saling melepas rindu, ibu dan anak yang telah lama berpisah kini kembali bertemu, tapi sayang, Nadine melupakan suaminya Reno, suami yang selalu menanti kehadiran istrinya kembali, suami yang selalu setia menunggu, suami yang memberikan cinta tulusnya untuk Delena, seorang istri yang sangat ia cintai dan sayangi segenap hati dan jiwanya, tapi hari ini Reno benar benar mendapat sebuah ujian kembali dari Tuhan, kesabaran nya sedang di uji, seberapa besar mental dan keteguhan hatinya sebagai seorang suami.
Reno sudah pasrah, ia hanya bisa menatap wajah istrinya dengan penuh kesedihan, airmata Reno terus mengalir membasahi pipinya hingga jatuh mengenai kemejanya, dunia seakan mau runtuh saat Delena tidak sedikitpun mengenal dirinya, cintanya begitu besar, hatinya bagai teriris sembilu, Reno memegangi dadanya yang terasa nyeri dan sesak, nafasnya pun tertahan, tenggorokan nya terasa kering, Ingin rasanya ia berlari dan memeluk tubuh istrinya, tapi sayang itu hanya lah sebuah ilusi, Dr faris merangkul pinggang Reno agar tidak jatuh, karena Reno hampir saja pingsan, dengan cepat Tommy datang dan juga merangkulnya, sebenarnya hati Reno masih belum siap menerima kenyataan pahit, tapi mau bagaimana lagi,, Tuhan sudah berkehendak, ia hanya bisa nerima kenyataan.
"Tuan, lebih baik aku antar tuan ke mansion" tutur Tommy.
"Tidak Tom! aku masih ingin disini, melihat istriku, aku tidak ingin pergi sebelum istriku ikut pulang ke mansion"
Mata Tommy dan Dr faris saling bersitatap, ia tau sifat keras kepala Reno yang tidak akan mudah tergoyahkan.
"Ibu,, kemana saja ibu pergi, aku sangat merindukan ibu"
"Nak, berikan dulu Denissa pada ibu, kasihan dia menangis terus"
"Dimana kah orang tuanya bu,,? tadi dia bermain sendirian" mendengar ucapan Delena, helena semakin dalam tangisannya, ia begitu sedih Delena tidak mengingat suami dan anaknya, hanya dirinya yang ia ingat.
"Ada Nak, biar ibu berikan anaknya pada orang tuanya"
Delena mencium pipi dan kening Denissa, lalu mengembalikan nya pada helena, Helena berjalan kearah Reno, tubuh Reno terlihat lemah dan wajahnya pucat, terlihat jelas garis kesedihan diwajahnya yang sudah sembab penuh airmata, helena tak tega melihat mantunya begitu terpukul.
"Denissa biar aku yang gendong" ucap Andini tiba tiba yang sudah berdiri disana, helena memberikan Denisa pada Andini.
"Reno, maafkan ibu Nak,," ucap helena merasa bersalah
"Ibu tidak pernah salah, kenapa harus minta maaf,,"
"Ibu tidak tega melihat kau seperti ini, Delena,, tidak mengingat dirimu"
"Ibu, bawa Delena pulang ke mansion, hanya perkataan ibu istriku menurut, kasihan ia sangat lelah"
"Iya nak Reno, ibu akan membawa nya pulang"
Helena berjalan kearah Delena yang masih berdiri memandang danau di depannya.
"Delena,," Helena merangkul pundak anaknya "Ayo kita pulang, kau pasti lelah bukan?!
"Pulang kemana bu,,,?!
"Tentu kerumh mu nak,,"
__ADS_1
"Rumah ku,,? ibu jangan bercanda, sejak kapan aku memiliki sebuah rumah, bukan kah kita hanya mengontrak disebuah rumah petakan yang kumuh,, buat bernafas saja susah, karena tempat itu sangat padat penduduk"
"Delena,,, hiks,, hiks,, hiks,, " helena memeluk erat tubuh anaknya "Jangan kau ingat semua itu nak, itu sudah berlalu"
Reno yang mendengar ucapan istrinya jatuh terduduk lemas, ia membekap wajah dengan kedua tangannya, Reno menangis terisak.
"Tuan,, anda tampak lemas, lebih baik beristirahat dulu di mansion, kondisi anda sangat memprihatinkan" bujuk Dr faris
Reno hanya terdiam sambil menunduk kan wajahnya dalam,
"Delena, kau harus lupakan masa lalu itu, semua itu sangat menyakitkan bagimu,ibu tidak ingin kau menderita seperti dulu lagi, kau harus bahagia bersama orang yang kau cintai"
Delena tersenyum "Tentu saja bu,, aku akan menikah dengan Arya dan hidup bahagia bersama nya, ia sudah berjanji padaku akan membahagiakan aku dan membuat sebuah rumah dekat danau"
"Deg! hati Reno semakin terluka, darahnya berdesir, jantung nya berdebar cepat, ternyata Delena masih mengingat Arya sebagai tunangn nya.
"Delena,, ayo kita pulang, di dekat danau ada sebuah mansion, bukan kah tadi kau dari mansion itu" Helena menunjuk sebuah mansion Megah bak istana.
"Iya ibu,, tadi aku berada ditempat itu, kenapa aku berada disana bu,,? siapa yang membawa kita ke rumah istana itu?
"Ibu akan ceritakan nanti, sekarang ayo kita pulang, apa kau tidak rindu pada ibu?
"Ibu akan memberi mu makan yang enak" tutur helena lembut sambil merapikan anak rambut Delena kebelakang kuping. "Apapun yang kau pinta pasti akan ibu penuhi, ayo sekarang kita pulang"
Delena mengangguk pelan dan mengikuti langkah helena, mereka berdua bergandengan tangan seakan tidak ingin terpisahkan lagi, melihat Delena mulai berjalan mendekat, Reno berdiri dan menatap wajah cantik istrinya yang masih terlihat pucat, helena berhenti di depan Reno berdiri sambil menatap wajah Reno haru, ingin rasanya Reno memeluk istrinya yang sudah lama ia rindukan, tapi sayang Delena menundukan wajahnya sambil mendekap tangan ibunya kuat, bahkan ia tidak menoleh pada Reno sedikit pun.
"Reno, ayo kita pulang,," titah helena.
Mereka semua berjalan meninggalkan danau tersebut, Andini, Ramon, siska, Fanny dan si kembar sudah lebih dulu berada di mansion, saat sudah di depan teras mansion Delena berhenti, ia tercengang melihat keindahan halaman dan kemewahan pada mansion itu.
"Ibu,, istana ini milik siapa,,?!
"Milik mu Delena, suami mu yang telah memujudkan impian mu selama ini, tapi kau malah ilang ingatan" bathin helena menangis
"Milik kerabat ibu Nak, ayo masuk'
"Ibu memiliki kerabat sekaya ini,," ucap delena kagum
Helena mengangguk pelan, sebuah pintu terbuka lebar, beberapa pelayan berjejer membungkuk memberi hormat, tentu saja Delena dibuat bingung kembali "Ayo nak masuk" mereka berdua masuk kedalam mansion, sebuah ruangan sangat luas dengan perabotan furniture serba Lux.
__ADS_1
"Reno,," helena berjalan mendekat pada Reno "ibu izin bawa Delena ke kamar ibu ya, ia perlu mandi dan makan, nanti kita bicarakan lagi masalah Delena"
"Iya bu,, jaga istriku dengan baik, apapun permintaan istriku akan aku penuhi"
"IYa Reno, ibu kekamar dulu, permisi" Helena dan Delena berjalan bersama menuju kamar helena.
"Dokter faris, kau berhutang penjelasan padaku?, temui aku diruangan kerja dua jam lagi, aku mau mandi dulu"
"Baik tuan,,"
"Reno kau harus sabar menghadapi ini semua, Papa yakin Delena akan kembali lagi ingatan nya,, kau jangan putus asa ya"
"Iya Reno,, Papa mu benar, Delena pasti akan kembali, apalagi ada si kembar, bathin seorang ibu akan terikat dengan anak kandungnya"
"Terima kasih Mah, pah,,, kalian adalah penyemngat ku" Reno memeluk Andini dan Ramon, tangisan Reno kembali terdengar lirih.
"Sabar sayang,, semua akan kembali normal" Andini mengelus lembut kepala Reno.
"Kau seorang suami dan ayah yang kuat Nak, Papa yakin akan indah pada waktunya" ucap Ramon mengelus lembut punggung Reno.
"Aku ke kamar dulu mah, ingin mandi dan beristirahat"
"IYa sayang,,"
Reno berjalan mendekati kedua anaknya yang sedang di gendong suster masing-masing, ia menciumi dan memeluk anaknya erat bergantian, lalu memberikan kembali pada suster, Reno berjalan menaiki anak tangga dengan langkah gontai.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
@Bersambung
@, Author cuma mau kasih tau, cerita kalau tidak ada konflik pasti sudah tamat, biarkan konflik itu ada dan otor sendiri yang selesai kan, klau menurut kalian bosan dan bertele-tele itu hak kalian, otor membuat novel ini hanya untuk hiburan semata!
@Yuk ikuti terus kelanjutan nya, jangan lupa terus dukung Author dengan cara
@LIKE
@VOTE/GIFT
@RATE BINTANG 5
__ADS_1
@KOMENTAR POSITIF