
"Sebentar Mas mau ke ruangan kerja dulu, ada urusan sebentar."
Setelah mencium kening istrinya Reno berjalan keluar kamar menuju ruangan kerjanya, ia mulai menghubungi seseorang.
"Malam Tuan."
"Kau cari wanita bernama Jane, patahkan kaki kanannya agar ia tidak bisa berjalan lagi!"
"Apa kami langsung habisi saja wanita itu tuan."
"Tidak perlu, membuat Jane cacat sudah cukup peringatan untuk Sonya dan Handoko!"
"Siap Tuan,"
Reno tersenyum puas dan melangkah kembali kedalam kamar.
"Sayang, Mas mandi dulu yah."
Seperti biasa Delena melepas kancing kemeja suaminya dan menaruh baju kotor itu di keranjang, saat melihat istrinya berjalan tertatih Reno merasakan sedih yang mendalam.
"Sayang, kau jangan banyak berjalan dulu, selesai mandi nanti mas urut ya." mengangkat tubuh istrinya dan menaruh diatas ranjang. "Ingat diam disana jangan turun dari ranjang." perintah Reno yang dianggukan kepala oleh Delena.
Selesai mandi dan berpakaian Reno mengambil minyak urut dan duduk di pinggir ranjang. Ia memegang kaki Delena yang membiru dan mulai mengurut kakinya yang sudah membengkak dengan perlahan.
"Mas beneran bisa mengurut?"
"Apa kau tidak percaya dengan suamimu ini?"
"Aaaaaahhkkkk! Delena menjerit "Pelan pelan Mas itu sangat sakit."
"Kalau tidak diurut akan semakin bengkak besok, ini juga pelan pelan yank."
Keringat dingin keluar dari pori-pori kulit Delena, ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit, perutnya seakan diaduk aduk menahan sakit dan ngilu, tak terasa airmata menetes dari sudut mata Delena.
"Sakit Mas..." hiks, hiks, hiks, rintih Delena.
Reno menyudahinya, mendekat pada Delena yang menangis terisak, memeluk istrinya untuk memberikan ketenangan. "Sudah agak enakan? gak begitu sakit lagi kan." Delena menggangguk pelan sambil mengalungkan kedua tangannya dileher Reno, dengan lembut penuh kasih sayang Reno mencium bibir istrinya.
"Mas katanya mau makan?"
"Sepertinya tidak yank, ini sudah jam sepuluh malam tidak baik makan di jam segini, apa kau lapar?"
"Tidak Mas, akupun jarang makan malam."
"Kalau begitu mas ambilkan potongan buah ya dan juga susu untuk mu."
"Mas nggak usah turun, biar pelayan saja yang membawakan."
Mengusap lembut kepala istrinya "Nggak apa apa, sekali kali Mas manjakan istri mas sendiri."
"Terima kasih Mas." Delena berinisiatif mencium bibir Reno.
"Wah istriku sudah mulai genit." Reno terkekeh.
__ADS_1
Reno berjalan keluar kamar untuk mengambil buah didapur, karena bosan Delena mngambil ponsel, terdengar suara pesan masuk dan ia membuka sebuah pesan.
"Bos jane kabur dari mansion, tapi kami berhasil menemukannya tinggal memberikan tindakan padanya?"
Delena terkejut, ia salah mengambil ponsel, memang Reno dan Delena memiliki ponsel yang sama keluaran limited edition. Ponsel itu diletakkan diatas nakas, siapa sangka Delena membaca pesan masuk itu. "Ya Allah apa sedang Mas Reno lakukan dengan Jane?"
Pesan kedua masuk kembali.
"Tuan, kami menunggu perintah dari tuan, apakah patahkan kakinya sekarang juga."
Seketika Delena menangis membaca pesan masuk dari orang suruhan Reno. Hatinya sungguh tak tega, hanya karena Jane menendang dirinya harus membayar dengan sebuah satu kaki.
Reno masuk kedalam kamar dengan membawa nampan berisi potongan buah dan susu putih ditangannya. Reno kembali bingung melihat Delena menangis kembali, ia menaruh nampan diatas meja. "Apa kaki mu masih sakit yank?"
Delena tidak menjawab ia terus menangis terisak, Reno melihat sebuah ponsel ditangan nya dan mengambil dari tangan Delena, ia membuka sebuah pesan, alangkah terkejutnya Reno saat Delena tau perbuatannya.
"Sayang...?"
"Mas!" menatap wajah Reno dengan ekspresi sedih. "Sampai kapan Mas mau berubah, aku tidak ingin mas balas dendam dengan cara seperti itu."
Reno menghela nafas dalam dan dihembus kannya kasar "Aku tidak ingin siapapun melukai keluarga ku, apalagi menyangkut dirimu sayang."
"Tapi tidak harus mematahkan satu kaki Jane, akupun sudah melintir tangannya, bagiku kita sama sama impas, jangan melewati batasannya Mas! aku mohon lepaskan Jane jangan lukai dia yang akan membuatnya cacat seumur hidup."
Reno terdiam ia mulai merenung perkataan istrinya.
"Mas, bagaimna bila itu terjadi padaku, dan aku berada di posisi Jane, apakah Mas dan ibu tidak akan sakit hati dan bersedih? aku masih memiliki hati nurani Mas."
Reno menarik Delena dalam pelukannya "Maafkan Mas yank, mas hanya tidak ingin kau terluka, melihat kakimu membiru membuat mas terluka dan sakit hati." Reno menekan nomor ponsel dan menghubungi seseorang.
"Batalkan mematahkan kaki Jane."
"Apa Tuan? tapi wanita itu ingin kabur dan kami sudah menangkapnya."
"Jangan biarkan wanita itu pergi keluar negeri, kembalikan dia ke mansion, karena aku masih ada urusan dengan Handoko dan Sonya, cukup kau beri peringatan pada Sonya."
"Baik Tuan, laksanakan."
"Aku sudah menuruti permintaan mu, tapi bila Jane atau Sonya melakukan ini lagi, aku tidak akan segan untuk menghabisinya!"
Reno mengambil gelas berisi susu, memberikannya pada Delena "Minum lah susunya agar kau tenang." Delena meminum susu itu hingga setengah gelas.
"Sekarang makan buahnya." Reno menusuk potongan buah apel dengan garpu dan memasukkan kedalam mulut Delena.
"Mas juga makan buahnya."
Satu piring buah sudah habis.
"Sekarang waktunya kita tidur" kepala Delena bersandar pada lengan Reno sebagai bantalnya, mereka saling berpelukan, satu tangan Reno mengusap lembut pucuk kepala istrinya, hingga mata keduanya terpejam.
@@@
Seperti biasa Tommy harus membuat laporan keuangan perusahaan milik Darwin yang berada di bawah naungan perusahaan Reno.
__ADS_1
Sebuah pesan singkat masuk, Tommy yang sedang mengetik di atas keyboard berhentikan kegiatannya, ia mengambil ponsel dan membuka pesan.
"Jemput aku di bandara."
"Siksa sudah pulang dari Bali, aku harus menjemputnya, tapi tugas laporan ini belum selesai." Tommy berfikir sejenak dan membalas pesan itu.
"Baiklah tunggu aku."
Ia menutup laptop didepan dan berjalan ke kamar mengambil handuk, masuk kedalam kamar mandi.
Tommy sudah selesai dengan pakaian casual, kemeja kotak kotak dipadu celana jeans, walau usianya sudah terlihat matang tapi penampilan dan gayanya masih terlihat cool. Body Tommy yang Atletis menambah daya tarik pada dirinya. kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya, ia berjalan keluar meninggalkan apartemen.
Dua jam dalam perjalanan ia sudah sampai di bandara internasional, Tommy memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk kedalam mencari sosok Siska.
Setelah melewati pintu pemeriksaan, Tommy melihat sosok wanita cantik berkacamata hitam berjalan kearahnya sambil membawa tas dorong, sebuah senyuman tersungging di bibir Tommy, wajah Siska berbinar cerah saat melihat sosok Tomy datang menjemputnya.
Dari belakang Siska seorang gadis remaja memanggil nama Tommy dan berlari melewati Siska.
"Kak Tommy..."
Gadis itu langsung memeluk tubuh Tommy. Siska menghentikan langkahnya dan menatap dalam pemandangan didepannya.
Tommy terperanjat kaget, ia mengamati wajah seorang gadis yang sedang memeluknya.
"Siapa kau?"
"Ini aku kak? gadis itu melepas topinya "Aku Arneta adiknya kak gilang" gadis cantik itu tertawa cekikikan.
”Arneta?" ya Tuhan, kau dengan siapa kemari?
"Aku sendiri kak, nanti kak gilang akan menyusul ku kemari."
Tommy terlihat kikuk, ia bingung harus bagaimana, apalagi melihat wajah Siska yang mulai jutek.
"Arneta, tunggu sebentar disini, Kaka mau menjemput atasan kaka dulu" Tommy berjalan kearah Siska berdiri.
"Biar aku bawakan kopernya."
"Tidak perlu! ucap Siska cetus dan berjalan meninggalkan Tommy.
"Sis.. siska tunggu."
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
@BERSAMBUNG.🥰