
"Sudah Mas, biar bude saja sekalian bayar belanjaannya."
"Uang Vano banyak bude, udah biar Vano bayar sendiri ajah.
Selesai membayar semua belanjaan, Vano dan bude Ana keluar dari swalayan. Saat ingin menjalankan motornya, Vano melihat dua orang mencurigakan sedang mengamatinya. Terpancar seringai licik di wajah dinginnya.
"Apa yang akan terjadi.....?
Motor sudah terparkir di depan teras. Vano memberikan belanjaan pada bude Anna. Mba Yuni menghampiri ke teras dan membantu bude Anna membawakan belanjaannya.
Setelah turun dari motor ia berjalan ke depan gerbang, mencari sosok pria yang mencurigakan. Tetapi dua orang pria itu sudah tidak ada. Dua orang penjaga bertanya pada Vano.
"Mencari siapa, Mas Vano?"
"Apa kalian melihat dua orang di depan tadi?
"Tidak ada orang didepan sana."
"Ya sudah!
Vano berjalan kembali kearah motor dan mengambil belanjaan miliknya, membawa ke arah kamarnya.
"Aneh, tadi ada orang yang mencurigakan dan mengikuti ku, tapi mereka sudah menghilang."
Vano menjatuhkan tubuhnya diatas kasur 'Apa mungkin perasaan ku saja ya, sudah lah aku mau tidur dulu."
****
Sementara di Bali, sudah dua hari Delena, Reno dan Vana tinggal di kediaman Davina dan Robert. Rumah yang berada di depan pantai Kuta terlihat sangat indah dan sejuk. Sebenarnya Reno memiliki villa di Bali, tapi mereka lebih menghargai Davina yang meminta untuk menginap di rumahnya.
Siang itu mereka sedang berada di atas balkon. Reno dan Robert sedang asyik mengobrol di temani kopi tubruk buatan Davina dan beberapa cemilan berada diatas meja. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjang Vana yang sedang bermain dengan Chika. Delena dan Davina sangat kompak memasak di dapur untuk makan siang bersama.
"Aku sangat kangen dengan Vano, kenapa tidak kalian bawa?!
"Kakak tahu sendiri, Vano itu sudah beranjak remaja, Walau usianya baru 12 tahun, tapi pemikiran nya sangat dewasa. Dia tidak bisa di bujuk seperti Vana. Aku dan mas Reno sudah berusaha membujuk, tapi tetap tak mau ikut, katanya Ingin menjaga Oma."
Davina menghela nafas dalam, ada kekecewaan dari raut wajahnya. Davina sangat menyayangi anak-anak Delena, Karena dulu pernah menjatuhkan Vano ke kolam renang, membuat ia merasa bersalah dan ia begitu menyayangi Vano seperti anak kandungnya.
Delena mendekat dan merangkul pundak Kaka nya yang sedang membulak-balikan ikan gurame panggang. "Kak jangan sedih ya, Vano juga sayang Maminya kok, Vano sudah bilang pasti akan datang ke Bali menemui Maminya."
"Iya tidak apa-apa, nanti malam kita Vidio call dengan Vano." tersenyum getir.
"Iya kak, nanti kita hubungi Vano."
"Oiya, bagaimna kesehatan Ibu? aku sering membujuk ibu untuk tinggal dengan ku disini, kalau ibu sakit ada Mas Robert yang menangani."
__ADS_1
"Ibu masih suka mengeluh sakit, kadang asam urat dan rematiknya kambuh, seminggu dua kali aku mengunjungi ibu."
"Kak, sayur, lalapan, ayam taliwang dan ikan bakarnya sudah selesai."
"Ya sudah kau bawa dulu saja ke balkon, pasti dua suami hebat kita sudah lapar, aku akan buat sambalnya dulu."
"Baik kak!
Delena membawa hidangan ke balkon. Davina memiliki dua dapur, satu di bawah dapur yang setiap hari ia gunakan. Di lantai dua ia sengaja membuat dapur juga, bila ada tamu bisa masak diatas sekalian melihat pemandangan yang indah diatas balkon. Dapur yang terbuka dan luas, menyatu dengan balkon. Aroma masakan tercium sampai ke indra penciuman dua pria tampan yang sedang mengobrol seraya tertawa lepas.
"Wah, harum masakan sudah tercium, bikin cacing-cacing perutku berontak." ujar Robert menelan salivanya.
"Pantas saja bobot badan mu membengkak setelah menikahi Davina. Ternyata kau banyak makan." imbuh Reno terkekeh
"Ternyata istriku pintar sekali masak, dia selalu menyenangkan aku dalam hal apapun, termasuk permainannya di atas ranjang." tutur Robert tersenyum lebar, ia memuji istrinya tanpa malu-malu. Robert memang sangat terbuka dengan Reno dalam hal apapun.
"Pasti kau menang banyak kan? Terlihat kok kalau kau itu sangat bahagia, wajahmu selalu cerah seperti mentari pagi." Reno kembali terkekeh yang terus menggoda sahabat nya itu.
"Alah kau bisa saja Bro! Robert tergelak.
"Hey Ren, ko tidak ingin menambah satu putra lagi? istrimu masih cantik dan muda, ku rasa masih bisa tambah satu baby lagi."
"Tidak lah Bert, Aku tidak ingin mengambil resiko, takut kejadian dulu terulang lagi, sungguh aku sangat trauma dan tidak bisa kehilangan istriku. Delena terus meminta tapi aku menolaknya. Aku tidak bisa kehilangan dia, Delena adalah hidupku dia segalanya bagiku."
"Kau harus hilangkan trauma itu Ren, sampai kapan kau terus mengingat kejadian itu. Aku saja masih ingat memiliki tiga anak lagi, dua putra, dua putri. Chika sudah besar sudah saatnya aku memberikan Chika adik."
"Saran mu masuk akal, akan aku coba."
Delena berjalan mendekati mereka yang masih asik bergosip "Mas, Ayo makan dulu, kalian betah banget sih disini, ngobrol dari pagi loh!"
"Biasa yank, kakak ipar mu satu ini, kalau curhat tidak cukup satu hari." muehehehe....
"Ayolah kita makan dulu, cacing di perutku sudah demo."
Reno dan Robert berjalan kearah meja makan yang masih berada di balkon. Meja makan yang terbuat dari kayu jati, dengan penutup kanopi di atasnya.
"Chika, Vana... Ayo makan dulu." seru Delena memanggil anak dan keponakan nya.
Mereka berdua berlari mendekat dan duduk di meja makan bersama.
****
Sudah dua malam sejak kecurigaan Vano, ia sedikit tidak tenang. Namun, tidak terjadi apa-apa di rumah Oma nya.
"Ceklek!
__ADS_1
"Vano kau belum tidur? tanya Oma seraya berjalan masuk kamar, memastikan keadaan cucunya.
"Oma? menoleh sebentar, dan kembali menatap layar ponselnya. "Sebentar lagi, masih tanggung nih, musuhnya udah mau mati!
Aaaachhhhh...! sial, kalah kan! teriak vano kesal, ia masih asyik main game ML.
"Minum susunya dulu terus tidur! ingat pesan Daddy dan Mommy tidak boleh banyak main game."
"Oke Oma..!
Helena menaruh gelas berisi susu diatas nakas, dan berjalan keluar kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, semua orang sudah tertidur lelap. Vano yang baru selesai main game, beranjak dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.
Mengambil susu buatan Oma yang sudah dingin, ia meminumnya setengah. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Aneh malam itu vano terus terjaga, biasanya ia sangat mudah tertidur. Tapi malam itu ia tidak mengantuk, tubuh bongsornya bulak-balik kesana-kemari. Hingga akhirnya ia terlelap juga.
PRANKK!!
Terdengar suara benda jatuh di lantai bawah. Vano terjaga, ia terbangun dari tidurnya. padahal ia baru saja terlelap. karena penasaran Vano turun dari ranjang dan berjalan keluar. ia membuka pintu kamar Helena, yang berada di samping kamarnya.
"Ceklek!
"Oma tidurnya lelap sekali." Vano menutup pintu kembali. Saat ia ingin masuk kedalam kamarnya, terdengar suara orang berontak tapi sangat samar. Rasa penasaran membuat Vano menuruni anak tangga dengan perlahan. Lampu menuju ruangan keluarga sudah padam, hanya ada beberapa lampu yang menyala di sudut-sudut ruangan. Vano sudah merasakan ada yang tidak beres didalam rumah Oma nya. ia terus bersikap hati-hati tanpa menimbulkan suara, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas di bawah tangga. Untung ia langsung mepet ke tembok, jadi tidak terlihat gerakan saat turun tangga. Saat sudah berada di bawah tangga, melalui remang lampu di ujung yang masih menyala, ia melihat ada beberapa orang sedang mencari sesuatu di laci-laci bufet. dengan mengendap Vano berhasil mengumpat di belakang lemari hias. ia melihat seseorang keluar dari kamar bude Anna dan Mba yuni.
"Apa yang mereka lakukan di kamar bude dan Mba Yuni? terdengar suara berisik di kamar itu tapi tidak terlalu jelas.
Vano menghitung jumlah mereka ada empat orang. Gerakan mereka sangat cepat. Mata Vano terus mengikuti gerak-gerik mereka. Dua orang pria yang tak dikenal itu mulai berjalan menuju kearah tangga. Tangan mereka memegang senjata tajam dan cerurit. Vano terkejut dan panik.
"Oma...?! pekiknya pelan.
Vano teringat pada Omanya yang berada didalam kamar, dan kamar tidak terkunci. Vano bingung apa yang harus ia lakukan. ia tidak memiliki senjata. pisau lipat yang ia beli berada didalam kamar. ia berniat untuk lari kedapur untuk mengambil pisau sebagai senjata. Tapi ia takut dengan keselamatan Oma nya yang lebih dulu diserang mereka. untuk lari kedapur harus melewati dua orang yang masih sibuk mencari sesuatu di seluruh ruangan.
Vano sedang menyusun rencana dan mulai bertindak.
🌺
🌺
🌺
BERSAMBUNG....
YUK ikuti Novel yang lainnya. "TUAN JENDRAL CINTAI AKU" novel yang pernah histuz kini kembali Up lagi. Cerita yang berbeda dari karya
__ADS_1
Bunda Sebelum nya.