ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Pertandingan Di Sekolah.


__ADS_3

"Kau mau apa? tanya Vana kaget dengan bola bening membulat.


Tangan Nathan menarik seat belt dan menguncinya. "Kau harus bisakan memakai seat belt, aku tidak ingin Nona kenapa-apa." Nathan kembali menarik tubuhnya ke posisi semula, bersamaan helaan nafas Vana.


"Oke, kita berangkat!" imbuhnya lagi, bersama sudut bibirnya terangkat.


Nathan melajukan mobilnya dengan santai, sesekali ia menatap wajah cantik pujaan nya melalui kaca spion. Sekarang seringkali Nathan tersenyum sendiri, ada gelenyar dalam dadanya yang terus berpacu.


"Apakah Alea ku merasakan apa yang aku rasakan? Hah! pertanyaan bodoh! lihat saja gadis itu sibuk dengan ponselnya dan tersenyum sendiri. Melihat senyuman saja membuat jantung ku berdebar cepat, setelah ini aku harus datang ke Dokter penyakit jantung." gumamnya dalam hati


Ciiiiiiiitttttttt!


"BUGH!


"Aaaawwww...." pekik Vana yang secara tiba-tiba kepalanya terbentur jok di depannya.


"Hey! kalau mau nyeberang lihat dulu! teriak Nathan pada seorang pria yang tiba-tiba melewati mobilnya di jalur cepat.


"Aaggrrhh! Sial!"


"Alea kau tidak apa-apa...? tanya Nathan khawatir. Ia memutar tubuhnya ke belakang.


"TINNNNN! TIINNNN.....!!


"Astaga Kenapa hari ini begitu sial!" Nathan melajukan mobilnya kembali, setelah bunyi klakson memekik telinga. Tidak ingin terjadi apa-apa dengan Vana ia menepikan mobilnya.


Nathan turun dari mobil dan membuka pintu belakang. "Alea kau tidak apa-apa? mana yang sakit..?"


Satu tangan Vana memegang keningnya yang terasa nyeri. "Alea...?" Vana menatap bingung dengan panggilan Nathan.


"Ahh, maksud ku Nona Vana..?" Nathan meralat ucapnya.


"Aku tidak apa-apa. Kenapa kau tidak hati-hati dalam membawa mobil. Apa kau baru belajar menyetir?" sundir Vana, tangannya masih terus mengusap keningnya.


"Ma'afkan aku, tadi ada orang menyebrang di jalur cepat, aku rem mendadak. Daripada dia tertabrak dan akan jadi masalah."


"Apa kepala mu masih sakit, biar aku obati."


"Tidak usah, lebih baik secepatnya kita berangkat, aku hampir telat."


"Benar kau tidak apa-apa? tanya Nathan merasa bersalah. Sungguh ia sangat menyesalkan, di hari pertamanya kerja, malah dapat msalah.


Vana hanya gelengkan kepala. Nathan menutup pintu belakang dan kembali masuk. Kini ia lebih hati-hati mengemudi hingga sampai depan gerbang sekolah.


Setelah menepikan mobil, Nathan keluar dan membuka pintu untuk Vana. Nathan berjalan di belakang Vana.


"Untuk apa ikut masuk kedalam."


"Tentu saja untuk memastikan mu baik-baik saja."


"Tidak perlu diantara sampai kedalam. kenapa kau terlalu lebay."


"Ini demi keselamatan mu, aku sudah berjanji pada Ayahmu untuk menjaga mu sampai selamat."


Tak ingin berdebat, Vana membiarkan Nathan mengantarnya sampai depan kelas. "Kenapa Daddy mencari bodyguard posesif begini sih! umpat Vana dalam hati.


Setelah Vana masuk kelas, Nathan pergi menjauh. Semua mata menatap pria tampan yang bersama Vana, tentu saja satu kelas jadi heboh.


"Wow Vana.. siapa pria bule itu?" tanya Tiara penasaran.


"Wah keren, gila abiz tuh cowok macho banget! Decak Rara


"Sudah empat hari izin, tiba-tiba bawa gacoan." timpal Luna terkekeh.

__ADS_1


"Van, boleh donk kenalin gue, masa punya cowok ganteng diem-diem."


"Hey kalian ini apaan sih! berisik tahu nggak! umpat Vana mengerucutkan bibirnya. Vana yang sudah duduk dikelilingi empat cewek satu Genk nya.


"Terus dia itu siapa? calon luh kah? bisa perang antar cowok nih! loe tahu sendri bagaimana si tampan Reyhan posesif banget kan?"


"Loe tahu nggak Van, kemaren tim Reyhan menang main basket. Sayangnya loe kemaren nggak masuk." kata Rara masih terus celoteh.


"Terus si lenje Jessica cari muka didepan Reyhan, kasih minum gitu. Ehh pake lap keringet si Reyhan segala." bibir Luna ngerocos kaya petasan.


"Sudah-sudah kalian bisa diem nggak sih! gue pusing tahu denger ocehan kalian, ngomong tuh satu-satu." Vana gelengkan kepala.


"Ehh Van, itu kenapa jidat loh benjol."


"Masa sih! Vana meraba keningnya yang nyeri.


"Kenapa bisa kaya gitu sih!"


"Ini gara-gara bodyguard gue, dia rem mendadak katanya ada orang nyebrang pas jalur cepat."


"What! bodyguard...?" teriak tiga temannya serempak. Semua teman-temannya yang berada di dalam kelas menoleh kearah mereka. Mereka hanya diam dan gerutu dalam hati melihat kehebohan Genk Vana.


"Astaga suara kalian berisik banget tau nggak sih!" Vana kesal melihat sahabat satu Genk nya yang heboh.


"Mau donk punya bodyguard ganteng." celetuk Tiara dan mereka bertiga terkekeh Bersama.


"Emang ada yang lucu kalian tertawa kaya gitu. Sana minggir."


"Ck! loe jahat banget sih Van, kita-kita kan kangen banget sama loe. sepi tahu nggak loe nggak ada. Apalagi si Reyhan bulak-balik tanyain loe udah masuk belum."


Terdengar suara bel berbunyi. Tanda akan di mulainya jam pelajaran. Mereka semua bubar ke tempat duduk masing-masing. Vana duduk sebangku dengan Luna teman satu Genk nya.


Sementara Nathan sudah berada di sebuah Cafe tak jauh dari sekolah Vana. Ia mulai membuka laptop yang selalu ia bawa di tas ransel. Nathan masih melihat pergerakan Matthew karena dirinya sudah menggalkan rencananya. Hanya satu dua jam Nathan di Cafe dan ia kembali ke sekolahan Vana.


Jam sudah menunjukkan angka 10.30.wib. Waktu nya jam olahraga. Kelas Vana akan mengadakan lomba volly antar kelas. kelas 11 melawan kelas 12. Vana dan Genk nya termasuk ikut dalam lomba volly.


"Ingat ya! nanti bola nya kau smash ke wajah si wanita sombong itu, biar tahu rasa dia!


"Kebetulan Reyhan tidak masuk sekolah, nggak ada yang bela wanita sok cantik itu."


"Siap jess, asal jangan lupa traktirannya."


"Tenang ajah, ntar gue traktir. Asal loe harus kompak dan kena sasaran."


"Oke.. Oke..."


Nathan yang sedang duduk di bawah pohon mendengar percakapan enam orang wanita di samping sekolah. "Siapa yang mereka bicarakan. Dasar anak-anak cewek, dimana-mana selalu ada persaingan." Nathan gelengkan kepala sambil berkutat di layar pintar nya.


Terdengar dari lapangan sekolah suara riuh dan teriakan cewek-cewek yang sedang bertanding.


"Ada pertandingan apa ya? Kaya nya heboh banget." Karena penasaran Nathan berjalan kearah lapangan. Ia melihat sebuah pertandingan voly. Matanya menangkap Vana berada di dalam lapangan ikut bermain dalam arena pertandingan. Kubu kanan dan kiri saling bersorak mengunggulkan favoritnya.


"Aku ingin melihat gadisku bermain voly. Lihat wajahnya begitu serius. keringat mulai bercucuran, ingin rasanya aku mengusapnya." Nathan tersenyum sendiri, dari jarak yang tak begitu jauh ia terus menyemangatinya.


Ronde pertama di menangkan oleh kelas 11, yaitu kelasnya Vana. Tiba-tiba Nathan teringat akan enam orang wanita tadi yang sedang mencari target untuk dicelakai. Ia berjalan mendekat dan mulai curiga.


Pertandingan berjalan dengan aman, saling melempar bola dengan kedua tangan yang di kepal. Tiba-tiba...


"BUGK!


Smash lawan mengenai wajah Luna.


"Lun, loe gak apa-apa..? tanya Vana khawatir. teman-teman ikut berkumpul.

__ADS_1


"Kayanya mereka sengaja deh, mau celakain kita!" ujar Luna meringis menahan sakit di wajahnya.


"Kita harus hati-hati, kakak kelas kita nggak mau kita menang." umpat Tiara.


"Loe kayanya kesakitan gitu, kita ganti pemain cadangan. loe istirahat dulu Lun!" saran Rara.


"Ya udah deh, gue mundur. takut nggak fokus."


Luna keluar dari lapangan di ganti pemain cadangan


"PRITTTTT!!!!


Wasit selaku guru olahraga. Mulai memberi peringatan untuk memulai kembali pertandingan.


"Semngat! teriak Vana.


Bola voly saling lempar-melempar dan kubu kelas 12, pesaing Vana bernama Jessica mulai melempar bola kembali. Mata Nathan terus mengawasi gerak-gerik mereka. Dan kubu Jessica mulai smash bola, salah satu dari mereka meloncat saat bola didepannya, smash yang keras menuju sasaran.


"VANA!! teriak Nathan, ia masuk kedalam lapangan dan menangkis bola voly itu dengan satu tangannya, hingga bola berpindah dan mengenai wajah lawan.


"BUGK!!


"AAAAKKKHHHH!!!


Suara pekikan dari seorang gadis kelas 12, gadis itu menangis dan menutup wajahnya. Jelas saja pukulan telak yang Nathan berikan dengan tenaga dalam miliknya. Semua berkumpul dan mendekati gadis itu.


Kubu kelas 11 tercengang dan tak percaya apa yang sudah Nathan berikan pada mereka.


"Nona kau tidak apa-apa?!" tanya Nathan. Vana gelengkan kepala.


"Ahh! balasan yang tepat untuk orang seperti mereka!" cetus Luna kesal.


"Hampir saja bola itu mengenai wajah Vana. untung Mas bule datang." Rara mengomentari.


"Ada apa ini kenapa jadi begini?" Guru olahraga mendatangi kelas 11 dan menatap tajam kearah Nathan.


"Maaf Pak, ini diluar kendali. Saya hanya melindungi anak bos saya."


"Anda hanya orang luar! tak seharusnya ikut andil dari pertandingan ini!"


"Bagaimana tadi bila bola itu mengenai Nona Vana. Saya hanya melindungi!" ucap Nathan tegas.


"Sudah-sudah saya tidak ingin berdebat, lihat perbuatan anda, anak didik saya wajahnya memar."


"Saya akan bertanggung jawab dan memberikan biaya pengobatan nya."


"Jangan sombong Anda! bentak pak guru olahraga.


"Sekarang semua bubar dan masuk kelas semua!"


Tepat jam 12.30 menit Vana keluar dari kelas bersama yang lainnya. Ia berpisah dari teman-temannya dan berjalan kearah Nathan yang menunggu dengan setia di depan mobil.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@sekarang Bunda buat kisah Vana dan Nathan dulu ya All... pasti nanti gantian kisah Vano, Bella dan Devan.


@Yuk terus dukung karya Bunda dengan cara...


๐Ÿ’œlike


๐Ÿ’œvote


๐Ÿ’œgift

__ADS_1


๐Ÿ’œkomen


@bersambung.....


__ADS_2