ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Jangan Pergi ..


__ADS_3

KREKK...


Suara pintu terbuka lebar, keluar Dokter Agung dari ruangan UGD. Reno dan vano beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat.


"Bagaimana keadaan istriku..?! tanya Reno tak sabar.


Terlihat wajah Dr Agung menegang, dengan wajah pucat dan keringat jagung keluar dari pori-pori kulitnya.


"Ma'af tuan. Aku....


"Cepat katakan! menatap tajam wajah Dr Agung


"Dad! sabar dulu, biar Dokter Agung menjelaskan." ujar Vano mengusap punggung Ayahnya.


Reno terdiam, amarah nya mulai menurun, namun, wajah tegang masih terlihat.


"Tuan Reno dan tuan muda. Saya bersama tim minta Ma'af yang sebesar-besarnya. Kami sudah berusaha semampu dan sebisa kami. Namun...." Dokter Agung tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya, ia membetulkan kacamata minusnya yang terlihat grogi.


Nafas Reno sudah memburu ia tak sabar untuk mendengar langsung dari bibir Dokter muda itu, anak dari Dokter Iskandar yang menangani rumah sakit Ramon, Ayahnya. Reno menarik kasar jas putih itu "Ku bilang katakan! teriak Reno.


"Nyo-nya Delena..."


"Ada apa dengan istriku, Hah?!


"Kandungan nya tidak bisa di selamatkan..." ucap Dokter Agung sedih, dengan wajah tertunduk.


"Aaagghhh.."


BUG!


Reno kembali menghantam wajah Dokter Agung.


"Dad! sudah cukup Dad! teriak Vano menarik Ayahnya yang semakin kalap.


"Lebih baik Daday lihat kondisi Mommy, daripada terus melempar kesalahan pada Dokter Agung." ucap Vano menenangkan Daddy nya.


Reno tidak lagi berontak, ia mendengarkan ucapan anaknya dan berlari masuk kedalam ruangan UGD. Matanya menyoroti sebuah ranjang, ia berjalan mendekat dengan lesu. "Delena..." panggil Reno lirih. Ada selang oksigen di hidung dan selang infus ditangan kanannya.


"Sayang... ma'afkan aku yang tidak bisa menjagamu dan bayi dalam kandungan mu." tubuh Reno lemas dan jatuh terduduk di kursi samping ranjang, menatap nanar wajah istrinya yang pucat karena kehabisan darah.


"Delena, bangun sayang.. aku mohon buka matamu." mengusap pucuk rambutnya dan menggenggam erat tangan Delena yang masih terdiam tak bergerak. "Sayang, kenapa tangan mu dingin? dan bibir mu membiru?! Reno mulai tak tenang dan gusar, raut wajahnya menggambarkan ketakutan yang mendalam. Nafasnya mulai memburu tak beraturan, keringat jagung keluar dari pori-pori kulitnya, dadanya begitu sesak mendapati istrinya tak lagi bergerak sama sekali. Delena tak merespon panggilan suaminya, Reno terus mengguncang tubuh Delena yang sudah kaku.


"Delena! bangun Delena....!" teriak Reno. Pecah sudah tangisannya yang semakin pilu. Dua orang Dokter memegangi tubuh Reno yang sudah terguncang hebat.


"Delena...." lepaskan! teriak Reno, terus berontak dan terlepas dari pegangan kedua Dokter itu "Sayang jangan pernah tinggalkan diriku..." kedua tangan Reno menyentuh wajah istrinya, airmata jatuh membasahi wajah Delena yang membiru "Sayang, aku takkan sanggup kehilangan dirimu, jangan pergi Delena... jangan tinggalkan aku!" Reno terus berteriak histeris saat ranjang istrinya di bawa pergi oleh tiga orang suster.


"kalian mau bawa kemana istriku! jangan bawa istriku pergi..! hey kalian dengar tidak! mau kalian bawa kemana istriku, Hah!

__ADS_1


Suster dan para Dokter hanya membisu, tanpa peduli teriakan Reno yang semakin histeris.


"Tunggu! jangan bawa istriku pergi..."


"Daddy! sadarlah Dad...." Vano mengguncang bahu ayahnya pelan.


DEG! seketika Reno tercengang dengan ekspresi putus asa.


"Vano! dimana Mommy! mereka membawa Mommy pergi!"


"Iya Dad, Mommy sudah di bawa pergi."


"Apa...? Mommy sudah mereka bawa pergi!!! Kenapa kau hanya diam saja, Vano!" Reno tidak bisa menahan emosi pada anaknya.


Reno kembali menangis penuh penyesalan, tak peduli suster dan Dokter yang melewati ruangan itu hanya menjadi penonton tanpa bisa berbuat apa-apa. Sebab mereka bingung dengan kondisi pemilik rumah sakit itu.


"Dad! jangan seperti ini." Vano memeluk tubuh Ayahnya agar tidak terus terguncang.


"Kenapa mereka membawa Mommy mu pergi, Daddy tidak bisa kehilangan Mommy mu, hidup Daddy akan hancur bila harus kehilangan Mommy." hiks...


"Suster membawa Mommy kerungan rawat inap dan Mommy dalam keadaan baik-baik saja."


"Apa..?! Reno mengurai pelukannya dan menatap dalam wajah Vano, mencari kebenaran dari matanya. "Apa kau sengaja berkata begitu, hanya untuk membuat Daddy tidak kecewa, bukan?!


Tiba-tiba datang Dokter Agung dan dua orang Dokter yang menangani Delena.


"Dimana istriku?! kalian berdua kan yang tadi membawa istriku pergi! mereka saling bersitatap, Reno berjalan mendekat dan menarik jas putih salah satu Dokter "Dimana istriku kalian bawa, Hah!"


Reno terkejut, ia menoleh pada Vano dan sebuah anggukan kepala menandakan ucapan Dokter Faris benar. Reno menarik nafas dalam dan dihembuskan kasar, ada kelegaan dari nafasnya yang sejak tadi sangat emosi.


"Hahahaha.... ternyata aku hanya bermimpi!" Reno terlihat bodoh dan menertawakan dirinya sendiri "Ku pikir istriku telah pergi meninggalkan ku!"


"Bagaimana dengan anak ku." menatap ke-tiga Dokter itu bergantian.


"Alhamdulillah, bisa di selamatkan tuan. kandungan Nyonya sangat kuat, dan denyut jantungnya masih terdengar." kini Dokter Agung yang berbicara.


"Ahhh... Delena." Reno tanpa malu mengusap airmata yang sudah jatuh dari sudut matanya.


"Vano ayo, kita temui Mommy mu."


Vano mengangguk. Reno dan Vano di ikuti tiga Dokter itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit, menuju bangsal tempat rawat inap Delena.


Pintu ruangan terbuka, Vano sama Reno masuk kedalam ruangan Delena, ketiga Dokter itu pergi setelah berpamitan pada pemilik rumah sakit.


Reno berjalan mendekat "Sayang..." menyentuh tangan istrinya dan menatap wajah Delena sendu. Vano tidak tidak ingin mengacaukan momen kebersamaan kedua orang tuanya, ia berjalan keluar ruangan dan menunggu di depan.


Reno duduk di tepi ranjang, mencium kening istrinya dan meraih tangannya seraya menciumi punggung tangannya, satu tangan Reno menyentuh perut istrinya lembut yang sudah terlihat berisi.

__ADS_1


"Sayang, ma'afkan suamimu yang egois ini, aku hampir gila bila kehilangan mu, terima kasih sudah menjaga anakku. Walau sejujurnya aku sadar telah membuat kesalahan dengan tidak membolehkan mu hamil lagi, karena trauma ku yang begitu besar.


Delena menggeliat dan membuka matanya perlahan, matanya berbayang, ia menyipitkan matanya untuk melihat jelas sosok laki-laki di depannya. Kini mata Delena melihat jelas suaminya yang sudah sembab dengan airmata.


"Mas..." panggilnya pelan


"Delena, kau sudah sadar..? terimakasih Tuhan.., Sayang ma'afkan suamimu ini ya."


Delena terus menelisik wajah suaminya yang merasa bersalah, "Iya Mas.." ucapnya, tersenyum samar.


"Terima kasih sayang." menciumi wajah istrinya bertubi-tubi. "Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi, aku sangat menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang membuat mu sakit hati, aku terlalu posesif dan pencemburu, hukumlah aku agar aku tidak buat kesalahan lagi." imbuh Reno penuh permohonan.


"Tidak Mas, aku juga bersalah telah mengecewakanmu. Awalnya aku ingin jujur dan mengatakannya kehamilan ku setelah di periksa Dr Agung. Tapi Mas tidak memberikan aku kesempatan untuk bicara. Malam itu Mas pergi begitu saja dengan emosi, sejujurnya akupun takut karena trauma Mas saat kehamilan ku dulu, Maafkan aku sudah menyuruh Frans dan Dr Agung tidak bercerita padamu, karena aku ingin langsung bicara sendiri padamu."


"Sayang... tolong maafkan suamimu ini, aku janji akan menebus semua kesalahanku." Reno menciumi kening, mata dan kedua pipi istrinya penuh kasih sayang "Sekarang aku yang akan menjagamu dan anak kita." Reno mengembangkan bibirnya, penuh bahagia.


"Kau menerima anak yang aku kandung, Mas?"


"Tentu saja, dia darah daging ku, jujur aku sangat takut kehilanganmu dan anak kita, saat melihat kau pendarahan."


"Alhamdulillah, kata Dokter Agung, anak kita sangat kuat dan masih ada denyutan jantungnya."


Ciuman Reno jatuh ke perut istrinya, dan berbisik disana "Ma'afkan Daddy ya sayang, pukul lah Daddy bila kau sudah lahir, karena sudah menyakiti mu dan Mommy."


Mendengar celoteh suaminya Delena terkekeh.


"Mas..."


"Hemm...


"Waktu itu bukan aku ingin menjauh darimu, dan tidak suka mencium parfum mu, ternyata aku sedang mengandung enam minggu. ngidam kedua kalinya sangat parah, tidak ingin dekat dengan mu, Mas."


"Iya sayang aku paham sekarang. Belum lahir saja anak kita sudah memusuhi Daddynya, sepertinya ia iri melihat aku manja padamu."


Delena tergelak, ternyata sikap bucin-suaminya tidak hilang juga walau akan memiliki tiga anak.


Sementara Vano yang mengintip dari celah pintu, bernafas lega. Permasalahan dan kesalahpahaman kedua orang tuanya telah berakhir. Kini ia baru menyadari betapa Ayahnya begitu besar cintanya pada ibunya. Bahkan Ayahnya bisa melakukan hal bodoh di depan banyak orang terutama di depan Dokter dan suster, di rumah sakit miliknya sendiri.


"Daddy... jangan pernah melakukan hal bodoh itu lagi, sebesar apapun cinta Daddy pada Mommy. Apa kau tidak malu dengan julukan Macan Asia." Vano gelengkan kepala seraya pergi meninggalkan tempat itu.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Yuk terus dukung Bunda dengan cara...


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote

__ADS_1


๐Ÿ’œGift


๐Ÿ’œKomen


__ADS_2