ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Pencarian Justin


__ADS_3

"Iya Kak aku sudah tahu, kalau ini perbuatan Shella. Kakak harus menghukumnya sesuai perbuatannya padaku!


"Ya sudah kau tidak usah khawatir! semua ini biar kakak yang urus!


"Tom! jaga mereka berdua, dan besok langsung ke rumah sakit Papa, Aku sudah menghubungi Dokter Iskandar.


"Baik Reno! berhati-hatilah."


Reno berjalan pergi meninggalkan ruangan Frans dan Fanny.


Esoknya Frans dan Fany sudah masuk kedalam mobil. Mereka dibawa ke rumah sakit Ramon untuk pemulihan.


Supir melaju dengan kecepatan sedang. Di samping supir ada Tommy yang menjaga Fany dan frans. iring-iringan dua mobil utusan Reno mengawal di depan dan belakang.


Terdengar suara ponsel Tommy berdering. dengan cepat ia mengangkatnya.


"Hallo sayang..."


"Mas, kenapa ponselmu baru aktif?


"Kemaren berada di gunung, tidak ada sinyal sayang. Baru tadi pagi di cash karena lowbet."


"Seharusnya di kasih kabar donk, sebelum lowbet."


"Iya sayang.. Maaf ya? kan kondisi sedang tidak kondusif."


"Aku kangen Mas, juga kesepian. Dua hari mas tidak pulang."


"Iya sabar ya sayang, nanti Mas juga pulang, ini lagi menuju Jakarta, mau antar Fany dan Frans kerumah sakit Mas Ramon."


"Keadaan Fanny bagaimana mas?


'Alhamdulilah baik-baik saja sayang, ia sedang istirahat bersama Frans di kursi belakang."


"Ya sudah kalau begitu aku dan Kak Andini akan ke rumah sakit, kabarin aku kalau Mas sudah sampai."


"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik ya, Mas tunggu di rumah sakit saja."


"Iya Mas."


Telpon terputus. Tommy menoleh ke belakang, melihat Frans dan Fanny sedang tertidur nyenyak sambil mengeratkan genggaman tangannya. Dua insan yang tak ingin terpisahkan. Tommy tersenyum bahagia, dia pun ingin Frans sama seperti dirinya, bisa menikah dengan wanita yang di cintai dan sayanginya, tanpa harus memandang status dirinya yang hanya seorang Asisten. Karena kebahagiaan tidak di ukur dari harta dan kedudukaa. Tapi hati yang sama-sama saling memiliki cinta dan ketulusan, tanpa melihat kekurangan masing-masing. Tuhan tidak pernah menjadikan manusia itu sempurna, tapi saling melengkapi segala kekurangan untuk menjadi kesempurnaan.💜


Tiga jam perjalanan mereka sampai di depan rumah sakit. Tim medis sudah menyambut kedatangan Fany dan frans untuk dirawat insentif.


********


PLAKK!


PLAKK!


"Dasar anak kurang ajar, kau telah mencoreng nama keluarga besar kita, Erland!" ujar Brian geram, makian terus saja keluar dari mulut Brian.


"Apa ini ajaran ku padamu selama ini, Hah! menatap tajam dengan ekspresi membunuh. "Lebih baik kau bunuh saja Aku! agar kau puas! anak kurang ajar!


"BAK! BUK! BUK!


Tendangan bertubi-tubi ia layangkan pada anaknya.


"Sudah pah, cukup! teriak Anna, berlari menghampiri Erland yang terduduk dilantai dengan wajah lecet bekas tamparan Brian.


"Bangun Nak, duduklah! memapah Erland untuk duduk di kursi.


"Tidak usah kau bela Anak kurang ajar ini, mah! dia sudah keterlaluan!


"Papa juga jangan asal main pukul ajah! lihat wajah Erland penuh luka?! Anna mengambil kotak obat dan mengobati lukanya.

__ADS_1


"Biar saja dia mendapat ganjarannya! perbuatan dia sudah mencoreng nama keluarga kita! sekarang kalau sudah seperti ini, bisnisku bisa hancur dan berantakan semua! karena kelakuan anak mu itu! umpat Brian menjambak rambut nya sendiri karena kesal.


"Ma'afkan aku Pah! bisnis yang ku kelola tidak ada sangkut pautnya dengan Perusahaan Papa! Papa tenang saja, tidak akan ada yang geledah bisnis Papa!


"Diam kau! anak tak tau diri! bertahun tahun aku membagun Perusahaan dengan bekal kejujuran. Tapi kau sudah menghancurkan reputasiku dengan jadi pengedar obat terlarang dan penyusup senjata ilegal!"


Erland tertunduk malu dengan mata berkaca-kaca.


"Kau seharusnya tahu, kalau kau akan mendekam di penjara seumur hidup! kau tidak akan pernah menikah dan memiliki keturunan selamanya! hancur sudah semua harapanku! Erland... mau taruh di mana wajahku di depan Ramon dan Fany. kau sudah menghancurkan semuanya! teriak Brian emosi sambil membanting apapun yang berada di depannya.


Erland dan Anna menenangkannya Brian sambil memegang kedua tangannya.


"Pah, sudah Pah! tenangkan diri Papa! Aku akan pergi dari Negara ini dengan berganti identitas. Papa tidak usah khawatir! Masih ada Shella mengandung anakku! itu cucu kalian!


"Apa?! Brian semakin emosi, melototi wajah Erland semakin tajam "Bodoh! kau malah menanam benih pada Pel*cur!


Mendorong kasar tubuh Erland "Pergi saja kau dari rumahku! aku tidak pernah punya anak seperti mu!"


"Pah! sadarkah apa yang sudah papa lakukan pada Erland? seburuk apapun Erland dia tetap anak kita, darah dagingmu! Seharusnya kau bantu Erland keluar dari Negara ini, bukan malah memojokkannya! seru Anna geram dengan sikap Brian yang tidak peduli dengan keadaan anaknya.


"Erland seperti itu karena kau selalu saja memanjakannya!


"Sudah Nak, kau cepatlah pergi dari Negara ini. Masalah Shella percayakan pada Mama. Kalau memang benar Shella mengandung anakmu, biar Mama yang akan urus."


Erland memeluk Anna "Terima kasih Mah, aku pergi dulu. jaga diri Mama dan Papa baik baik."


Erland pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya sambil membawa mobil sport. Melaju dengan kecepatan tinggi.


"Aaaaahhhkk... Brian menjerit sambil memegangi dadanya yang sakit."


"Pah! kau kenapa? Anna begitu panik melihat Brian kesakitan sambil terus meremas dadanya.


"Dadaku terasa nyeri!


"Parjo!


"Iya Nyonya."


"Ayo bantu aku, bawa suamiku ke mobil, kita kerumah sakit sekarang."


"Baik, Nyah!


*****


"Bagaimana Boy, sudah kau cari info tentang Justin!


"Kami masih memantaunya tuan, sejak dari rumahnya aku dan barak sudah mengikuti kemana dia pergi. Dan sekarang kami berada di belakang mobilnya."


"Bagus ikuti kemana dia pergi, kepolisian juga sudah bergerak."


"Baik Tuan!


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Barak dan Boy yang sejak tadi membututinya kehilangan jejak.


"Kau lihatkan tadi mobil Justin masuk kedalam kompleks itu, Dua jam kemudian dia keluar lagi, saat kita membututi tiba-tiba ada mobil yang sama tepat berhenti di lampu merah. Mereka jalan bersaman dan berpencar.


"Sepertinya Justin sudah tahu kita buntuti. dan dia sengaja mengecohkan kita!


"Benar, sekarang kita harus apa?


"Hubungi Bos! supaya bos langsung cegat dia di bandara.


"Baik!


Boy mulai menghubungi Reno kembali.

__ADS_1


Tuuttt, tuuttt, tuuttt...


"Halo Boy!


"Bos, kami kehilangan jejak Justin!


"Bagaimana bisa! terdengar suara kecewa Reno dari ujung telpon.


"Kami berdua sudah mengikuti sejak tadi pagi. Tapi Justin juga tidak bodoh! Dia dan orang orangnya mengecoh kami."


"Jangan sampai Justin melarikan diri! aku dan pihak kepolisian baru saja mencari keberadaan Shella! Justin juga sudah merencanakan Shella meninggalkan Jakarta, untuk pulang ke kampung halamannya di luar kota! tapi pihak kepolisian sudah menangkap Shella."


"Syukurlah kalau Shella sudah tertangkap! sekarang Bos berada di mana?


"Aku masih berada di kantor kepolisian. Begini saja, kita berpencar. Kau terus ikuti mobi itu dan aku bersama yang lain akan menunggu di bandara. Hanya itu akses Justin pergi dari Jakarta."


"Baik Tuan, kami akan terus ikuti mobil itu."


@@@@


Di ruangan rawat inap fanny. Andini, Delena dan Siska sudah berkumpul di sana.


"Fanny! akhirnya kau selamat Nak."


"Mama..! mereka saling berpelukan "Maafkan Fanny Mah! hiks,, hiks,,


"Iya sayang, Mama sangat mengkhawatirkan mu Nak." mengelus lembut pucuk rambut fany.


"Frans yang sudah banyak berkorban untukku, Mah! kalau tidak ada Frans, entahlah bagaimana nasibku itu saat itu."


"Mama sudah tahu dari Tommy. Dan Tuhan tidak pernah salah dalam memberikan pertolongan pada umatnya. Kau memang di takdirkan berjodoh dengan Frans." mata Andini sudah sembab dengan airmata, ia merasakan kebahagiaan, setelah fanny dan Frans di temukan.


"Terima kasih Mah! Mama sudah merestui hubungan aku dan Frans." menciumi punggung tangan Andini berkali-kali.


"Iya sayang, segeralah menikah dengan Frans. Mama tidak ingin buat kesalahan untuk yang kedua kalinya."


"Fanny! terdengar suara lembut Delena dan duduk di pinggir ranjang, menatap haru.


"Kak Dena! maafkan Fany kak! Fany memeluk Delena "Hiks... Fany sudah merepotkan Kaka, dengan tidak mendengarkan nasehat kakak "


Mengelus lembut punggung fanny "Tidak fanny, kakak juga bersalah, tidak bisa menjagamu dengan baik. tapi syukurlah kau selamat."


"Kakak tidak pernah salah. Kakak sangat baik padaku. Terimakasih kak, selalu ada buatku."


"Fanny! panggil Siska dengan mata berkaca-kaca.


"Tante Siska! Hiks...


Mereka saling berpelukan melepas rindu "Kau memang keponakan Tante yang bandel dan keras kepala."


"Ma'afkan Fanny Tante." hiks...


Mereka semua saling berangkulan. Fanny tersenyum bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.


'


'


'


@Bersambung........


Yuk ikuti Novel "SUAMIKU SEORANG CEO"


__ADS_1


__ADS_2