
Perawat mulai mendorong ranjang sorong dan membawa Delena kerungan operasi sesar. Genggaman tangan istrinya tidak Reno lepas, sampai didepan pintu operasi ia menciumi kening dan pipi istrinya.
"Ingat sayang, banyak berdo'a. Aku sangat mencintaimu."
Delena tersenyum dan mengangguk pelan. Hingga tubuhnya masuk kedalam ruangan operasi.
Pagi itu Reno terlihat cemas dan gusar didepan pintu ruangan operasi, ia mundar-mandir seperti orang linglung, Vana menghitung langkah Daddy nya yang kadang membuatnya tertawa kecil.
"kak! menyikut tangan Vano "Lihat kelakuan Daddy, dari tadi Vana hitung hampir 70x mundar-mandir didepan pintu. Pusing nggak sih lihat kelakuan Daddy?" Vana terkekeh.
"Ssstttttt! udah biarin ajah, mungkin itu cara Daddy untuk menghilangkan ketegangan."
"Tapi Vana salut deh dengan Daddy, begitu mencintai Mommy walau usia mereka sudah tua, Cinta Daddy dan Mommy begitu tulus, apakah kelak aku akan menemukan sosok pendamping seperti Daddy?"
"Kenapa kau jadi kemana-mana sih bicaranya."
"Ish kak! itukan hanya cita-cita pingin dapat suami seperti Daddy, penyayang Keluarga dan setia pada Mommy."
"Hemmm...." Vano tidak menjawab lagi ia hanya berdehem
"Apa nanti Kaka juga akan setia sama seperti Daddy?" hanya dengan satu wanita." tanya Vana menunggu jawaban kakaknya.
Vano menoleh pada adiknya "Tentu saja, memiliki lebih dari satu pasangan sama saja penghianat! kakak punya empat adik perempuan. Vana, Calista, Chika dan Zara. kalau kaka berselingkuh lebih dari satu, takut karma kena kalian, kakak tidak mau itu."
Vana terkekeh "Mantap Kakak ku memang keren, pemikirannya sangat logis dan tidak primitif. pemikiran kaya kakak begini yang harus diikuti kaum Adam diluar sana."
"Sudah jangan banyak tanya lagi, lihat mereka semua terlihat tegang."
"Reno tidak usah mundar-mandir terus, apa nggak pegel." Andini melihat ketegangan pada anak lelakinya, iapun merasakan kegelisahan dan ketakutan yang anaknya rasakan.
"Minum dulu kak! Frans memberikan botol mineral pada Reno. Reno meneguknya dan keluar keringat jagung dari dahinya.
"Ren, duduklah!" Ramon terus membujuk anaknya yang terus khawatir. Akhirnya Reno patuh pada ayahnya dan duduk diantara Ramon dan Andini.
"Mah! Pah! bagaimana kalau nanti Delena koma lagi, aku nggak akan sanggup." Reno tertunduk sedih.
"Hussszzz! nggak boleh ngomong gitu Ren. Berdoalah semoga istri dan anakmu selamat." Andini memperingati.
Reno menarik nafas dalam, jantungnya berdebar tak karuan, keringat jagung terus membasahi peluh.
"Ren! Ramon menepuk pundak anaknya "Yakinlah pada kekutan do'a mu sendiri, Delena yang dulu berbeda dengan sekarang, dulu karena ia mengalami musibah, sekarang ia lebih kuat dan tegar."
"Kak! Fanny mendekat dan memberikan kekuatan dengan menggenggam kedua tangan Reno. "Kak! kak Dena itu wanita yang kuat dan tangguh, kakak tidak usah khawatir. Dulu kak Dena pernah cerita, ia masih menginginkan seorang anak lagi, dan do'anya terkabul walau kakak sempat melarangnya. Sementara aku yang berharap ingin punya anak lagi belum dikasih."
"Sabar fan! mungkin belum saat ini, masih ada waktu untuk hamil lagi." Andini membesarkan hati anak perempuan nya.
Reno mengangguk, Semua telah menguatkan dirinya. Siska dan Tommy pun memberikan semangat untuk keponakan itu.
Satu jam lewat dua puluh menit belum ada tanda dari dalam ruangan operasi. Didepan pintu lampu masih menyala merah, Itu pertanda persalinan belum selesai.
Tak lama lampu merah berubah hijau, pertanda operasi sudah selesai. Reno berdiri didepan pintu dengan perasaan was-was.
JGLEK!
Dokter Hanna keluar dari pintu bersama dua suster, dalam tangannya menggendong bayi mungil.
Reno tercengang dan menatap tak percaya.
"Selamat Tuan Reno, istri anda lahir dengan selamat."
Semua keluarga berjalan mendekat.
"Anak Tuan laki-laki, sangat sehat dan tampan." Dokter Hanna tersenyum, memperlihatkan bayi dalam gendongannya yang polos tanpa sehelai benangpun berbalut selimut tebal, pada Reno dan keluarga besar Mahesa.
Reno masih menatap tak percaya, melihat bayi mungil yang masih merah menggeliat di tangan Dokter Hanna. Netra Reno berkaca-kaca ia terlihat bahagia dan terharu.
"Tolong di azani dulu Tuan." menyerahkan bayi mungil itu pada Reno.
"Biar saya yang gendong bayinya, ia masih grogi Dok, takut jatuh." Andini mengambil alih untuk menggendong bayi merah itu. Reno mendekatkan bibirnya ke telinga anaknya dan mulai mengazani putranya. Suara Reno bergetar saat mengazani bersamaan tetesan airmata.
Semua bernafas lega, Reno menciumi bayi merah itu, rasa haru, bangga dan bahagia berubah menjadi satu, terlihat dari ekspresi wajahnya berbinar cerah.
"Boleh saya pinta dulu bayinya Bu, suster akan membersihkan dan memakaikan baju, nanti akan saya antar kerungan rawat inap Nyonya Delena."
"Ohh, silakan Dok!" Andini menyerahkan bayi mungil itu pada Dokter Hanna dan di serahkan pada kedua Suster untuk di bersihkan.
Ranjang sorong keluar dari ruangan operasi yang di bawa oleh empat suster menuju ruangan VIP, tempat Delena di rawat. Mereka semua mengikuti sampai di dalam ruangan. Delena terlihat masih setengah sadar saat Reno mendekat dan mencium keningnya.
"Sayang... Alhamdulillah anak kita laki-laki, dia sangat sehat dan tampan sepertiku." pujinya. Terdengar suara kikikan dari belakang Reno. semua hanya terkekeh pelan, suara Vana yang paling kenceng kekehanya.
"Astaga punya Daddy lebay banget sih! celetuk Vana. "Dek, jangan ketawa mulu, kakak lihat kau senang sekali mengejek Daddy." Vano geleng-geleng kepala. Vana hanya menutup mulutnya menahan tawa.
Delena membuka matanya perlahan, wajah yang pertama kali ia lihat adalah suaminya dengan senyuman khasnya seorang CEO.
__ADS_1
"Mas! panggil Delena pelan.
"Iya sayang." mengusap lembut pucuk kepala istrinya penuh cinta.
"Mana anakku? dia sehat kan? tadi aku mendengar tangisannya."
"Anak kita laki-laki, kini aku punya dua jagoan putra dan satu putri." ucap Reno bangga, ia begitu terlihat bahagia dengan senyum yang selalu mengembang.
Delena tersenyum, dan menatap satu persatu kelurga besarnya.
"Vano, Vana. Kemarilah Nak.'
"Iya Mom! ucapnya bersamaan. Mereka berdua berjalan mendekat dan berdiri di tepi ranjang.
"Kini kalian sudah menjadi seorang kakak apa kalian senang?"
"Tentu saja kami senang." ucap Vano, yang di iya kan oleh Vana.
Kini seluruh kelurga bergembira, Delena lahir dengan selamat dengan bayi yang sehat dan tampan.
"Aku akan mengantarkan mu ke bandara."
"Tidak usah Mas! aku dan Calista naik taksi saja."
"Sayang, Kenapa kau harus terburu-buru begini, kita bisa berangkat bersama ke Jakarta."
"Tunggu Mas cuti dulu? keburu jamuran, kau saja tak jelas kapan waktu untuk istirahat." Davina mendengus kesel.
"Mih! aku bisa serahkan tugas ku pada Dokter senior, tapi tidak bisa mendadak, mungkin tiga hari lagi aku akan ambil cuti."
"Terserah Mas! aku akan berangkat sekarang!"
"Kenapa tidak diangkat!" celetuk Davina "Apa kau takut ketahuan?"
Robert geleng-geleng kepala "Mih, jangan curiga berlebihan, Mami tidak tahukan keadaan diluar sana, Seorang Dokter juga memiliki beban mental, jangan selalu berprasangka buruk dulu." Robert mendesah kasar.
"Sudahlah Mas! terserah kau saja, aku tidak ingin berdebat lagi, kau mau datang ke Jakarta atau tidak itu terserah kau! Davina keluar kamar seraya mendorong koper
"Ayo Chika kita berangkat!" menarik tangan Chika yang sudah berdiri di depan pintu.
"Mah! aku berangkat ke Jakarta dulu!" Davina memberanikan diri untuk menyapa mertuanya yang sedang asik menonton Tv. Namun tiidak ada sahutan sama sekali. Davina mendengus kesel dan berjalan keluar ruangan.
Taksi sudah menunggu di luar gerbang.
"Hati-hati sayang, jaga dirimu baik-baik." Davina tak menggubris ia langsung masuk kedalam taksi.
"Chika, jangan nakal ya disana. Jaga Mami." mencium kening dan kedua pipinya.
"Iya Pih! mencium tangan Robert. "Chika berangkat dulu ya Pih!"
__ADS_1
"Iya sayang, nanti papi jemput."
Chika masuk kedalam mobil. Mobil berjalan pergi meninggalkan kediaman Robert.
Suara ponsel berdering kembali, dengan kesal Robert mengangkatnya "Kau selalu tidak sabaran Kinanti! istriku baru saja pergi ke bandara!" serunya kesal
"Tapi kau harus secepatnya datang!"
"Aku pasti kerumah mu! tapi sabar dulu!" Robert mematikan sepihak.
"Arrgh! kenapa masalah tidak selesai-selesai!" Robert teriak prustasi, ia berlari masuk kedalam kamar, mengambil kunci mobil dan tas kerjanya.
"Robert! kenapa kau biarkan Chika ikut bersamanya."
"Davina itu ibunya Mah! mana mungkin ia pergi tanpa Chika!"
"Ck!" Apa gunanya Mama disini kalau Chika di bawa pergi!"
"Kalau Mama kesepian bisa ajak kak Sarah untuk menemani Mama. Aku berangkat dulu Mah!" Robert berjalan cepat meninggalkan Mama nya yang terlihat kesal.
"Robert! kau antarkan saja Mama kerumah Sarah!" teriaknya dari depan teras.
Robert tak hiraukan panggilan Mamanya, dengan cepat ia melajukan mobil menuju rumah seorang wanita.
"Ada masalah apakah Robert dengan wanita bernama Kinanti? ikuti keseruan nya di episode selanjutnya🤗
💜💜💜
@Kisah Fany, Frans, Tomy dan Siska sudah di bahas, kini kita beralih dulu kisah Davina dan Robert. Setelah ini baru menuju anak-anak mereka yang tumbuh dewasa.
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat 💪 nulis😘
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
💜like
💜vote
💜gift
💜komen
__ADS_1
@bersambung......💃💃