
Vano dan Vana dan di susul Dev, masuk kedalam sebuah ruangan, Bella berada di atas kardus dengan tubuh lemah dan sangat memprihatikan, Vano mengangkat tubuh Bella dan membawanya kedalam mobil.
Suara sirene polisi terdengar di depan sebuah gerbang. Tempat Penyekapan itu adalah sebuah gudang yang sudah tidak terpakai, polisi mengamankan mereka semua termasuk Jimmy yang sudah tidak bisa berjalan.
"Ku mohon jangan bawa kakak ku pergi! teriak Tina meminta pada Pak polisi yang membawanya masuk kedalam mobi patroli.
"Tidak bisa, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya."
"Tapi kakakku dalam keadaan terluka parah, bekas pukulan gadis itu! menunjuk kearah Vana. "Seharusnya dia juga dibawa dan penjara karena telah memukul kakakku! teriak Tina masih tidak terima.
"Nona Vana hanya membela diri, keterangan lebih lanjutnya akan di bahas di kantor polisi."
Tina masih tak terima dan terus mengumpat. "Kenapa Pak? apa karena dia anak dari keluarga Mahesa? jadi dia dibiarkan bebas begitu saja?"
"Tidak perlu berdebat disini, salah dan benar akan terbukti nanti." ucap polisi itu dan masuk kedalam mobil.
"Kak Jimi...." teriak Tina saat mobil itu pergi menjauh.
"Ayo kita berangkat! perintah Vano yang sudah berada didalam mobil.
"Tunggu! Tina menghadang di depan mobil mereka.
"Kau mau apa lagi?! seru Vano mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
Tina berjalan kearah Vano "Vano aku mohon, kau jangan masukkan kak Jimmy ke penjara. Dan perusahaan Papah ku, tidak akan ada masalah bukan?"
"Kau yang sudah membuat aku emosi, andai saja kau lebih awal memberitahu tempat markas Jimmy, sudah pasti aku bisa menyelamatkan Bella! dan kau bersama keluarga mu masih bisa nyaman! Sekarang lihat apa yang sudah kau dan kakak mu lakukan pada Bella? padahal kalian masih saudara, walau hanya saudara tiri. kalian berdua sudah di luar batas! aku tidak jamin perusahaan Ayahmu dan kakak mu bisa selamat!"
"Cepatlah kak, kita harus secepatnya pergi dari tempat ini! tidak usah pedulikan dia! nasib Bella lebih penting dari mereka! apa dia akan peduli dengan keadaan Bella? ucap Vana kesal.
"Pak Danang, Ayo kita berangkat dan tinggalkan tempat ini. Secepatnya kita bawa Bella ke rumah sakit sebelum terlambat."
"Baik Mas Vano!
"Satu lagi! Vana berseru sebelum mobil pergi. "Salam kan pada ibunya Bella, kalau Bella berada di rumah sakit "Pelita! milik keluarga ku. Bila ia seorang ibu yang baik pasti akan peduli dengan anak kandungnya!"
Tina hanya bisa menatap kepergian mobil Vano membawa Bella kerumah sakit. Pak Danang terus melajukan mobilnya dengan cepat, membelah jalanan raya ibu kota.
Satu jam kemudian mobil sudah sampai di depan lobby rumah sakit, Vano sebelumnya sudah menghubungi Dokter jaga untuk periksa keadaan Isabella.
Dokter Niko membawa Bella kerungan UGD untuk di periksa intensif.
****
Sementara di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang departemen store. keadaan darurat sedang dialami Bram Stoker, bagaimana tidak! sahamnya turun dratis dan anjlok dalam hitungan menit, bahkan para investor menarik sahamnya.
"BRAKK!
Satu tangan Bram menonjok meja di depannya "Berengsek! Siapa yang sudah berani menghancurkan perusahaan yang sudah aku bangun dengan susah payah!"
"Rico! apa kau sudah selidiki siapa orang yang sudah melakukan ini, di belakang kita!"
"Sepertinya mereka bukan orang sembarangan Pak! aku yakin ada yang sengaja menjatuhkan perusahaan ini dengan cara licik." timpalnya
Terdengar ketukan pintu dari luar, asisten Rico mempersilahkan masuk. Sekertaris Vera membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
"Maaf Pak! baru saja saya terima telpon dari cliant, mereka membatalkan kerjasama dengan perusahaan ini."
"Apa...?? Astaga...! Bram menjatuhkan tubuhnya di kursi presdir, seraya memijat keningnya yang terasa sakit.
"Ma'af pak, saya harus jawab apa bila mereka memutuskan kerjasama."
"Kau itu sekertaris bodoh atau totol sih! masa begitu saja tidak bisa jawab! umpat Bram yang sudah terlihat emosi dengan wajah memerah.
"Pergilah kerungan mu, dan urus cliant! perintah asisten Rico pada Vera yang terlihat gugup.
Vera berjalan keluar meninggalkan ruangan dengan cepat, tak berapa lama datang kepala direktur kedalam ruangan Bram.
"Pak Bram! keadaan makin parah, semua investor datang dan ingin menarik sahamnya."
"Bagaimana bisa? saham ku lebih besar dari mereka, 40% di banding enam orang investor masing-masing 10%."
"Justru mereka enam orang investor yang ingin mundur. Bagaimana bisa 40% membangun sebuah perusahaan, kemana lagi kita harus mencari investor baru 60% nya?"
"Pak! Asisten Rico menyela "Saya baru mendapatkan kabar dari kalangan elite pembisnis, Kalau saham enam orang investor sudah di beli oleh kelurga Mahesa." ujar Rico, bicara dengan hati-hati.
"Apa...!! Bram beranjak dari kursi dan meremas dadanya yang terasa perih dan sakit, ia hampir saja melompat, mendengar semua investor menjual sahamnya pada kelurga Mahesa.
"Dari dulu aku selalu menghindar dari perusahaan Reno Mahesa. Tapi kali ini aku dihadapkan dengan orang nomor satu di dunia bisnis! kini saham ku hanya 40%, sementara Tuan Reno 60%, berarti kita berada di bawah kendali perusahaan Reno Mahesa." wajah Bram berubah pucat pasi dan lemas.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? ucapnya parau dan terlihat putus asa.
"Kalau menurut saran saya, tidak ada jalan lain, kecuali menjual saham anda juga pada Tuan Reno, bila perusahaan Anda tidak ingin di kendalikan." ucap kepala direktur.
JEGLEK!
"Papah!
"Hiks.. hiks... hiks.."
"Kenapa kau datang-datang menangis? ada apa Tina..? mengusap kepala anaknya dengan kening mengkerut.
"Pah! semua ini karena ulah Bella, Pah!"
"Apa maksud mu..? menatap dalam netra anaknya.
"Kak Jimmy di tangkap polisi, sekarang ia bersama kawan-kawannya berada di kantor polisi."
"Ya Tuhan! Kenapa anakku harus terjerat dengan polisi! ucap Bram kesal. Bagai di sambar petir, seketika tubuhnya terhuyung dan terduduk di kursi dengan lemah, sepertinya Bram sangat frustasi.
"Pah! maafkan Tina.." hiks..
"Tuan minumlah dulu." Rico menyerahkan gelas berisi air putih hangat pada Bram.
"Rico! apa kau tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan anak ku, Jimmy?" tanya Bram menatap netra asistennya.
"Sebenarnya saya sudah mendapatkan laporan dari kepolisian kalau Jimmy berada di kantor polisi, saya belum berani menyampaikan pada Bapak, karena sedang ada masalah dengan perusahaan."
"Kenapa masalah datang bertubi-tubi, apa yang sebenarnya sudah terjadi?! ucapnya lemah.
"Semua ini karena Bella Pah! Tina terus meyakinkan Ayahnya.
__ADS_1
"Ada masalah apa lagi dengan anak itu! masih saja anak Sarah buat masalah!"
JEDER...
"Kenapa kau selalu menyalahkan anakku, Mas! Bella telah di suntik morfin oleh anak mu Jimmy!" tiba-tiba Sarah membuka pintu kasar dan berjalan kedalam ruangan dengan ekspresi marah.
"Apa maksud mu? kau datang menuduh anak ku, apa jangan-jangan semua ini adalah rencana mu!" teriak Bram dengan nafas turun naik.
"Sungguh picik pikiran mu! aku sudah berusaha sabar menghadapi ke-dua anak-anak mu, tapi apa? mereka masih tetap jahat pada anak ku Bella! selama ini aku lebih membela kedua anakmu daripada anak kandung ku sendiri! Sarah tak kalah geram dan meninggikan suaranya.
"Bella itu berteman dengan kedua anaknya tuan Reno Mahesa, Pah! sudah pasti tante Sarah yang berada di belakang ini semua, dia bekerjasama dengan anak kandungnya Bella!
"Sudah cukup, Tina! kau jangan terus menyalahkan dan memfitnah anakku Bella, selama ini Bella lah yang sudah menjadi korban dan alat ke egoisan kalian semua! aku menyesal telah menyakiti anak kandungku sendiri, kukira dengan berbuat baik pada kalian dan membela anakmu, Mas! akan merubah sifat anak-anak mu lebih baik pada Bella!"
"Sudah cukup ocehan mu! kau yang bodoh, tidak pernah becus jadi seorang ibu!
"Iya! aku memang tidak pernah becus jadi seorang ibu dan seorang istri! itu semua Karena aku telah diperdaya oleh mu!"
"Ku bilang cukup! aku tidak ingin mendengar lagi makian mu! sekarang kau pergi dari ruangan ku!! Bram berdiri seraya menunjuk arah pintu keluar.
"Cukup sudah, Mas! aku menyerah, kita bercerai saja! aku akan secepatnya meninggalkan rumah mu bersama anakku Bella yang sudah seperti neraka!
Setelah mengeluarkan unek-uneknya, Sarah melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Aaaaggghhhh!
Bram berteriak frustasi dengan rahang mengeras dan tangan mengepal, menahan emosi yang telah memuncak.
"Sabar Pak! semua akan baik-baik saja, jangan terbawa emosi nanti Bapak bisa struk!" Rico mencoba menenangkan Bram yang kondisinya sudah berantakan.
"Rico, para investor menjual sahamnya pada keluarga Mahesa, siapa yang bertanggung jawab."
"Tuan Tommy."
"Baiklah, aku menyerah. kita jual saham kita pada keluarga Mahesa."
"Tidak Pah! Papah tidak boleh menyerah, dan menjual perusahaan Papa pada keluarga Mahesa. ini adalah jebakan tante Sarah dan Bella yang sudah bekerja sama dengan anak tuan Reno."
"Sabar Nak, Papah akan terus berusaha untuk merintis perusahaan baru lagi." ucapnya tak berdaya.
"Aku nggak mau jatuh miskin, Pah! aku tidak ingin di olok-olok teman-teman sekolah ku! teriak Vana histeris "Papah tidak boleh menjual perusahaan Papah! huwaaaaa.....
Bram hanya diam di kursi Presdirnya, airmata sudah lolos dari sudut matanya. Tina menangis histeris menyesali semuanya, namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Semua penyesalan hanya lah sia-sia. Vano seorang anak yang tegas dalam bersikap, karena didikan keras Reno ia bisa menjadi anak disiplin dan tidak main-main dalam ucapan dan sikapnya.
πππ
@Ayo kirim Bunda Hadiah, babnya lebih panjang, biar bunda semngat πͺ nulisπ
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
__ADS_1
πkomen
@bersambung......πππ