ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Hari Pembalasan


__ADS_3

"Jaga dirimu baik-baik di Korea, aku akan menjaga fanny untuk mu." ujar Delena tersenyum lebar.


Setelah berpamitan frans pergi meninggalkan kediaman Reno.


"Mas! kedua tangan Delena mengalungkan ke leher Reno "Mulai hari ini aku yang akan menggantikan posisi Frans."


Reno merangkul pinggang istrinya "Tentu saja sayang, sekarang kita berdua akan menghadapi rintangan bersama-sama."


Mereka tersenyum bersama, dan dua bibir itu saling berciuman di saksikan mentari pagi yang bersinar terang.


Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, Frans menghabiskan kopi diatas meja sebelum berangkat ke bandara. Ia mendorong tasnya dan memasuki pintu lift.


Dibawah supir pribadi Frans sudah menunggu, ia memberikan kunci apartemennya untuk di berikan pada Reno. Mobil berjalan meninggalkan Apartemen menuju bandara, satu jam kemudian mobil sudah sampai di bandara karena pada pagi hari jalanan belum ramai pengendara, jad terhindar dari macet.


Frans sudah berada di bandara, ia masih duduk di kursi pengunjung, bola matanya kesana kemari mencari sosok yang ia cari, frans masih setia menunggu dan belum masuk kedalam ruangan pemeriksaan karena masih berharap seseorang akan datang.


Hampir sejam menunggu tapi yang dinanti tidak kunjung datang, Frans terlihat gelisah dan tegang, helaan nafas berat keluar dari bibirnya yang bervolume, ia memijit bibirnya sambil terus berfikir.


"Kenapa kau belum tiba juga, waktuku tak banyak untuk menunggu mu" gumamnya pelan.


Suara resepsionis dari dalam bandara mulai memberi peringatan agar semua pengunjung yang berada diluar ruangan untuk segera masuk, karena dua puluh menit lagi kapal akan lepas landas.


Frans sudah pasrah, ia beranjak dari duduknya saat sudah di depan pintu pemeriksaan sebuah suara memanggil nama nya.


"Frans......


Frans menoleh asal suara itu, ia melihat Fanny sedang berlari kearahnya. Frans keluar dari barisan pemeriksaan dan berjalan kearah fanny. mereka saling berpelukan saat sudah mendekat, tidak peduli tatapan orang yang berada disekitar bandara.


"Frans maafkan aku terlambat menemui mu, karena jalanan begitu macet." hiks.. fanny begitu lega masih bisa bertemu dengan Frans, Airmata mulai jatuh dari sudut matanya.


"Tidak sayang, kita masih bisa bertemu walau sangat singkat, jangan merasa bersalah begitu." mencium kening fanny.


"Cepatlah sembuh dan cepat kembali pulang, jangan biarkan aku lama menunggumu Frans."


"Tidak akan lama sayang, secepatnya aku akan kembali, doakan aku lancar operasinya."


"Aku selalu mendo'akanmu Frans." hiks...


Frans mengusap airmata fanny " kau jangan menangis lagi ya, aku sangat berat meninggalkan mu, Jaga dirimu baik-baik nantikan aku kembali."


Fanny mengangguk sambil menagis terisak.

__ADS_1


"Aku harus berangkat sayang, panggilan tujuan ke Korea sudah mau tutup, waktu ku tinggal sepuluh menit lagi untuk masuk."


"Hiks..hiks..hiks.. Frans!


Fanny kembali memeluk Frans erat, seakan tidak ingin berpisah lagi, frans berkali-kali mencium pucuk kepala fanny dan melepas pelukannya dengan tak rela.


"Aku pergi dulu sayang."


"Hati hati Frans!


Frans menggangguk dan tersenyum manis, lalu melangkah pergi meninggalkan fanny yang masih berdiri menatap kepergiannya, saat sudah melewati pintu pemeriksaan frans memutar tubuhnya dan melambaikan tangan pada fanny sambil tersenyum, ia mengusap air matanya dengan jari sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.


"Frans...hiks, hiks, hiks, "Cepat pulang, aku takkan bisa jauh darimu." airmata itu terus mengalir deras.


"Fanny ayo kita pulang." ujar Rani sahabatnya yang datang bersama Fanny.


"Aku kehilngan separuh hidupku, frans telah membawanya pergi." hiks...


"Sudah jangan menangis lagi, bila kau seperti ini terus frans juga akan bersedih."


Fanny mengangguk dan melangkah pergi bersama Rany meningglkan bandara.


Pagi itu Reno dan Delena sudah selesai berpakaian, tentu saja Delena memakai blezer dipadu rok sepan sebatas dengkul, warna biru dongker senada dengan suaminya, Delena terlihat cantik dan feminim beralas high heels menambah pesona pada penampilannya.


"Kau sungguh cantik my honey." puji Reno menarik pinggng istrinya dan mencium bibirnya.


"Setiap pagi jangan pernah lupa, berikan kecupan yang manis untuk suamimu."


"Mas, kita ini mau ke kantor, jangan mulai lagi." Delena memperingati suaminya yang terlihat bucin.


"Ingat pesan Mas, selama dikantor nggak boleh genit apalagi sampai menatap pria yang sedang mengajak mu bicara."


Delena membelalakkan matanya, padahal semalam Reno sudah memberikan wejangan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan istrinya, hingga sampai terekam di otak Delena.


"Mas, apa sopan bila kita bicara sama seseorang harus mengalihkan pandangannya."


"Khusus untuk kaum pria!"


"Astaga Mas, percayalah pada istrimu, aku tidak akan melewati batasannya sebagai seorang istri Presdir Reno Prayoga Mahesa." rayu Delena mencium pipi suaminya.


"Baiklah aku percaya padamu, jadilah asisten yang baik saat berada dikantor."

__ADS_1


"Tentu saja sayang, aku akan meringankan bebanmu."


Mereka berdua turun kebawah menuju meja makan, sebelum berangkat pergi Delena dan Reno sarapan bersama ditemani Helena dan si kembar. Setelah berpamitan pada Helena dan mencium kedua anak mereka, Delena dan Reno masuk kedalam mobil, mobil pergi meninggal kan mansion.


Satu setengah jam kemudian mereka sampai di depan gedung perkantoran milik 'Mahesa group" seorang satpam membukakan pintu mobil untuk Tuannya, Delena dan Reno turun dari mobil dan mereka berdua masuk kedalam gedung, kaki jenjang Delena yang putih berjalan dengan langkah pasti dan percaya diri, semua karyawan terpesona dan berdecak kagum melihat sepasang suami istri yang cantik dan tampan itu berjalan bersama dengan Aura kehadiran yang mempesona. Semua karyawan membungkuk memberi hormat dan menyapa dengan sopan, Delena mengangguk dan tersenyum manis.


Mereka berdua sudah keluar dari pintu lift dan berjalan kearah ruangan Reno. saat melewati meja sekertaris, Arneta menatap iri pada kemesraan mereka berdua, terlihat wajahnya yang memerah menahan kesal saat Delena dengan sengaja merangkul tangan Reno mesra.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya." sapa Arteta, membungkuk.


"Arneta, hari ini tugasku menggantikan posisi Frans, jadi kalau mau memberi laporan pekerjaan, tolong kau berikan kepadaku dulu, jangan masuk kedalam ruangan presdir Reno tanpa seizin ku, dan melalui akulah yang akan mengantarkan pada Presdir Reno Mahesa, kau mengerti bukan?!"


Arneta menahan kekesalan dan menatap sinis pada Delena dengan mata tertunduk. "Baiklah Nyonya." tersenyum dipaksa.


"Suamiku sayang, sampai disini saja aku mengantarmu, kau masuklah kedalam ruangan mu jangan biarkan buaya betina menggoda mu." Delena tersenyum sumringah, ia sengaja mengatakan itu didepan Arneta, karena ia tau Arneta adalah Anjali, Delena selalu mengingat kejadian dimana dulu Anjali sengaja merekam percakapan percintaannya dengan Reno saat di Bali, lalu mengirimkannya memakai ponsel Reno, yang sebenarnya tanpa sepengetahuan Reno. Delena terluka dan sakit hati, padahal ia sudah membuka hati untuk Reno saat itu. karena ulah Anjali Delena pergi dari sisi Reno dalam keadaan hamil, tanpa ia sadari sedang mengandung si kembar. Anjali lah yang telah memisahkan dirinya dari suaminya Reno. saat itu Delena yang sudah terluka dengan sikap Reno, hampir saja ikut bersama Arya ke Australia. kini Delena ingin membalas sakit hatinya yang sudah Anjali berikan. ia tidak ingin terlihat lemah seperti dulu lagi.


"Cup! Cup! selamat bekerja sayang." Delena mencium pipi dan bibir Reno didepan Anjali. seringai licik dibibir Delena, Arneta menarik nafas dalam dadanya bergemuruh, detak jantungnya berdebar cepat, kedua tangannya mengepal menahan amarah.


"Aku akan terus memancing mu Arneta, sampai kau mengakui sendri kalau kau adalah Anjali!" Batin Delena tersenyum puas.


"Cup! Cup! Reno membalas ciuman istrinya di kening dan bibir "Iya sayang, jangan lupa hari ini ada meeting, kau harus siapkan materinya."


"Iya Mas!"


Reno berjalan dan masuk kedalam ruangannya.


"Selamat bekerja Nona Arneta! ku harap kita bisa bekerjasama dengan baik!" ucapnya sinis.


Delena berjalan pergi meninggalkan Arneta, terlihat sorot mata tajam Arneta dengan tatapan membunuh.


'


'


'


'


'


'Bersambung😍

__ADS_1


__ADS_2