ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Keinginan Bella.


__ADS_3

"Ya sudah nggak apa-apa Dek, kakak sama Dev yang jenguk, kamu pulang sama pak Yanto."


"Oke kak! salam saja buat Bella ya."


Usai pulang sekolah Vano dan Dev pergi ke rumah sakit memakai motor Dev. Vana pulang bersama Pak Yanto pergi ke swalayan untuk membelikan kado.


Vano melajukan motornya bersama Devan menuju rumah sakit. Satu jam perjalanan motor masuk kedalam pelataran rumah sakit. Mereka berdua berjalan menuju ruangan rawat inap Bella melewati lorong-lorong rumah sakit.


"Mas Vano! sapa seseorang


Vano dan Dev berhenti, mereka menoleh sumber suara itu.


"Dokter Nico!


"Siang Mas Vano! menjabat tangan Vano dan Dev.


"Mas Vano ingin bertemu dengan Bella?


"Iya!


"Bella ada di ruangan terapi, tadi ia sempat bilang padaku, ingin bicara dengan Mas Vano empat mata."


"Ohh, baiklah aku akan kerungan terapi."


"Silakan!


"Tunggu! bagaimana keadaan Bella sekarang?


"Sudah ada kemajuan, semoga ia bisa beraktivitas kembali."


"Terima kasih banyak, Dok!


Vano dan Devan meneruskan langkahnya menuju ruangan terapi. Vano berhenti di salah satu pintu dan membukanya.


JEGLEK


Vano bersama Devan masuk kedalam.


"Siang Tuan Vano? sapa seorang Dokter yang khusus terapi Bella.


Vano mengangguk dan berjalan mendekati Bella yang sedang duduk di sebuah sofa tunggal.


"Sudah selesai terapi nya Mba Bella, besok kita lanjutkan kembali." imbuh Dokter Hany tersenyum ramah.


"Terima kasih Dok! ucap Bella pelan.


"Tuan Vano, saya permisi dulu."


"Silakan Dok!


"Van, aku ke kantin dulu ya, kalian ingin bicara penting kan?"


Seperti sudah paham, Dev keluar setelah berpamitan.


Kini tinggal Bella dan Vano yang berada didalam ruangan itu. Vano membuka semua jendela dan mematikan Ac. Angin langsung menerobos masuk melalui daun jendela yang terbuka lebar. Vano menghirup udara sebanyak mungkin, karena terasa sejuk di hidung.


"Bagaimana keadaan mu Bel? tanya Vano setelah membuka jendela didalam ruangan, ia duduk kembali di sofa samping Bella duduk. Raut wajah Bella terlihat cerah, tidak pucat saat pertama kali, pipinya sudah berisi tidak tirus lagi. Dulu saat terkena morfin tidak ada gairah hidup dengan mata celong. Kini semuanya sudah kembali seperti semula, Bella yang cantik dan ceria, tidak ada lagi guratan kesedihan dan keputusasaan di matanya.


"Aku sudah merasa baikan, terimakasih Vano atas semua kebaikan mu dan Vano, aku tidak akan bisa membalasnya."


"Kita ini teman satu kelas, sudah seharusnya kita saling membantu."

__ADS_1


Bella berdiri dan berjalan kearah jendela. Angin masih bertiup sepoi-sepoi. Rambut panjang Bella bergerak kesana-kemari dan menerpa wajah cantiknya "Vano! ucapnya lirih. seraya membetulkan anak rambutnya yang diterpa angin.


Vano beranjak dari Sofa dan berjalan kearah jendela, berdiri di samping Bella.


"Ada apa Bell..?


Seketika mata Bella berembun, tatapannya masih tertuju pada jalanan raya di depannya.


"Aku harus pergi!' ucapnya lirih dengan wajah tertunduk.


"Deg! seketika darah Vano berdesir, ada perasaan perih mendengar Bella akan pergi.


"Apa maksud mu Bell? kau mau pergi kemana? Vano mengerutkan alisnya, menoleh wajah Bella yang masih menatap jalanan raya di depannya.


"Aku akan pulang ke Polandia, Keluarga Ayahku meminta aku tinggal dan meneruskan sekolahnya sana, mereka sangat marah sama ibuku saat tahu keadaan ku yang sebenarnya."


Vano menarik nafas dalam-dalam seakan menetralisir hatinya yang terus bergejolak "Apa ibumu akan melepaskan mu begitu saja?


"Ibu sudah tidak bisa berbuat apa-apa, kelurga Ayah akan menuntut ibuku dan mengadukan ke Komnas HAM karena telah menelantarkan aku."


Vano menatap wajah Bella dengan ekspresi sedih "Apa kau akan menyetujui untuk tinggal di Polandia?


Bella menoleh wajah tampan Vano, kini mata keduanya saling bersitatap, ada getaran yang berbeda dari jantung keduanya. Bella menatap mata teduh itu, mata Pria pujaannya yang selama ini ia pendam, Cinta di usia beranjak 15 tahun banyak mengatakan cinta pertama, atau bisa juga di bilang cinta Monyet' begitu lah istilah anak-anak jaman sekarang.


Bella mengangguk "Iya! aku akan tinggal bersama Ayahku. Sebenarnya aku juga tidak ingin meninggalkan ibuku, namun ini adalah keputusan ku, aku juga ingin ibuku hidup bahagia dengan pendamping hidupnya yang baru." hiks.. butiran bening itu sudah jatuh menetes. "Aku juga tidak ingin kehilangan kalian berdua yang sudah banyak menolong ku, bagiku kau dan Vana adalah sahabat ku! hiks... tangisan Bella semakin dalam, Vano mendekat dan memeluk erat tubuh Bella.


Bella yang tak menyangka akan mendapat sebuah pelukan dari pria yang ia cintai, membenamkan wajahnya di dada Vano yang mulai terlihat berisi, wangi tubuh Vano membuat Bella tidak ingin melepasnya.


"Aku akan sangat merindukan kalian berdua." hiks...


"Tes! Sudut mata Vano menetes kristal bening, ia pun akan merasakan kehilangan Bella, gadis yang sudah seperti saudara baginya. Terdengar nafas Vano yang tak beraturan menahan sesak di dadanya.


"Ku mohon, jangan pernah lupakan aku? Bella mendongakkan kepalanya, netra mereka saling bertemu, Vano mengusap airmata Bella "Tidak akan pernah aku dan Vana melupakan mu, aku berharap kau akan pulang kembali."


Vano mengangguk dan tersenyum samar.


Bella kembali membenamkan wajahnya kedada Vano "Terima kasih Vano, tunggu aku kembali membawa keberhasilan dari negara Ayahku." Vano mengusap lembut rambut panjang Bella. Mereka berdua terhanyut dalam pikiran masing-masing dan merasakan kehangatan dalam pelukan berbeda jenis itu.


JEGLEK


Suara pintu terbuka, Dev terkejut melihat pemandangan di depannya, dua sepasang pria dan gadis remaja sedang berpelukan. Netra kedua nya menoleh bersamaan arah pintu terbuka, seketika pelukan itu terlepas.


"Ehh, So-ry..! Devan salah tingkah dan ingin kembali menutup pintu, namun, Vano melarangnya.


"Masuklah Dev!


"Sorry, aku kira sudah selesai berbincang nya." imbuh Dev, tersenyum canggung seraya berjalan kearah Vano dan Vana berdiri.


Kini mereka berbincang bertiga, tidak lama hanya setengah jam. Lalu Vano dan Dev berpamitan pulang. Bella kembali kerungan rawat inapnya.


Saat berjalan melewati lorong rumah sakit Dev bertanya.


"Van!


"Hemm! Vano masih mengetik sebuah pesan di ponselnya seraya berjalan pelan.


"Apa kau menyukai Bella?"


Seketika Vano menghentikan langkahnya dan menatap Pria bermata empat itu "Apa yang ada dalam pikiranmu? kau jangan berpikir yang tidak-tidak."


"Tapi tadi kau dan Bella..." Dev menggantung ucapannya saat netra Vano menatapnya tajam.

__ADS_1


"Hehehehe... aku kan hanya bertanya?


"Aku dan Bella tidak ada apa-apa, hanya memberikan support, apalagi Bella minggu depan akan pulang ke Polandia!"


"What! benarkah Bella akan pindah sekolah?


"Makanya tadi Bella sedih karena harus meninggalkan Jakarta, aku hanya menenangkannya saat ia menangis."


Dev tidak bertanya lagi setelah mendapat penjelasan dari sahabatnya itu.


"Van! nanti kau jangan pernah tinggalkan aku ya, kalau kau mau kuliah kita bareng ya? imbuh Devan saat sudah di depan Lobby.


"Kau mau ikut aku kuliah di Jerman? Grandpa menyuruh aku sekolah di sana."


"Wah boleh! aku akan ikut kuliah dimana kau pergi, kau adalah sahabat ku."


"Oke, nanti aku akan bicarakan dengan Daddy ku!


"Really??" wajah Vano berbinar cerah.


"Tentu saja! aku tidak pernah becanda dengan ucapan ku! ujar Vano serius


"Yes! thanks bro..


Motor mereka meninggalkan rumah sakit. Seperti biasa Vano turun di persimpangan jalan dan meneruskan naik ojek online, ia tidak ingin Dev mengantarnya sampai mansion, karena sudah sore.


Sampai di rumah Vana menanyakan keadaan Bella, Vano menceritakan pada Vana kalau Bella akan pulang ke Polandia. Vana merasakan kesedihan bila harus kehilangan Bella.


Esoknya di hari minggu Vana dan Vano menghadiri acara ulangtahun Calista di rumahnya. Tenda-tenda sudah di pasang di depan teras rumah Fanny. Frans dan Fanny mengundang semua teman-teman sekolah Calista dan tetangga terdekat di komplek nya, tak lupa sahabat kuliahnya membawa anak mereka untuk menghadiri pesta ulang tahun Calista yang ke-sepuluh tahun.


Sebuah mobil sedan hitam berhenti di luar teras, keluar Siska beserta ke-tiga anak-anaknya. Vano yang sudah lebih dulu datang menghampiri Siska dan mencium punggung tangannya.


"Om Tommy tidak ikut?


"Masih istirahat Vano, kau datang dengan siapa?


"Sama Vana!"


"Mommy sama Daddy tidak ikut ya?


"Mommy juga harus banyak istirahat tapi Mommy sudah telpon Tante fanny."


"Ooohhh....!!


"Ayo kita masuk! ajak Vano pada Zara, Aldo dan Aldi. "Aldi sini gendong sama kakak." Vano mengendong Aldi dan mereka semua masuk kedalam rumah.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Alhamdullah, terima kasih banyak BUNDA ucapkan pada readers yang udah mendo'akan kesembuhan Bunda πŸ™πŸ˜˜ nggak bisa balas satu persatu. semoga kebaikan doa kalian kembali lagi pada kalian 😘, jujur Bunda jadi terharu 😭😭 semoga kalian tetap di beri kesehatan dan kebahagiaan. Aamiin πŸ€—


@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat πŸ’ͺ nulis😘


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


πŸ’œlike


πŸ’œvote


πŸ’œgift


πŸ’œkomen

__ADS_1


@bersambung......πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2