ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Perseteruan


__ADS_3

"Bila wanita itu sudah berada di kantor polisi, saya akan mengunjunginya Pak, apa tujuan dia ingin membunuh dan menghancurkan hidup saya!" seru Davina dengan deraian airmata.


"Baik Nona, pasti akan kami kabari perkembangannya. kalau begitu kami permisi dulu." petugas negara itu berjabat tangan dan berpamitan pada Reno, Vano, Robert dan Delena.


Seminggu telah berlalu. Kondisi Davina sudah mulai membaik walau tangannya masih di gep. Hari ini Davina dan Robert sudah diperbolehkan pulang. Mobil yang ditumpangi Davina dan Robert sudah sampai di depan gerbang mansion milik Reno.


Semua menyambut kedatangan Robert dan Davina. Robert merangkul pinggang istrinya dan masuk kedalam rumah.


"Mami... Papi...!" Chika berlari dan memeluk tubuh ibunya. "Mami kenapa baru pulang? Chika kangen.


"Mami juga kangen Chika." mengusap lembut pucuk kepala anak kesayangannya.


"Ya sudah biarkan Mami istirahat dulu Nak." Robert mengusap punggung anak gadisnya.


Mereka duduk di ruangan keluarga. Helena tak hentinya mengucapkan syukur, Davina terlepas dari maut.


"Ibu..! Maafkan anakmu ini yang selalu menyusahkan mu." Dengan sudah payah Davina bersimpuh di kaki ibunya. "Hiks... Davin salah Bu, tidak mau mendengarkan nasehat Ibu." tangisan Davina semakin pecah, rasa bersalah dan penyesalan selalu datang terlambat. Dia menyadari betapa Keluarga adalah satu-satunya orang terdekat yang selalu ada untuknya dalam suka maupun duka


Helen mengangkat bahu Davina dan mereka duduk berdampingan "ibu selalu memaafkan anak-anaknya ibu, Ibu sangat menyayangimu Davin. Dalam sujud ibu selalu berdoa untuk kebahagiaan keluargamu dan Adikmu Delena. Tidak ada seorang ibu yang ingin anaknya menderita.


"Bu.. Kak Davin. Sekarang kita makan dulu, pasti Kakak sudah lapar kan?


Helena mengangguk, mereka semua berjalan keruangan meja makan. Helena, Davina, Chika dan Robert duduk kursi makan. Tak lama datang Vano dan Vana ikut bergabung di meja makan."


"Dimana Reno?"


"Mas Reno sudah berangkat kerja tadi pagi-pagi sekali. Ada lelang tender di perusahaan Global, berharap bisa merebut lelang itu."


Reno memang seorang pekerja keras. Dia sangat ambisi dalam menarik mitranya. Berbagai perusahaan sanggup ia tangani sendiri." puji Robert geleng-geleng kepala.


"Karena Mas Reno sangat peduli dengan nasib karyawan nya. Mas Reno punya hati seluas samudera, ia hanya ingin membantu orang yang membutuhkan pekerjaan untuk kebutuhan keluarganya, semakin banyak anak perusahaannya ia pegang, semakin banyak orang bekerja padanya dan bisa membantu perekonomian keluarga mereka."


"kau benar Dena, dibalik sikap tegas dan arogan Reno. Ia seorang sosok penyayang dan peduli pada sesama. Makanya harta tujuh turunan tidak akan habis."


"Harta itu bukan punya kami Kak. itu hanyalah titipan Tuhan untuk kami kelola dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan."


"Subhanallah, Ibu sangat bangga pada Kalian semua. Bukan hanya Reno dan Delena. Tapi juga Robert dan Davina, memiliki hati yang tulus. Profesi Robert sangat mulia dan banyak membantu kesembuhan masyarakat." ujar Helena membesarkan hati anak-anaknya.


"Tapi mas Robert tidak sekaya Reno Bu!" ucap Davina spontan seketika wajah Robert memerah, terlihat malu bila di sandingkan Reno yang sejak lahir sudah menjadi anak konglomerat.


"Kata siapa Kak Robby tidak kaya kak? kaya itu bukan hanya dari harta Kak, tapi dari ketulusan hati Kak Robert. Sekarang ini kak Robert sudah memiliki dua rumah sakit miliknya sendiri, yang sedang dibangun. Apakah kakak lupa itu? rumah sakit itu dibangun dari hasil jerih payah Kak Robert."


"Benarkah Mas? kalau rumah sakit yang sedang di bangun itu adalah milikmu? bukankah kau sendiri bilang itu milik Reno?


Robot tersenyum "Sebenarnya rumah sakit itu aku bangun untuk investasi. Bila Chika dewasa nanti, aku akan mewariskan dua rumah sakit itu padanya. Ma'afkan aku Mih! papi sengaja merahasiakan untuk surprise di hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-10 tahun."

__ADS_1


Mata Davina berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka suaminya akan memberikan kejutan di hari ulangtahun pernikahannya nanti. Namun rahasia itu akhirnya sudah bocor duluan.'


"Duh ma'af, aku tidak tahu kalau Kak Robin sedang rahasiakan rumah sakit itu untuk acara surprise ultah pernikahan. kupikir Kakak Davin sudah tahu." ucap Delena merasa bersalah.


"Sudah tidak apa-apa, bagiku sama saja. Yang terpenting aku sudah berkata jujur pada istriku."


"Satu lagi kak! Aku akan bicarakan dari sekarang. kalau perusahaan milik Papa ada 40% yang bergabung di perusahaan Mas Reno. berarti 60% adalah milik Mas Reno yang sudah di serahkan padaku. Aku akan serahkan perusahaan Papa pada kak Davin. dan yang 60% aku berikan untuk Chika."


"Apa aku tidak salah dengar, Dena? tanya Davina tak percaya.


"Semua itu benar Kak, aku sudah membicarakan pada Mas Reno jauh-jauh hari. Seperti yang aku bilang tadi, terlalu banyak perusahaan yang Mas Reno pegang. jadi aku tak sanggup mengurus perusahaan Papa, walau sedang dikelola oleh Kak Tommy. kak Tommy juga memiliki perusahaan milik tante Sisca. Bahkan hotel dan resortnya banyak di berbagai kota."


"Apakah kau tulus dan ikhlas melepas perusahaan papa untukku, Dena?"


Delina tersenyum "Iya Kak, untuk apa menumpuk harta di dunia, manusia tidak pernah puas untuk menumpuk kekayaan, tapi aku tidak ingin seperti itu. Ada hak kakak di dalam perusahaan papa, Aku menyerahkan untukmu dan juga Chika."


Davina beranjak dari duduknya dan memeluk delena "Terima kasih Dena, kau begitu baik. Kakak sangat bangga mempunyai saudara kembar sepertimu."


Helena ikut beranjak dari duduk dan memeluk kedua anaknya. Mereka menangis haru.


Selesai makan, Robert, Davina dan Helena duduk diatas balkon. Mereka mulai menikmati udara di sore hari. Tersusun kursi yang terbuat dari rotan untuk santai.


"Robert, sekarang waktunya kau menjelaskan semuanya pada Davina. Ibu tidak ingin rumah tangga kalian berantakan dengan adanya orang ketiga di masa lalu." tegas Helena.


"Iya Bu! terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan pada istriku."


"Apa itu Mas? tolong jelaskan semuanya jangan bertele-tele."


"Sebelum menikah dengan mu, sebenarnya aku...


"Tring! tring! tring!..


"Ponselmu berbunyi Mas, lebih baik kau angkat dulu, pasti penting."


Robert mengambil ponsel dari saku celananya, dan tertera nama Kinanti di layar ponsel.


"Siapa Mas? kenapa tidak kau angkat?


"Anu.. itu dari pasien! Robert bicara gugup. "Tidak penting diangkat!" Robert merijek panggilan Kinanti.


"Kenapa kau takut mengangkatnya Mas? apa kau masih harus merahasiakan busuk mu!"


"Kau jangan emosi dulu, justru aku akan menjelaskan semuanya sekarang."


Suara ponsel berbunyi lagi, Davin melirik ke layar ponsel suaminya. "Kinan! angkat Mas!"

__ADS_1


"Dia tidak penting, paling pasien yang ingin mengetahui penyakitnya." ucap Robert dengan suara tercekat. Terlihat kebohongan di mata Robert. Dengan cepat tangan Davin merebutnya dan menggeser tombol hijau, tidak lupa Davin nyalakan speker suaranya.


"Hallo...."


"Mas Robert kau dimana?" terdengar suara Panik Kinanti di ujung telpon. Davina menatap tajam wajah suaminya.


"Kau ada perlu apa dengan suamiku!" bentak Davin.


"Suamimu adalah suamiku juga! Robert memiliki anak dariku!" teriak kinan dari ujung telepon. Bagai di sambar petir, hati Davina berdenyut perih, dadanya begitu sesak mendengar penuturan Kinan.


Robert gelengkan kepala "Tidak sayang, itu tidak benar?" percaya padaku, aku...


"kau pembohong Robert! Kenapa kau tidak mau mengakui kalau kau memiliki anak dariku! Sabrina adalah anak mu, kau sendiri yang sudah melakukan tes DNA, sekarang kau tinggalkan anakmu yang sudah tak berdaya. Dimana hati nurani mu Robert! Sabrina mengalami lumpuh karena.ulah istrimu yang telah menabrak anakku!"


"Ap-apa?!.. Siapa yang telah menabrak anakmu?"


"Hey Davina! Apa kau lupa atau pura-pura amnesia? kalau kau telah menabrak anakku malam itu, dan mengakibatkan anakku lumpuh!


"Apa itu benar Mas? tanya Davina menatap netra suaminya dengan tetesan airmata yang sudah berjatuhan.


Robert mengangguk pelan. Helena ikut terperanjat kaget, ia hanya mendengar dan menyimak saja, belum berani mengambil sikap tegas dari masalah rumah tangga anak dan mantunya.


"Kau tahu Davin! gadis berusia 12 tahun itu, yang telah kau tabrakan adalah anakku dan Robert! kau tanya sendri pada suamimu. Aku membesarkan Sabrina anakku, sendirian tanpa kasih sayang seorang ayah!"


"Cukup Kinan! bentak Robert. "Kau hanya memperkeruh keadaan! Aku tidak pernah tahu kalau kau sedang mengandung anakku! itu salahmu sendiri yang pergi menjauh meninggalkan aku. sekarang aku sudah berumah tangga memiliki anak dan istri, kau datang ingin meminta hak anakmu, yang tidak mungkin bisa aku lakukan!"


"Brengsek kau Robert! dasar pengecut! kau berani melakukannya padaku tapi kau tidak berani bertanggung jawab! akan aku tuntut istrimu ke pengadilan, dia telah menabrak anakku hingga lumpuh! aku pastikan Davina akan mendekam di penjara!"


Dengan kesal Robert mematikan ponselnya. Davina hanya terdiam kaku di tempat duduknya dengan pandangan kosong kedepan, tanpa mengeluarkan suara sepatah pun.


Robert meraih tangan istrinya. "Sayang dengarkan aku? tidak ada hubungan apapun aku dengannya, dia adalah wanita masa laluku."


Delena menepis tangan suaminya. Dan beranjak dari duduknya, ia melangkah pergi dengan tatapan kosong.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Masih kita selesaikan kisah Davina dan Robert dulu ya, baru nanti lanjut ke anak-anak Keluarga Mahesa yang sudah dewasa๐Ÿ˜


@Bab ini lebih panjang, yuk terus dukung bunda dengan cara...


๐Ÿ’œlike


๐Ÿ’œvote


๐Ÿ’œgift

__ADS_1


๐Ÿ’œkomen


@bersambung.....


__ADS_2