
Vano menyeringai "Dasar pengecut! berani mengancam dengan senjata. Ayo lawan aku! satu lawan satu tanpa senjata! kita buktikan siapa yang menang! Kalau aku kalah kau boleh minta tebusan pada keluarganya. tapi, kalau aku menang bebaskan kami semua!"
"Hahahaha... kau berani menantang ku! bagaimana kalau aku tetap pakai senjata. Aku tidak ingin melepaskan Berlian itu! kau ingin menggagalkan rencana ku, bukan? Lebih baik kau mati saja!!" teriak Raksa dengan nafas memburu. Pistol itu Raksa arahkan kedepan tubuh Vano.
"Vano awas ...!! seru Anita merentangkan kedua tangannya didepan Vano sebagai pelindung. Namun sayang, timah panas itu salah sasaran. Dan.....
"DORRRR.....
Aaakkhhhh!
"Tante..!! seru Vano.
"DORR!!!
"Aakkhh!!" Teriakan Raksa dibarengi tubuhnya ambruk ketanah.
"Brukk!
"Menyerah kalian semua!!" teriakan lantang pria berseragam coklat, seraya mengarahkan pistol kearah mereka semua.
"Jangan ada yang bergerak! tangkap mereka semua!" perintah kepala komandan pada anak buahnya, mereka berlari dan memborgol empat orang pria dan satu wanita tanpa perlawanan. Sementara Raksa mengerang kesakitan diatas tanah, timah panas telah menembus pangkal pahanya.
Pak polisi menatap bengis pada Raksa, ia berjongkok menyamai tubuh Raksa yang terduduk ditanah "Bagaimana rasanya tertembak timah panas?" kau masih satu komplotan dengan pemerasan kemarin bukan?" teman-temanmu sudah tertangkap. Bila wanita itu mati! menunjuk kearah Anita. "Dan dia tidak tertolong lagi. Bersiaplah untuk membusuk seumur hidupmu didalam penjara!" komandan menyeringai dan memukuli wajah Raksa bertubi-tubi. "Angkat dia dan bawa ke mobil!" perintah komandan lagi.
"Tante! bertahan lah!" teriak Vano khawatir. Ia ikut terjatuh berbarengan dengan tubuh Anita yang lambung kebelakang. Peluru itu melesat dengan cepat mengenai dada kirinya. Anita telah menyelamatkan Vano dari maut, Vano menangis melihat darah segar mengucur deras dari dada Anita.
"Vano!!
"Calista!
Panggil Frans dan berlari kearah mereka.
"Papah...!! Calista berteriak dan memeluk ayahnya. "Calista tidak apa-apa sayang?" Frans menciumi anaknya penuh kerinduan.
"Vano!" sebuah tepukan dipundaknya. Vano menoleh kearah samping. "Daddy!!"
"Dad! Tante Nita sudah menolong Vano. Mengorbankan dirinya untuk melindungi Vano!" ucapan Vano terdengar sedih dan tak berdaya. Airmatanya begitu tulus menetes, manakala melihat orang yang telah berkorban untuknya bersimbah darah di pangkuannya.
"Sabar Van! Daddy akan secepatnya bawa Anita kerumah sakit."
"Secepatnya kalian bawa Anita kerumah sakit." perintah Reno pada anak buahnya. Mereka sudah menyebar di pekarangan rumah Raksa, dan berbaur dengan polisi.
"Tante plis, Tante! bertahanlah demi anak Tante..! Vano menggenggam kuat jemari Anita untuk memberikan kekuatan.
Beberapa Polisi mendekat dan melihat kondisi Anita yang tidak bergerak sama sekali. Namun, detak jantungnya masih berdenyut. Polisi siap siaga dalam memberikan pertolongan dan tindakan dengan cepat, agar darah Anita tak banyak keluar.
"Kami telah menghubungi mobil ambulance di lokasi terdekat Tuan, jadi korban tidak bisa di bawa mobil pribadi. Ini sangat beresiko untuk korban dan bisa kehabisan banyak darah." komandan polisi menjelaskan pada Reno dan Frans baik dan buruknya kondisi Anita.
"Baiklah Pak! Saya hanya berusaha menolong Nona Anita, dia adalah sekertaris saya, dan saya ikut bertanggung jawab."
"Saya mengerti Tuan, Namun, prosedur tetap harus berjalan. Nona Anita adalah korban dan sudah semestinya polisi yang menangani kasus ini, karena ini sudah masuk ke ranah hukum."
"Oke, lakukan yang terbaik untuk Nona Anita." Reno berucap pasrah. Ia sudah berusaha Ingin membawa Anita kerumah sakit milik Vano dan mengeluarkan peluru secepatnya. Namun, polisi tetap menolaknya.
Melihat keadaan kacau dan tak ingin anaknya trauma. Frans membawa Calista keluar dari pekarangan rumah itu untuk menemui fanny.
__ADS_1
"Calista!
"Mama!"
Fany merendahkan tubuhnya untuk menyamai tinggi anaknya "Kau tidak apa-apa sayang?'" tanya fanny di sela tangisnya memeluk dan menciumi anak semata wayangnya.
"Calista sangat takut Mah. Tante kena tembak!" huhuhuh.... tangisnya melihat kejadian itu didepan matanya.
"Jangan takut sayang, ada Mama disini, kita tidak akan pernah berpisah lagi." hiburnya
"Mas siapa yang tertembak?" tanya fanny, ia berharap bukan Anita yang tertembak. Walau masih ada rasa cemburu atas foto-foto itu, ia tetap tidak ingin ada korban atas isinden penyelamatan anaknya.
"Huft!" Frans mendesah kasar dan menatap fanny nanar.
"Siapa Mas?" tanya Fanny lagi, ia sangat penasaran dengan jawaban suaminya.
"Anita!" ucap Frans lemah.
"Ap-apa..?!" Fanny membekap mulutnya dengan mata membulat. Ia hampir tak percaya, butiran bening menetes kembali, setelah sempat terhenti.
"Kau tunggu disini saja dan masuklah kedalam mobil. Aku akan kembali, ingat, jangan keluar sebelum aku kembali."
Fany mengangguk mengerti dengan ekspresi bingung, ada guratan sedih diwajahnya. Frans menutup mobil setelah istri dan anaknya duduk di jok belakang.
Suara sirene mobil ambulance terdengar nyaring dan berhenti tepat didepan rumah Raksa. Empat perawat turun dari mobil dan membawa tandu.
"Vano! biarkan para perawat itu membawa Anita. Ia harus segera ditolong." Reno berbicara pelan untuk menjaga perasaan anaknya. Reno sangat tahu sifat anaknya yang peka dan mudah tersentuh. Vano melepas genggaman tangan Anita dengan sedih. Para perawat pria mengangkat tubuh Anita dan membawa masuk kedalam mobil ambulance.
"Dad! aku ikut antarkan Tante kerumah sakit."
"Jangan sekarang Van! sudah ada kepolisian dan perawat yang menangani Anita. Kita harus buat beri kesaksian ke kantor polisi dulu baru pulang kerumah. Besok baru kita jenguk Anita." Reno memberi pengertian pada anaknya seraya mengelus punggung Reno.
"Vano benar Kak! biarkan aku bersama Vano mengikuti mobil ambulans dan menemani Anita sampai rumah sakit. Besok pagi aku dan Vano akan beri kesaksian di kantor polisi."
"Mungkin kau sangat lelah, tapi tidak pernah kau perlihatkan." Reno menatap sedih anaknya "Daddy percaya padamu Nak, kau sangat bertanggung jawab dan peduli sesama, hal yang tidak pernah Daddy lakukan seusia mu dulu. Baik, pergilah bersama Om Frans."
"kalau begitu titip Istri dan anakku kak!"
"Pergilah, fanny dan Calista akan kakak bawa pulang kerumah."
Frans dan Vano bergegas masuk kedalam mobil dan mengikuti mobil ambulans di belakangnya bersama iringan polisi.
Malam itu jalanan raya tampak sepi dan legang. Dua puluh menit kemudian mobil sampai di rumah sakit "Bayangkari" Para perawat menurunkan Anita dan membawa kerungan UGD (Unit Gawat Darurat) dan langsung diambil tindakan untuk operasi.
Vano dan Frans menunggu diluar ruangan. Polisi masih mengawasi dan duduk disamping Vano sambil meminta keterangan atas insiden terjadinya penembakan Raksa pada Anita yang baru diketahui polisi adalah mantannya. Tangan polisi mencoret-coret bolpoin diatas buku yang ia pegang, menulis semua keterangan dari Vano dan Frans. Usai memberi keterangan, Pria berseragam coklat meninggalkan Frans dan Vano dirungan tunggu operasi.
Hening. jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari. lorong-lorong rumah sakit tampak sepi. Terlihat para perawat dan Dokter jaga melintas di koridor hanya untuk masuk keruangan pasien.
"Van! Om ke kantin dulu, mau ngopi. Apa kau ingin ikut?"
"Tidak Om, aku tetap disini."
"Oke, nanti Om bawakan cemilan, kabarin Om kalau operasinya sudah selesai."
Vano mengangguk, terlihat raut wajah gusar dan gelisah. Pandangannya menatap kepergian Frans, hingga punggung lebar itu menghilang di ujung koridor. Tinggal Vano masih berada diruangan tunggu, seraya tangannya berselancar memainkan ponsel.
__ADS_1
"Vano!
Vano dikejutkan suara seorang wanita yang sudah duduk disampingnya. ia heran darimana wanita itu datang? tiba-tiba ia sudah duduk. Vano menoleh, menatap lekat wanita disampingnya. Berkemeja motif bunga-bunga dan celana jeans hitam, rambut panjangnya tergerai menutupi wajahnya yang tertunduk.
Vano sadar siapa wanita itu. Dilihat dari pakaian dan postur tubuhnya rasanya ia mengenali meskipun baru beberapa kali bertemu. "Tante Anita? kenapa ada disini? bukankah Tante sedang menjalani operasi?"
Tiba-tiba wanita yang bernama Anita menangis terisak, ia menoleh kearah Vano. Wajah Anita sangat putih dan kedua matanya celong, bibir pucat itu mulai bergerak "Vano, mau kah kau menolong Tante?"
"Iya Tante, aku pasti akan tolong, sesuai kemampuan Vano."
"Tolong sampaikan pada Ferdy kalau ibunya sangat menyayangi, dan wujudkan impian anakku Ferdy untuk menjadi seorang pilot."
"Pasti Tante akan Vano sampaikan. Semoga keinginan Ferdy tercapai, insyaallah Vano akan membantu biaya pendidikannya."
"Terima kasih Vano. Titip anakku Ferdy. Kini aku akan pergi dengan tenang." wajah pucat itu tersenyum tipis pada Vano.
"Tante mau pergi kemana?!" Vano menyentuh tangan Anita. "Tangan tante sangat dingin seperti es batu, apa Tante kedinginan? wajah Tante juga pucat, apa Tante sakit?!" tanya Vano spontan, disela kebingungannya.
Anita tidak menjawab pertanyaan Vano. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju koridor. Vano hanya menatap kepergian Anita yang dan tiba-tiba hilang dari pandangannya.
Vano melihat sekeliling ruangan tunggu sudah mulai ada yang beraktivitas. Suster dan perawat lalu lalang didepannya. Beberapa polisi juga berada disekitar ruangan, mereka ngobrol bareng Frans.Tak lama keluar seorang Dokter dari ruangan Operasi dengan ekspresi tegang.
"Padahal tadi sangat sepi dan tidak ada seorangpun disini, hanya ada aku dan Tante Anita. kenapa tiba-tiba suasana jadi berbeda?" gumamnya pelan.
"Dimana keluarga pasien? tanya pria berjas putih-putih, bola matanya memutar lelah.
Vano beranjak dari duduknya dan menghampiri Dokter itu, berbarengan dengan Frans dan tiga orang polisi berjalan mendekat.
"Bagaimana keadaan Nona Anita? kata penyidik berseragam coklat itu.
"Peluru sudah berhasil kami keluarkan, Namun, Nona Anita banyak mengeluarkan darah." Raut wajah Dokter itu terlihat ada penyesalan.
"Jadi....?!" Frans menggantung ucapannya di iringi jantung yang berdebar cepat.
"Maaf, kami tidak dapat menolongnya. Ia menghembuskan nafasnya disaat transfusi darah sedang berlangsung. Tim kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, Namun Tuhan berkehendak lain."
Seketika dada Vano terasa sesak. "Jadi Tante Anita sudah meninggal?" ucapnya lirih disela airmatanya berjatuhan.
Frans melihat keponakannya begitu syok dan sedih. Ia merangkul pundaknya "Sabar Vano, mungkin ini sudah takdir hidup Anita, kita tidak tahu kapan ajal itu akan datang."
"Pantas aku di datangi Tante Anita, dan ia menitipkan anaknya padaku." ucap Vano dengan suara bergetar dan tercekat. Vano terkejut dan baru menyadari, sosok wanita yang menemuinya tadi adalah arwah Anita untuk berpamitan padanya. Tangisan Vano semakin dalam kala ranjang sorong itu keluar dari ruangan operasi, tubuh tak bernyawa itu sudah berbalut penutup kain putih.
๐ข๐ข๐ข
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat ๐ช nulis๐
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
๐komen
__ADS_1
@bersambung......๐๐๐
'