ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Wedding


__ADS_3

Mereka berdua membuka amplop itu, dan Siska terlihat senang, matanya berbinar cerah


"Apa sih isinya Tante?" Fanny begitu penasaran.


"Ini adalah honeymoon keliling Eropa selama satu bulan, dengan hotel kelas vvip termahal. dan semua ini dibiayai oleh keponakan ku yang tampan ini, makasih Reno."


"Wooww keren nya kak Reno, berarti nanti aku juga kaya gitu ya kak." pinta Fanny terkekeh.


"Urus kuliahmu dulu, baru menikah." Reno berbicara dengan penuh makna.


"Yess asyik."


"Ya Tuhan semoga aku berjodoh dengan frans, pria pilihanku." gumam Fanny dalam hati, tersenyum manis.


Malam minggu semua keluarga besar Mahesa sudah berada di hotel bintang lima milik Ramon. Acara wedding terlihat mewah dan megah, padahal Tommy tidak ingin ada pesta perayaan yang glamor itu, cukup akad nikah saja. Tapi Ramon tetap ingin mengadakan pesta pernikahan untuk adiknya Siska sekali seumur hidup itu.


Para tamu undangan dari mulai pejabat, artis, kerabat, kolega, sahabat dan teman bisnis Ramon dan Reno tumpuh ruah dimalam wedding itu.


"Sayang apa kau lelah?" Tommy bertanya dengan penuh kehangatan, menatap cinta wajah istrinya yang terlihat lelah.


"Hahh! menghela nafas dalam. "Baru bisa duduk Mas, sedari tadi berdiri terus menyalami dan berfoto dengan para tamu."


"Kalau pestanya sudah selesai, nanti mas pijit kan ya." tersenyum jahat.


"Janji hanya pijit ajah ya, jangan bergerilya kemana mana dulu." pesan Siska, mode merenggut.


"Rugi donk kalau gak Mp, itu kan yang di tunggu tunggu setiap orang menikah." bathin Tommy menggerutu.


"Hallo sob!" tiba-tiba suara seorang pria sudah berada didekat Tommy dan Siska.


"Gilang?! Tommy bangun dari duduk dan berpelukan erat "Akhirnya loe datang juga."


"Selamat ya, dan loe sudah mengakhiri masa lajang loe." tertawa kecil


"Oiya ini istriku, cantik bukan?!' terlihat bangga, memperkenalkan istrinya.


"Wow, cantiknya." Gilang berjabat tangan Siska, saat ingin memeluknya, tubuh Tommy sudah menghalangi.


"Jangan macam macam Lang, kalau gak mau bogem mentah pindah ke wajah loe." ancam Tommy.


"Cihh! sombong sekali Tuan Tommy ini." celetuk gilang terkekeh.


"Kakak.....


semua menoleh pada asal suara itu.


"Arneta kau darimana saja?"


"Hehehe, Aku habis makan puding dan es krim kak, tadi nunggu Kaka lama ngobrol sama temennya."


"Kak Tom, selamat ya." Arneta memeluk tubuh Tommy tiba tiba, membuat Siska memajukan bibirnya.


"Kaka selamat ya." cipika-cipiki pada Siska. yang disambut senyuman terpaksa.


"Kak Tom, besok aku pulang bersama kak gilang."

__ADS_1


"Hati hati dijalan ya Net." mengelus lembut kepala Arneta.


Setelah Arneta dan Gilang berfoto dengan kedua mempelai, mereka berdua pergi dari podium.


"Ehem, enak ya peluk peluk cewek." sindir siska memalingkan wajahnya.


"Sayang jangan ngambek donk, nanti didalam kamar kita sepuas-puasin peluk pelukan deh." rayu Tommy tergelak.


"Gak perlu! peluk ajh sana guling!" gerutu Siska.


"Jangan gitu donk yank, kan Mas juga gak tau Neta langsung peluk Mas." mencoba merayu istrinya yang cemburu.


Acara terus berlangsung hingga malam, suara merdu dari para artis menyemarakkan pesta Tommy dan Siska. Ramon dan Reno sibuk menerima para tamu dan pejabat yang hadir.


Sementara Delena, Helena dan si kembar duduk disebuah meja bundar sambil menikmati cemilan puding dan buah.


Andini sibuk menemani para tamu dan teman teman sosialitanya.


Dua penganten yang masih saja cemburu seperti anak kecil, bila ada salah satu pasangannya yang sekedar pelukan untuk melepas rindu pada kawannya, pasti mereka langsung komplen.


"Hallo, Siska...."


"Angga!"


Pria itu berjalan dan merentangkan kedua tangannya. spontan mereka berdua berpelukan, tentu saja membuat Tommy cemburu.


"Selamat menempuh hidup baru." masih terus berpelukan sambil mengusap-usap punggung Siska.


"Bisa tidak jangan pakai peluk peluk segala, siska sudah milik suaminya." sindir Tommy cetus.


"Tom, dia Angga sahabat ku yang tinggal di Australi, dan Angga kenalkan ini suamiku Tommy."


Di sisi lain, fanny sedang mengambil potongan buah dan cake yang ia taruh diatas piring kecil, dan membawanya kesebuah meja.


"Frans, makanlah buahnya." menaruh potongan buah itu didepan Frans.


"Terima kasih fan."


"Fanny, kenapa akhir-akhir ini kau banyak melamun, apakah ada masalah?' tanya frans penuh selidik


Tersenyum canggung "Tidak ada Frans, mungkin aku hanya kecapean membantu urus Pernikahan Tante Siska."


"Kalau begitu jangan terlalu lelah, tubuhmu juga perlu istirahat." ucap Frans prihatin.


"Fan, dalam waktu dekat ini aku akan ke Korea untuk operasi kaki ku, Tuan Reno sudah mengijinkan aku untuk cuti selama dalam pengobatan." tersenyum senang.


Fanny hanya terdiam dengan wajah tertunduk, tidak ada rasa kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya saat Frans bercerita keinginannya, padahal Frans sangat berharap fanny senang dan antusias mendengarnya.


"Fanny kenapa kau seperti tidak senang aku ingin berobat."


Fanny mengangkat wajahnya, ia seperti tidak bisa menyembunyikan perasaan nya yang sedang galau. "Frans!" menyentuh tangan pria didepannya dengan cemas. "Bawa aku pergi dari kota ini, dan kita bisa hidup berdua tanpa halangan." mata Fanny sudah berembun.


Frans mengeryitkan keningnya, menatap dalam wanita yang ia cintai. "Apa maksud dengan ucapan mu fan?


"Sebenarnya aku akan di__" ucapan fanny terputus.

__ADS_1


"Fanny! kau disini, ayo ikut Mama, keluarga Ayah mu sudah datang dari jerman."


"Iya Mah, aku akan menemuinya."


"Aku akan mengatakan semuanya padamu, tapi tidak ditempat seperti ini, besok kita bertemu di Cafe, tempat biasa kita bertemu." ujar fanny sambil bangun dari duduknya dan berjalan mengikuti Andini.


"Apa yang akan Fanny katakan? kenapa perasaan ku tidak enak." frans mengambil gelas berisi sirup didepannya, dan meminumnya sampai habis.


Frans pun baru menyadari, ada sesuatu yang tak biasa pada Fanny, dia terlihat banyak diam dan menyendiri.


"Mengajak nya kabur dari kota ini?!" apa maksud perkataan fanny tadi?" helaan nafas berat keluar dari bibir frans begitu saja.


Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam, acara pesta sudah usai, semua sudah masuk kedalam kamar masing-masing yang berada di hotel. hanya para pelayan hotel yang sibuk membersihkan ruangan bekas pesta.


Didalam kamar besar dan mewah, terdapat hamparan karpet merah dan dipenuhi berbagai macam bunga di sekitar ruangan, dindingnya dipenuhi hiasan bunga hidup, aromanya sangat harum menyengat di hidung, dan terdapat taburan bunga mawar merah diatas ranjang. Mereka berdua berdecak kagum melihat kamar pengantin yang begitu indah. didalam kamar Tommy dan Siska terlihat canggung. Siska duduk di meja rias sambil membersihkan wajahnya dari sisa makeup.


"Ada yang bisa Mas bantu?" Tommy menawarkan diri selelah melepas sepatu kulit dan jas hitamnya.


"Mas bisa bantu aku melepas sanggulnya." pinta Siska malu malu. Dengan penuh hati hati Tommy melepaskan sanggup itu.


"Ada lagi yang perlu Mas bantu?


"Tidak ada!" jawab Siska cepat, beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi sambil mengakat gaunnya yang panjang.


"Kau mau apa didalam sana?"


"Ya tentu ajah mandi, kau pikir apalagi?"


"Yank, mandi bareng yuk?" pinta Tommy berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Masing masing saja Mas, aku belum terbiasa mandi bersama." Siska berkata dari dalam, tapi terdengar ia sedang mengeluh kesal.


"Ada apa yank"


"Aku tidak bisa membuka Resleting belakang gaun ku, Mas!"


"Mas bantu bukain ya?" tersenyum jahat.


"Tidak, tidak! pasti kau akan berbuat yang aneh-aneh?"


"Sayang, kau itu sudah jadi istriku? tidak usah sungkan."


Ceklek! pintu terbuka.


"Bukakan resletingnya, lalu keluarlah dari sini!"


Sebuah senyuman licik tersinggung dari bibir Tommy, sambil tangannya membuka resleting istrinya perlahan.


'


'


'


'

__ADS_1


:


Bersambung........


__ADS_2