ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Dialah Pembunuh itu..


__ADS_3

"Tok! tok! tok!


"Setelah kami menimbang dan melihat hasil serta bukti-bukti yang di berikan oleh pihak terdakwa, saya hakim ketua, memutuskan "Dokter Robert Pattinson tidak bersalah dan terbebas dari segala hukuman. Keputusan ini berdasarkan realita dan kesepakatan bersama."


"Tok! tok! tok!


"Sidang kami tutup!


Semua bernafas lega, Davina berhambur memeluk suaminya.


"Mas akhirnya kau bebas." Davina tak hentinya berucap syukur dan semakin erat pelukannya, tak peduli tatapan banyak orang di sekitar persidangan.


Semua berjalan mendekat.


"Robert..."


Mereka berdua mengurai pelukannya, Robert menatap sahabat sekaligus adik iparnya. Mereka berpelukan "Terimakasih Ren, kau sahabat terbaikku, tanpa bantuanmu aku akan terus mendekam di penjara."


Reno menepuk punggungnya saat isakan Robert terdengar lirih di kupingnya. "Semua sudah berakhir, sekarang kau fokus pada anak-anak dan profesi mu, masih banyak di luar sana yang membutuhkan tenagamu."


Robert mengangguk seraya melepas pelukannya.


"Papi..." panggil Vano lirih.


"Vano..." Robert merentangkan kedua tangannya


Vano pun berhambur memeluk Robert. " Papi tidak apa-apa kan? akhirnya terbebas dari semua tuduhan."


"Kau lihat sendiri Papi baik-baik saja bukan?" Robert tersenyum dan mengacak-ngacak rambut keponakannya.


"Selamat Dokter Robert, akhirnya anda bisa menghirup udara bebas." ujar Herman Paris mengulurkan tangannya, mereka berjabat tangan di ikuti pengacara dari tim nya.


"Terima kasih Tuan Paris dan Bapak-bapak semua, yang sudah bekerja keras membatu saya. Anda memang pengacara hebat dan tak di ragukan lagi." puji Robert.


"Ini sudah menjadi tugas saya dan tim untuk memenangkan Cliant saya." ucap Herman Paris bangga dan ternyata kepiawaiannya dalam berbicara dan menangani semua kasus sangatlah profesional, dan harus di acungi jempol.


"Lalu siapa pembunuh Kinanti sebenarnya? bukankah saudara Herman bilang akan menangkap orangnya?" tanya Davina penasaran, jangankan Davina, Robert, Reno dan Vano dibuat penasaran, readers juga sama pingin tahu siapa dalang dibalik ini semua?🤭


"Sebentar lagi orangnya akan masuk ke dalam persidangan. Anda semua akan tahu siapa orang yang telah menabrakkan mobil Kinanti saat jadian itu."


"Siapa dia..? tanya Robert menautkan kedua alisnya.


Terdengar suara gaduhan dari depan pintu ruangan persidangan. Suara jeritan, makian dan teriak semakin keras terdengar. Kericuhan tak terelakkan lagi, beberapa petugas mengamankan orang-orang yang berbuat anarkis.


"Dasar pembunuh! teriakan suara ibu-ibu, di susul makian dari orang tua korban. "Ternyata kalian yang sudah membunuh anakku!"

__ADS_1


Semua mata tertuju kearah pintu. Petugas seragam coklat-coklat membawa dua orang terdakwa berpakaian oranye memasuki ruangan persidangan.


"BUGK!


Tiba-tiba salah satu keluarga Kinanti ada yang memukul wajah terdakwa, darah mengucur dari hidung dan bibirnya.


"Minggir semua! jangan main hakim sendiri!" teriak petugas polisi. Dua orang terdakwa mendapat perlindungan dan ancaman dari gerombolan di depan pintu masuk.


Mata Robert terbelalak, saat melihat dua orang terdakwa berjalan dan duduk di kursi pesakitan.


"Mereka orangnya yang telah menabrakkan mobil Nona Kinanti, hingga tewas ditempat.


"Dokter Arman? apa yang menyebabkan ia membunuh Kinanti? Robert mengeryitkan alisnya, rasa penasaran bergelayut dalam benaknya.


"Siapa dia? tanya Reno.


"Dokter Arman orang percayaan ku, yang bekerja di Rumah Sakit kita. Aku nggak menyangka ia akan terlibat dalam kematian Kinanti." ucapannya menyesalkan.


"Bagaimana Tuan Robert? apa anda ingin mengikuti persidangan ini, atau ingin pulang kerumah." tanya Herman Paris


"Biar aku mengikuti jalannya persidangan. Aku ingin tahu motif apa yang membuat Dokter Arman otak dibalik semua ini. Aku tidak habis pikir, darimana ia mengetahui mobil Kinanti berada di jalan raya dan Davina mengejarnya?"


"Dokter Robert, lebih baik kita tidak usah banyak bicara di ruangan ini, karena dinding pun bisa mendengar. Bila anda ingin mengikuti jalannya persidangan, silakan kita duduk dan mendengarkan keputusan hakim, semua barang bukti berupa mobil Pajero sudah berada di tangan polisi."


"Baik Pak!" mereka semua duduk dengan tenang di kursi persidangan. Herman Paris dan tim nya maju dan duduk di tempat semula sebagai penggugat. Dokter Arman bersama satu orang pria yang ternyata supir pribadinya duduk dengan wajah tertunduk.


"Tok! tok! tok!


Seperti biasa Herman Paris melontarkan pertanyaan pada Dokter Arman. Beberapa pertanyaan di jawab ambigu dan tidak jelas arahnya. Ada pembelaan dari pihak terdakwa, seorang pengacara yang di tunjuk oleh keluarga Arman. Namun pembelaan untuk terdakwa terpatahkan oleh adanya bukti akurat dari kubu Herman Paris. Persidangan berjalan cukup menegangkan. Setelah beristirahat dua jam, persidangan di mulai kembali. Dan hasil putusan di bacakan oleh hakim ketua.


"Setelah melihat hasil dan bukti-bukti dari saksi, kami berkeyakinan saudara Arman Arif adalah pelaku penabrakan mobil Nona Kinanti. Terdakwa sempat menghilangkan barang bukti, berupa mobil Pajero yang di pakai untuk menabrakkan ke mobil korban. Setelah mencari bukti-bukti, pihak penggugat lawyer dari Herman Paris menemukan sebuah nomor plat mobil yang terjatuh dekat mobil korban. Setelah melacak dan mencari nomor plat tersebut, ternyata milik saudara Arman Arif."


"Maaf yang mulia, boleh saya bertanya pada saudara Arman sekali lagi?." tanya Herman Paris.


"Silakan, kami beri waktu 15 menit sebelum keputusan sidang."


"Saudara Arman, Anda berprofesi sebagai seorang Dokter, pelayanan untuk masyarakat. Apa motif dan tujuan Anda melakukan insiden penabrakan tersebut, tolong bicaralah dengan jujur, agar hakim ketua dapat meringankan masa hukuman Anda."


Dokter Arman mengangkat wajahnya, dengan mata berkaca-kaca.


"Karena dendam!"


"Dendam dengan siapa? Tuan Robert kah, atau Nona Kinanti." tanya Herman Paris kemudian.


"Kinanti!"

__ADS_1


Huhuu .. uuhhh.. uuuhhhh...." suara sorakan terdengar kembali di kubu Kinanti dan kembali ricuh, kini petugas kepolisian bertindak tegas pada mereka yang membuat onar. Persidangan kembali tenang.


"Boleh saya lanjutkan hakim ketua?"


"Silakan!"


"Apa yang membuat anda dendam dengan Nona Kinanti? bukankah anda satu profesi dan berteman."


"Dokter Kinanti terlalu angkuh dan selalu merendahkan orang! dia mengancam saya dua hari sebelum kejadian peristiwa tabrakan itu. Saya di tugaskan oleh Dokter Robert mengurus rumah sakit selama ia berada di Jakarta. Nona Kinanti teman lama saya dan kami pernah menjalin hubungan serius, walau ia juga berhubungan dengan Dokter Robert. Sebenarnya anak yang di kandung Kinanti adalah hasil hubungan gelap dengan saya."


"Ap-apa...? semua terbelalak dan terkejut setelah mendengar ucapan Dokter Arman. Terutama Robert dan Davina terlihat kaget dengan ekspresi tak dapat dilukiskan. Senang bercampur lega mungkin ekspresi itu yang mereka tunjukkan. Sepasang suami istri itu berpelukan dan saling menguatkan. Kini telah terbukti kalau Sabrina bukankah anak kandung Robert.


"Ya Tuhan, akhirnya kebenaran itu terungkap." ucap Robert bersama tetesan airmata.


"Kalau sudah tahu itu hasil hubungan gelap Anda dan Nona Kinanti, kenapa anda tidak bertanggung jawab."


"Saya sudah ingin bertanggung jawab dan mengakui Sabrina adalah anak kandung saya, namun Kinanti tetap tidak mau dan ia masih mencintai Dr Robert. Ia memalsukan tes DNA agar Sabrina adalah anak dari dokter Robert."


"Siapa yang memalsukan Tes DNA?"


"Saya! atas perintahnya. Awalnya saya menolak, namun Kinanti terus membujuk dan berjanji tidak akan merusak rumah tangga saya."


"Jadi Nona Kinanti, juga merusak hubungan anda dan istri anda?"


"Iya! dengan ancaman akan merusak mental Istri dan anak saya."


"Kapan anda ingin bertanggung jawab pada Nona Kinanti, sementara anda sudah berkeluarga."


"Jauh sebelum saya menikah dengan istri saya tujuh tahun silam. Saya sudah sering membujuknya untuk menikahi, namun dia tetap menolak dengan alasan penghasilan saya tidak sebesar Dokter Robert. Jelas uang saya tidak sebanding dengan Dr Robert pemilik dari rumah sakit tempat saya bekerja."


"Kenapa anda bisa tahu, Kalau siang itu terjadi kejar-kejaran antara mobil Dr Robert dan mobil Nona Kinanti."


"Saya mengikutinya. Paginya saya dan Kinanti sempat bertengkar di ruangan kerja saya. Dia meminta sejumlah uang dengan alasan untuk pengobatan Sabrina keluar negeri. Saya memberikan uang 500 juta, namun ia tolak dan meminta untuk 2 milyar. Saya tidak mengabulkannya. Setelah kepergian Kinanti, istri saya menelpon dan menggugat cerai. Kinanti datang kerumah Istri saya dan memberikan bukti-bukti kalau saya memiliki anak dan berselingkuh. Saya mengejar Kinanti dan mengetahui ia datang kerumah Dr Robert. Saya melihat dari jarak 100 meter tempat saya parkir kan mobil, berniat ingin bicara lagi dengan Kinanti. Namun, saya melihat ia keluar membawa mobil dengan cepat, tak lama mobil sedan merah keluar dan mengejarnya. Saya mengikuti dari belakang. Entahlah pikiran saya sedang kalut saat itu, kekesalan pada Kinanti memuncak setelah bertengkar dengan istri saya. Tanpa pikir panjang saya menabrakkan mobilnya bertubi-tubi."


Semua orang yang mendengarkan tercengang dan gelengkan kepala. keadaan kembali memanas, kelurga Kinanti tidak terima dan meminta keadilan dengan penjara seumur hidup.


"Tok! tok! tok!


"Tenang semua! keputusan akhir akan saya bacakan!" ucap hakim ketua.


💜💜💜


@Sekarang sudah nggak penasaran lagi kan? penjelasan Author padat dan berisi 😄🤭


Ayo sekarang dukung BUNDA ya... love, love.. Bunda sayang kalian 😘😘😘🤭

__ADS_1


@Masih bersambung All.....


__ADS_2