
Dua hari setelah kejadian pemboman di Bali, Nathan menemui Reno untuk minta izin selama satu minggu untuk pulang ke Bali. Sebenarnya ia tak ingin meninggalkan gadisnya, apalagi sejak kejadian pemecahan kaca di jalanan membuat Nathan tak tenang. Namun kondisi di Bali juga mengharuskan ia pulang, Ayah sambungnya tak bisa menangani sendiri masalah yang terjadi.
Setelah mengantar Zevana pulang sekolah, Nathan menunggu kepulangan Reno.
"Nona, jaga dirimu baik-baik. Aku tidak akan lama, setelah urusan ku selesai akan kembali untuk menemani mu lagi." ucap Nathan saat mereka masih berada dalam mobil.
"Iya tidak apa-apa, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Kalau bisa jangan terlalu dekat dengan Reyhan, saya takut Nona sakit hatinya dengannya."
Gadis itu mengeryitkan alisnya "Maksud kakak apa ya..?"
Nathan melihat raut wajah gusar Vana dari kaca spion "Tidak apa-apa, yang penting jaga dirimu baik-baik, dan juga hindari wanita bernama Jesica."
Vana hanya diam tanpa membalas ucapan Nathan.
Selesai berbincang dengan Reno, ia memutuskan kembali ke apartemennya. Nathan dan Reno juga membahas masalah dua pria yang sudah mengancam keselamatan Vana. Reno sudah menyuruh anak buahnya menyelidiki. Padahal di belakang Reno, Nathan sudah lebih dulu tahu siapa dalang di balik pemecahan kaca itu, namun ia tidak berani mendahului Reno, Setelah pulang dari Bali, Nathan akan menemui orang itu.
Jam dua dini hari, Nathan bersama Jack orang kepercayaannya berangkat ke bandara dan bertolak ke Bali.
Pagi itu Vana sudah selesai mandi dan memakai pakaian sekolah. ia menyeret kakinya ke ruangan makan. Sudah tersedia susu putih dan sandwich diatas meja.
"Vana...."
"Mommy...'
"Hari ini Pak Yanto yang mengantar, Nathan sedang pulang ke Bali, karena Keluarganya sedang mengalami musibah."
"Iya Mom! kemaren Kak Nathan sudah cerita pada Vana kok?
"Sayang..."
"Daddy...!
Reno mencium kedua pipi anak dan istrinya, lalu menarik satu kursi di samping Vana.
"Dimana Zidan, yank"
"Masih tidur Mas, semalam kata Mba Sari Zidane rewel terus, baru subuh ia tertidur."
"Apa sudah di periksa? takutnya Zidan sakit."
"Iya Mas, tadi ku cek badannya hangat."
"Bawa Ke Dokter saja, yank."
"Mau aku kasih sirup pereda demam dulu. Kalau demamnya tidak turun, baru aku bawa ke Dokter."
"Nyah, ada telpon dari tadi berdering terus." kata Mbak Sari membawakan ponsel Delena yang tadi berada di kamar Zidan.
"Oh iya, terima kasih Mbak!"
"Hallo..."
"Hay Delena, apa kabar mu?
"Ma'af ini dengan siapa?"
"Wah kau sudah melupakan sahabat mu ya?
"Sahabat..?" Delena menautkan kedua alisnya. "Maaf tapi tidak ada nama di kontak ku, mungkin aku lupa?"
"Iya lah pasti lupa, padahal kita kuliah satu angkatan loh, bersama Robby."
"Alisya ...! pekik Delena.
"Iyes!"
"Ya Tuhan, ini beneran Alysia?"
"Kau lupa dengan suara ku?"
"Suara mu sangat berbeda. Sekarang kau dan Robby berada dimana?"
"Aku dan Robby ada di Jakarta."
"Ohya? kalian datang bersama putri mu?"
"Iya, aku baru dua hari di Jakarta, lusa pulang ke Surabaya."
__ADS_1
"Kalau begitu datang lah kerumah ku hari ini, aku kangen banget."
"Baiklah, sore aku ke rumah mu, sudah lebih 10 tahun kita tidak bertemu."
"Pasti Arumi sudah besar ya?"
"Iya, nanti akan aku bawa Arumi."
"Okeh, aku tunggu kau dan Robby."
"Siapa Sayang..."
"Mas, nanti pulangnya jangan terlalu malam, Alisya dan Robby akan berkunjung ke rumah kita. Mereka berdua sahabat ku."
"Okeh, Mas usahakan sore pulang."
"Zee... sekolah mu diantara Pak Yanto, kamu tenang saja orang suruhan Daddy menjaga mu dari kejauhan."
"Okeh Dad! Vana berangkat dulu." selesai menghabiskan tiga potong sandwich dan segelas susu Vana berpamitan dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
*
*
Didalam kelas Vana dan kelompok Genk nya sedang mengadakan praktikum biologi yang di bagi beberapa kelompok oleh guru pembimbing.
"Waktu kalian tinggal 10 menit lagi." ucap seorang guru memperingati.
Waktu yang di tentukan sudah habis, mereka mengumpulkan praktikum kepada ibu guru.
"Vana, bisa kau bantu ibu antarkan berkas-berkas ini ke ruangan ibu di lantai tiga."
"Bisa bu..."
"Ya sudah, taruh saja dan meja kerja ibu ya. Ibu mau keruangan kepala sekolah."
"Iya Bu..."
"Sebentar ya, aku antar berkas kerungan bu fatma dulu." Vana berbicara pada kelompok Genk nya yang baru selesai menyelesaikan tugas kelompok.
"Perlu di temani nggak van." tanya Luna.
"Takut ajah loe ada yang nyulik." seloroh Tiara.
"Hooh, soalnya loe kan cantik!" timpal Rara.
"Paling yang nyulik Reyhan..." seru Luna.
"Huwaaaaa..." mereka bertiga menjerit bersamaan.
"Kalian ini apaan sih! berisik tau nggak sih! noh anak lain pada liatin kita."
"Udah cuek ajah Van, nggak usah peduliin orang lain." timpal Rara.
Vana gelengkan kepala, menurutnya teman satu genk nya itu sangat lebay. Ia berjalan ke meja Bu Fatma dan mengambil berkas diatas meja.
Vana menaiki anak tangga menuju ruangan guru biologi yang baru selesai jam pelajarannya. Ruangan tampak sepi, di lantai tiga adalah ruangan kelas 10. Kelas 11 ada dilantai dua, dan kelas 12 dilantai satu. Kebetulan ruangan kelas 10 sepi, anak muridnya sedang mengadakan persami di Cibubur selama dua hari oleh guru Pramuka.
"BRAKK!
Tiba-tiba pintu ruangan tertutup sendiri. Vana terkejut dan menoleh kearah pintu. Lalu ia berjalan mendekat dan menarik gagang pintu, Namun pintu tak mau terbuka.
"Hey siapa diluar! cepat bukakan pintunya!"
"DOR! DOR! DOR!!!!!
Vana terus menggedor pintu dengan kuat. "Buka pintunya, pasti kalian sengaja kan menutup dari luar!"
"Huft! siapa yang sudah mengunci aku? Luna kah? Rara atau Tiara? pasti mereka sengaja ngerjain aku kan?"
Hampir setengah jam menunggu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Masuk sosok wanita seksi bersama empat orang temannya.
Vana langsung mengenali wanita itu.
"JESICA!!
"kenapa? kaget ya..." Jesica berjalan mendekat di ikuti empat orang temannya. ia melipat kedua tangannya di dada.
"Minggir lah! aku tidak ada urusan dengan kalian!" Vana melewati mereka.
__ADS_1
Dengan kasar Jesica menarik tangan Vana yang ingin keluar dari ruangan.
"Dasar wanita penggoda "PLAKK!
"Tiba-tiba Jesica menampar wajah Vana dengan keras, sontak Vana terkejut tanpa bisa mengelak.
"PLAKK!
Spontan Vana menampar balik Jesica.
"Aawww....." pekik Jesica, memegangi pipinya yang terasa panas.
"Sayang sekali, tamparan mu tidak sekeras tamparan ku untukmu!" Vana menyungging senyum sinis.
"FACK YOU!!! teriak Jesica dengan amarah meletup-letup.
Jesica mendorong tubuh Vana Kedinding, di ikuti empat teman lainnya yang mendekat.
"Cepat kalian robek semua bajunya, lalu buang keluar jendela pakaiannya!"
"Ayo cepat kita telalanjangi bersama-sama. Lalu aku yang akan buat Vidio wanita penggoda ini, dan kita sebarkan ke seluruh sekolahan!" seru Jesica terbahak.
Vana yang mendengar ucapan Jesica mulai meradang, Vana tidak akan tinggal diam bila ia di perlakukan tak senonoh dan akan dipermalukan oleh Jesica bersama teman-temannya. Sebenarnya kalau Vana mau, bisa saja Jesica di keluarkan dari sekolah secara tak hormat dari dengan perintah Daddynya, Namun ia masih berfikir ulang karena Jesica akan tamat tahun ini.
Mereka berlima mulai menyerang Vana dan menarik pakaian Vana. kancing kemejanya sudah ada yang terlepas. Demi membela diri, tangan Vana mengepal kuat dan menonjok wajah mereka satu persatu
"BUGK!
"BUGK!
"BUGK!
"Aaaakkkhhhh!!!!! mereka terpekik dan jatuh kelantai.
"Jangan diem ajah cepat serang ramai-ramai kalian kan gue bayar! teriak Jesika emosi.
Seperti di cocok hidungnya mereka bangkit lagi dan menyerang Vana, ada yang mencakar tangannya. Ada yang menarik rambut Vana dan yang lainnya memegangi kaki Vana.
"KALIAN SEMUA TIDAK BERMORAL!! Vana berseru seraya menendang kuat dua orang yang memegangi kakinya dan satu orang terpelanting kebelakang sambil mengerang kesakitan. Vana menyerang tiga orang wanita sekaligus, yang tenaganya tak ada apa-apanya. Sebenarnya Vana tidak ingin melawan dan mengeluarkan ilmu bela dirinya, Namun ia harus melakukannya karena terpaksa.
Vana menghantam mereka bertubi-tubi. Keluar darah segar dari pelipis dan hidung mereka, bahkan ada yang muntah darah, tadi Vana sempat memukul dadanya. Ada perasaan kasihan dan merasa bersalah melihat mereka kepayahan dan mendapat banyak luka.
Jesica terbelalak dan bola matanya hampir saja keluar karena terkejut. Vana berjalan mendekat kearah Jesica. Jesica mulai ketakutan dan ciut, Ia memundurkan langkahnya ke belakang.
"Mana suara teriakan mu tadi, Hah! aku bukan pengecut seperti kau! kau cuma beraninya menyuruh mereka dengan uang mu! Dasar wanita licik!" Vana mendorong kuat tubuh Jesica Kedinding.
"Aaaawww!" pelik Jesica kesakitan.
"Ku peringatkan padamu! jangan pernah bangunkan Macan yang sedang tertidur. Bila ia sudah mengaum, kau tidak akan bisa melihat dunia!" ancam Vana dengan sorot mata membunuh.
"Aku tidak punya masalah padamu Jesica! bentak Vana. kini wajah Jesica terlihat pucat dan ketakutan, ia melihat teman-temannya mengerang kesakitan.
"Ma-ma-afkan aku.." Dengan susah payah Jesica bersuara. Nyalinya benar-benar ciut, dia tak pernah menyangka vana yang terlihat lembut dan pendiam ternyata bisa buas seperti Macan.
"Sekarang kau bawa teman-teman mu kerumah sakit, bila tidak, aku pastikan kau akan keluar dari sekolah ini tanpa ijazah!"
"Ja-ja--ng-an..iya a-ku ba-wa ke rumah sa-kit." ucap Jesica tergagap.
"Tiba-tiba Vana merobek baju Jesica, seluruh kancingnya berantakan di lantai. "Ja-ja-ngan! Jesica membekap kedua tangannya di depan dada sambil menangis sesenggukan.
"Bukankah kau tadi ingin menelanjangi aku!" Sekarang bagaimana kalau kau yang aku telanjang!" Vana membuat penawaran.
Tubuh Jesica jatuh kelantai dan bersimpuh di depan kaki Vana.
Vana menarik nafas dalam-dalam dan di hempaskan kasar "Kali ini aku ma'afkan, tapi, jangan pernah kau ulangi lagi kesalahan yang sama!"
Vana melangkah pergi begitu saja, keluar dari ruangan dengan ekspresi dingin.
💜💜💜
@Bab nya lebih panjang, ayo terus dukung Bunda...
🔥
🔥
🔥
@Bersambung.....
__ADS_1