ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Otak Brilian Vano


__ADS_3

KREKKK....


Suara derit pintu terbuka lebar, Masuk dua pria remaja kedalam ruangan dan berdiri di depan Vana dan Bella.


"Hallo Nona-nona cantik, sepertinya kita akan berpesta dan bersenang-senang bersama." hahahaha.... pria itu terbahak


"Kau! teriak Bella....


"Kenapa kau kaget? Pria itu tersenyum licik dengan kedua tangan disaku celana.


"Kau memang jahat Jimi! bahkan kau dan Tina adikmu selalu memutar balikkan fakta di depan Mamah ku dan Om Darma! licik...!!


Jimi berjongkok dan menarik rahang Bella "Cihh! tidak perlu kau berteriak- teriak didepan ku! kau dan ibumu hanya numpang dirumah ku, dan menjadi benalu di keluarga kami!


"Lepaskan rahang Bella, kau jangan kasar pada wanita!" seru Vana, menarik tangan Jimi.


"Wanita memang pantas dikasari!" teriak Jimi


"PLUH! Bella meludahi wajah Jimi.


"Bangs4t kau! PLAKK!!!


Jimy melayangkannya tangannya ke wajah Bella, tamparan keras itu melukai sudut bibir Bella dan berdarah.


"Bell, bibirmu berdarah! seru Vana panik melihat sudut bibir Bella terluka.


Bella mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari, dan melihat darah di ibu jarinya, menatap kesal pada Jimmy.


"Jangan hanya beraninya sama perempuan! bentak Vana


Jimmy mengusap wajah nya yang sudah di ludahi Isabella. "Akan aku balas perbuatan mu Bell, kau akan menyesal telah meludahi ku! bentak Jimmy kesal dan langsung melangkah pergi bersama temannya meninggalkan tempat itu.


"BRAKK!


"Hey! lepaskan kami!! untuk apa kalian mengurung kami! kau Jimmy!!! aku pastikan kau akan menyesal, kau salah telah mengurung kami disini! teriak Bella.


"Bell,, kau tidak apa-apa? kau jangan takut kita pasti akan keluar dari sini! aku akan hubungi kak Vano." Vana membuka resleting tasnya, dan mencari ponsel yang ia simpan didalam tas."


"Kemana ponsel ku? ko tidak ada!"


"Coba kau cari lagi Van, apa mungkin tertinggal dirumah?"


"Nggak mungkin tertinggal, tadi di mobil kau lihat bukan? aku sedang membuka sosmed."


"Iya juga ya? atau jangan-jangan..." Bella mengambil tas yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk, ia membuka resleting tasnya dan mencari ponsel didalam.


"Ponsel ku juga tak ada! sudah pasti mereka yang mengambilnya! brengsek, beraninya mereka mengambil ponsel kita, mungkin ponselku tak seberapa, tapi ponselmu berharga puluhan juta."


"Ponsel itu hadiah dari Daddy ku, limited edition."


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Van? ma'afkan aku sudah melibatkanmu." tatapan Bella penuh penyesalan dan merasa bersalah.


"Aku sedang membuat siasat, Setelah aku tau apa rencana kakak mu, aku akan bertindak."


"Tidak! dia bukan kakakku, tapi iblis!"


"Sudah kau tenang dulu, akan aku pikirkan sesuatu." Vana mundar mandir di depan pintu sambil terus berfikir.


"Hahahaha...."


Terdengar gelak dan tawa di luar kamar, diiringi suara obrolan sesama pria yang kotor. Bagi mereka bercanda di iringi obrolan kotor dan panas sudah terbiasa.


"Van! kau dengar suara ketawa mereka, sepertinya banyak orang diluar sana."


Vana terus berfikir untuk bisa keluar dari tempat itu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sementara mobil Vano terus menyusuri jalanan raya menuju kediaman Jimmy dan masuk kedalam kompleks. Setelah meminta petunjuk pada satpam kompleks, akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah berlantai dua.


"Biar bapak saja yang turun."

__ADS_1


Yang di anggukan oleh Vano. Pak Danang menepikan mobilnya dan turun dari mobil menekan bel yang berada di depan gerbang. Namun beberapa membunyikan bel tidak ada satupun yang keluar dari rumah besar itu.


"Van sepertinya tidak ada orang dirumah itu."


"Aku jadi penasaran dengan rumah itu, kenapa tidak ada satupun orang yang keluar dari rumah itu ya."


"Mas Vano, sepertinya tidak ada orang didalam rumah itu." pak Danang masuk kedalam mobil kembali.


"Aku saja yang turun dan mengamati rumah itu, pasti ada satpam penjaga."


"Aku ikut turun."


"Kompleks ini sangat sepi, rumahnya besar-besar, jarang terlihat orang lewat sini."


Vano dan Dev keluar dari mobil dan berjalan kegerbang tinggi itu.


TEEEETTTTT.......


Vano menekan bunyi bel tanpa jeda, ia terus menekan bel dan memekik kan telinga.


Berhasil, terdengar seseorang membuka pintu gerbang, dan menyembul keluar kepala wanita seumuran 30 tahunan.


"Hey berisik! ngapain ganggu orang siang-siang begini!"


"Ma'af Mbak! sejak tadi kami bulak-blik menekan bel, namun tidak ada yang mau keluar."


"Kalian mau apa??!


"Kami teman sekolah nya Bella, kami ingin bertemu dengan nya, sudah beberapa hari ini Bella tidak masuk sekolah!" dusta Vano demi mengerok keterangan dari wanita didepannya.


"Darimana kalian tahu alamat rumah ini!


"Itu nggak penting! sekarang kami ingin tahu dimana Bella berada?!


"Saya tidak pernah tahu dimana anak itu, sudah seminggu lebih dia tidak pulang kerumah ini!


"Kalau Bella tidak ada disini, tinggal dimana Dia? Vano sengaja memancing.


"Lalu dimana Jimmy!


"Buat apa kalian mencari tuan Jimmy!


"Saya ada perlu dengan Jimmy! tanya Vano tegas.


"Orang nya tidak ada di rumah, ganggu orang saja!


"Van, ayo kita pergi dulu, percuma berdebat di sini! dengan kesal Vano menuruti perintah Devan. Mereka kembali masuk kedalam mobil setelah pintu gerbang tertutup rapat.


"Ahh! Vano terlihat frustasi dan kesal, ia sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk menjaga adik kembarannya. Vano bersandar pada jok mobil seraya memejamkan matanya. Filing Vano adiknya di bawa kesuatu tempat yang buruk, ia seperti mendapatkan telepati dari kembarannya, apa yang Vana rasakan iapun dapat merasakan. Yang ia takutkan ada sekelompok orang yang buat tak senonoh, pada Vana dan Bella, walau ia tahu adiknya bisa menjaga dirinya, tetap saja ada ketakutan pada diri Vano, karena yang Vana hadapi seorang Pria.


"Dev! coba kau hubungi Vana lagi."


"Tidak dapat di hubungi juga, ponselnya tidak aktif."


Vano menarik nafas dalam "Kita tidak bisa melacak keberadaan Vana, ponselnya seperti ada yang mematikan, sialnya aku tidak memiliki nomor ponsel Bella! kesal vano yang sudah tak terkontrol emosinya.


"Jadi kita kemana lagi, Mas..?


"Ya sudah pak jalan lagi! perintah Vano.


Saat mobil mulai bergerak, terlihat sebuah mobil sedan berhenti di depan gerbang Jimmy.


"Tunggu pak sebentar! aku akan turun dan masuk kerumah itu sebelum gerbang itu tertutup."


"Kau mau apa van! tanya Devan, ia sudah curiga pasti sahabatnya akan berbuat nekad, terlihat dari wajahnya yang sudah murka.


Pintu gerbang terbuka lebar, wanita tadi yang membukakan gerbang. Vano keluar dari pintu mobil di ikuti Dev yang mengekor di belakangnya.


Pintu gerbang hampir tertutup rapat dengan cepat Vano mendang pintu itu dengan keras, pintu gerbang yang terbuat dari Besi tempa itu terbuka kembali, ia menerobos masuk dan melihat wanita tadi terjatuh ke rerumputan karena tendangan Vano memakai tenaga.


Dari mobil keluar seorang gadis seumuran Bella, memakai seragam putih biru, dengan cepat vano mendekatinya.

__ADS_1


"Hey! mau apa kalian masuk ke rumah orang tanpa izin! bentak gadis itu.


"Pak! cepat usir orang-orang itu dari sini! teriaknya pada seorang supir yang baru turun dari mobil.


"Hey! kau lagi! bentak wanita yang tadi terjatuh, terlihat bibirnya bengkak dan dahinya ada benjolan. Devan yang melihat wanita itu wajahnya berantakan hampir terbahak, ternyata tendangan vano saja bisa membuat orang babak belur padahal hanya menendang pintu.


"Dua orang ini yang tadi bibi usir Non!


"Mau ngapain dua bi!


"Tadinya mencari Bella, terus ngotot nyari tuan Jimmy!"


"Ayo Kalian pergi dari sini! ancam seorang supir seraya menarik tangan Vano.


"Ma'af Pak! saya di ajari tidak boleh kurang ajar sama yang lebih tua, tapi bila ia sudah diluar batasannya terpaksa saya melawan!


"Hey, anak jaman sekarang pada kurang ajar, ya! Ayo pergi, kembali menarik kasar tangan vano. dengan sikut Vano langsung mengarahkan ke perut supir itu.


"Aaaawwww..." supir itu langsung memegangi perutnya yang kesakitan, sambil berjongkok.


"Ayo Non Tina, kita masuk sebelum anak itu ngikutin kita. Mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah.


"Dev, urus supir itu!


Sebelum dua orang itu masuk kedalam rumah dengan cepat Vano menarik tangan Tina.


"Mau apa kau, menarik tangan ku!


"Ayok ikut, kau tunjukkan di mana keberadaan Kakakmu, karena sudah menculik adikku dan Bella!


"Apa! gadis itu terperanjat kaget "Aku tidak tahu, kau cari sendiri saja!"


"Lepaskan Nona ku! wanita itu menyerang Vano dengan sapu, sebelum sapu itu mendarat di tubuh Vano, dengan cepat vano menangkapnya dan melempar sejauh mungkin, satu tangannya masih mencekal tangan Tina.


"Bii! cepat telpon polisi! teriak Tina. pembantu itu sempet melongo, akhirnya ia masuk kedalam rumah.


"Tolongggggg!


"BUKK! Vano memukul tungkuknya.


Vano apa yang kau lakukan, sampai gadis itu pingsan."


"Terpaksa aku melakukan ini, dia hanya pingsan sebentar, daripada kelamaan mengurus mereka. Ayo kita cepat pergi dari rumah ini!


Vano mengangkat tubuh Tina, Dev hanya melongo karena bingung apa yang akan Vano lakukan pada gadis itu.


"Cepat buka gerbang nya! perintah Vano pada Dev, yang terus melongo.


"Haiiiii... kalian mau bawa kemana Non Tina! seru supir itu, masih berjongkok menahan sakit.


Dev membukakan pintu mobil, Vano lebih dulu menaruh Tina kedalam mobil, lalu dirinya masuk. Dev duduk di samping pak Danang.


"Ayo cepat pak, kita pergi dari sini!


"Van! kenapa kau senekad ini? bagaimana kalau kita di cari polisi, di rumah tadi ada kamera cctv." ucap Dev yang ketakutan.


"kau tenang saja, masalah urusan polisi aku bisa minta tolong Om Tommy, semua akan beres, apalagi kita tidak salah. tujuan kita mencari keberadaan Vana dan Bella, yang sudah pasti ada hubungannya dengan Jimmy!


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Ayo kirim Bunda Hadiah, babnya lebih panjang, biar bunda semngat πŸ’ͺ nulis😘


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


πŸ’œlike


πŸ’œvote


πŸ’œgift


πŸ’œkomen

__ADS_1


@bersambung......πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2