
Pintu terbuka dengan kasar. Fanny berdiri di ambang pintu sambil tersenyum sumringah. "Kak Tommy sudah datang!" seru fanny membuat Siska terduduk dan melempar bantal Itu.
"Kau tidak bohong kan?! mengusap kasar air matanya. Dan merapikan sanggup yang sedikit berantakan.
"Kalau Tante tidak percaya keluar ajah sendiri." titah Fanny mengerucutkan bibirnya.
Delena tersenyum, mengelus punggung Siska "Tante rapikan dulu riasannya, masa mau ketemu calon suami berantakan seperti itu." goda Delena terkekeh.
"Mana makeup ku?" Siska begitu tak sabar. Fanny memberikan serangkaian makeup untuk polesan ulang ke wajah Siska. rambut yang berantakan di rapikan kembali. wajah cantik Siska bersinar cerah lagi, ia tersenyum manis. Delena dan Fanny mengampit Siska untuk berjalan ke ruangan keluarga.
Deg...
Deg...
Deg...
Di ruangan keluarga, Siska menatap wajah pria yang sejak tadi menatapnya dengan penuh cinta. Tommy beranjak dari duduknya berjalan kearah Siska berdiri. Tersenyum manis sambil memberikan Bucket mawar kepadanya.
"Terima kasih Tom, akhirnya kau menepati janji mu." menerima bunga mawar merah dari tangan Tommy dan mencium bunga yang sudah berpindah tangan.
"Humm.. sangat harum." tersenyum sumringah.
"Ayo kita duduk." meraih tangan Siska.
"Tunggu!"
Tommy mengeryit. "Ada apa?"
"Kenapa dengan wajah mu?" menatap iba pada kekasihnya.
Tommy tersenyum tak berdaya "Semua ini yang membuat aku datang terlambat."
"Kalian berdua duduk lah, nanti kita akan mendengar penjelasan dari Tommy." titah Ramon memberikan pengertian.
Siska dan Tommy duduk disebuah sofa, acara pun di mulai. Sebelumnya Tommy menjelaskan kenapa ia datang terlambat hingga wajahnya sedikit ada luka.
"Kenapa kau selalu mendapat ujian Tom." Siska menatap iba, bola matanya berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, yang penting aku sudah selamat sampai Mansion." tersenyum manis.
"Baiklah kalau begitu kita lanjutkan acaranya." tutur Helena lembut "Aku sebagai orang tua angkat Tommy, datang kemari untuk melamar Siska adik dari besan ku sendiri." Helena tersenyum bahagia.
"Aku ingin tau dan minta penjelasan tentang keluarga nak Tommy." Ramon berbicara dengan sopan.
Tommy menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.
"Aku terlahir dari keluarga biasa, tidak ada yang bisa aku banggakan dari diriku. Seorang anak yang merantau ke Jakarta hanya berbekal keberanian dan tekat yang kuat, hingga akhirnya aku dipertemukan oleh Tuan Darwin yang baik hati. Dari sanalah kehidupan ku berubah dratis, diberi pendidikan yang layak hingga lulus Sarjana Ekonomi sampai S2. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Sepuluh tahun yang lalu ayahku meninggal dunia, dua tahun kemudian ibuku menyusul. Adikku perempuan, setelah menikah ia ikut suaminya tinggal di Singapur."
Ramon mendesah pelan, seperti mendapat jawaban puas atas kejujuran Tommy tentang jati dirinya. Ramon menoleh pada Andini dan Reno untuk memberi jawaban. sebuah anggukan dari Andini dan Reno.
Ramon tersenyum sumringah "Aku sebagai kakak dari Fransisca Mahesa menerima lamaran mu."
"Alhamdulillah... semua berucap syukur."
__ADS_1
Tubuh Tommy sedikit gemeteran saat Ramon menerima lamarannya. Bola matanya berkaca kaca, sudut bibirnya terangkat. Ia bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh pria baya itu yang sudah berdiri didepannya. Siska pun turut memeluk kakaknya bergantian dengan Tommy.
"Terima kasih Tuan, sudah percayakan aku untuk Nona Siska." Ramon menepuk nepuk punggung Tommy. "Terima kasih sudah menaklukkan hati macan betina." bisik Ramon terkekeh. Tommy hanya tersenyum lebar. berikutnya ia menuju Andini dan Helena mencium tangannya dan memeluk kedua wanita itu yang sudah seperti keluarga baginya.
"Selamat ya Tom, semoga bahagia sampai menuju halal." Andini tersenyum bahagia.
"Selamat Nak Tommy." mengelus lembut punggung Tommy "Semoga berjalan lancar sampai hari H."
Berikutnya menuju Reno dan memeluknya erat.
"Good, akhirnya menuju pelaminan, semoga kau bisa menjaga Tante jutek ku." bisik Reno tergelak. Tommy tersenyum senyum simpul.
Terakhir menuju Delena dan Fanny. mereka berjabat tangan dan mengucapkan selamat.
"Kini Tommy sudah diterima sebagai keluarga besar Mahesa." kata Ramon menjelaskan. "Untuk akadnya akan dilaksanakan diawal bulan, menikah dirumah dan perayaannya di hotel milik kluarga Mahesa."
"Terima kasih Kaka." Siska begitu bersemangat, bibir tipisnya terus menyunggingkan senyum "Tapi kenapa harus secepat itu kak?" bertanya tanya dosa.
"Untuk apa lagi nunggu lama lama, kalian sudah yakin bukan? yang terpenting Ayah kita sangat menantikan cucu darimu."
"Iya kak." Siska tersipu malu-malu.
"Horeee akhirnya nanti aku jadi tante kecil, mendapatkan keponakan dari tante Siska."
Semua mata tertuju pada Fany yang sedang terkekeh.
"Hussttt... Fanny!" Andini menyenggol lengan fanny dengan sikutnya, agar diam.
"Menikah saja belum pikiran mu sudah traveling Kemana mana." celetuk Reno, geleng geleng kepala.
Mereka semua tertawa bersama. Acara makan malam bersama kelurga sudah selesai. Reno, Delena dan Helena pamit pulang karena si kembar sudah rewel.
Ramon dan Andini sudah masuk kedalam kamar, Begitu juga dengan fanny. kini tinggal Tommy dan Siska berdua di ruangan tamu.
Tangan Siska mengobati pelipis Tommy yang terluka dengan obat luka.
"Pelan pelan honey... ini sangat perih."
"Kenapa kau meringis seperti anak kecil sih!" Siska menggerutu sebal. Melihat wajah Tommy dari dekat, ia begitu terpesona dengan ketampanan wajahnya. Terlihat maskulin dengan berewok tipis di tulang rahangnya.
Tommy tersenyum, dan meraih kedua tangan Siska. lalu menciumnya penuh kelembutan "Kau sungguh cantik malam ini." rayuan Tommy sudah berhasil membuat hati Siska berbunga bunga.
"Rayuan mu sudah pasaran Tom." tertawa kecil.
"Honey." menatap wajah Siska penuh cinta "Tidak lama lagi kita akan menuju halal, bulan depan kau akan menjadi Nyonya Tommy."
Senyuman Ceria itu terus tersungging di bibir Siska. "Sejak kapan kau memanggilku honey?"
"Hahahaha.. Tommy tergelak "Tentu saja sejak hari ini dan seterusnya." mengelus lembut pipi Siska. "Apa kau bahagia sekarang, setelah kaka mu merestui hubungan kita, hingga sampai tahap pernikahan." Mata Tommy berkaca-kaca karena bahagia.
"Tentu saja Mas, aku sangat bahagia dan menantikan hari itu." kembali tersipu, membuat kedua pipi Siska memerah karena senang.
"Haii sejak kapan kau memanggilku Mas."
__ADS_1
"Tentu saja sejak hari ini dan seterusnya." Siska terkekeh sambil menutup mulut dengan satu tangannya.
"Aku senang kau memanggilku kata Mas." tersenyum lebar, mengusap kepala wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Mas, bisakah kau luangkan waktu besok untuk kita fitting baju."
"Besok aku harus bertemu dengan Client pagi, bisa selesai meeting agak sore."
"Ya sudah nggak apa-apa, kan fitting nya di butik kak Andini, butik kaka memiliki penjahit kebaya tradisional modern berkelas dan berkualitas."
"Baik honey, aku ikuti kemauan mu saja." menoel hidung mancung Siska.
"Sudah jam Setengah satu, aku harus pulang."
Siska memekluk tubuh Tommy erat, seakan tak rela bila Tommy harus pergi.
"Honey, ini sudah malam aku harus pulang." mencium pucuk kepala Siska.
"Mas Tommy." mengangkat wajah dari pelukannya "Aku sungguh sangat bahagia malam ini, karena kau sudah berhasil meyakin kan kak Ramon, ku pikir tadi kau tidak akan datang melamar ku, bagaimana aku tidak frustasi kau tidak menjawab telpon ku."
Tommy lupa menjelaskan itu."Maafkan aku sayang, ponsel ku tertinggal diatas meja karena terburu-buru."
"Ya sudah besok aku tunggu di Butik kak Andini ya, butiknya berada dilantai dua."
"Iya sayang." Tommy beranjak dari duduk.
"Titip salam buat Tuan Ramon dan Nyonya Andini." Siska mengangguk pelan.
Saat didepan teras Siska mengeluh.
"Mas mau pergi begitu saja? kau melupakan diriku sebelum pulang." mengerucutkan bibir.
Tommy menepuk jidatnya dan memutar balik berjalan kearah Siska yang masih setia berdiri. Menangkup kedua pipinya yang berwarna pink, mencium pipi dan keningnya mesra.
Terakhir mendaratkan sebuah ciuman dibibir merah Siska, begitu ranum bak buah delima."
"I love you my honey" kata kata itu begitu indah terdengar, melelehkan hati Siska seketika.
"I love you to, Mas Tommy." tersenyum manis.
"Aku pulang ya, tidur yang nyenyak."
Mobil Tommy sudah pergi meninggalkan Mansion keluarga Mahesa dengan hati lega.
'
'
'
'
'
__ADS_1
Bersambung.......