ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Kembali Lagi


__ADS_3

"Baik Tuan!


Dokter Agung mengambil kursi roda dan mendudukkan tubuh Vano ke kursi, yang masih terlihat lemas. Frans mendorong kursi roda Vano menuju ruangan Tomy di ikuti Reno, Delena, fanny dan Vana.


Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit, diikuti beberapa Dokter dan suster di belakangnya sebagai empati pada pemilik rumah sakit yang sedang mengalami musibah. Rombongan mereka memasuki sebuah ruangan khusus dan berhenti didepan sebuah pintu.


JEGLEK


Pintu terbuka, terlihat Siska masih berada di tepi ranjang bersama Zara sedang menunggui Tommy. Sementara Aldo dan Aldi sedang tertidur satu ranjang yang sengaja di taruh di samping ranjang Tommy.


Frans mendorong roda kursi Vano masuk kedalam ruangan bersama dengan yang lainnya. kursi roda berhenti tepat disisi ranjang Tomy.


"Vano, kau baik-baik saja? tanya Siska mengusap kepala keponakannya itu.


"Aku baik-baik saja Tante, bagaimana dengan Om Tom?


"Syukurlah kaupun sudah sadar, Tante sangat takut kau mengalami hal yang sama dengan Om Tomy, ia belum juga bangun pasca di operasi bagian punggungnya karena ada luka sobek.


Vano mengingat kejadian yang naas itu, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, teringat bagaimana Om nya tersabet benda tajam saat disuruh menangkap golok yang akan ia berikan, namun naas sebelum golok itu sampai ke tangan Om nya, punggungnya sudah di sabet dari belakang. Mengenang semua itu membuat Vano meneteskan airmata.


"Ma'afkan Vano Tante, tidak bisa menjaga Om Tomy." ucapnya lirih dengan wajah tertunduk.


"Kau jangan merasa bersalah Van, mungkin ini adalah ujian buat Tante dan Om, semoga Om Tom kembali sadar."


Vana ikut menangis dan terisak, melihat saudara kembarnya begitu tertekan dan mengalami depresi, pasca bangun dari koma hanya satu hari, Vano bisa kembali ke alam sadarnya.


"Vana kau jangan bersedih lagi nak, kakak mu sudah tidak apa-apa, Vano sudah sadar kembali." ucap Delena merangkul pundak anak gadisnya.


"Semalam Vana merasakannya badan Vana dingin, terasa ada di dalam air kolam dan hampir tidak bisa bernafas. Untung ada Tante fanny yang menyelimuti seluruh tubuh Vana dan memberikan air hangat."


"Kenapa kau tidak bilang Mommy?


"Kan Mommy sedang sedih nungguin kak Vano semalaman sama Daddy."


Delena merasa bersalah, dan ia memeluk erat anak gadisnya "Ma'afkan Mommy ya, disaat seperti ini Mommy lupa ada kembaran Vano yang merasakan hal sama."


"Kontak batin anak kembar memang seperti itu, karena mereka berdua satu ari-ari, yang satu sakit, satunya akan ikut sakit. Satunya bersedih yang satunya akan ikut bersedih." ujar Dokter Agung


"Tapi kenapa aku dan kak Davin dulu tidak ada kontak batin, tidak merasakan apa yang Vano dan Vana rasakan. Apa mungkin sejak kecil aku dan kak Davin terpisah sangat lama hingga tidak ada perasaan yang sama sebagai saudara kembar." gumam Delena dalam hati.


"Om Tommy... bangun om!" ucap Vano lirih, menyentuh jemari tangan Tommy yang terlihat lemas.


"Kita semua sudah menengok keadaan tuan Tomy, maaf sekali lagi, untuk keluarga jangan terlalu banyak di ruangan, karena ruangan ini sudah di sterilkan. semua kita lakukan demi kebaikan pasien, apalagi melihat kondisi tuan Tommy masih memprihatinkan." ujar Dokter Haris.


"Baik Dok, kami sudah melihat kondisi kakak kami Tomy, semoga secepatnya pulih kembali, semuanya ayo kita istirahat di paviliun." ujar Reno.


"Tante Siska dan Zara lebih baik makan siang dan istirahat dulu, biar kak Tomy aku yang menjaga." ucap Frans.


"Iya Tante ayo kita ke paviliun kelurga." bujuk fanny.


Siska mengangguk,ia bersama zara setuju untuk istirahat sejenak. "Frans tolong titip Aldo dan Aldi, ia masih tertidur."


"Iya Tante, nanti kalau mereka bangun aku antar ke paviliun."

__ADS_1


"Mom, Dad! biar Vano disini bersama Om Frans, menjaga Om Tomy."


"Kau baru saja bangun dari koma semalaman, kau harus banyak istirahat dulu, Nak! ujar Reno memperingati.


"Aku sudah tidak apa-apa kok Dad! percayalah aku bisa menjaga diriku sendiri." imbuh Vano minta pengertian Daddy nya.


Delena mendekat dan mengusap lembut punggung suaminya "Biarkan saja Mas, Vano hanya menunggunya, semoga dengan kehadiran Vano, kak Tomy bisa bangun kembali."


"Baiklah ayo kita istirahat semua ke paviliun."


"Sayang, kandungmu tidak apa-apa? mengusap perut datar istrinya "Aku kasihan padamu, pastinya kamu lelah dan kurang istirahat."


"Tidak apa-apa mas, anak mu pasti sudah kuat didalam sini." Delena ikut mengusap perutnya sendiri dengan senyuman khasnya.


"Ya sudah ayo kita menyusul mereka ke paviliun." Reno merangkul pinggang Delena. Frans jaga Vano, kami pergi dulu."


"Oke kak!


"Tekan tombol bila melihat kondisi tuan Tomy ada perubahan." perintah Dr Agung sebelum pergi dari ruangan.


"Baik Dok! ucap Frans


Setelah mereka pergi Vano tetap duduk di kursi roda yang tak ingin jauh dari Om nya.


"Vano minumlah dulu, biar tidak hidrasi." frans menyodorkan gelas berisi air putih, setelah meminum habis Vano merasakan kantuk. tak terasa ia tertidur pulas sambil menggenggam erat tangan Tomy, dengan kepala ia benamkan di atas kasur.


Suasana begitu hening, hanya terdengar suara dengkuran halus vano. Frans sedang duduk di sofa seraya mengetik sebuah pesan. Tak lama terdengar suara tangisan Aldi karena tidak melihat ibunya berada di ruangannya.


"Mamah..." huhuhu....


"Mama sama kak Zara dimana Om? suara Aldo yang ikut terbagun karena mendengar tangisan adiknya.


"Ada di paviliun, ayo Om antar kesana, nanti Om balik lagi kesini."


Frans menggendong Aldi dan mengandeng tangan Aldo, untuk keluar dari ruangan Tomy.


Suasana semakin hening setelah kepergian mereka bertiga, hanya terdengar suara mesin dan detak jantung yang menghubungkan ke dada Tomy.


"Vano..." terdengar suara seseorang memanggil namanya dari belakang. Vano mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang.


"Om Tommy? Vano sangat terkejut, ia melihat Tomy sudah berdiri dengan senyuman manis yang tersungging di bibirnya. Vano beranjak dari kursi roda. "Om sedang apa berdiri disitu, bukankan Om masih koma?


"Om cuma ingin kasih pesan, karena Om harus pergi."


"Om mau pergi ke mana? apa Om tidak kasihan dengan tante Siska, Zara, Aldo dan Aldi, mereka sangat membutuhkan Om." ucap Vano sedih dengan suara terisak. Vano dan Tomy berdiri saling berhadapan, tangan Vano menggenggam erat tangan Tomy


"Om juga sangat merindukan mereka semua, Om juga ingin selalu dekat denganmu, tante Siska juga ketiga anak Om, namun? ucapan Tomy menggantung, wajah Tomy tertunduk sedih "Om tetap harus pergi, jaga mereka semua Van, dan titip Istri dan ketiga anak Om!


Tommy melepaskan genggaman tangan vano dan melangkah pergi.


"Om jangan pergiii...!!! teriak Vano


Tommy menoleh kembali "Ma'afkan Om...." suara Tomy lirih, dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


"Om.... Vano mohon! jangan pergi Om.....!!!


"Vano...."


Terdengar suara lembut memanggil namanya. Vano membuka matanya dan mengangkat kepalanya, ia melihat Tommy sedang menatap dirinya, Vano mengucek kedua matanya.


"Om Tommy? benarkah ini Om Tommy? tanyanya tak percaya, Vano berlonjak girang dan memeluk tubuh Tomy yang sangat ia sayangi.


"Om sudah sadar dan sudah bangun? pekiknya. Vano baru tersadar kalau di ruangan itu ia hanya tinggal berdua, Vano berlari keluar ruangan mencari Suster atau Dokter.


"Dokter! dimana dokter Agung dan lainnya." tanya Vano pada seorang Dokter yang melewati lorong VIP.


"Memangnya ada apa tuan muda?


"Tolong cepat sampaikan pada Dr Agung dan Dr Haris, untuk keruangan Om Tomy!"


"Baik tuan muda, saya akan mencarikan kerungan nya."


Vano kembali kerungan Tommy dan bercengkrama, rasa bahagia dan semangat hidupnya kembali lagi.


Tak membutuhkan waktu lama, Dokter Agung dan Dokter Haris datang kerungan rawat inap Tomy dan periksa kondisinya.


"Syukurlah anda baik-baik saja, dan detak jantungnya berjalan normal." Dr Agung bernafas lega


Terdengar suara decitan pintu terbuka. Semua kelurga sudah datang dan masuk kedalam ruangan rawat inap Tomy. Mereka datang dengan suka cita setelah mendengar Tomy sudah sadar.


"Mas Tommy..." Siska menghampiri dan memeluk tubuh suaminya yang sudah tiga hari mengalami koma.


"Papah! teriak ketiga anak Tomy bersamaan. Aldi dan Aldo berhambur naik keatas ranjang ayahnya karena kangen.


"Hey jangan naik keatas ranjang, Papah masih belum sehat benar." seru Zara peringati adik-adik nya.


Aldo dan Aldi saling berebut memeluk ayahnya, sosok Tomy yang penyayang dan bersahaja membuat ketiga anaknya tak rela bila harus kehilangan.


"Tidak apa-apa Zara, Papah sudah sehat, sini peluk Papah." pinta Tommy, merentangkan tangannya, Zara ikut berhambur memeluk Tommy dengan deraian airmata. "Papah jangan pergi lagi, jangan pernah tinggalkan kami! hiks...


Semua sangat terharu dan tersenyum bahagia, Reno, Delena, Frans, fanny dan Vana berucap syukur pada Tuhan, mereka bisa bernafas lega dengan kembalinya Tomy.


Tangisan haru kebahagiaan kini kembali lagi di tengah keluarga Mahesa. Vano tersenyum sumringah melihat Keluarga Om dan Tante nya kembali berkumpul lagi. kini ia menyadari arti kehidupan, bahwasanya kehilangan orang yang kita cintai sangatlah berat dan menyedihkan. namun, Tuhan punya rencana lain dan masih memberikan kesempatan kedua untuk Tomy. Takdir hidup seseorang kita tidak akan pernah tahu, sebab hidup dan matinya seseorang hanya milik sang Khaliq.


❣️❣️❣️❣️❣️❣️


@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat 💪 nulis😘


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


💜like


💜vote


💜gift


💜komen

__ADS_1


@bersambung......💃💃💃


__ADS_2