
"Terima kasih Reno, kau memang anak yang baik" mengelus lembut pipi Reno. "Ibu bangga padamu, ibu sangat menyayangi kalian berdua.' sebuah pelukan hangat dari Delena dan Reno.
"Sayang sudah waktunya berangkat ke kantor"
"Astaga, aku melupakan janjiku pada Client." Reno menoleh pada arlojinya "Aku berangkat dulu bu" mencium punggung tangan Helena.
"Hati hati dijalan Reno"
"Iya bu"
"Sayang, aku berangkat ya" mencium kening dan bibir istrinya.
"Iya Mas, hati hati dijalan ya."
Reno melangkah pergi meninggalkan ruangan makan menuju parkiran.
"Delena, bolehkah ibu pergi ke mansion, sepertinya ibu kangen dengan rumah itu tempat dimana dulu kita pernah tinggal bersama, ibu ingin mengingat kembali kenangan masa lalu kita saat bersama kau, Davina dan ayahmu"
"Tentu saja Ibu, aku pun sangat merindukan mension itu, baiklah kita akan berangkat siang ini aku ikut bersama ibu."
"Siapa sekarang yang tinggal di mansion itu nak."
"Oh iya aku lupa menanyakan pada mas Reno, karena selama aku koma aku tidak pernah tau lagi tentang mansion itu bu, tapi tidak ada salahnya kita melihat mention itu, aku akan minta ijin sama Mas Reno dulu"
@@@
"Pagi Tuan, ada asisten frans di dalam ruangan sedang menunggu" kata Anita, memberi hormat
"Oke makasih."
"Ceklek."
"Pagi Tuan Reno" membungkuk memberi hormat.
"Apa kau sudah benar-benar sehat Frans?"
"Sudah Tuan."
Reno berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya, menoleh pada frans sekilas lalu membuka lembaran file didepannya. "Sepertinya kau masih sakit frans, hidung mu merah"
"Iya sedikit flue Tuan"
"Ahh,, gara gara semlam aku mengejar fanny kelaut, pulang dengan pakaian basah, alhasil aku terserang flue." frans membatin.
"Aachimmmm"
"Yakin bisa meeting hari ini Frans?"
"Yakin Tuan."
"Tuan Yamasake sudah datang?"
"Sudah setengah jam yang lalu menunggu di ruangan meeting."
"Oke kalau begitu sekarang kita ke ruangan meeting."
Reno dan Frans berjalan ke keluar menuju ruangan meeting. Frans membuka pintu untuk Reno masuk kedalam ruangan meeting, dan mendudukkan tubuhnya di kursi berhadapan dengan para investor.
"'Selamat Pagi semua" sapa Frans ramah.
"Pagi Presdir, pagi tuan Asisten" mereka berdiri memberi hormat.
"Pagi ini kita akan membahas perkembangan teknologi super yang akan kami luncurkan pada awal bulan, persiapannya tinggal 20% lagi. Semua barang produksi bisa masuk pasaran dalam dan luar negri. Untuk keterangan selanjutnya kami serahkan pada Tuan Reno Mahesa sebagai pembicara."
"Silahkan Tuan Reno"
Reno berdiri di depan layar yang terpasang di dinding, ia mulai menerangkan peluncuran sebuah produk, tiba-tiba ponselnya bergetar, Reno mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat nama istri kesayangannya di layar ponsel.
"Maaf aku nerima telepon sebentar."
__ADS_1
Demi istri kesayangannya Reno hentikan meeting itu, ia berjalan agak menjauh.
"Halo Sayang, ada apa menelpon?"
"Apakah aku mengganggu Mas?"
"Aku sedang meeting sayang, ada apa katakanlah."
"Maaf Mas kalau mengganggu, aku hanya ingin minta izin kalau aku dan ibu akan pergi ke mansion, sudah lama aku tidak pernah datang ke mansion lagi dan ibu ingin menengok rumah itu Mas."
"Ya sudah tapi jangan terlalu malam pulangnya, Zevano dan Zevana jangan dibawa serta, karena penyakit virus belum selesai."
"Iya Mas aku tidak membawa si kembar kok"
"Ya sudah kalau gitu mas mau terusin meeting dulu yank."
"Iya Mas"
"Muaaaacchhh... hati hati dijalan yank, i love my wife"
"I love you too my husband."
Reno berjalan kembali ketempat nya berdiri. "Tadi sampai di mana bahasan kita?" Reno kembali menerangkan pembahasan yang tadi terputus.
"Aachimmmmm!
"Aachimmmmm!
Reno menatap datar wajah frans yang bersin berkali-kali. "Asisten Frans apa meeting ini bisa dilanjutkan?'
"Tentu saja Tuan, silakan"
@@@
Helena dan Delena masuk ke dalam mobil, seorang supir pribadi melajukan mobilnya menuju kediaman Darwin, dua jam kemudian mobil sudah sampai di depan gerbang Mansion. Saat ingin masuk mobil Delena di tahan oleh satpam penjaga pintu.
"Nona kita tidak bisa masuk."
Helena turun dari mobil mengikut langkah Delena yang langsung keluar berjalan kearah empat orang satpam yang sedang berjaga.
"Siapa yang berani melarang Delena Ayundia Darwin Sanjaya masuk kedalam mansion nya sendiri!"
"Maaf anda ini siapa?!"
"Aku pemilik mansion ini, anak dari Darwin Sanjaya!"
"Ohh maaf Nona, tapi kami ditugaskan untuk melarang tamu masuk tanpa undangan."
"Undangan apa?!
"Acara Arisan sosialita Nyonya Sonya"
"Apa Sonya?! jadi sonya belum hengkang dari mansion Papa ku!" ucap Delena geram dengan sorot mata tajam.
"Jadi Sonya masih tinggal di mansion ini?" tanya Helena bingung.
"Selama aku koma, mungkin mas Reno tidak fokus mengurus mansion Papa, jadi Sonya kembali lagi ke rumah ini" Delena menarik nafas dalam dan dihembus kannya kasar.
"Ibu tenang saja biar semua ini aku yang urus,"
"Kalian minggir semua, aku dan ibuku ingin masuk ke dalam mansion ini."
"Tidak bisa Nona, tanpa kartu undangan!"
"Aku ini istri dari Presdir Reno Mahesa, kalau suamiku yang turun tangan langsung, habis kalian semua! ini mansion milik ku, aku berhak masuk! bentak Delena dengan nafas tersengal sengal.
"Delena sabar nak"
"Bagaimana aku bisa sabar bu kalau mereka melarang kita masuk kedalam mansion kita sendiri."
__ADS_1
'Ingat kalian semua! aku akan telpon suamiku untuk menyuruh 10 bodyguard datang kemari dan melempar kalian semua ke jalanan, kalian pasti sudah dengar nama "Reno Mahesa" bukan?!"
Mata mereka saling bersitatap dan menganggukkan kepala satu sama lain, lalu membuka gerbang pintu, Delena dan Helena masuk melewati gerbang itu dan berjalan kedalam.
Saat sudah di depan pintu, Delena di kejutkan dengan ibu ibu sosialita bersama beberapa berondong yang sedang bersenda gurau. Delena tidak melihat sosok Sonya di antara mereka.
"Selamat siang ada apa rame rame disini?! tanya Delena sambil berjalan dan melipat kedua tangan didada.
Semua mata tertuju pada Delena yang berdiri tenang dengan ekspresi dingin "Haiii siapa anda datang datang menegur kami?
"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kalian masuk kerumah ku tanpa seijin pemiliknya."
Mereka saling bersitatap ada bingung dan berbisik bisik satu sama lainnya. Tak lama datang wanita cantik paruh baya dari dalam ruangan dan ia terkejut, matanya membulat sempurna melihat Delena dan Helena berada di ruangan itu.
"Kau! menunjuk Delena dan Helena "Mau apa kau kemari?! bentak Sonya.
"Ahh,, kesempatan aku untuk membalas sakit hati ibu pada ular ini, aku akan permalukan ular berkepala dua ini didepan teman teman sosialitanya!" batin Delena tersenyum licik.
"Justru aku yang bertanya, kenapa Tante masih berada di mansion ini!" sudah jelas ini mansion ku dan akan aku alihkan untuk ibuku yang kau sakiti selama bertahun tahun!"
"Apa maksud mu Hah! mansion mu? kau mimpi Delena, aku sudah membelinya dari Kaka mu Davina!"
"Apa?! Helena terkejut sambil membekap mulutnya tak percaya.
Sonya menatap sinis wajah Helena "Haii Helena, apa kabar mu? ku kira kau sudah tidak pernah kembali lagi" ucap Sonya cetus.
"Apa maksud bicara mu nenek tua! Delena berjalan maju mendekat, kau mau menghina ibuku? sudah cukup bertahun tahun ibu menderita karena kau pelakor!"
"Haii... kalian dengar semua, dulu wanita ini!" menunjuk wajah Sonya "Pernah di tolong ibuku tinggal di mansion ini bersama anaknya dengan berpura-pura baik, tapi apa balasannya, di belakang ibuku wanita ular ini berani merayu Papa ku, akhirnya keluarga kami hancur dan terpisah gara gara wanita pelakor ini!
Semua mata tertuju pada Delena, Helena dan Sonya, mereka saling berbisik-bisik kembali.
"Cukup kau tak pantas bicara begitu di depan teman-temanku!"
Delena menatap sonya dari atas sampai bawah. "Ular tetap saja ular, walau kau merubah seluruh wajah mu agar terlihat awet muda, melangsingkan body mu agar terlihat menarik, dan membesarkan dada dan bokong mu agar terlihat menggoda, apa untungnya?! kau ingin melawan kodrat mu! Pria yang duduk disana" menoleh pada empat orang berondong yang sedang bingung "Mereka semua hanya ingin uang mu saja!"
"Cukup! cukup! kataku cukup! teriak Sonya, tangan Sonya akan melayangkan tamparan ke wajah Delena, tapi sebuah tamparan keras sudah mendarat di pipi Sonya, sebelum ia menampar Delena.
"PLAKK!
"Aaaauuuuuww!"
Berengsek kau Helena berani menampar wajah ku!"
"Seharusnya sudah dari dulu aku menampar wajahmu, tapi baru sekarang aku lakukan!" ucap Helena lantang.
'
'
'
'
'
'
BERSAMBUNG 😍
@Author udah lebih dari 1300 kata ya, sekarang kalian dukung Author dengan cara
@VOTE
@LiKE
@RATE BINTANG 5
@KOMENTAR MU
__ADS_1
@karena ada beberapa reader yang komplen dengan nama anak kembar Delena dan Reno, jadi Author balik nama semula ya "Zevano dan Zevana😊