ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Kegelisahan Reno


__ADS_3

Bapak pemilik warung itu terbelalak "Terima kasih banyak pak, pasti akan saya urus mereka, memang setiap hari mereka suka nongkrong di warung saya, pada mabok."


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu."


"Vano ayo kita pulang." merangkul bahu anaknya "Biar Daddy saja yang bawa mobil." Vano tidak membantah lagi, ia berjalan masuk kedalam mobil.


"Kau tenang saja, ban mobil kita sangat kuat." ujar Reno seakan tidak mempermasalahkan kerusakan pada mobil mewahnya.


Mobil Reno terus berjalan membelah jalanan raya, Vano teringat ucapan anak penjual serabi, kalau yang menjual telur burung ada di angkringan dekat pasar.


"Dad! sebelum melewati pasar, laju mobilnya agak pelan ya."


"Memang nya kenapa?"


"kata anak si penjual serabi tadi, ada penjual angkringan sebelah kanan sebelum pasar, angkringan itu menjual telur burung seperti permintaan Mommy."


"Ya Tuhan, hampir saja Daddy melupakan itu. karena mengingat kejadian tadi hampir lupa semuanya, lalu tadi bagaimana apa kau sudah beli serabi pesanan Mommy?"


"Sudah Dad! ini." Vano mengangkat plastik putih berisi serabi yang tadi ia beli.


"Good son! setidaknya Mommy tidak akan marah kita pulang sangat larut, karena masalah dirimu tadi."


"Im sorry Dad! aku menyesal kan kejadian hari ini, semua di luar kendaliku." ucap Vano merasa bersalah dengan wajah sedih.


"Jangan merasa bersalah, Son! really, Dad is very proud of you ( sungguh, Daddy sangat bangga padamu)


"Is that true (benar kah) menatap lekat wajah Daddy nya dan hampir tak percaya, Vano berfikir Daddynya akan marah setelah kejadian tadi.


"Yes, you are really cool (Ya, kau sangat keren)


Mendapat pujian dari sang Daddy, tak terasa bola mata Vano memanas, cairan bening menetes begitu saja dari sudut matanya.


"Hey son! Don't cry... kau anak laki-laki, tidak boleh cengeng, Oke..."


"Aku hanya terharu Dad! aku tidak pernah meneteskan air mata saat perampok di rumah Oma membacok punggung ku, hingga menyisakan berbekas luka. Tapi, bila Daddy dan Mommy yang memuji dan telah membuatku menjadi anak kebanggan Dad and Mom, aku sangat bahagia, itu berarti Daddy percaya padaku. Maaf Dad! aku mengais karena haru. kelak Daddy akan memberikan tanggung jawab besar padaku, dan keselamatan kelurgaku adalah segalanya. Aku akan bertanggung jawab untuk Daddy, Mommy dan Vana, juga keluarga besar Mahesa.


Seperti mendapat tamparan dari Vano, Reno hanya terdiam mendengar ucapan dari anak kandungnya yang sudah beranjak dewasa Sebelum waktunya. Pemikiran dan gaya bicaranya bak seorang pemimpin yang cerdas dan profesional. Tampa Reno sadari di sudut matanya menetes cairan bening, ia sangat terharu. Bukan hanya bangga tapi juga bersyukur memiliki sepasang anak kembar yang bisa menjaga kehormatan keluarganya.


"Kasih tahu Daddy, jangan sampai terlewat." ujar Reno dengan suara berat, ia tidak ingin anaknya tahu kalau iapun juga menangis. mengusapnya cepat saat Vano sedang mengamati keluar jendela.


"Sepertinya di tenda itu Dad!


"Yang mana?


"Terlewat sedikit, kita tidak usah mundar. Daddy parkir saja disini, toko ini juga sudah tutup. Aku yang akan turun."


"Oke, Son!

__ADS_1


Saat Vano membuka pintu mobil, Reno memperingati "Ingat Son! bila ada kejadian seperti tadi, lebih baik menghindar dan jangan pernah diladeni, Daddy bukan khawatir pada dirimu, tapi pada mereka. kasihan bila mereka harus babak belur ditangan mu. Mereka bukan lawan yang seimbang untuk mu, kecuali bila sudah mengancam jiwamu, son!"


"Oke Dad! vano akan mendengar peringatan Daddy." Vano membuka pintu dan berjalan ke belakang mobil menuju tenda biru yang bertuliskan angkringan. Setelah mendapatkan apa yang Vano cari ia langsung membayarnya.


Saat akan beranjak dari tempat itu, Vano melihat sosok wanita yang ia kenal. Di pojokan meja lesehan ia seperti melihat Isabella teman satu kelasnya dan biasa duduk dengan Vana. Sudah beberapa hari ini Isabella tidak masuk sekolah. Vano penasaran, dan saat ingin menghampirinya ponselnya berdering, ia mengambil benda pipih itu dari saku celananya.


"Mommy? gumamnya pelan. Tak menunggu lama, Vano menggeser tombol hijau.


"Hallo Mom?


"Vano...? kemana saja kalian? lihat sudah jam tiga kalian belum juga pulang." ucap Delena gusar, dari sebrang telepon.


"Maaf Mom! tadi kami keliling mencari serabi dan telur burung, ada beberapa tempat yang sudah habis, kami keluar dari wilayah agak jauh dari lokasi kita sekarang."


"Kalau memang sudah tidak ada, kenapa tidak langsung pulang?!"


"Tidak apa-apa Mom! Vano dan Daddy akan terus berusaha mencari demi Mommy."


"Vano sayang, sudah lah cepat pulang, Mommy sangat khawatir."


"Vano sudah mendapatkan semua yang Mommy pinta, sekarang Vano akan segera pulang."


"Oke Vano, Mommy tunggu di rumah."


Mata Vano menyoroti tempat tadi Isabella duduk, tapi ia sudah tidak ada di sana.


"Bagaimana sudah dapat?!


"Sudah Ded! Ayo cepat kita pulang, Mommy baru saja menelpon, ia sangat khawatir."


"Ternyata ponsel Daddy tertinggal di meja, pantas saja Mommy tidak menelpon Deddy."


Reno mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalanan sangatlah sepi hanya beberapa kendaraan saja yang melintas. Setengah jam kemudian mobil berhenti didepan gerbang. Satpam penjaga dengan siaga membukakan pintu gerbang mansion.


"Van, masalah perkelahian tadi, kau jangan cerita ke Mommy, Daddy tak ingin Mommy banyak pikiran, melihat kondisinya Daddy semakin bingung."


"Iya Ded! Vano tidak akan cerita. Masalah kondisi Mommy lebih baik besok pagi panggil Dokter Agung ke mansion, Dad, Vano juga khawatir dengan kondisi Mommy, sudah lima hari muntah-muntah terus."


"Tapi Mommy tidak mau Daddy panggilkan Dokter ke mansion."


"Lebih baik tidak usah bilang, Nah, kalau Dokter Agung sudah datang, tidak mungkin Mommy menolak lagi."


"Benar juga kata mu Nak." Reno mengelus pucuk kepala anaknya. Dan mereka keluar dari mobil bersama.


Lebih baik kau cepat tidur, ini sudah hampir subuh, biar Daddy yang antarkan untuk Mommy."


"Oke Dad! good night."

__ADS_1


Vano masuk kedalam kamarnya sendiri, dan masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, pikirannya masih terus tertuju pada sosok Isabella yang berada di warung tenda angkringan. Setelah menepis pikiran negatifnya ia mengambil handuk kering dan mengusap wajahnya. Lalu naik keatas ranjang dan terlelap.


JGLEK


"Sayang...." Reno berjalan kearah ranjang. Melihat Delena sedang terduduk bersandar pada divan dengan mata terpejam.


Dengan penuh kelembutan Reno mengusap tangan istrinya "Sayang, Mas sudah pulang."


"Mas..? mata yang mengantuk itu terbuka lebar, dan menatap sayu suaminya. "Mas kenapa lama sekali? bila sudah tidak ada jangan di paksakan, bisa membelinya besok."


"Mas sudah belikan semuanya, serabi dan telur burung yang kau minta."


"Terima kasih Mas, kau dan Vano adalah lelaki terhebat ku." Delena bersandar pada dada suaminya. Mencium aroma tubuh suaminya, lagi-lagi Delena mual.


"Huek.. huek.. huek..


Buru-buru Delena turun dari ranjang dan berhambur ke kamar mandi.


"Ya Tuhan! ada apa dengan istriku ini? apa bau tubuhku mengandung busuk? sampai ia terus muntah-muntah bila di dekatku, bagaimana aku ingin meminta jatahku, kalau istriku saja seperti itu, mana si otong meronta-ronta terus tiap malam." hatinya begitu kesal dan ingin meledak, untung saja ia sangat mencintai istrinya, dan terus berusaha sabar dengan sikap Delena.


"Aaagghhh! Reno menjambak rambutnya karena frustasi.


"Sayang, makan lah ini, jangan sia-sia kan perjuangan ku bersama Vano! ujar Reno saat melihat Delena keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas.


Reno mengganti pakaiannya dengan baju kimono dan berjalan ke sofa, ia membaringkan tubuhnya kasar ke atas sofa. Mulai pejamkan mata yang sebenarnya sudah tidak mengantuk. Sebenarnya ia sangat kesal dengan sikap Delena yang tiba-tiba terus menjauh, bahkan perhatian pada dirinya sudah berkurang. Delena sudah tidak seromantis biasanya sejak seminggu ini.


"Aku akan cari tahu, apa penyebab istriku menjauh? sudah hampir sepekan ia seperti ini. Apa yang terjadi pada istriku, Tuhan?! aku tidak ingin berburuk sangka dulu sebelum ada bukti." gumamnya bicara sendiri.


Sementara Delena sedang menikmati makanan yang suaminya belikan. Seperti biasanya Dena hanya colek-colek sedikit dan tidak akan di sentuh lagi.


"Kenapa nafsu makan ku jadi berkurang, ya? padahal kepengen banget, udah di depan mata tidak mau di makan lagi." gumamnya kesal.


Setelah minum satu gelas air putih, ia berjalan ke sofa, melihat Reno sudah tertidur." Mas Maafkan istrimu ini ya, udah banyak nyusahin. kau adalah suami terbaikku, good night sayang..." Mencium kening suaminya dan berjalan kearah ranjang. Merebahkan tubuhnya setelah padamkan lampu tidur di atas nakas.


Reno membuka matanya, ia hanya mendesah pelan. "Aku sudah tak sabar harus menunggu sampai besok, dan minta penjelasan dari Dokter Agung, setelah periksa istriku."


Setelah bergumam, Reno memejamkan matanya kembali.


💜


💜


💜


@Bersambung.....


@Sekedar info, bila di awal bab ada pengulangan cerita, di skip ajah ya.. itu cuma ciri khas Author untuk menulis, biar gak lupa alurnya 😄🙏

__ADS_1


__ADS_2