
Usai sepulang sekolah Vana menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Van! sepertinya lelah sekali ya." tanya Delena saat melihat anak gadisnya pulang dengan wajah memerah.
"Iya Mom!"
"Hey ada apa dengan wajah mu? Delena menatap seraut wajah tak biasa, sebagai seorang ibu ia sangat paham apa yang sedang dialami anaknya. Delena menyentuh wajah Vana "Kenapa ada luka goresan di wajah dan tangan mu? Delena terlihat Panik dan bingung.
"Katakan pada Mommy, apa kau habis berkelahi?"
Vana mendesah pelan dan mengangguk.
"Vana, kau anak gadis, jangan biarkan dirimu terbawa emosi bila ada masalah, pasti semua bisa di selesaikan tanpa harus adu fisik."
"Mom! apakah kita akan diam saja bila ada seseorang yang sudah merendahkan martabat dan harga diri kita! Aku rasa Mommy paham anak Mommy ini, dia tidak akan gegabah atau ambil tindakan ekstrim bila tidak di sakiti terlebih dahulu."
"Siapa yang melakukannya Nak!" tanya Delena setelah mendapat penjelasan dari anak gadisnya. Delena sudah paham sekarang, kenapa Vana sampai mendapatkan luka, Vana anak yang lembut dan sopan, ia tidak mungkin mendahului kekerasan bila tidak di usik terlebih dahulu. Sifat Reno mengalir kuat pada anak gadisnya, Sifatnya pendiam dan tenang, Namun sangat mematikan lawan.
"Kakak kelas ku!"
"Pasti mereka banyak mengalami cedera." seperti sudah paham persoalannya, Delena khawatir dengan orang-orang yang berhadapan dengan anaknya. Sifat keras, dan tidak akan memberi ampun lawan bila di injak. Sekali lagi Delena bergumam "Seperti Reno muda."
"Itu sudah pasti Mom! wajah Vana tertunduk seakan ia menyesal telah berbuat tindakan ekstrim, tapi siapa yang salah disini? mereka yang memulai lebih dulu.
Seorang pelayan datang dengan membawa juice jeruk untuk Vana. "Non di minum dulu juicenya, di luar cuaca sangat panas."
"Iya Mbak, terimakasih."
Seperti itulah sifat Vana, sangat menghargai dan sopan pada Asisten rumah tangga. Sifat lembut dan baik hati Vana mewarisi sifat Delena.
"Siang Non! ada seseorang yang mencari Non Vana." lapor seorang satpam
"Siapa Pak?"
"Dia bernama Reyhan. katanya teman sekolah Non Vana."
"What! darimana Reyhan tahu rumah ku?" di mana dia sekarang?"
"Masih di luar pintu gerbang Non!
"Mom! Vana melirik pada Delena "Teman Vana datang, apa Mommy mengizinkan Vana menemuinya."
Delena tampak ragu "Ya sudah tidak apa-apa, tapi jangan sampai Daddy mu pulang dia masih berada disini, Mommy tidak mau mendapat banyak pertanyaan dari Tuan posesif." Ya.. Reno bukan saja posesif pada istrinya, namun juga pada anak gadisnya.
"Okey Mom!
"Ganti bajumu dulu sebelum menemuinya, lihat kancing baju mu ada yang terlepas."
"Ini perbuatan mereka Mom!"
Delena gelengkan kepala dan masuk kedalam ruangan.
"Ahh! Untung saja nggak ada kak Nathan, bila bertemu dengan Reyhan, bisa perang lagi." gumamnya di sela langkahnya masuk kedalam kamar.
Mereka berdua duduk di sebuah taman, ada kursi yang terbuat dari besi tempa di halaman yang sangat luas itu. Pertama kali menginjakkan kaki kerumah Vana, Reyhan berdecak kagum dan hampir tak percaya melihat mansion Keluarga Vana bak sebuah istana. Belum lagi mobil-mobil mewah dan berkelas berjejer di garasi yang super luas.
"Apa Keluarga mu memiliki showroom mobil?" pertanyaan yang bodoh bukan? tapi seperti itulah otak Reyhan berfikir.
"Hah?! Vana terkekeh tanpa mau menjelaskan.
"Rumah mu seperti istana, apa kau nyaman tinggal di rumah ini? pertanyaan bodoh apalagi itu? dasar Reyhan stupid! rutuk nya dalam hati.
"Ini bukan rumah aku Rey, aku hanya menumpang."
"Ooohhhh..., ku pikir ini istana mu."
"Astaga Pria ini, jelas ini bukan rumah ku, tapi rumah Daddy ku, mana sanggup aku beli rumah seperti ini! batin Vana, gelengkan kepala.
"Kau tahu darimana tempat tinggal ku!"
"Ehh-iya, aku tadi.... Ma'af, aku mengikuti mu."
__ADS_1
"Huft! tak seharusnya kau ikuti aku Rey."
"Kenapa? apa aku tidak boleh tahu tempat tinggal mu?"
"Kau tahu bukan? sejak mengenal mu aku sangat privasi pada kehidupan ku maupun keluarga ku."
"Ma'af Van, tapi aku sangat penasaran dengan sosok dan kehidupan mu."
"Tidak Rey! aku paling tidak suka privasi ku di usik! tidak ada yang mengetahui tempat tinggal ku selain dirimu."
"Hey kita ini sepasang kekasih, apa kau lupa?
"Rey, kau salah mengartikan sikap ku, aku menganggap mu sebagai teman curhat dan sahabat, jujur aku mengagumi mu sebagai pria berprestasi dan berbakat, terutama pada permainan basket mu."
"Jadi selama ini kau tidak pernah menyukai ku dan menganggap ku sebagai kekasih?!" tatapan kecewa terlihat jelas dari wajah Reyhan.
"Aku minta Maaf Rey, tidak bermaksud untuk..."
"Aku sangat mencintaimu Van!" potong Reyhan. "Sejak dulu aku mengatakan itu bukan? dan kau seperti kasih harapan padaku? Reyhan menarik jemari tangan Vana dan menggenggam nya "Aku percaya kau juga punya perasaaan yang sama dengan ku."
Vana terdiam dan menarik genggaman tangan Reyhan, seraya mengalihkan pandangan ke bunga-bunga taman didepannya.
"Kenapa kau tidak mau jujur dengan perasaan mu padaku." Reyhan masih bersikeras berharap kejujuran Vana.
"Aku juga tidak tahu dengan perasaan ku, saat ini aku masih fokus sekolah Rey, aku tidak ingin kecewakan kedua orang tua ku."
Reyhan mendesah kasar "Aku tidak akan menggangu sekolah mu, aku janji akan menunggu mu Van. Sampai kau lulus kuliah dan benar-benar siap ke jenjang pernikahan. Aku mulai menabung dari penghasilan ku sebagai model majalah dan catwalk, untuk masa depan kita nanti."
"Jangan berfikir terlalu jauh Rey. kita tidak tahu kedepannya seperti apa? sekarang kita jalani sebagai orang yang saling mendukung satu sama lain. jodoh tidak akan kemana, bila aku di takdirkan berjodoh denganmu jalan itu pasti ada." Vana tersenyum lembut
"Baiklah, semoga kita berjodoh dan kau adalah takdir ku, aku akan menunggu mu." Reyhan bernafas lega.
"Rey, maaf ya ini sudah sore, sebentar lagi Daddy ku pulang, aku tidak ingin kau di tanya macam-macam. Daddy ku sangat posesif."
"Baiklah, aku pulang dulu kalau begitu."
Mobil Reyhan meluncur keluar dari gerbang pintu mansion.
Malam hari....
Delena dan Reno menyambut kedatangan Alisya dan Robby bersama anak semata wayangnya Shafira. Delena dan Alisya cipika-cipiki untuk melepaskan rindu yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Ini Shafira? waduh cantiknya." puji Delena mencium pipi gadis cantik itu.
"Iya Dena, sayang... Ayo salim sama Om dan Tante."
Gadis berusia 12 tahun itu mencium punggung tangan Delena dan Reno.
"Dimana anak-anak mu Dena.."
"Vana masih belajar, si kembar Vano sekolah di Jerman sama Oma dan Opa nya. Zidan lagi sama baby sitter nya. sebentar aku panggilkan."
Tak berapa lama "Ini Vana! Ayo salim sama Tante Alisya dan Om Robby."
"Wah Vana cantik sekali, sama cantiknya seperti Delena muda, di kampus ajah banyak yang suka mommy mu." seloroh Alisya.
"Ahh bisa ajah kau Lis! Delena menyikut tangan Alisya, sebab ia tak ingin suaminya cemburu.
"Nah ini jagoan Daddy Reno." Zidane sudah berada dalam gendongan Delena
"Wah tampan nya..." puji Alisya mencubit gemas pipi gembul Zidane.
Setelah bincang-bincang di ruangan tamu, Delena mengajak tamu istimewanya menikmati hidangan makan malam.
"Shafira bobo disini ya, temenin kak Vana." bujuk Delena.
"Fira masih sekolah Tante..."
"Sering main kesini ya kalau liburan."
Shafira mengangguk.
__ADS_1
"Robby Ayo tambah lagi." tawar Reno.
"Wah, perut saya sudah penuh, Mas." Robby terkekeh. Saat ia ingin mengambil gelas berisi Air putih, tiba-tiba gelasnya tersenggol dan mengenai kakinya.
"PRANG!!
"Robby kau tidak apa-apa...?" tanya Delena cemas. Alisya buru-buru berjongkok untuk memunguti pecahan gelas.
"Sudah tidak usah diangkat pecahan gelasnya Lis! biar aku suruh bibi yang bersihkan."
"Aaaww! pekik Alisya, tangannya sudah terkena pecahan gelas.
"Kau tidak apa-apa Lis? lihat tangan mu terluka."
Dua orang pelayan datang dan membersihkan pecahan beling.
"Perasaan ku kenapa nggak enak begini ya Len! takut sesuatu akan terjadi."
"Jangan berfikir buruk, positif thinking saja." ucap Delena seraya membalut luka sahabatnya dengan perban saat berada di ruang tamu.
"Dena, bila suatu saat aku dan Robby sudah tidak ada di dunia ini, maukah kau menjaga anak ku Shafira."
Kening Delena berkerut "Apa maksud mu bicara seperti itu? tidak! umur kalian masih panjang, bukankah dulu kita sering berandai-andai. Bila kita memiliki anak berbeda jenis, kita akan nikahkan anak-anak kita. Aku berharap Shafira berjodoh dengan Zevano." ucap Delena serius.
"Semoga saja, apa yang jadi keinginan kita berdua akan terkabul." Alisya ikut berharap.
Setelah berbincang cukup lama. Alisya dan Robby pamit pulang. Sebab besok pagi ia akan pulang ke Surabaya.
Malam semakin larut. Delena dan Reno sudah berada dalam peraduannya.
"Sayang... Mas lihat kau seperti gelisah."
"Entahlah Mas, aku juga tidak tahu, setelah Alisya dan Robby pulang, aku teringat ucapan Alisya yang menitipkan Shafira padaku."
"Loh, memangnya Alisya dan Robby mau kemana?"
"Entahlah, ucapan Alisya seperti memberikan sebuah amanah."
"Tidak usah terlalu di pikirkan. Berfikir positif saja. Ya sudah kita tidur yank." Reno mencium kening istrinya dan memeluk erat tubuhnya.
"Tring! Tring! Tring!
Terdengar suara ponsel berdering cukup keras. Delena terbagun saat ponselnya menjerit-jerit di tengah malam. ia melepaskan tangan suaminya dan mengambil ponsel diatas nakas.
"Siapa yang malam-malam begini telpon." tanpa melihat nama si penelpon, Delena menggeser tombol hijau.
"Hallo......."
"APA...?TIDAKKKKK!!!!
Mendengar jeritan istrinya, Reno terbagun. "Sayang ada apa..?"
"Mas, Alisya dan Robby..." hiks.. hiks..
"Ada apa dengan mereka?"
"ALISYA DAN ROBBY MENINGGAL DALAM KECELAKAAN?!
"APA...??!
🔥
🔥
🔥
@Insyaallah Beberapa episode lagi akan tamat ya, seperti janji Bunda akan meluncur ke novel kisah anak-anak Reno dan Delena yang sudah beranjak dewasa. kisah yang lebih seru dan menarik 😍
Yang berjudul "KEMBALINYA SANG MACAN ASIA."
Untuk visual nya nanti Bunda share di IG ya.
__ADS_1
follow IG @bunda.eny_76
@Bersambung.....