ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Pria Misterius


__ADS_3

Mobil terus melaju membelah jalanan raya ibu kota. Jari-jari Reno terus menari di atas huruf-huruf yang menghubungkan sebuah kata, entah pada siapa ia membuat pesan itu. Ac di dalam mobil tidak bisa menenangkan hati Reno yang panas. Bayangan wajah anak kesayangan terus menari-nari di matanya. Sakit, pedih dan terluka mendengar anak gadisnya dalam bahaya.


"Zee...." desah Reno. panggilan nama kesayangan. Rasanya tak kuat bila harus berada di posisi anaknya. Andaikan bisa di gantikan dia ingin berada di posisi Zevana.


"Shiitt!!! Reno mengepalkan tangannya. Di otak kepalanya, ia hanya ingin menghancurkan siapa saja yang sudah menyakiti keluarganya.


"MATI KAU!!!! seru Reno dengan amarah menggebu. Frans tidak berani bertanya apa yang dilakukan kakak iparnya. ia terus fokus melajukan mobilnya. Tepat pukul 3.20 wib mobil berada di area Mall XX. Keadaan depan Mall sangat ramai, Gedung terlihat di kosongkan oleh pihak manajemen. Jalanan tampak macet oleh orang-orang yang berdiri dan Ingin tahu keadaan di dalam Mall. Berita pemboman seorang gadis sudah tersebar dimana-mana. Petugas kepolisian berpakaian coklat-coklat mengamankan di depan area Mall. Akses untuk masuk kedalam Mall sangat sulit karena penjagaan di luar sangat ketat.


"Aarrghh! kenapa sulit sekali untuk masuk kedalam Mall. Ya Tuhan! bagaimana nasib Zevana!" seru Reno terlihat frustasi.


"Biar saja yang turun kak! dan berbicara pada kepolisian untuk memberi jalan masuk kedalam Mall."


"Bagaimana mobil bisa masuk kedalam, kita terjebak disini sebelum mobil sampai Mall."


"Lalu...?" Frans terlihat bingung dengan keadaan yang tak menguntungkan.


"Aku akan turun dan masuk kedalam sendiri. Aku tidak ingin telat atau hanya penyesalan yang ada!" Reno melepas jas yang melekat kekar di tubuhnya, tersisa kemeja putih. Ia gulung kan tangannya hingga sikut.


"Tapi Kak, jangan berjalan di muka umum sendiri. Sudah pasti akan ada mata-mata musuh yang memantau keadaan kita!"


"Jangan menyerah sebelum berperang. Kita sudah tidak punya waktu lagi, Frans! anakku membutuhkan ku!!" ucapnya seraya membuka pintu mobil.


"BRAKK! membanting kasar.


"kak bagaimana bila orang suruhan kita, yang penjinak bom belum datang." tanya Frans khawatir seraya melajukan mobilnya beringin di samping Reno.


"Aku sudah menghubunginya, mereka akan masuk! seru Reno dan berjalan cepat melewati orang-orang yang berada di jalanan raya depan Mall.


"Kak Reno seorang Ayah yang bertanggung jawab pada anaknya. Aku sangat tahu ia begitu terluka. Siapa dalang di balik semua ini? Dasar bodoh! mereka menggali lubangnya sendiri. Dengan kejadian ini, sudah pasti Mall itu akan di tutup atas perintah kak Reno."


Frans mendesah kasar "Ya Tuhan, selamatkan keponakan ku, dia anak baik dan penurut." mata frans sudah berembun menahan sesak.


Sementara di dalam restoran. waktu tinggal beberapa menit lagi untuk bisa menjinakkan bom itu. Vana masih berdiri dengan tubuh gemetar, keringat jagung keluar bebas dari pori-pori kulitnya. Penjinak Bom utusan dari departemen store sudah beraksi untuk melakukan menjinakkan rakitan bom. Namun nihil. dua orang penjinak bom yang memakai baju khusus mundur dan gelengkan kepala.


"Mundur semua! seru seorang petugas yang berada di dalam restoran.


Delena yang sudah siuman sejak tadi, di amankan agak jauh dari area restoran. Hati Delena begitu sakit mendengar kehebohan di dalam restoran.


"VANA..!! Delena yang terduduk lemas, bangkit ingin berjalan kearah restoran, namun di halangi oleh petugas kepolisian. Suara tangisan Zidan terdengar lirih, seakan ikut merasakan kesedihan yang dialami kakaknya.


"Tapi bagaimana dengan nasib anakku! aku ini seorang ibu! teriak Delena. "Aku akan tuntut Mall ini karena tidak memberikan kenyamanan pada pengunjung!" teriaknya menggema di dalam gedung yang sudah tidak ada pengunjung, hanya ada petugas dan gabungan sekuriti berada didalam gedung.


Suara sepatu pantofel terdengar nyaring saat keluar dari pintu lift dan berjalan kearah restoran.


"Mas Reno! teriak Delena, saat melihat sosok suaminya berjalan bersama beberapa orang kepolisian.


"Delena!!"


Reno berhambur dan memeluk istrinya. Delena menangis pilu dan sesenggukan di dada bidang suaminya.


"Mas Vana..." hiks...

__ADS_1


"Sabar sayang.. Mas akan berusaha menolong zee.., tidak akan Mas biarkan anakku pergi begitu cepat!" mengusap lembut pucuk kepala istrinya.


"Huhuhuhu....."


Suara Zidan terus menjerit. Reno melepas pelukannya dan mengambil Zidan dalam gendongan baby sitter. Dengan penuh kasih sayang, Reno memeluknya erat.


"Jangan menangis sayang... Anak Daddy pintar bukan? Zidan yang mendapat pelukan hangat dari sang Daddy, menghentikan tangisannya. Masih terdengar suara sesenggukan kecil yang mengguncang tubuh kecil Zidan.


"Hanya tinggal sepuluh menit lagi untuk bisa menjinakkan BOM! teriak seorang petugas. "Selagi bisa cepat kalian keluar, selamatku diri kalian sebelum Mall ini meledak!"


Delena hampir jatuh kembali karena lemas mendengar teriakkan petugas. Ini adalah pukulan terberat dalam hidupnya. Reno mengusap punggung istrinya dan memberikan Zidan pada Delena yang terlihat panik dan ketakutan.


"Mas, Vana!"


"Kau pergi lah sayang, biar Mas yang akan urus disini."


"Tapi Mas...aku tidak bisa tinggalkan Vana!"


"Percaya pada Mas.." Reno mencium kening istrinya dan Zidan.


"Tolong Pak! bawa istri dan anakku keluar dari Mall ini."


"Baik Tuan!"


Dua orang satpam membawa Delena, Zidan dan baby sitter, untuk pergi dari lantai lima. Sebelum pergi, Delena menatap nanar suaminya dengan perasaan campur aduk. Airmata tak hentinya berderai menahan sesak di dada. "Selamatkan anak kita." ucap Delena di sela langkahnya berjalan kearah pintu lift.


Reno berlari kearah restoran dan berhenti tepat didepan Vana berdiri. Sudah ada dua orang penjinak Bom, orang suruhan Reno berkutat di depan Zevana.


"ZEE..!" seru Reno, tak bisa menahan haru melihat anak gadisnya begitu menderita.


"Sayang, ma'afkan Daddy." Reno berjalan mendekat, Namun ditahan.


"Tuan tolong jangan mendekat. Ini sangat berbahaya. Bila dalam waktu lima menit tidak dapat di jinakkan, kita harus secepatnya keluar dari gedung ini!


Reno tampak geram dan menarik kasar kerah baju pria itu. "Dasar pengecut! bisanya kau bicara seperti itu! dia itu anakku! mana mungkin aku meninggalkan dia sendiri!" bentak Reno di depan wajah pria itu.


"Maafkan saya Tuan! tapi saya memiliki anak dan istri, jadi tak berani berkorban nyawa di sini. bagaimana kelurga saya bila saya mati sia-sia!"


BUGH!


Pukulan telak di wajah sekuriti itu, hingga ia ambruk ke lantai. Reno ingin menghajarnya kembali, Namun Frans melerainya.


"Kak! lebih baik fokus pada Vana. Buat apa dengarkan manusia yang tidak punya tanggung jawab pada kerjaannya."


Aura membunuh masih terasa "Pergi kau! selamatkan dirimu! teriak Reno sambil menendang keras kaki kering Pria itu.


"Tuan! seorang penjinak bom berjalan "Waktu kita tidak dua puluh detik lagi untuk keluar dari tempat ini. Sangat sulit menjinakkan BOM ini, rakitannya dibuat sangat langka dan belum pernah kita pelajari."


Reno dan Frans membulatkan mata.


"Bila memang takdir ku harus mati hari ini, aku akan ikut bersama anakku." ucap Reno pelan, baru kali ini Frans melihat Reno pasrah dan menyerah.

__ADS_1


"Tidak kak! semua akan baik-baik saja!"


"Pergi kau dari tempat ini Frans! teriak Reno. mendorong tubuh frans untuk keluar dari restoran.


"Tidak kak! aku tidak akan pergi!"


"Ingat! kau harus lanjutkan perusahaan ku bersama Vano, dan jaga kelurga kita!"


"Kakak bicara apa?! bentak Frans lagi.


"Waktu tinggal 15 detik lagi! cepat tinggalkan tempat ini!" Beberapa orang sudah mundur dan menjauh. Reno bergeming saat Frans dan beberapa polisi terus menarik Reno untuk keluar dari restoran. Reno bukanlah seorang pengecut, ia berani berkorban demi membela keluarga dan anaknya. Tanpa peduli teriakan orang-orang disekitar, Reno terus berjalan mendekat kearah anak gadisnya.


"Ma'afkan saya Tuan! kami sudah berusaha untuk menjinakkan, Namun ini sangat sulit. Rancangan bom nya dibuat khusus." Pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.


"Vana, Daddy akan menemani mu disini. kau jangan takut nak, Daddy tidak akan pernah meninggalkan mu!"


"Daddy..." hiks.. hiks...


Di hitungan ke 15 detik. Tiba-tiba datang seorang pria misterius berlari kearah Vana. Dengan cepat ia membuka kabel yang melilit di dalam rakitan Bom. Semua orang sudah berlarian keluar, pria berkumis tipis itu masih sibuk menjinakkan Bom.


"Siapa kau..? tanya Reno.


Pria itu tidak menggubris pertanyaan Reno, tangannya masih sibuk mengutak-atik kabel berwarna-warni ditangannya. Pria itu menoleh jam di pergelangan tangannya.


Pria itu mendongak dan menatap wajah pucat Vana "Ada lima kabel berwarna yang harus di putuskan. cepat putuskan warna apa yang harus aku gunting." pinta Pria itu pada Vana.


Reno tercengang dan bingung dengan pertanyaan pria itu.


"Kuning, hijau, merah, biru atau hitam! cepatlah waktu kita tinggal lima detik lagi!" seru Pria berkumis tipis itu.


"Tut! tut! tut!.. angkat terus berjalan mundur.


Vana tergagap dan bingung harus memutuskan warna apa. ia memejamkan mata sambil menutup kedua kupingnya dan berteriak "Merah!" Reno dengan cepat memeluk tubuh anaknya erat.


Dan.......


@Nafas dulu All......πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


πŸ™„πŸ™„πŸ™„


@Sorry ya readers, kalau cerita BUNDA banyak ation nya daripada cerita romantis. Namun disini semua konflik langsung di selesaikan. Bunda akan terima masukkan kalian yang membangun dan akan Bunda tampung yang nantinya akan di masukkan ke karya terbaru kisah Vana dan Vano.😘


@Bunda udah update setiap hari loh! mana kopinya? sekalian bunga setaman Yee...


Yuk terus dukung bunda dengan cara...


πŸ’œlike


πŸ’œvote


πŸ’œgift

__ADS_1


πŸ’œkomen


@Bersambung.....


__ADS_2