ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Keberanian Vano, Ketakutan Dev


__ADS_3

Salam kan pada Daddy, Vana berangkat dulu." imbuhnya seraya mencium punggung tangan Delena, di ikuti dengan Vano.


Delena mengantarkan kedua anaknya sampai depan teras. Setelah mobil hilang dari pandangan nya, ia masuk kedalam rumah.


Mobil pak Yanto sudah sampai depan gerbang sekolah favorit Zevano dan Zevana. Mereka berdua masuk kelas untuk menaruh tas dan berlari ke lapangan untuk upacara.


Satu jam kemudian upacara bendera selesai di laksanakan, semua murid membubarkan barisan masuk kedalam kelas masing-masing.


Vano mengambil botol minuman yang ia bawa dari rumah, saat ini ia sangat khawatir karena sejak tadi tidak melihat batang hidungnya Devan. Bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran di dalam kelas akan di mulai. Suara langkah cepat kaki seseorang masuk kedalam kelas.


"Dev! kau kenapa telat? tanya Vano saat Pria berkaca mata itu sudah mendudukkan bokong nya kursi kayu sampingnya.


Devan hanya diam dengan wajah tertunduk. "Hey kenapa kau diam? dimana mata empat mu? kau terlihat tampan tanpa kaca mata." Vano tergelak, tanpa sengaja Vano menarik wajah Devan.


"Aaachhh..." Dev terpekik.


"Hey ada apa dengan wajah mu? Saat mengamati jelas wajah sahabatnya itu, terdapat memar divwajahnya dan luka di pelipis.


"Siapa yang sudah melakukan semua ini?! tanya Vano dengan tatapan tajam.


Devan hanya menggeleng kepala pelan


"Ayo katakan! apa anak-anak Paman mu?!


"Kalau kau masih diam, berarti jawabannya benar kan?!


"Bukan! menatap wajah Vano sendu.


"Lalu siapa?!


"Anak-anak berandal memukuli ku dan mengambil ponsel juga uang saku ku?!


Wajah Vano memerah "Anak brandal yang dimana?


"Pertigaan pas mau kearah rumah Paman ku, memang disana area rawan, aku terpaksa motong jalan dan lewat sana, karena takut terlambat sekolah"


"Ya sudah pulangnya aku yang antarkan."


"Tidak usah Van, aku bisa pulang sendiri."


Tak,tok,tak,tok..


Seorang guru wanita masuk kedalam kelas.


"Good morning everyone?!


"Good morning teacher."


"Pelajaran di mulai, hari ini kita adakan ulangan dadakan."


semua murid hanya melongo, kebanyakan dari mereka belum ada yang siap untuk belajar. Berbeda dengan Vano yang santai menghadapi ulangan dadakan."


Ibu guru berjalan dan memberikan kertas ulangan ulangan pada masing-masing murid.


"Sekarang silakan di kerjakan, jangan ada yang menyontek, kerjakan sendiri dengan otak dan kemampuan kalian." kata bu guru memberikan peringatan, seraya berjalan dengan tangan di lipat.


"Dev, kenapa kau tidak pakai kacamata mu. Bukan kah matamu burem." bisik Vano, melihat Devan sulit membaca lembar jawaban.


"Kacamata ku pecah! ucapnya lirih.

__ADS_1


"Astaga, siapa lagi yang sudah pecahkan kacamata mu?!


"Para berandalan itu, Mereka menarik kacamata ku dan melemparkan ke aspal terus di injak-injak."


"Brengsek mereka! aku akan balaskan perbuatan mereka untuk mu dan mengambil ponsel mu yang mereka curi!"


"Tidak usah, kau tidak akan menang melawan mereka! apa kau ingin jadi perkedel! bisik Dev, meremehkan sahabatnya.


"Vano! Devan! apa yang kalian bicarakan, ini sedang ulangan. jangan berisik atau kalian keluar dari kelas! seru bu Lia guru Bahasa Inggris.


"Iya Bu! ucapnya bersamaan


Keadaan tenang kembali tanpa ada yang bersuara.


"Kak!...kakak! panggil Vana di belakang punggungnya. karena posisi Vana dan Isabella tepat berada di bangku belakangnya. dengan suara pelan ia terus memanggil.


"Sepertinya kakak mu sangat fokus, dia tidak akan mendengar suara mu." bisik Isabella.


Vana mengambil secarik kertas dan menuliskannya. "Kakak berapa nomor jawaban 23, 29, 40, 43." Vana meremasnya menjadi bulatan dan melemparkan kedepan kakaknya duduk.


Pluk!


Punggung Vano merasa ada yang menimpuk, ia menoleh kesamping ada bulatan kertas dan mengambil kertas itu, lalu membuka dan membacanya. Tangan Vano menulis di kertas itu kembali, melihat kakaknya membalas kertas putih yang sudah lecek, bibir Vana tersenyum.


"Akhirnya kakak memberikan jawaban juga." gumamnya pelan.


Pluk!


Vano melempar kembali kertas itu ke belakang. Dengan senang Vana mengambil bulatan yang jatuh ke bawah kolong bangku.


"Ingat! tinggal waktu kalian 20 menit lagi untuk menyelesaikan soal kalian." kata bu Lia


Vano berjalan kedepan dan menyerahkan soal ulangan urutan pertama.


["Bekerja keraslah sendri, agar nilai mu lebih baik!]


"Cih! apaan sih kak Vano ini, minta bantuin jawaban malah dikasih nasihat, dasar kakak gak ada akhlak! gerutunya dengan bibir mengerucut.


Isabella beranjak dari duduknya dan berjalan kedepan.


"Bella! kau sudah selesai? tanya Vana, saat ia kembali duduk."


"Sudah!" tersenyum tipis.


Vana memijit keningnya yang terasa pusing, masih ada 4 soal jawaban yang belum ia selesaikan. Biasanya Vana bisa menyelesaikan semua lembar Jawaban dengan cepat, bahkan selalu bersaing dengan kakaknya, entah kenapa sekarang 4 soal jawaban itu terasa sulit baginya.


"Tinggal 5 menit lagi, segera selesaikan tugas kalian." pinta Bu Lia, memperingati.


"Aaachh! akhirnya selesai juga!" Vana bernafas lega setelah lembaran kertas ulangannya itu sudah berpindah ke tangan bu Lia.


Bel sekolah berbunyi, jam 12 tepat, anak-anak murid sedang bersiap-siap untuk pulang. Buku-buku pelajaran sudah tersusun rapi di dalam tas. Mereka semua keluar dari dalam kelas untuk menunggu jemputan.


"Van! kau pulang duluan dengan Pak Yanto ya."


"Loh, kakak mau kemana?!


"Antar Dev pulang?!


"Ya sudah, antarkan pakai mobil saja sekalian kita pulang."

__ADS_1


"Motor Dev mau di taruh di mana?


"Ya sudah lah! terus kalau Mommy tanya gimana?!


"Jelaskan saja, nanti aku pulang naik taxi, Pak Yanto tidak usah jemput."


"Okeh!


"Bella! ayo ikut bareng aku saja, kau tidak ada yang jemput, bukan?!


"Aku naik gojek saja!


"Sudah ayok! menarik tangan Bella untuk masuk kedalam mobil "Kau tenang saja, kak Vano bareng Dev, kau tidak usah takut rahasia mu suka dengan kak Vano, akan aku simpan."


"Ish kau ini van! mencubit tangan Vana. Mereka berdua masuk kedalam mobil.


Sementara Vano dan Dev masih berada di parkiran sekolah.


"Kau yakin ingin mengantarkan aku pulang?


"Iya! ayok yang mana motor mu!"


"Tapi nanti bagaimana kau pulangnya?


"Tenang saja, banyak taxi online, kau tidak usah khawatirkan aku, justru aku kasihan padamu."


Mereka berdua naik sepeda motor, Vano yang membawakan motor, dengan memaksa Dev untuk duduk dibelakang.


"Kita lewat jalan pintas, tempat yang tadi kau lalui."


"Jangan nekad Van! lewat sana sama saja bunuh diri. Aku tidak ingin kau mati sia-sia."


Mendengar kecemasan sahabatnya, Vano tergelak menahan tawa. "Sudah ikuti saja perintahku, kau akan aman bersama ku!"


Setelah Vano meyakinkan, Dev memberikan petunjuk jalan pintas. jalanan itu memang sepi, jarang kendaraan roda empat atau roda dua lewat sana kalau tidak terpaksa untuk menghindari kemacetan.


Setelah melewati persawahan yang terbentang luas di sisi kira dan kanan, mereka melewati portal, jantung Dev berdebar tak karuan, rasa takut, cemas dan ngeri sudah terbayang di otaknya. Tiba-tiba Vano mengerem mendadak. Motor yang mereka tumpangi hampir saja jatuh kalau saja Vano tak sigap. Di depannya sudah terbentang tali layangan yang sengaja di taruh disana, agar yang lewat terjatuh dari kendaraannya. karena benang itu tak terlihat dari jarak satu meter.


"Ada apa Van? kenapa kau rem mendadak, hampir aku jatuh ke aspal." gerutu Dev pada Pria macho di depannya.


Tiba-tiba dari semak-semak, keluar gerombolan remaja tanggung dengan membawa golok dan parang. Tentu saja Dev terperanjat dan ketakutan setengah mati.


"Aku bilang juga apa! ngapain lewat jalan sini! cari matikan namanya!"


"Semua orang yang hidup juga bakal mati! ucap Vano santai.


"Ya Tuhan Vano! dimana pikiran mu sih! mati juga gak harus sia-sia begini kali, nikah ajah belum udh ko'it! gerutu Dev dengan tubuh gemetar masih ngoceh ceramahin Vano di belakang punggungnya.


"Van! tidak ada cara lain kabor yuk!


Vano tidak bicara satu katapun dengan ocehan si Dev yang super penakut. Vano melepas tas di belakang punggungnya dan mengeluarkan sebilah pisau lipat yang selalu ia bawa didalam tasnya. Ia turun dari motor dan memberikan tasnya pada Devan.


"Hey Vano kau mau ngapain?! teriak Dev, yang melihat Vano berjalan kedepan, berhadapan dengan gerombolan brandal itu.


Seketika Dev syok dengan nafas turun naik.


🌺


🌺

__ADS_1


🌺


@BERSAMBUNG.....


__ADS_2