
Seketika pandangan mata Vana berbayang dan kabur, hingga ia merasakan tubuhnya lemas dan gelap gulita.
Ketiga Pria itu berhasil melumpuhkan Vana dan Isabella tanpa perlawanan lagi. Dengan gerakan cepat, mereka bertiga membopong Vana dan Isabell masuk kedalam mobil. Mobil SUV berwarna putih itu pergi meninggalkan sekolahan favorit.
Vano baru saja sampai didepan rumah sakit, setelah membayar taksi, ia berjalan masuk kedalam rumah sakit, menyusuri lorong-lorong yang banyak di kunjungi pasien.
JGLEK
"Mom, Dad! sapa Vano setelah sampai di ruangan rawat inap Mommynya.
"Hey son! Reno menyunggingkan senyum.
"Kamu tidak sekolah lagi? bukankah Daddy menyuruh Pak Yanto yang antarkan pakaian."
"Pak Yanto sedang sakit Dad! makanya Vano sendiri yang antarkan, kasihan mommy dan Daddy belum ganti pakaian."
"Siapa yang mengantarkan Vana sekolah?
"Pak Danang, Vana ke sekolah bareng Bella."
"Ya sudah Daddy mau mandi dulu." Vano memberikan paper bag pada Daddy nya.
"Mas, bisakah kita pulang besok."
"Tunggu keputusan Dokter sayang, kau harus istirahat total."
Delena mengangguk, Reno berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"Vano, terimakasih sayang. Kau selalu ada buat Mommy."
"Mommy jangan berterima kasih, sudah seharusnya Vano berbakti pada Mommy."
Delena tersenyum dengan mata berembun, ia merentangkan kedua tangannya, Vano masuk kedalam pelukan Delena.
"Vano dan Vana adalah kebanggaan Mommy dan Daddy, kalian terlahir dari buah cinta kami berdua, Mommy sangat bangga memiliki anak kembar secerdas kalian. Delena mengurai pelukannya dan menciumi kening dan pipi anak lelakinya.
"Mommy jangan bersedih?" Vano mengusap lembut airmata ibunya yang sudah terjatuh di pipinya.
"Bagaimana dengan kandungan Mommy?
"Baik-baik saja sayang, kau akan menjadi seorang kakak dan harus bisa menjaga kedua adikmu."
"Tentu saja Mom, Vano akan menjaga Mommy, Daddy dan kedua adik Vano."
"Terima kasih sayang, kau anak yang baik dan berbakti pada kedua orang tua. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, nak!"
"Vano! Reno menyentuh pundak Vano dari belakang.
"Dad! sudah selesai mandi?
"Sudah! sekarang Daddy akan membantu Mommy mu mandi."
"Mas, telpon suster dulu untuk melepaskan infusannya."
"Biar Vano saja yang menemui suster."
Vano beranjak dari ruangan Delena dan mencari kebenaran suster yang berada di ruangan nya. Suster masuk kedalam ruangan rawat inap Delena dan melepaskan infusan. Vano izin pada Ayah dan ibunya untuk ke kantin.
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, tiba-tiba telpon Vano berdering. ia melihat nama Devan di layar ponsel.
"Hallo, Dev..
"Vano! kau berada dimana sekarang?!
"Aku dirumah sakit, ada apa dengan mu? seperti orang kesurupan!
__ADS_1
"Vana dan Bella tidak berada di sekolah!
"Maksud mu apa? bukankah Vana dan Bella tadi berangkat ke sekolah?!
"Justru aku bertanya padamu, kalau mereka berdua masuk sekolah, aku nggak akan menanyakan padamu, disini supirnya justru bingung mencari Vana dan Bella.'
"Pak Danang? sudah berada disana? mana aku ingin bicara dengannya."
"Okeh!
"Hallo tuan muda." terdengar nafas pak Danang yang tak beraturan dengan suara tercekat.
"Bagaimana bisa Vana dan Bella tidak ada di sekolahnya? bukankah bapak sendiri yang mengantarnya?
"Iya Tuan, tadi saya menurunkan tidak jauh dari gerbang sekolah. Setelah Non Vana dan Bella keluar dari mobil, saya pergi meninggalkan sekolah itu. Sebelum saya pergi Non Vana bilang, minta di menjemput jam setengah satu. Setelah saya sampai sini, saya menunggunya sampai jam satu, Namun tidak ada, saya mencari di dalam kelasnya ternyata kata teman tuan, Dev namanya tidak masuk sekolah."
"Pak jngan panggil saya Tuan, panggil saja Vano. ya sudah Bapak tunggu di sekolah bersama teman saya Dev, saya akan segera menyusul ke sana."
"Baiklah tuan, ehh.. Mas Vano."
Setelah telpon dimatikan vano langsung membayar pesanan yang belum tersentuh. Padahal baru saja Vano memesan es jeruk dan bakso beranak.
"Lebih baik aku tidak akan cerita pada Daddy dan Mommy, aku tidak ingin mereka khawatir, apalagi Mommy pasti syok mendengar Vana hilang dan aku takut kandungan Mommy mengalami masalah. Biarlah aku sendiri yang akan mencarinya."
Vano bergegas masuk keruangan rawat inap Delena.
JGLEK
"Mom, Dad..., Aku harus pulang sekarang."
"Kenapa terburu-buru Van? Daddy baru selesai bantu mandikan Mommy, dan mau ajak kau makan siang."
"Tadi di kantin vano sudah makan siang, Dad! Vano harus pulang untuk mengerjakan tugas sekolah."
"Iya Mom! aku pulang dulu." Vano mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah memesan taksi online, Mobil menuju sekolahan yang Vano tunjukkan. Satu jam kemudian Vano sudah berada di sekolahan. Dev dan pak Danang sudah menunggu Vano di depan gerbang sekolah. Para guru dan satpam ikut khawatir dengan hilangnya anak didik mereka di sekolah favorit.
"Van! syukurlah kau cepat tiba." Dev merangkul pundak Vano sebagai rasa prihatin.
"Vano, ma'afkan kami sebagai guru pengajar disini, kami tidak tahu kejadian nya." kata Pak Arif guru pengajar.
"Pak Arif, bisa bantu saya untuk melihat cctv-nya, jadi kita akan tahu keberadaan adikku Vana dan Isabella teman sebangkunya."
"Baiklah, mari kita kelantai tiga, ruangan cctv-nya berada di lantai tiga."
Vano, Dev dan beberapa guru menuju lantai tiga. Mereka masuk kedalam ruangan cctv. Setelah di adakan pengecekan di luar gerbang. Benar saja setelah pak Danang menurunkan Vana dan Bella, terlihat sebuah mobil putih sudah mengintai tak jauh dari mobil pak Danang, Setelah mobil pergi, Mobil SUV melaju dan berhenti di samping Vana dan Bella. Tiga orang yang memakai topeng berhasil membekap mulut Vana dan Bella, walau sempat ada perlawanan dari Vana.
"Coba di catat nomor kendaraan nya dan secepatnya kita laporkan polisi." ujar pak Arif memberi saran.
"Nak Vano, kami sebagai pengajar di sekolah ini, ikut prihatin dan tidak akan tinggal diam. Sekolahan vaforit tetap akan bertanggung jawab penuh atas hilangnya kedua siswa. Kami akan bicara dengan kedua orang tua kalian, dan memohon maaf atas kejadian ini."
"Tidak usah bicara dengan kedua orang tua kami dulu, pak! masalahnya Mommy sedang berada di rumah sakit, saya takut Mommy syok dan berimbas pada kesehatannya."
"Baiklah kalau begitu, kami akan ke kantor polisi untuk melaporkan dua siswi kami yang hilang."
"Terima kasih banyak pak, saya tunggu kabar dari pihak sekolahan atas hilangnya adik saya dan Bella."
Setelah selesai berbicara dengan para guru, Vano, Dev dan pak Danang berniat mencari sendiri.
"Dev! kau tahu alamat rumah Bella?!
"Untuk apa alamat Bella?
"Aku curiga, sepertinya ini perbuatan kakak tiri Bella, ia sedang ada masalah dengan Bella, lebih jelasnya nanti aku ceritakan di mobil, sekarang kita minta alamat Bella ke kantor sekolah."
__ADS_1
"Oke, ayok!
Setelah meminta alamat Bella pada seorang guru, Vano dan Dev masuk kedalam mobil menuju alamat Bella.
πππ
Sementara di dalam sebuah ruangan yang pengap dan remang, hanya ada lampu tempel berukuran lima watt. Vana membuka matanya perlahan.
"Ahh, kepalaku sangat pusing, aku berada dimana sekarang?! Vana mengedarkan pandangannya, ia melihat isbell masih tertidur di atas kardus.
"Bella! bangun Bell..." Vana mengguncang kan tubuhnya. "Bell... ayo bangun!"
Bella menggeliat seraya mengucek matanya, ia melihat wajah Vana yang sedang duduk di depannya.
"Vana! Isabella bangun dan terduduk. "Van, kita berada dimana sekarang?!
"Entahlah aku juga tidak tahu?! sepertinya ini sebuah gudang."
"Siapa yang sudah menculik kita?
"Apa ini ada hubungannya dengan kakak tiri mu? masalahnya aku tidak punya musuh?!
"Aku juga berfikir seperti itu, jangan-jangan ini ulah kak Jimi, mereka sepertinya ingin balas dendam dengan kita."
"Apa yang akan mereka lakukan pada kita?! Vana memutarkan bola matanya "Sepertinya mereka ingin bermain- main dengan ku! Vana menarik sudut bibirnya.
"Apa maksud mu van?
"Kalau hanya untuk menghadapi kakak mu dan para cecunguk itu, aku tidak khawatir! Vana membuka tas resleting dan mengambil pisau lipat dari dalam tasnya.
"Untuk apa pisau itu Van?! Isabella menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja untuk melawan mereka? hanya ini senjata yang aku miliki, sepertinya aku harus mengeluarkan kemampuan ku!
"Van! kau jangan nekad? kita berada dalam bahaya? pasti mereka punya senjata tajam dan mengeroyok kita, sedang kita hanya berdua?!
"Jadi kau sudah ingin kita menyerah dan menerima nasib tanpa perlawanan?! aku bukan wanita penakut seperti dirimu, Bel?! aku di ajari oleh Daddy ku untuk melawan siapa saja yang sudah melecehkan kita. Aku tidak menyalahkan mu yang penakut, karena didikan kita berbeda!"
"Kau bisa bilang begitu karena kau memiliki seorang Ayah! tidak seperti diriku, Van! yang tidak memiliki Ayah kandung. Aku hanyalah anak buangan tanpa seorang ayah. Sedangkan ibuku seorang wanita egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri! Hiks....
Vana merasa iba melihat kesedihan Bella, semua anak memang tidak terlahir sama. "Bell, ma'afkan aku ya, aku hanya ingin kau tegar dan kuat, tidak lemah seperti ini?! Vana merangkul Bella yang masih syok dengan kejadian yang menimpa dirinya beruntun.
KREKKK....
Suara derit pintu terbuka lebar, Masuk dua pria remaja kedalam ruangan dan berdiri di depan Vana dan Bella.
"Hallo Nona-nona cantik, sepertinya kita akan berpesta dan bersenang-senang bersama." hahahaha.... pria itu terbahak
"Kau! teriak Bella....
πππ
@Untuk para readers, Dari awal sudah Bunda jelaskan, di seoson Tiga ini akan banyak actionnya. karena sudah menceritakan kisah anak-anak Reno dan Delena. Kenapa BUNDA suguhkan konflik didalam cerita ini, agar tidak bosan dan reader bisa terbawa masuk kedalam cerita ini, Bunda ingin suguhkan cerita yang berbeda dari novel yang lain. Ada konfliknya dan langsung bisa diselesaikan. Jadi tolong jangan protesπ di nikmati saja alur ceritanya, okeh...ππ
@Yuk terus dukung Bunda dengan cara...
πLike
πVote
πGift
πKomen
@Bersambung......ππ
__ADS_1