ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Kelompok Topeng Tengkorak


__ADS_3

Vano yang mendengar tawaran Daniel, mendengus kesel, ia paling tidak suka dengan namanya perjodohan. Apalagi ada unsur bisnis di dalamnya.


"Masalah jodoh, aku serahkan pada Vano. Lagipula ia masih kanak-kanak. belum saatnya membicarakan tentang pernikahan." ucap Reno tegas, seraya meyerumput kopi di tangannya.


"Oke, kita lihat saja nanti!


Dua kelurga itu mengakhiri obrolannya dengan menikmati hidangan di atas meja.


Usai berbincang dan makan malam bersama, mereka saling berpamitan. Reno melajukan mobil membelah jalanan raya ibu kota. Mobil masuk kedalam halaman luas mansion dan terparkir sempurna.


Vano dan Vana berlari masuk kedalam rumah, diikuti Delena.


"Vano, Vana, ayo cepat ganti baju, cuci muka dan gosok Gigi, lalu tidurlah segera. Besok ada pendaftaran sekolah."


"Oke Mom! ucapnya serentak.


Sebelum masuk kedalam kamar, Vano mengedipkan mata, memberi isyarat pada adiknya. Setelah Vana mengangguk pelan, mereka masuk kedalam kamar masing-masing.


Delena dan Reno masuk kedalam kamar, selesai bersih-bersih Delena memberikan kimono pada suaminya.


"Mau kemana? menarik pinggang istrinya.


"Menengok anak-anak sebelum tidur, juga ambilkan susu untuk mu."


"Tidak usah buat susu, aku masih kenyang, ganti susu gantung saja." canda Reno terkekeh.


"Ish! apan sih Mas, bisa-bisa minta gituan terus, kapan absennya." gerutu Delena, mengerucutkan bibirnya.


"Cup! jangan menggoda dengan bibir begitu, Mas tambah nggak tahan. Terus menciumi tanpa Jedah. Delena mendorong dada bidang suaminya yang makin dalam ******* nya.


"Mas! Delena melototi suaminya "Nafasku sesak, sekarang usia kita sudah tidak muda lagi." geram Delena, di sambut gelak tawa Reno yang semakin gemes dengan istri kesayangan nya.


"Sudahlah aku ingin melihat anak-anak dulu." Reno melepas pelukannya, Delena berjalan menuruni anak tangga dan masuk kedalam kamar Vana. Terlihat Vana sudah tertidur pulas, Dena menutupi selimut di tubuhnya hingga batas dada, mengusap rambut dan mencium kening nya, dan menutup pintu kamar. Begitu pula dengan Vano, Delena membetulkan tidur anaknya seraya mengecup kening lelaki hebatnya.


"Kau sudah tumbuh dewasa, sayang." setelah mengusap pucuk kepala Vano, Delena berjalan keluar dari menutup pintu.

__ADS_1


Setelah kepergian Delena, Vano turun dari ranjang. Dengan penuh hati-hati ia membuka pintu kamar, mengeluarkan kepalanya, setelah aman ia keluar dari pintu dan berlari kedalam kamar Vana.


"Vana bangun, ini aku." bisiknya pelan, seraya mengguncang lengan adiknya "Ternyata ia tidur beneran, biar aku sendiri saja yang menontonnya."


Vano mengambil laptop di bawah tumpukan baju Vana, ia duduk di pinggir ranjang samping Vina tidur dan mulai menyalakan laptop. Layar mulai terbuka setelah menekan enter, terlihat gambar rekaman di flashdisk itu. Setelah menonton dari awal, di adegan selanjutnya seorang pria yang ternyata Bos orang-orang bertopeng tengkorak itu, perintahkan untuk membuka peti-peti itu, Saat peti sudah terbuka. Mata Vano terbelalak melihat batangan Emas di dalam peti. Ternyata terdapat banyak batangan Emas dalam lima peti itu. Sinarnya sangat menyilaukan mata karena terik panas yang memantul dari langit.


Tiba-tiba orang-orang bertopeng itu, memegang samurai, mereka yang sudah di cambuk di ikat kedua tangannya ke belakang, tubuh semua pria itu terlihat tegang dan ketakutan. Mereka bersujud memohon ampun pada Pria yang berdiri tegak membelakangi layar, seseorang telah mengambil Vidio itu diam-diam.


Tiba-tiba datang seorang pria berteriak dan berjalan mendekat kehadapan Pria bertubuh tinggi tegap itu. Pria paruh baya yang memakai pakaian adat ternyata kepala suku dari orang-orang yang di cambuk tadi.


"Tuan, kami berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini, silakan kalian semua boleh membawa peti emas-emas itu, tapi lepaskan kami dan keluarga kami, kami butuh kebebasan untuk menghidupi keluarga kami." pintanya memohon seraya bersimpuh dengan kedua tangan mengatub.


Pria yang masih membelakangi layar, menyalakan sebatang cerutu, menghisapnya dalam, dan kepulan asap terlihat mengitari wajah Pria itu, belum cerutu itu habis ia menjatuhkan ke tanah dan menginjaknya hingga hancur. Satu tangannya terangkat. Sekelompok Pria bertopeng itu langsung menebas kepala semua Pria yang tadi di ikat, jumlah nya di perkirakan ada 50 kaum pria. Kepala suku itu berteriak histeris.


"Aaaaaaaaa.. huwaa....."


Vano di kejutan oleh suara teriakan dan tangisan Vana di belakang punggungnya.


"Vana ada apa?! Vano memeluk erat tubuh adiknya "Ada apa? apa kau bermimpi dek?!


"Itu kak! menunjuk layar laptop "Sangat menakutkan, kepala manusia buntung semua, aku takut kak! Vana membenamkan wajahnya kedalam pelukan kakaknya, seraya sesenggukan.


"Aku terbangun mendengar suara dilayar itu."


"Sudah kau tidur saja, biar kakak tuntaskan nonton semua itu, ukarena ini sudah hampir habis."


"Tidak kak, aku juga penasaran."


"Kak lihat, kenapa mereka membunuh wanita dan anak-anak itu! pekik Vana.


Vano flash back di alur yang terlewat, ia sempat tidak melihat karena menenangkan Vana saat menjerit tadi.


Setelah orang-orang bertopeng tengkorak itu menebas leher mereka satu persatu, datang sekelompok kaum ibu-ibu dan anak-anak menangis dan menjerit-jerit melihat kelurga, suami atau kerabatnya di penggal.


"Sungguh sadis perbuatan mereka! seru Vano, dengan suara tertahan dan terlihat geram. Rahangnya mengeras, kedua tangan mengepal.

__ADS_1


DOOR... DOOR... DOOR...


Tembakan bertubi-tubi tertuju pada para wanita dan anak-anak itu. Seketika jantung Vano bergetar, tak terasa ia meneteskan airmata. Begitu sesak menyaksikan pembunuhan massal itu. tiba-tiba kepala suku menggambar sesuatu di tanah dengan telunjuknya, bertinta kan darah.


"Apa yang kepala suku itu gambar? Vano mengerut kedua alisnya, ia zoom gambar itu tapi tidak jelas. Detik kemudian, tanah lapang itu bersimbah darah nyawa manusia. Setelah mereka mati terkapar, kepala suku itu menarik pedang samurai pria bertopeng dan menggorok lehernya sendiri dan ambruk ketanah. Sampai di ini rekaman vidio itu habis.


"Berada dimana kah desa itu? aku harus mencaritahu tentang desa itu, Sekelompok penjahat bertopeng tengkorak, membasmi penduduk desa itu dan mencuri semua Emas batangan milik mereka. pantas saja flashdisk ini dicari pemiliknya."


"Kak, apa menurut kakak ada yang janggal, saat orang-orang itu datang ke rumah Oma. Dan mereka menyerang Kakak dan omah, hanya untuk mencari flashdisk ini."


"Sepertinya, ada orang yang sengaja membuang flashdisk ini. Menurut ku yang merekam video ini sudah ketahuan dengan kelompok tengkorak itu, dan ia kabur lalu sengaja di lempar ke sembarang tempat. Sampai akhirnya tanpa sengaja kau menemukan flashdisk ini."


"Apa mereka tahu jatuhnya di sekitar rumah Oma?!


"Bisa jadi, mungkin sempat ada yang melihat di lemparkan ke jalanan dan jatuh di dekat gerbang rumah Oma, dan mereka mencurigai orang-orang di rumah Oma, sampai akhirnya mereka menyerang. Walau sekarang Daddy membayar bodyguard untuk menjaga rumah Oma, tapi kita harus tetap waspada."


"Lalu bagaimana dengan perampok yang menyerang kakak? bukankah mereka semua di penjara."


"Memang mereka bertiga di penjara dan satunya sudah meninggal. Untuk menghilangkan jejak mereka dari kepolisian. Mereka bertiga mati bunuh diri didalam sel."


"Astaga! Vana mendelikan matanya dan bergidik ngeri. "Kakak tahu darimana."


"Kakak mendengar percakapan Daddy dan Mommy."


"Daddy dan Mommy sangat kompak dalam hal apapun, ia bisa menutupi apapun itu dari kita."


"Tapi kak! kita kan anak-anak mommy dan Daddy, pasti kecerdasan mereka menurun pada kita." muehehehe... Vana terkekeh.


"Dek! berjanji lah, kita rahasiakan flashdisk ini, Kaka akan mencaritahu tentang Emas batangan itu, dan siapa pemiliknya. Apa tujuan mereka membunuh satu desa."


"Baik kak! tapi untuk apa kakak melakukan ini?!


❣️


❣️

__ADS_1


❣️


BERSAMBUNG....


__ADS_2