
"Aku nggak mau jatuh miskin, Pah! aku tidak ingin di olok-olok teman-teman sekolah ku! teriak Vana histeris "Papah tidak boleh menjual perusahaan Papah! huwaaaaa.....
Bram hanya diam di kursi Presdirnya, airmata sudah lolos dari sudut matanya. Tina menangis histeris menyesali semuanya, namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Semua penyesalan hanya lah sia-sia. Vano seorang anak yang tegas dalam bersikap, karena didikan keras Reno ia bisa menjadi anak disiplin dan tidak main-main dalam ucapan dan sikapnya.
"Pak! polisi datang untuk bertemu dengan Bapak!" suara sekertaris Vera membuyarkan lamunan Bram yang sejak tadi terduduk lemas di kursi Presdirnya.
Bram membuka matanya, bola matanya merah bekas airmata.
"Rico! kau yang temui polisi, aku tidak sanggup untuk bertemu dengannya, hatiku begitu sakit dan pedih, tak akan sanggup menghadapi kenyataan tentang anakku Jimmy."
"Baiklah, saya yang akan temui." Rico berjalan keluar ruangan bersama sekertaris Vera.
"Pah! apa yang akan Papah lakukan bila Kak Jimmy masuk penjara."
"Kau tenang saja, Papah akan terus berusaha untuk membela Jimmy dan mengeluarkan dari penjara."
****
Bella sudah dibawa kerungan rawat inap kelas VIP, tentu saja dengan perintah Vano untuk memberikan tempat perawatan dan Dokter yang terbaik untuk pemulihan kondisi Bella.
Dokter Nico sudah memberikan perawatan yang terbaik, walau kondisi Bella masih belum sembuh total. Darah Bella masih tercampur morfin, namun dengan obat-obatan dan terapis bisa menghilangkan morfin.
Vana berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan rawat inap Bella, ia baru saja dari kantin membeli roti dan minuman, sebab sejak pagi ia belum mengisi perutnya sama sekali.
Sebelum masuk keruangan Bella, Vana melihat kakaknya sedang duduk di samping ranjang Bella, ia ragu ingin masuk kedalam.
"Kenapa kak Vano begitu perhatian pada Bella, bukankah ia sangat dingin dengan sosok wanita, ya walaupun umur kami masih terlalu kecil untuk urusan percintaan, namun, Cinta monyet itu ada. Apa sekarang kakak mulai menyukai Bella? padahal kak Vano sudah tahu kalau Bella sudah menyukainya dari kelas satu. Biarlah waktu yang akan menjawabnya nanti, akan kah kak Vano berjodoh dengan Bella atau tidak, hanya Tuhan yang tahu."
JEGLEK
Terdengar decitan pintu terbuka, Vano menoleh arah suara pintu terbuka.
"Vana!
"Kak, makanlah Roti dan minuman ini. sejak tadi kakak belum makan apa-apa." menyerahkan kantong plastik putih pada Vano.
"Terima kasih, Dek!
"Bagaimana keadaan Bella, kak!
"Masih belum sadarkan diri, laporan pengecekan darahnya belum keluar, Dokter Niko sedang mengecek di laboratorium."
"Semoga hasilnya tidak mengecewakan ya kak, aku sangat sedih bila terjadi apa-apa dengan Bella, terutama masa depannya."
"Iya Dek, kita berdoa saja, semoga Bella baik-baik saja." ucap Vano prihatin, terlihat ekspresinya yang sedih.
"Dimana Dev? sejak tadi aku tidak melihatnya."
"Dev sedang bersama Pak Danang, katanya dia tunggu diluar."
"Kak! Mommy berada di ruangan mana? aku ingin menjenguk Mommy, kebetulan aku berada di sini."
"Iya, nanti kita keruangan Mommy, tunggu Dokter Niko dan perawat datang dulu, kasihan Bella tidak ada yang menjaga."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, Kakak saja yang jagain Bella. aku mau keruangan Mommy sekarang!"
"Tunggu dulu Dek! Vano menarik tangan Vana. "Mommy pasti curiga kalau kau datang sendiri. Ingat Dek, kita harus rahasiakan dulu masalah Bella, dan menjaga kondisi Mommy. Dokter Agung bilang, kalau kandungan Mommy sangat lemah, ia tidak boleh tertekan apalagi banyak masalah. Daddy sangat menjaga itu. Masalah Bella jangan sampai Mommy dan Daddy tahu dulu.
Vana mengangguk dan menuruti perintah kakaknya, karena ia sangat tahu Vano akan memberikan jalan yang baik untuk keluarganya.
JEDER...
"Bella......"
Suara pintu dibuka kasar, tiba-tiba masuk seorang wanita sepantaran Mommy nya, seraya menangis terisak berjalan mendekat kearah Bella.
"Bella!! hiks... hiks.. hiks...
"Ma'afkan Mama Nak, Mama yang salah telah banyak menyakitimu." wanita itu menangis pilu dan duduk di tepi ranjang, menatap wajah Bella dan mengusap kepalanya. Vana dan Vano saling bersitatap.
"Apakah Nyonya ibunya Bella?! tanya Vano pelan.
Wanita itu menoleh pada Vana dan Vano "Benar, aku Mamanya Bella, apakah kalian teman anakku Bella? yang telah menyelamatkannya."
Vano mengangguk pelan.
"Jadi kalian anak kembar dari Tuan Reno Mahesa?"
"Vano mengangguk lagi."
Tiba-tiba Sarah menjatuhkan tubuhnya, ia bersimpuh di depan Zevano, Vana dan Vano kaget, mereka menarik tubuh Sarah untuk bangun.
"Ibu jangan seperti ini? Bella adalah teman baik kami, tidak mungkin aku membiarkan dia menderita, sudah seharusnya kami saling membantu." ujar Vano bijak.
Ternyata benar apa yang dikatakan banyak orang diluar sana, sosok Keluarga Reno Mahesa sangat harmonis dan penyayang. namun, bisa jadi sosok yang menakutkan, bila kehidupan keluarganya terganggu."
Vano dan Vana hanya tersenyum.
Tak lama datang dokter Niko bersama dua orang suster.
"Selamat sore? sapa Dokter Niko ramah.
"Bu, ini dokter Nico yang menangani perawatan Bella." ucap Vano memperkenalkan.
"Selamat sore dokter, perkenalkan nama saya Sarah, Ibu dari Bella." mengulurkan tangannya pada Dokter Nico, dan mereka saling berjabat tangan.
"Sangat kebetulan sekali Bu, kita bisa bertemu di sini, kami tim Dokter akan menjelaskan masalah yang dihadapi Bella."
"Lalu bagaimana dengan kondisi Bella? apakah anakku bisa disembuhkan? tanya Sarah harap-harap cemas.
Dokter Nico mulai menjelaskan.
"Kecanduan atau adiksi adalah ketergantungan secara fisik dan mental terhadap suatu zat atau hal yang dapat menimbulkan perubahan perilaku pada penderitanya. Morphine merupakan salah satu obat golongan opiat (narkotika) yang biasanya digunakan dalam dunia medis sebagai analgesik (obat pengurang nyeri) kuat yang diberikan pada pasien paska operasi berat, nyeri akibat kanker, dsb.
"Obat morfin sangat sering disalahgunakan dan menimbulkan adiksi. Gejala yang ditimbulkan saat putus obat adalah:
Mual dan muntah Tremor (gemetar yang baisa tampak pada jari-jari tangan), Berkeringat banyak, Tidak bisa tenang, Kulit merinding, Mata dan hidung berair, Nyeri-nyeri sendi atau perut, Jantung berdebar dan sebagainya. Otak syaraf tidak berjalan normal dan beku. Penggunaan morfin dengan dosis tinggi dapat menimbulkan depresi napas sehingga terjadi kematian. (Rekomendasi dari Dokter )
__ADS_1
"Apa...? Sarah membekap mulutnya tak percaya, airmata masih terus tumpah, tubuhnya terhuyung, ia hampir saja jatuh kelantai kalau saja Vano tidak cepat menangkapnya. Seorang suster memberikan kursi untuk Sarah duduk.
"Apakah anakku Bella masih bisa di selamatkan? aku mohon Dokter selamatkan anakku Bella." hiks... tubuh Sarah bergetar, tangisannya semakin dalam, yang tersisa hanyalah penyesalan, karena telah terlantarkan anak kandungnya sendiri demi keegoisan karena menikahi Pria kaya.
"Ma'afkan Mama, Nak! Sarah memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. penyesalan selalu datang terlambat, ia hanya bisa berharap pada sang khalik untuk menyembuhkan anaknya kembali.
Vana ikut terisak saat mendengar penjelasan Dokter Nico, begitu dahsyatnya pengaruh obat morfin yang bisa menghancurkan otak dan bahkan nyawanya. Hampir saja Vana menjadi korban kebiadaban Jimmy dan kawan-kawannya. Beruntung Vano cepat datang dan menolong kembarannya, tapi tidak bagi Bella. ini adalah buah pembelajaran dari seorang ibu, jangan pernah mengabaikan seorang anak yang sedang beranjak dewasa, dimana banyaknya pergaulan bebas dan obatan terlarang. Anak-anak yang memasuki masa remaja masih labil dan banyak terpengaruh teman-teman di lingkungannya, hanya peran ibulah yang sanggup menjaga dan mengajarkan seorang anak berkelakuan baik, saling mendukung, memberikan motivasi dan perhatian. karena madrasah pertama bagi anak-anaknya adalah seorang ibu. Anak akan mendengar dan meniru perbuatan ibu.
Vana berpelukan pada Vano dan terus menangis, tubuhnya ikut bergetar karena takut.
"Sudah Dek, jangan menangis lagi, kau masih selamat, Tuhan masih sayang padamu." ucap vano lembut memberikan pengertian pada adiknya.
"Sus, tolong berikan ibu Sarah dan Nona Vana air putih, agar bisa tenang." perintah Dokter Nico.
"Baik Dok! Suster itu memberikan dua gelas air putih pada Sarah dan Vana.
"Bagaimana Bu Sarah, apa sudah mulai tenang? bila sudah tenang, akan saya lanjutkan lagi." tanya Dr Nico, seraya mengusap punggung Sarah yang terlihat tidak tenang.
Sarah mengangguk "Iya Dok, cara apa untuk penyembuhan anakku Bella." ucapnya lemah tak berdaya.
Dokter Nico menarik nafas dalam dan dihembuskan perlahan. ia mulai berbicara kembali.
"Penanganan kecanduan atau yang sudah tertular morfin, harus dilakukan sedini mungkin. Bawa penderita berkonsultasi dengan Dokter spesialis kesehatan jiwa (menangani masalah adiksi). Dokter biasanya akan memberikan terapi obat-obatan sebagai pengganti morfin dengan dosis yang dikontrol dan diturunkan bertahap. Pemberian obat-obatan dikombinasi dengan rehabilitasi berupa psikoterapi, konseling, "curhat" dengan komunitas yang juga mengalami gangguan yang sama, kegiatan keagamaan dan yang terutama adalah dukungan positif dari pihak keluarga serta teman-teman dari penderita agar bisa lepas dari masalah adiksinya. (Rekomendasi dari Dokter dinas kesehatan rehabilitasi)
"Baiklah Dok, tolong sembuhkan anakku, apapun akan aku lakukan demi kesembuhan anakku Bella."
"Kami disini akan terus berusaha dan membatu memulihkan kondisi pasien, apalagi Nona Bella adalah sahabat baik dari pemilik rumah sakit ini. kami tidak mungkin mengabaikannya, tentu saja pengobatan dan perawatan yang terbaik akan kami lakukan."
"Terima kasih banyak Dok! ucap Sarah, seraya mengusap airmatanya yang terus menetes.
Sarah beranjak dari duduknya dan memeluk Vana dan Vano "Terimakasih banyak Nak Vano dan Vana, kalian yang sudah membuka mata hatiku, kalian anak-anak yang baik, bangga lah kedua orangtua kalian, memiliki anak Soleh dan berbakti. Mau menolong sesama, walau kalian memiliki segalanya, namun tidak sombong dan berbangga diri. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."
"Semoga Bella bisa disembuhkan, Bu." ucap Vano penuh harap.
"Aamiin...."
πππ
@Dari cerita ini kita bisa mengambil hikmahnya, bagaimana pentingnya peran seorang ibu, jangan pernah mengabaikan anak-anak yang mulai tumbuh dewasa, sebab mereka membutuhkan bimbingan agar tidak salah dalam pergaulan, begitu banyaknya pergaulan bebas yang membuat orang tua kecolongan. Yang terpenting pondasi kan anak-anak kita dalam didikan Agama yang kuat dan taat ibadah. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang baik dan Soleh. ππ
@Ayo kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat πͺ nulisπ
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
@bersambung......πππ
__ADS_1