
"Iya sayang, sampai jumpa lagi." mencium pipi Rara yang si sabut tawa kecil gadis itu.
"Arya, aku pamit dulu, jaga Rara baik-baik." Delena tersenyum samar.
"Hati-hati Dena." ucapnya, tanpa berkedip menatap wanita yang masih ia cintai.
Delena berjalan mendorong troly nya ke kasir, meninggalkan Arya dan Rara yang menatap kepergiannya.
Seorang karyawan swalayan membantu mendorong troly sampai parkiran, dan memasukkan nya kedalam bagasi mobil, Delena mengeluarkan uang warna merah dari dompet dan memberikan pada karyawan itu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, meluncur membelah jalanan raya. Satu jam kemudian mobil sudah sampai didepan mansion. Dua orang pelayan membawa belanjaan kedapur.
"Hey Mom!
"Hey sayang! sudah makan siang?!
"Belum, nanti saja aku dan Bella mau berenang dulu, Mom."
"Makan siang dulu Nak, biar nggak masuk angin." Delena beri peringatan.
"Tumben Mommy keluar rumah, darimana Mom?!
"Habis belanja sayuran dan susu hamil."
"Ooooo.....
"Ya sudah Mom! ayok kita makan bareng." bujuk Vana menarik tangan Delena.
Mereka sudah berada di ruangan meja makan.
"Dimana Vano?! tanya Delena memutar matanya mencari sosok anak lelakinya.
"Kakak sedang bersama Dev, katanya mau main kerumahnya."
"Oh ya? ya sudah ayok kita makan."
Mereka bertiga makan siang bersama. selesai makan Vana dan Bella berenang di samping mansion. Sementara Delena masuk kedalam kamar, mencuci wajahnya dan merebahkan diri diatas ranjang.
"Arya, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu kembali. Aku sangat kasihan pada Rara, gadis cantik itu ditinggal ibunya pada usia dua tahun, Arya belum bisa muve on dari ku, Ahh! laki-laki bodoh! kau hanya menyiksa dirimu sendiri. Padahal kau masih terlihat muda dan tampan, memiliki usaha properti yang terbilang sukses, apalagi coba? mudah bagimu mendapatkan seorang istri. Seharusnya kau sudah mencari pengganti ibu buat Rara!" gerutu Delena.
"Aish, kenapa juga aku yang sewot sih! sudahlah aku tidak boleh memikirkan masa laluku lagi. Aku sudah bahagia hidup bersama Mas Reno dan kedua anak kembar ku? gumamnya seraya pejamkan mata.
๐ธ๐ธ
jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Reno dan frans baru saja usai mengadakan meeting yang berjalan alot bersama kepala direksi dan pemegang saham. Berbagai upaya terus Reno coba untuk meyakinkan mereka karena tindakannya yang telah memecat kepala Direktur bagian keuangan dan Direktur ketenaga kerjaan yang sudah berkerja selama 15 tahun mengabdi di Mahesa group.
Reno memiliki keputusan sendiri yang menurutnya sudah tidak sejalan dengan mereka. Dan lebih parahnya Reno mengambil tindakan tegas pada pemegang saham untuk mundur jika tidak mau menerima keputusannya.
"Frans, apa besok ada pertemuan dengan Cliant ?" tanya Reno seraya mendudukkan bokong nya ke kursi, mengendurkan dasinya yang terasa sesak setelah berdebat dengan para investor.
Frans membuka iPad nya dan membacakan jadwal untuk besok. "Ada kak! di Hotel Horizon bertemu dengan Tuan Haruka dari Jepang, untuk membicarakan perencanaan riset kapal pesiar yang lebih canggih dari modern dengan kapasitas tinggi." ujar Frans menerangkan secara mendetail.
"Baiklah sampai besok, sudah waktunya kita pulang." Reno menutup laptopnya dan membereskan berkas diatas meja.
"Kak!
"Hem..!
"Apa hari ini kakak tidak pulang ke mansion? aku kasihan pada kak Dena, apalagi dia sedang__" Frans menggantung ucapan nya.
Reno menatap sinis wajah Frans dan mengangkat sudut bibirnya. "Ku harap kau tidak usah banyak bertanya masalah pribadi ku, Istriku sangat baik-baik saja. Biarkan kami seperti ini dulu, aku butuh ketenangan."
__ADS_1
"Baiklah kak! kalau begitu aku pamit duluan. kakak segeralah istirahat, besok masih banyak pertemuan."
Reno mengangguk, Frans berjalan pergi meninggalkan ruangan Reno.
Reno mendesah kasar dan mengambil satu batang rokok dari bungkusnya. Menyalakan pematik api di ujung rokok dan menghisapnya dalam, menghembuskan asap rokok kedepan. Menyandarkan punggungnya kesandaran kursi, yang terasa lelah setelah berjam-jam meeting. Sorot matanya menatap langit-langit plafon, Jemarinya menjentikkan abu rokok diatas bara, banyak yang Reno pikirkan. Akhiri-akhir ini banyak perubahan dalam dirinya yang tidak ia sadari, kadang iapun bertanya pada dirinya sendiri yang berubah arogan semenjak kejadian salah paham dengan istrinya.
"Apakah semua ini kesalahanku, Dena?! kau yang memulai masalah ini, semakin aku jauh darimu, aku seperti orang asing yang tidak mengenal diriku sendiri." Reno terus bertanya pada dirinya sendiri dan banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya.
"Ting!
"Ting!
"Ting!
Suara notifikasi terdengar di ponsel Reno, ada pesan masuk kedalam kontak. Reno yang sedang melamun bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia tertegun sesaat dan mencondongkan tubuhnya kedepan meja, mengambil ponsel di depannya dan mulai membuka pesan masuk.
"Pesan dari Kahar, foto apa yang ia kirim?! ponsel baru saja ia aktifkan selesai mengadakan meeting, dengan rasa penasaran Reno membuka foto kiriman Kahar, anak buahnya yang bertugas mengurusi aktivitas istri dan anaknya setiap hari.
Saat melihat foto-foto itu, mata Reno hampir saja keluar dari kelopak nya. Ia bukan hanya melototi foto itu tapi juga terperanjat kaget melihat Delena sedekat itu dengan seorang pria.
"Delena...?! berati dugaan ku benar, kau sedang bermain api di belakang ku!
"Sial! berani kau ya! wajah Reno menegang
Reno tampak frustasi ia melempar gelas bekas kopi ke lantai. "Prankk!
"Siapa pria itu! Reno mulai membesarkan gambar foto pria itu, dadanya bergemuruh. jantungnya hampir saja berhenti, melihat pria yang sudah ia kenal.
"ARYA ..!! teriak Reno, dengan geram ia mengambil vas bunga yang berada diatas meja, meremuknya dengan satu tangan bersama gemeratak giginya.
Vas bunga itu pecah ditangannya, darah mengucur bersamaan pecahan vas bunga, ia melempar pecahan itu, mengambil saputangan dari saku celananya dan membalutkan ke tangan kanannya yang terluka.
Hatinya begitu sakit, pikirannya sangat kacau. ia beranjak dari duduknya dan berdiri di depan jendela kaca. Reno terus menetralkan hatinya yang sudah terlanjur sakit dan terluka di bakar api cemburu. "Delena! kenapa kau lakukan ini padaku! teriak Reno frustasi.
Memukuli kaca tebal penuh amarah. Tetesan airmata jatuh begitu saja dari sudut matanya.
Drett, drett, dertt..
Getaran ponsel terus berbunyi, dengan cepat Reno mengangkat telepon itu.
"Hallo Tuan!
"Kemana istriku pergi setelah bertemu dengan Pria berengsek itu! teriak Reno dari ujung telepon dengan nafas tersengal.
"Mereka berpisah setelah berbelanja, Nyonya Delena langsung pulang ke mansion."
Reno mematikan ponsel, menoleh pada arloji ditangannya, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Reno berlari keluar dari kantor menuju pintu lift. Di parkiran seorang satpam membukakan pintu untuk Tuan nya masuk. Reno tancap gas menuju mansion dengan hati kacau.
๐บ๐บ
Sementara Delena sudah berada di dalam kamar, ia menghabiskan susunya setelah sempat tertidur karena rasa kantuk. Delena merasakan dadanya berdebar dan perasaannya tidak karuan "Kenapa sejak tadi perasaan ku tidak enak dan jantung berdebar terus."
Delena berusaha memejamkan matanya tapi tetap tidak bisa, ia beranjak dari ranjang dan berjalan ke toilet. Menatap jam menggantung di dinding. "Sudah pukul sebelas lewat lima belas menit." gumamnya. Tiba-tiba pikirannya teringat pada suaminya yang sudah dua minggu lebih dua hari meninggalkan mansion.
"Mas Reno, kau sedang apa sekarang? kenapa kau tidak pernah memikirkan diriku lagi? aku sangat rindu.." hiks.., Bantal pink itu sudah basah oleh airmatanya. "Mas, aku ingin kau segera pulang dan mengetahui kehamilan ku, kau harus tahu kebenarannya. Aku tak sanggup jauh darimu, ma'afkan aku telah mengabaikan mu di saat kehamilan ku diawal, karena aku tidak tahu kalau sedang hamil.. hiks..hiks.. Seandainya aku mengetahuinya lebih awal, semua ini tidak akan pernah terjadi, dan kita tidak akan berpisah seperti ini! Delena menjerit dalam hati dan menyesali semuanya.
JEDAR!
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dengan kasar, Delena terkejut dan membalikkan tubuhnya kearah pintu. Ia terkejut melihat sosok suaminya yang berdiri diambang pintu.
"Mas...!
__ADS_1
Reno berjalan mendekat dengan wajah memerah dan rahang mengeras. kedua tangannya mengepal.
"Bagus! begitulah sifat aslimu, berani berkhianat di belakang ku, Delena! teriak Reno yang sudah berdiri di sisi ranjang.
"Apa maksudmu, Mas? siapa yang kau maksud? siapa yang sedang berkhianat!" Delena mengeryitkan keningnya.
"Kau tidak usah berpura-pura lagi, Dena! menunjuk wajah istrinya "Baru dua minggu aku meninggalkan mansion, kau sudah berkencan dengan ARYA dibelakang ku! ucapnya dengan sorot mata tajam tanpa berkedip.
DEG! jantung Delena hampir saja berhenti.
"Mas itu tidak benar, kau salah paham. Aku bertemu dengannya tanpa di sengaja!"
"Sudah cukup! tidak perlu kau berdusta!' dada Reno bergemuruh hebat menahan tangannya agar tidak mendarat di pipi istrinya.
"Bila kau memutuskan untuk berpisah dengan ku, baiklah akan aku kabulkan!
Delena terkejut, ia menarik nafas dalam, dadanya begitu sesak, suaranya hampir hilang karena tercekat.
"Tidak Mas! itu tidak boleh terjadi." seru Delena.
Reno berjalan keluar dengan amarah meletup-letup.
Mas tunggu! Delena beranjak dari ranjang setelah bisa mengatur nafasnya, saat ingin mengejar Reno kakinya keselimpet selimut dan terjatuh ke lantai.
Brukk!
Aaahhhkkkk! pekik Delena
Delena memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit dan ngilu.
Reno yang sudah berada di ambang pintu, menoleh, ia melihat Delena sedang kesakitan di lantai.
"DELENA!
Reno berlari dan berjongkok, tiba-tiba ia terlihat panik dan gusar melihat istrinya kesakitan.
"Delena, dimana yang sakit? kenapa kau tidak hati-hati..?
"Mas! Delena memegangi perutnya "Selamatkan anak ku! ucapnya lirih menahan sakit, sudut matanya sudah keluar cairan bening.
"Apa..? Reno terkejut.
"A-n-ak?? ucapnya tercekat
"Iya Mas, aku mengandung anak mu." tiba-tiba mata Delena gelap dan ia tidak sadarkan diri.
"Delena...! Delena.....
๐๐
@Siapa yang bilang up cuma sedikit? Bunda selalu up lebih dari 1500 kata loh! lebih panjang bab nya. Ayo terus dukung Bunda biar lebih semangat nulisnya.
Dengan cara:
๐Like
๐Vote
๐Gift
๐Komen
__ADS_1
@Bersambung,,, yeeeeee๐๐๐