
"Siapa Pria itu...?!" ucapnya pada diri sendiri sambil menatap punggung lebar Nathan.
Mobil sport biru kesayangan Nathan, keluar dari garasi Apartemen elit Casablanca.
Selama di perjalanan tak hentinya Nathan tersenyum, rona bahagia terpancar cerah dari wajah tampannya. Pengorbanan yang tak sia-sia, lima tahun memendam rasa rindu pada seorang gadis kecil. Pada akhirnya Tuhan pertemukan dirinya dengan gadis pujaan yang sudah mengisi hatinya.
"Zevana Alea.. kita akan bertemu setiap hari, ini seperti mimpi bagiku. Apakah aku harus berterima kasih pada Matthew dan Paman Sam? karena ulahnya aku bisa menjadi bagian dari keluarga Reno Mahesa." Nathan gelengkan kepala tak percaya. "Semua ini rencana Tuhan, di pertemuan dengan gadis impian ku adalah suatu anugrah. Thank god, your plan is amazing ( Terima kasih Tuhan, rencana mu sungguh luar biasa)
Sejatinya manusia hanyalah berencana, Namun Allah lah sang maha penentu kehidupan manusia.
Hanya 45 menit menempuh perjalanan menuju perkantoran Mahesa Group, kebetulan jalanan tampak lengang dan tidak macet seperti biasanya. Mobil sport Nathan terparkir tak jauh dari pintu lobby.
Pintu kaca otomatis terbuka lebar. Nathan melangkah penuh percaya diri. suara pantofel terdengar ringan, dan Ia masuk kedalam lift. pintu lift berhenti di lantai 18. Saat melewati meja sekertaris Rika, ia berjalan tanpa menoleh. Rasanya sudah malas bertemu dengan wanita gatal itu.
"Eehh, tunggu Tuan!" sekertaris Rika berjalan menghampiri Nathan yang melewati mejanya.
"Kau mau apa? tidak boleh sembarang masuk kedalam ruangan Presdir Reno, sebelum membuat janji!" ujar sekertaris Rika, ia begitu kesal tamunya masih membelakanginya tanpa bertatap muka dengannya.
"Maaf Nona, Tuan Reno sendiri yang menghubungi saya. jadi tidak perlu buat janji." ucap Nathan melangkah pergi tanpa menoleh.
"Sialan! berani sekali orang itu, siapa dia. Awas ajah kalau lewat lagi, aku maki-maki!" ucap Rika geram.
Terdengar suara ketukan dari luar pintu. Reno dan Frans sedang membicarakan kelanjutan anak perusahaan baru yang akan launching bulan depan.
"Masuk!"
"JGLEK!"
"Selamat siang Tuan." sapa Nathan sopan, membungkuk memberi hormat.
"Hay Nathan! silakan masuk!' Reno berdiri dan mempersilakan anak muda itu untuk masuk. Nathan berjalan mendekat dan berjabat tangan pada Reno dan Frans.
"Duduklah! perintah Reno, Setelah ia lebih dulu duduk di Sofa.
Nathan duduk di samping Reno, sedang Reno menghadapi kedepan dengan satu kaki menyilang.
"Kalau saya boleh tahu, apa tujuan mu bekerja sebagai pengawal anakku. Padahal kau anak yang berprestasi dan cerdas di bangku kuliah, tidak sulit bagimu mencari pekerjaan yang layak."
"Sebenarnya panggilan hati nurani tuan!"
Kedua alis Reno bertautan "Maksud nya?"
"Saya sangat terpanggil untuk membantu anak gadis Tuan, pastinya ia sangat trauma dengan kejadian pemboman itu, dengan saya bekerja sebagai pengawal anak tuan, saya akan membantu menghilangkan rasa trauma itu."
Reno menganggukkan kepala "Kau benar, anakku masih trauma, dia bukan hanya buruh pengawal, tapi butuh teman untuk memulihkan kepercayaannya dari rasa ketakutan."
"Apa kau berasal dari Bali? Kedua orang tua mu masih lengkap?"
"Sebenarnya saya besar di Bali, dan kedua orang tua saya masih lengkap. Saya memiliki satu adik perempuan " ucap Nathan meyakinkan.
"Kau berani berjanji untuk bertanggung jawab pada pekerjaanmu, dan menjadi pengawal anakku Zevana?"
"Siap Tuan!
"kau berani bertaruh nyawa demi anakku?
"Sangat berani tuan! sudah ada bukti bukan? bahkan saya bertaruh dengan menjinakkan bon di tubuh Putri anda?" ucap Nathan mantap.
Anggukan Reno semakin cepat. "Baiklah, pekerjaan ini saya serahkan sepenuhnya padamu. ingat! bila kau ingkar janji atau menyakiti anak saya, kau akan mendapatkan akibatnya." ancam Reno tak main-main.
"Tuan boleh hukum saya, bila saya bersalah dan mengingkari kepercayaan Tuan, atau menyakiti hati dan tubuh anak gadis Tuan. saya siap menanggung resikonya."
__ADS_1
Ucapan Nathan begitu tegas dan percaya diri. Tersungging senyuman lebar dari bibir Reno. "Baiklah anak muda, karena kau juga sudah menolong anakku Zevana dan aku berhutang budi padamu. Aku Percayakan anakku padamu. Jaga lah dia seperti adikmu sendiri." Reno menepuk pundak Nathan. "Untuk gajih mu akan di transfer melalui rekening."
Nathan bernafas lega "Terima kasih banyak tuan atas kepercayaannya."
"FRANS, lakukan tandatangan kontrak kerjasama dengan Nathan."
"Sudah saya buat perjanjian surat kontraknya. silakan anda baca dulu." Frans memberikan map coklat pada Nathan. Setelah ia membaca pasal-pasal dalam surat perjanjian, Nathan menandatangani di atas materai.
"Oke kerjasama kita akan dimulai besok!" Reno dan Nathan saling berjabat tangan. "Semoga kau bisa menjaga dan membantu memulihkan ketakutan anakku kembali."
"Pasti Tuan, saya akan bekerja dengan baik dan membantu Nona Zevana semampu saya."
"Besok kau datang ke mansion ku, tidak usah bawa mobil, untuk antar jemput anakku sudah di persiapkan mobil Ferrari."
"Baiklah Tuan! kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah berpamitan, Nathan keluar dari ruangan Reno dengan wajah berseri-seri. Untung saja sekertaris Rika sedang tidak di tempatnya. Nathan bernafas lega dan segera pergi secepatnya.
Didalam mobil Nathan bersyukur, sebab Reno tidak melacak secara mendetail, kalau ia anak biologis Thomas. "Untung saja, ibuku mencantumkan di akte kelahiran dan di ijasah ku, atas nama paman Joshua, sebagai Ayah kandung ku. Ya.. ibuku menikah lagi dua tahun kemudian setelah Ayahku tidak pernah datang kembali, dengan pria berwarga negara Amerika bernama Joshua. Paman Joshua adalah teman Ayahku dan berani menikahi ibuku secara hukum Negara, hasil dari pernikahan mereka lahir lah adikku Alissa. Siapapun tidak akan bisa melacak aku anak Thomas, karena bukti itu tidaklah kuat. ibuku hanya menikah siri tanpa ada surat nikah resmi dari pengadilan agama.
"Ya Tuhan! ma'afkan aku. Semoga rahasia tentang aku tidak terbongkar Tuan Reno. karena aku sangat mencintai Alea dan ingin menjadi pelindungnya."
Esoknya....
Nathan sudah bersiap untuk berangkat kerumah Reno. Ia meneguk kopi hitam yang sudah hampir habis.
"Biar cepat sampai, aku naik Gobel online."
Nathan memesan Gobel online, walau dari apartemen ke rumah Reno cukup jauh. Lima menit kemudian Gobel sudah menunggu di depan apartemen.
Menempuh perjalanan 30 menit, Nathan sampai di mansion Reno. Pintu gerbang terbuka lebar dan satpam mempersilakan Nathan untuk masuk.
"Pagi Nyonya. Ada seorang pria di depan teras." ucap Mbak sari ART.
"Katanya bernama Nathan."
"Ohhh, suruh masuk Mbak, aku bilang suamiku dulu. Sekalian buatkan minum dan kasih cemilan ya Mbak."
"Baik Nyah!"
Delena masuk kedalam ruangan makan dan menemui suami dan anaknya yang masih menyantap sarapan pagi.
"Mas ada Nathan di teras."
"Dia sudah datang?" Reno mengusap bibirnya dengan tissue selesai sarapan.
"Sudah aku suruh masuk."
"Zee...bersiaplah untuk Sekolah. Daddy sudah dapatkan bodyguard untuk mu."
"Kenapa bukan Pak Yanto saja yang biasa antar jemput Vana Dad!"
"Pak Yanto tidak bisa berkelahi dan bela diri. Karena dulu kau terlindungi dengan adanya kakak mu Vano. Sekarang Daddy butuh orang yang bisa menjagamu, sebab Daddy tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. kamu mengerti kan maksud Daddy?"
Vana mengangguk "Mengerti Dad!"
Tak lama Reno dan Vana sudah berada di ruangan tamu. Delena yang masih mengobrol bersama Nathan, berdiri di Ikuti Nathan.
"Zee.. dia Nathan, yang akan mengantar jemput mu setiap hari. Hari ini Nathan bekerja untuk menjaga dan melindungimu."
Vana mengangguk pelan, dan menatap pria tampan didepannya. Tatapan keduanya saling bertemu. Jantung Nathan bergetar hebat dan bertalu-talu melihat bola mata bening yang ia kegumi. Bagaimana tidak? ia akan setiap hari bertemu dengan gadis pujaannya.
__ADS_1
"Nathan!"
Delena memanggil nama Pria itu, Namun ia tak bergeming.
"Hey Nathan! panggil Delena, seraya menepuk pundak lebarnya.
"Hee-iya.. Maaf Nyonya, saya tidak fokus." imbuhnya malu.
"Ya sudah, ini ambilah!' Delena memberikan kotak kecil ketangan Nathan.
"Ini apa Nyonya?"
"Hadiah kecil dari ku, karena kau sudah menyelamatkan anakku yang paling berharga."
"Buka lah! Reno memerintah kan
Nathan membuka bungkus kotak kecil itu, dan ia terkejut ada sebuah kunci di dalam kotak.
"Ini kunci apa ya..? tanyanya bingung.
"Apartemen! imbuh Delena tersenyum.
"Maksud Nyonya...?"
"Istriku memberikan salah satu apartemen milik keluarga kami untuk diberikan padamu Nathan, sebagai bentuk terima kasih kami karena kau sudah menyelamatkan Vana. Untuk surat akte nya sedang di utus Frans.
"Tuan, nyonya... ini sangatlah berlebihan. Sungguh saya ikhlas menolong Zevana, dan tidak berharap apapun. Sudah menjadi kewajiban saya saling tolong-menolong.
"Ambillah jangan menolak." Delena menepuk pundak Nathan lembut.
Sebenarnya Nathan merasa tak enak hati, ingin menolak, Namun, Delena dan Reno memaksa. Akhirnya ia menerima meskipun ia mampu secara finansial.
"Baiklah, saya terima Apartemen ini. Saya berjanji akan menjaga Nona Vana segenap jiwa saya."
Reno dan Delena tersenyum puas. Mereka berdua berpamitan untuk mengantar Vana ke sekolah.
Nathan membuka pintu mobil di barisan belakang untuk Vana. Setelah Vana duduk, ia masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Apa anda sudah siap Nona..? tanya Nathan, ia sedikit grogi berbicara.
"Iya! jawab Vana singkat tanpa menoleh pada Nathan. maklum saja ini pertama kali Vana di antar seorang pria yang berprofesi sebagai bodyguard. Rasa gugup juga Vana rasakan saat hawa hangat berada di depannya.
"Kau mau apa? tanya Vana kaget dengan bola bening membulat.
Tangan Nathan menarik seat belt dan menguncinya. "Kau harus bisakan memakai seat belt, aku tidak ingin Nona kenapa-apa." Nathan kembali menarik tubuhnya ke posisi semula, bersamaan helaan nafas Vana.
"Oke, kita berangkat!" imbuhnya lagi, bersama sudut bibirnya terangkat.
๐๐๐
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat ๐ช nulis๐
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
๐komen
__ADS_1
@bersambung......