
"Dengan siapa istriku pergi."
"Sendiri, tuan."
"Tetap kalian pantau dan jaga anak, istriku. Pastikan mereka baik-baik saja dan terus ikuti kemana mereka pergi."
"Siap, Tuan! kalau begitu kami pergi."
Reno mengangguk. Mereka membungkuk dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Reno.
Reno mendudukkan kasar bokongnya di kursi presdir. Memijit pelipisnya dan terus bertanya pada dirinya sendiri.
"Ada apa dengan diriku ini? kenapa aku mudah sekali marah dan gampang tersulut emosi. Delena apa yang terjadi dengan hubungan kita, kenapa hidupku tidak tenang?! Dua minggu aku pergi dari mansion dan ingin menenangkan diriku sendiri. Tapi aku tidak bisa?! kenapa kau tidak pernah memohon dan menahan aku untuk tidak pergi? kau membiarkan aku pergi tanpa rayuan manja dan lembut mu, yang biasa kau tunjukkan padaku? Kau seakan senang aku pergi dari rumah yang kita bangun dengan Cinta?! Dena...! seharusnya kau menelpon dan membujuk ku, tapi kau lebih bahagia hidup tanpa ada aku di sisimu."
Aaagghhh! Reno berteriak frustasi, menjambak rambutnya sendiri dan mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan kekarnya.
KREKK
Pintu terbuka, Frans masuk kedalam dengan membawa paper bag dan menaruhnya di atas meja. "Kak, makan lah dulu, sejak kemaren kakak tampak murung dan tak berselera makan." imbuh frans seraya membuka beberapa makanan siap saji yang ia beli di restoran.
"Entahlah akhir-akhir ini aku tidak ingin makan, dan bawaannya kepingin ini dan itu, seperti orang ngidam ajah! gerutunya pada diri sendiri.
"Kau memang sedang ngidam kak, karena kak Dena sedang hamil anak mu!" gumam Frans dalam hati. "Ingin sekali aku berterus terang dan mengatakan kebenarannya padamu kak! namun, kak Dena melarangku untuk bicara. Aku harus menghargainya keputusannya."
"Makanlah kak, walau sedikit. Tidak baik mengabaikan kesehatan, sebentar lagi kita akan mengadakan rapat dengan kepala direksi. Aku harap kakak tidak lemas saat menghadiri meeting."
Reno merenung sejenak dan melihat hidangan restoran yang Frans bawa, ia mengambil piring yang sudah Frans letakkan diatas meja, Reno mengambil nasi, udang asam manis, dan gurame goreng. Ia mulai menyendok dan memasukkan kedalam mulutnya, walau terasa getir saat mengunyahnya.
"Frans! makanlah, siapa yang akan habiskan makanan sebanyak ini?
"Sebenarnya aku masih kenyang, tadi sebelum berangkat kerja fanny membawakan aku bekal, dan aku baru menyantapnya sebelum pergi ke restoran."
"Kau sudah makan sejam yang lalu bukan?" sekarang temani aku makan! perintah Reno, yang tidak bisa dibantah.
Frans mengangguk, ia tak mau suasana hati kakak iparnya berubah, karena sejak dua minggu ini, Reno selalu uring-uringan dan membuat Cliant takut. Frans mengambil satu piring dan mulai menyantap hidangan bersama Reno.
Sementara Delena sudah berada di dalam Mall Galaxy XX, saat ia melewati sebuah salon, dan berhenti "Sudah hampir dua bulan aku tidak ke salon, semenjak ngidam ku kumat. Aku butuh refreshing biar tidak stress." Delena masuk kedalam salon dan mulai memanjakan kulit wajah, rambut, pedicure dan manicure.
Hampir dua jam berkutat di dalam salon, Delena keluar dan berjalan menuju swalayan. ia mengambil troly dan memasukkan kebutuhan pokok untuk sehari-hari, tak lupa sepuluh dust susu hamil ia masukkan kedalam troly.
Brukk! seorang anak gadis berusia delapan tahun menjatuhkan kotak kemasan yang tersusun rapih di rak display.
"Adek mencari apa? tanya Delena lembut.
"Aku mau itu tante." menunjuk sebuah kotak wafer yang berada di rak susun atas.
"Sebentar ya, kita bereskan kotak-kotak ini dulu." ujarnya seraya merapikan kotak yang berjatuhan. Selesai merapikan, Delena mengambil kotak wafer yang gadis itu minta.
"Sayang, kau dimana?! Tiba-tiba terdengar suara pria memanggil seseorang, seraya berjalan membawa troly "Rara, sedang apa kau disana? tanyanya saat melihat anaknya bersama seorang wanita yang membelakanginya.
"Papah! seru gadis kecil itu menoleh.
"Tante terima kasih ya, aku mau ke Papah ku dulu.."
Delena mengangguk "Jadi namamu Rara ya?! tanya Delena tersenyum sumringah pada gadis cantik di depannya.
"Iya Tante! Dahhh...tante! gadis kecil bernama Rara itu berlari kecil kearah Ayahnya yang berada di belakang Delena dengan jarak lima meter.
__ADS_1
"Sayang! kau kenapa menjauh dari Papa, kalau hilang bagaimana? imbuh pria itu khawatir.
"Tadi Rara ambil kotak ini tapi nggak sampai, terus kotaknya berjatuhan. Tante cantik itu yang mengambilkan dan membereskan kotak yang berjatuhan di lantai."
"Benarkah? ya sudah papah Ingin bilang terima kasih sama tante cantik."
"Ayo Pah, kita temui tante cantik itu! menarik satu tangan Ayahnya dan satu tangan pria itu memegang troly.
"Tante cantik, tunggu...."
Delena yang sudah mendorong troly nya terhenti, saat gadis cantik itu memanggil namanya Tante cantik.
"Tante.." berlari kecil kearah Delena, ia berhenti dan menarik tangan Delena. "Tante Papah ku mau kenalan sama tante."
"Oh ya... mana?!
"Itu..! tunjuk Rara, Papanya sudah berjalan mendekat, Delena tersenyum seraya memutar tubuhnya Dan....
"Deg! kedua netra bertemu, mereka saling bersitatap. Terlihat rona wajah Delena yang terperanjat kaget.
"Arya! gumamnya pelan.
"Delena..? kau Delena bukan?" Arya sama terkejutnya dan menatap lekat saat sudah berdiri di depannya.
"Papah, ini Tante cantik nya?! ucap Rara memperkenalkan.
Mereka saling bersitatap, bukan karena Delena rindu dengan sosok Arya yang tidak pernah berubah penampilan dan gayanya. Tapi ia tak menyangka bisa bertemu setelah perpisahan di bandara, saat Delena ingin terbang ke Australia bersama Arya dan ingin melupakan Reno. Ternyata Delena sudah mengandung Zevano dan Zevana tanpa ia sadari. Ia ingin meninggalkan Reno, sebab rasa kecewa Delena pada Reno yang telah pergi ke Bali menemui Anjali.
"Delena..."
Delena mengalihkan pandangannya, ia terlihat gugup dan gusar.
Ada rasa getir di hati Delena dan masih tak menyangka di pertemuan kembali. "Bukankah dulu saat aku merayakan pesta pernikahan di hotel dengan Mas Reno, Arya tabrakan mobil dan ngalamin kelumpuhan, bahkan ia sempat koma dan amnesia. Aku mengunjunginya di rumah sakit. Namun, sekarang yang Arya ingat perpisahan di bandara 15 tahun yang lalu." gumam Delena dalam hati.
"Hey kenapa kau melamun?!
"Eh-iya aku baik-baik saja." menerima uluran tangan Arya, mereka berjabat tangan. "Aku tak menyangka kita bisa bertemu kembali, kabar terakhir yang aku dengar kau pergi ke Australia."
"Aku hanya tujuh tahun tinggal di Australia, dulu sempat kecelakaan, Ayah membawa ku kesana untuk berobat. Untuk menghilangkan trauma dan sakit hati karena kehilangan orang yang aku cintai, aku menetap di sana."
"Uhuk! Delena tersedak, ternyata Arya masih belum bisa melupakan masa lalunya.
"Hey, kau kenapa? apa tenggorokan mu sakit? biar aku ambilkan minum?! Arya ikut panik. "Tidak usah, aku tidak apa-apa." Delena mengalihkan pandangannya pada Rara yang hanya menatap bingung dua orang didepannya.
"Apa Tante sudah mengenal Papah ku? tanyanya polos.
Delena terkesima dan menoleh pada Arya sekilas. "Iya, Rara sayang." jawab Delena kemudian.
"Wah, ternyata Tante cantik temannya Papah ya?! ucapnya dengan mata berbinar.
"Anak mu Rara sangat pintar dan cantik."
"Iya., Rara anak tunggal ku? mereka mulai berjalan beriringan seraya membawa troly masing-masing.
"Dimana Mama nya? tanya Delena spontan.
Arya terdiam, ia menghentikan langkahnya dan menatap nanar wajah Delena.
__ADS_1
"Kenapa kau diam? Delena mengeryit dahinya.
"Mama nya Rara sudah meninggal, saat ia berusia tiga tahun."
Seketika sekelumit haru di benak Delena, gadis cantik itu harus kehilangan sosok seorang ibu di usia belia.
"Aki ikut prihatin, semoga Rara kuat menjalani hidup tanpa seorang ibu, Kenapa kau tidak mencarikan ibu buat Rara."
Arya menatap wajah Delena, merasa di perhatikan Delena mengalihkan pandangan kesamping. Melihat Rara yang sedang sibuk mengambil buah apel dan di masukkan kedalam plastik putih.
Arya menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan "Tidak mudah mencari sosok pengganti ibu buat Rara, aku tidak mudah jatuh cinta pada seorang wanita, dan aku masih mencari sosok wanita sempurna seperti dirimu."
"Kau jangan terobsesi dengan diriku, Arya! suara Delena bergetar "Masih banyak wanita yang lebih baik dan lebih sempurna dariku, jangan pernah menyakiti dirimu sendiri dengan hal yang tidak mungkin kau gapai!"
"Entahlah Delena, aku juga tidak mengerti dengan diriku, aku menikahi ibunya Rara karena perjodohan orang tuaku, melihat umurku yang tidak muda lagi, Ayah dan ibuku sangat khawatir, akhirnya aku menerima perjodohan itu."
"Jangan-jangan istrimu pergi karena kau tidak mencintai dan melukainya."
"Tidak Dena, aku sempat mencintainya saat ia berjuang melahirkan anak ku. Istriku meninggal karena sakit kangker otak."
Papah sudah yuk, Rara capek! rajuk nya seraya menarik tangan Arya.
"Kalau begitu aku juga mau pamit, sudah selesai belanjanya."
"Tunggu Dena! kita makan siang bersama, sudah lama bukan? kita tidak bertemu?!
"Maaf Arya, aku tidak bisa." tolak Delena halus. "Aku harus cepat pulang, anak-anakku pasti sudah pulang sekolah."
Arya mengeryit saat melihat isi troly Delena banyak kotak susu, ia baru saja menyadari.
"Kau sedang hamil? tanyanya tercekat.
Delena hanya tersenyum seraya menoleh pada Rara yang berdiri di sisi Arya, dan membungkuk mensejajarkan dengan gadis cantik itu. "Rara sayang, Tante pulang dulu ya."
"Kok tante cepet pulangnya?"
"Iya, soalnya tante masih banyak pekerjaan." ucap Delena lembut, mengusap kepala Rara.
"Oke tante, sampai berjumpa lagi." melambaikan tangan.
"Iya sayang, sampai jumpa lagi." mencium pipi Rara yang si sabut tawa kecil gadis itu.
"Arya, aku pamit dulu, jaga Rara baik-baik." Delena tersenyum samar.
"Hati-hati Dena." ucapnya, tanpa berkedip menatap wanita yang masih ia cintai.
Delena berjalan mendorong troly nya ke kasir, meninggalkan Arya dan Rara yang menatap kepergiannya.
πππ
Jangan lupa dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
__ADS_1
πKomen
Bersambung......πππ