ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Kepergian Devanto


__ADS_3

"Devan jangan tinggalkan ibu Nak! Elsa memeluk tubuh anaknya kuat.


"Apa-apaan kau Elsa! apa kau sudah tidak waras menganggap Devan anakmu!" tiba-tiba suara teriakan di belakang punggungnya.


Elsa mengurai pelukannya dan menoleh kebelakang. "Mas Hendra.."


Hendrawan yang baru turun dari mobil berjalan mendekat dan menatap keduanya bergantian. Ia terlihat bingung melihat mata istri dan keponakan nya sudah sembab airmata.


"Mas! kau sudah pulang?"


"Jelaskan padaku, ada apa ini?!"


"Ak-aku akan menjelaskan semuanya, tapi..." Elsa terdiam dan terlihat ragu untuk berterus terang, tampak raut wajah suaminya yang terlihat garang dengan sorot mata tajam.


"Apa aku tadi tidak salah dengar saat kau memanggil Devan anakku?"


Wajah Elsa tertunduk seraya meremas kedua tangannya. Melihat Elsa terdiam, dia tidak akan bisa menjawab dengan jujur. Ratna melihat ketakutan dan tidak tenang dari raut wajah Elsa yang pias dan pucat.


"Kenapa kau diam! bentak Hendra.


"Dan kau! menunjuk wajah Devan "Apa kau buat ulah lagi, Hah?! sudah syukur di sekolahkan di tempat yang elite dan berkualitas, tapi nggak tahu diri! Hendra melihat Devan membawa ransel besar. "kau ingin pergi dari rumah ini? itu lebih baik daripada tinggal dirumah orang tapi selalu bikin ulah, kalau bukan karena istriku yang memohon dan meminta kau tinggal disini, tak sudi rumah mewah ini di injak anak kampung! syukurlah kalau kau sadar diri, dimana tempat mu seharusnya.


Mendengar hinaan Hendra, Devan mengepalkan kedua tangannya, menahan sakit hati dan amarah.


"Maaf Mas Hendra, saya akan mengajak Devan untuk menginap dirumah saya, kebetulan Devan sedang liburan." ujar Ratna mencairkan suasana.


"Bawa saja, kalau perut tidak usah kembali lagi!


"Mas! Elsa mengangkat kepalanya "kenapa kau berkata begitu pada Devan!


"Kenapa? kau tidak suka aku bicara seperti itu pada keponakan mu! kalau kau mau ikut pergi bersama pria bodoh ini, pergi saja sana!"


"Mas! tega ya mengusir aku? Devan berhak masih tanggal disini, dia tidak akan pernah pergi kemana-mana, aku sudah menganggap Dev seperti anakku sendiri!"


Hendra menarik kasar rahang Elsa. "Kau selalu membelanya bukan? aku tekankan padamu! kau ikut bersamanya atau tetap disini tanpa pria berkacamata itu di rumah ini!" menghempaskan wajah isterinya dan melangkah pergi masuk kedalam.


"Dev! hiks... "Ma'afkan Ayah tirimu, ibu harap kau mengerti?" hiks...


"Elsa, suamimu sangat sombong dan temperamental. Aku merasakan penindasan dalam hidupmu, kau seperti tertekan dan tidak berkutik, lebih baik kau tinggalkan suami seperti itu!"


"Kau bicara apa Ratna! plis..kau jangan menambah beban hidup ku, jujur aku tidak akan bisa meninggalkan Mas Hendra, aku sangat mencintainya." ucap Elsa pelan dan hanya di dengar mereka berdua.


"Berarti percuma jika kau ingin memperjuangkan Devan! kau tidak akan pernah berani berterus-terang pada suamimu. Kau sudah dibutakan oleh cinta mu sendiri. Bagaimana kau bisa melindungi Devan, bila Ia tetap tinggal di rumah ini!"


Elsa meraih tangan Ratna. "Aku mohon pada kakak, tolong titip Devan di rumahmu untuk sementara. Nanti akan aku pikirkan untuk sekolah dan biaya hidupnya. Aku akan bicarakan pelan-pelan tentang Devan pada suamiku."


"Baiklah, aku tidak masalah Devan tinggal di rumah ku, tapi aku harap kau berkata jujur pada suamimu dan selesaikan semuanya. Kau harus bisa menentukan hidup mu dan masa depan Devan."

__ADS_1


"Iya kak! terimakasih banyak ya. Kau memang sepupu ku yang baik." Elsa memeluk tubuh Ratna.


"Ya sudah, aku pulang dulu."


"Dev! sekali lagi tolong maafkan ibu. Untuk sementara kau tinggal bersama Tante mu ya. Besok ibu akan kesana menemui mu."


Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Devan. ia sudah tahu pasti, kalau ibunya tidak akan berani bicara jujur pada suaminya, sebab fasilitas dan kemewahan hidupnya berasal dari suaminya yang seorang lawyer dan pembisnis property.


"Devan, ayo ikut pulang rumah Tante."


Devan mengangguk pelan dan berjalan mengikuti Ratna masuk kedalam mobil.


Di rumah Minimalis berlantai dua, Devan membaringkan tubuhnya diatas kasur. ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mulai menghubungi Vano.


"Tutt! tutt! tutt!


"Hey Dev!


"Vano!'


"How are you..?


"I am fine!"


"Bagaimana sudah kau pikirkan."


"Kau sudah bicarakan pada Paman dan bibi mu?


Devan terdiam, ia masih terluka dengan pengakuan Ayah tirinya, Hendra mengusirnya secara terang-terangan. Sementara wanita yang ia sangka Bibi nya dan baru mengakui sebagai seorang ibu, tidak bisa membelanya, untuk apa ia tinggal di Jakarta dan berpamitan pada mereka. Bukankah selama ini tidak ada yang perduli pada dirinya. Elsa baru saja mengakuinya hari ini sebagai ibu kandungnya, setelah Tante nya Ratna datang dan memarahi Elsa. Jadi, hidupnya adalah miliknya sendiri. Orang yang paling Dev sayangi adalah Nenek nya, wanita paruh baya yang sudah mengurusnya sejak bayi. Belum sempat Dev membahagiakan nya, ia sudah pergi meninggalkan nya. Tak terasa air mata Dev mengalir deras dari sudut matanya.


Dari ujung telepon, Vano mendengar suara isakan tangis Dev. "Dev! ada apa? kenapa kau menangis?" tanya Vano "Apa kau tidak di ijinkan sekolah disini?"


"Tentu saja di ijinkan!"


"Lalu kenapa kau menangis?"


"Van! bawa cepatnya aku pergi, aku akan ceritakan semuanya saat sampai sana."


"Okay, tunggu dua hari lagi, aku akan bicara pada Dad! You don't cry anymore, remember. you are a man! ucap Vano tegas.


Dev mengusap airmatanya "Oke, Van. aku tunggu kabar baik darimu."


Setelah memutuskan telpon, Devan membaringkan tubuhnya, ia masih ingat cerita ibunya tentang ayahnya.


"Siapakah Ayah ku sebenarnya? apakah cerita yang mengaku ibuku adalah benar? Par-jo.. ia nama ayahku adalah Parjo. kenapa ia menjadi seorang pembunuh? ya Tuhan... kenapa nasib harus mempermainkan hidup ku, ternyata aku terlahir dari darah seorang pembunuh!" Air mata Devan mengalir lagi, ia benci pada dirinya yang cengeng dan mudah terharu. "Bagaimana seandainya Vano tahu kalau aku anak seorang pembunuh? masih sudi kah Vano bersahabat dan menerima diriku ini?" hiks...


"Aku akan mencari tahu identitas dan kebenaran tentang Ayah kandungku? apakah ia masih hidup atau sudah tiada?" Nenek pernah bilang, Ayahku memiliki tato kalajengking di pergelangan tangannya. Aku berjanji akan menemukan mu yah! bukan untuk mengakui status ku sebagai seorang anak yang kau tinggalkan dalam kandungan ibuku, Namun untuk meminta pertanggungjawaban mu atas dosa-dosa mu!" janji Devan sambil menutup mata.

__ADS_1


Dua hari kemudian Vano menghubungi Devan seperti janjinya.


"Hallo Dev!


"Vano..." Devan tersenyum terbit saat Vano tidak ingkar janji.


"Besok pagi akan ada supir yang menjemput mu, kirimkan alamat mu pada supir."


"Tolong kirimkan nomor supirnya, aku yang akan menelpon nya."


"Okay!"


"Van! terimakasih banyak, aku berjanji akan mengabdi padamu dan selalu ada untukmu kapan dan dimana pun kau berada. Nyawa mu sangat berharga bagi ku, aku akan pertaruhkan nyawa ku untuk mu."


"Hey! kau ini bicara apa?" jangan sembarang berucap! bentak Vano.


"Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, selain kau Van!" ucapnya dengan suara bergetar bersama tarikan nafas dalam.


Vano tahu sahabatnya itu sedang menahan tangisannya karena terharu. "Kau sahabat ku, sudah seharusnya kita berdampingan bukan? tapi hanya untuk urusan sekolah, pekerjaan dan curhatan, untuk pendamping hidup tentu saja bukan kau!" Vano terkikik.


Mendengar ucapan Vano, Devan tergelak. Tentu saja aku ini pria normal, walau sedikit mellow." Keduanya tertawa bersama. Seakan beban Devan berkurang. Ia sangat membutuhkan sahabat yang bisa mengerti dirinya dan selalu bersyukur di pertemuan oleh Vano. Pria dingin, Namun, sangat baik dan loyal.


Sebuah mobil sedan hitam berhenti didepan gerbang pintu Ratna.


"Dev! apa keputusan mu sudah bulat, untuk meninggalkan Jakarta?"


"Iya Tante! mungkin ini takdirku dan jalan terbaik untuk menuju kesuksesan."


"Tante akan sangat merindukan mu." Ratna memeluk Devan dan meneteskan airmata. "Apa kau tidak ingin bicara dengan ibumu?" ucapnya seraya mengurai pelukannya.


Devan terdiam, sorot matanya suram "Sejak aku lahir, tidak pernah mendapat sentuhan tangan dan kasih sayang seorang ibu. Bagiku ibu sudah tiada."


"Bagaimana pun juga, Elsa adalah ibu yang sudah melahirkan mu kedunia. Kau mungkin masih terluka, tapi dia tetap Ibumu. Tante harap kau akan berubah pikiran dengan berjalannya waktu."


"Mungkin saja, tapi aku tidak tahu sampai kapan goresan luka ini bisa sembuh."


"Ya sudah, jaga dirimu baik-baik di Negara orang, sering kabari Tante disini."


"Iya Tante!"


Devan mencium punggung tangan Ratna "Aku berangkat dulu Tante."


Supir pribadi milik keluarga Vano, membukakan pintu mobil belakang. Devan masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan seiring mobil berjalan pergi.


💜💜💜


@Devan akan membuka tabir rahasia Ayah kandungnya. Dan kisah ini akan ada benang merahnya dengan penyelidikan flashdisk yang Vano dan Vana temui.

__ADS_1


@Masih bersambung......


__ADS_2