
Qinara beranjak dari duduknya, berjalan kearah Tommy duduk. Menyandarkan tubuhnya ke meja panjang didepan Tommy, "Aku mengganti kan posisi suamiku yang sudah meninggal." Qinara mulai bercerita, Tommy sebagai pendengar yang baik. "Baru dua tahun lalu ia meninggal karena sebuah kecelakaan." wajah Qinara memerah menahan tangisnya.
Tommy melihat kesedihan dimata Qinara. Ia bangun dari duduknya dan berkata "Aku ikut prihatin dengan apa yang sudah terjadi pada mu, semoga kedepannya kau bisa menjalani perusahaan ini dengan baik."
Tiba-tiba Qinara memeluk tubuh Tommy dan terisak di bahunya. Tommy terperanjat kaget, ia tidak menyangka Qinara akan memeluknya. "Terima kasih Tommy.
Suara langkah kaki menuju ruangan meeting, saat pintu terbuka, Siska melihat pemandangan yang menyakitkan didepannya.
Bibirnya menganga lebar seakan tak percaya, bola matanya berkaca-kaca.
Mendengar suara pintu dibuka Tommy menolehkan kepalanya. Alangkah terkejutnya Tommy saat melihat Siska sudah berdiri di ambang pintu. Saat mata itu saling bersitatap Siska menutup pintu itu kembali.
"Qinar." melepas pelukannya "Maaf aku harus secepatnya pulang, karena aku masih ada laporan pekerjaan yang harus diselesaikan."
Menatap wajah Tommy penuh permohonan "Tidak bisakah kau menemaniku ngobrol sebentar? hampir sepuluh tahun kita berpisah, dan Tuhan pertemukan kita disini?" hiks_
"Bukan aku tidak mau, karena ada hati yang harus aku jaga." Tommy membatin.
"Kita bisa bicara lain kali, ini waktu jam kerja Qinar?"
Saat Tommy ingin mengambil berkas diatas meja, Qinara menarik tangan Tommy kembali. "Tom, aku ingin minta maaf."
"Maaf untuk apa?"
"Karena aku meninggalkan mu, kau yang tidak ingin menikahi ku, hiks.. Empat tahun aku menunggu mu, itu bukan waktu yang sebentar."
"Kau yang tidak pernah mengerti keadaanku saat itu, dulu aku berniat menikahi mu, aku bekerja keras untuk masa depan kita, tiba-tiba aku mendengar kabar dari kampung, kalau ayah ku mengalami kritis di rumah sakit, Tuan Darwin yang menyuruh aku untuk mengurus Ayahku selama di rumah sakit, hingga akhirnya ia meninggal, saat aku kembali kau sudah menghilang." pandangannya kedepan, dengan tatapan kosong.
Tangisan Qinar semakin dalam, ada rasa penyesalan dari tatapan matanya. "Maafkan aku Tom"
"Aku sudah memaafkan mu, tidak perlu mengungkit lagi. Semua sudah berlalu."
"Tom, bisakah kita melanjutkan hubungan kita yang pernah terputus?"
Berkas berkas itu sudah berada ditangan Tommy. "Qinar kau seorang Direktur utama, kedudukan mu sangat tinggi. Aku masih saja seorang asisten, ku rasa aku tidak cocok."
"Tidak Tom, kau jangan merendah begitu, aku tidak memandang dari sebuah status, bila kau mau, kita bisa__" ucapan Qinara terputus.
"Maaf aku tidak bisa!" Tommy menghela nafas berat "Karena aku sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan segera menikah."
"Apa? Qinara terkejut. "Tapi kata Gilang kau masih sendiri?"
Tommy tersenyum "Kau tidak perlu percaya Gilang, aku ingin memberikannya kejutan padanya. Kau orang pertama yang kuberitahu Qinar."
__ADS_1
Tommy berjalan memutar, berdiri tepat dimeja Siska. Ia mengambil berkas berkas dan tas Siska diatas meja, yang tentu saja membuat Qinara mengeryitkan keningnya.
Sebelum pergi Tommy berdiri didepan Qinara. "Jaga dirimu baik-baik, semoga kau mendapatkan pendamping yang baik dan setia, aku pergi dulu."
Qinara diam mematung sambil menatap kepergian Tommy.
Tommy membuka pintu. Ia mencari keberadaan Siska, tapi tidak ada diluar pintu. Saat ia terus berjalan dan melihat sosok Siska sedang berdiri memunggunginya.
"Siska!"
Siska memutar tubuhnya, sudah berdiri Tommy di belakangnya, ia menatap benci dan menarik tas beserta berkas dari tangan Tommy, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu penjelasan Tommy.
"Sis.. Siska tunggu! menarik tangan Siska. Dengan kasar Siska menghempaskan tangan Tommy. "Jangan pernah kau cari aku lagi!" ucapnya cetus.
Tommy terus mengikuti langkah Siska hingga sampai di parkiran, Siska yang tau tommy mengikutinya, sudah tidak peduli. Ia mngambil remote kecil dari dalam tasnya, saat Siska membuka pintu dan masuk, Tommy membuka pintu disampingnya ikut masuk.
"Untuk apa kau mengikuti ku!" gertak Siska.
"Aku ingin ikut," jawab Tommy enteng.
"Mau ikut kemana?!"
"Kemana kau pergi!" tersenyum penuh arti.
"Kenapa kau marah?"
"Marah?" Siska mengeryit keningnya
"ish pake tanya lagi, pasti marahlah lihat kau dengan wanita gatel itu pelukan." gumam Siska dalam hati, mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kau tidak marah kenapa kabur? menatap dalam wajah Siska yang terlihat grogi.
"Aku kabur? anu.. tadi aku buru buru mau ke kantor kak Ramon." tersenyum terpaksa. "Ish dasar gak peka!" gerutu batin Siska.
"Sudah aku mau pergi, turunlah!"
"Kau mau ke kantor Tuan Ramon?'
"Iya! tanpa menoleh pada Tommy.
"Aku ikut!"
"Untuk apa?"
__ADS_1
"MELAMAR MU!"
"What? mata Siska membulat, ia menoleh pada Tommy mencari keseriusan pada mata hitamnya, Siska tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Deg deg deg... jantungnya berdebar cepat dan darahnya berdesir.
"Jangan bercanda Tommy, aku sudah tidak percaya dengan kata kata pria!" sok pura pura marah padahal hatinya girang saat Tommy bilang ingin melamarnya. "Benarkan? dia cuma becanda kan, semua cowok kenapa selalu PHP in cewek." suara hati Siska. Mendengus kesel.
"Apa kau masih tidak percaya dengan ucapan ku?" menarik satu tangan Siska, dan menaruh tangan itu di dada bidang Tommy. "Kau bisa merasakan debaran jantung ku, ini kurasakan bila berada didekat mu, apa kau bilang aku masih berbohong?"
Siska merasakan irama jantung Tommy berdebar sangat cepat, sama persis dengan jantungnya saat ini."
"Ayo kita menikah Siska, aku sangat mencintai mu." tutur Tommy serius.
Wajah Siska tertunduk dalam, butiran bening menetes begitu saja, ia menutup matanya menetralisir perasaannya yang tidak bisa dilukiskan.
"Siska." posisi Tommy lebih dekat "Harus dengan apa lagi aku meyakinkan mu, agar kau percaya perkataan ku? aku sudah lelah dengan perasaanku ini, jujur sebenarnya aku malu mengatakan kejujuran ini. Karena posisi ku hanya seorang asisten, tapi rasa ini tidak bisa aku pendam sendiri." Siska masih terdiam, Tommy mendesah pelan "Bila kau tidak menerima lamaran ku, aku tidak memaksa." tersenyum tipis "Maafkan aku Siska." melepaskan tangan Siska, satu tangan Tommy sudah membuka pintu, saat tommy ingin turut Siska menarik tangannya "Aku menerima lamaran mu Tom."
Tommy menoleh, mata keduanya saling bersitatap "Apa aku tidak salah dengar?" Tommy meraih wajah cantik Siska dengan kedua tangannya. Menatapnya penuh cinta. "Coba kau katakan lagi sayang?"
"Aku mau menikah dengan mu." Siska tersenyum.
"Terima kasih sayang." hati Tommy berbunga bunga, ia mengusap lembut airmata Siska. Mencium kening dan kedua pipinya.
Kening mereka saling menempel "Aku sangat mencintai mu Siska."
"Aku pun sama, sangat mencintai mu Tom. Jangan pernah khianati aku."
"Tidak akan sayang."
Mata keduanya saling bersitatap, getaran hati mereka masih terus berdetak kencang. Tommy tanpa ragu mendekatkan bibirnya dan tercipta lah ciuman hangat penuh cinta.
'
'
'
'
'
Bersambung...
@Reader banyak yang gak sabaran ingin Tommy dan Siska Merrid 😍 eaeaea ...🤣
__ADS_1