
"Kita ke pantai, aku ingin menangkan diri dulu." ucap Vana datar.
"Baiklah.. kita ke pantai."
Nathan melajukan mobilnya menuju pantai dan menembus pekatnya malam ibu kota.
Sampai di sebuah pantai...
Vana berjalan kearah pantai, kaki telanjangnya berpijak pada pasir putih yang dingin, ia terus berjalan dan berakhir di sebuah batu besar. Menatap lurus kedepan melihat pemandangan air laut dimalam hari, terlihat suram dan hanya ada hamparan laut luas yang menggeliat bersama deburan ombak terdengar lirih.
Tidak ada tangisan atau airmata yang menetes, Vana gadis yang kuat dan tangguh. Di khianati oleh cinta pertamanya tidak membuat ia larut dalam kesedihan, walau ada luka dihatinya. Namun yang ia sesalkan kenapa harus melihat kejadian yang menjijikkan didepan matanya. Vana menghempaskan nafas kasar berulang kali hingga sesak di dadanya berangsur pulih.
"Van! Nathan ikut duduk di sebuah batu besar samping Vana "Bila hati mu sudah baikan, ayo kita pulang. Daddy dan Mommy mu pasti khawatir."
"Kak!
"Hemm."
"Apa kakak pernah merasakan jatuh cinta?"
Glek!
Pertanyaan Vana berhasil membuat Nathan gugup, bagaimana tidak? yang bertanya gadis yang ia incar sejak dulu. "Tentu saja, bahkan sejak gadis itu berusia 12 tahun."
Vana menoleh kearah Nathan "Really..? Apa dia tahu kakak menyukainya?
Nathan tersenyum dan menatap wajah cantik Vana "Aku rasa dia tidak tahu, tapi aku yakin suatu hari ia akan tahu kebenarannya."
"Jangan pernah lepaskan orang yang sudah kakak Cintai, apalagi sampai mengkhianatinya."
"Sudah pasti, aku akan menjaganya dengan baik, bahkan berani bertaruh nyawa untuk wanita yang aku cintai."
Vana tersenyum hambar "Alangkah beruntungnya wanita yang kakak Cintai."
"Kenapa...?"
Vana menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan "Aku hanya tidak beruntung, mencintai orang yang salah, walau cintaku tidak sebesar yang Reyhan katakan. Namun, ada harapan hubungan kami berjalan lama, tapi nyatanya...? Sungguh miris Cinta pertama yang menyakitkan." Vana menelan salivanya dengan susah, terasa pahit di tenggorokan.
"Apa kau butuh sandaran? bersandarkan di bahu ku." kata Nathan tulus
Tanpa Vana sadari butiran airmata sudah membasahi pipinya, ia menangis dalam diam. Bukankah itu sangat menyakitkan? tangan besar Nathan mengusapnya lembut butiran bening itu, dengan lemah Vana menyandarkan kepalanya ke bahu lebar Nathan.
"Jangan bersedih, aku akan selalu ada untukmu." bisiknya pelan.
Lama mereka terdiam, deburan ombak di pantai menjadi pemandangan yang indah malam itu, angin sepoi-sepoi menerpa tubuh mereka berdua, Nathan menyematkan mantel ke tubuh Vana, tanpa Nathan sadari Vana tertidur pulas.
Jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari, Nathan tidak ingin membangunkan gadisnya. cara untuk membawa pulang Vana, ia gendong tubuh tinggi langsing itu ala bridal style. Nathan mendudukkan tubuh Vana di kursi dan memasangkan seat belt.
"Gadis manis, jadilah kekasihku. Aku berjanji akan melindungimu." imbuhnya seraya mengusap pucuk kepala Vana dan mencium keningnya lembut. Sedetik kemudian Vana menggeliat, lalu tenang kembali tanpa membuka matanya. Mobil melaju dengan kecepatan normal meninggalkan pantai.
Satu jam kemudian Mobil sudah memasuki gerbang mansion dan terparkir di depan teras.
"Van! ucap Nathan lembut seraya menepuk-nepuk lembut pipinya "Bangun sudah sampai mansion."
__ADS_1
Dengan berat Vana membuka matanya perlahan "Kita dimana sekarang kak?"
"Sudah sampai mansion."
"Hah?! bukankah tadi kita masih di pantai?
"Tadi kau tertidur pulas di pundakku, lalu aku gendong kedalam mobil."
"Ahh! Vana menghela nafas dalam "kenapa kakak tidak bangunkan?
"Nggak tega, kau tidur begitu nyenyak."
"Ya sudah aku turun ya, maaf pasti kakak lelah."
"Tidak apa-apa, kau cepatlah masuk. ini sudah jam tiga subuh, aku pulang dulu." Nathan keluar dari mobil dan memberikan kunci mobil pada Vana, lalu pergi meninggalkan mansion bersama kuda besinya."
***
Hari terus berlalu, kini Vana kembali ceria setelah kejadian di Hotel empat bulan yang lalu. Reyhan masih terus memohon dan meminta Vana untuk merajut cinta kembali. Tak jarang hampir setiap hari ia mengirimkan bucket bunga dan paket coklat ke rumah Vana. Namun hati Vana sudah tertutup rapat untuk pria bernama Reyhan, hingga di bulan ke tujuh Reyhan menyerah dan tidak pernah lagi mengirimkan paket atau bucket.
Hari-hari yang dilalui Vana begitu indah, ada Nathan yang selalu menjaganya, bahkan ia adalah penjaga hati buat gadisnya. Vana tidak sungkan untuk berbagi cerita pada Nathan dan bertukar pikiran, sendau dan gurau terdengar riang. Nathan telah mengisi hari-hari Vana penuh keceriaan, tidak pernah Vana merasa bersedih atas galau bila berada di dekat pria tampan bermata biru itu.
Entah apa yang dirasakan Vana saat ini, benih-benih cinta mulai menjalar dan mengakar kuat dalam hatinya. Ada rindu bila tak bertemu sang bodyguard Walau sehari saja, hingga mereka menghabiskan waktu bersama bila Vana pulang sekolah. Mereka kerap melakukan aktivitas selalu bersama, jalan-jalan ke Mall dan ke pantai yang sedang mereka lakukan saat ini, bermain bola pantai.
"Kak! tendang bola nya jangan terlalu jauh!"
"Kau harus kejar bola itu! ayo jangan menyerah." teriak Nathan memberi semangat.
"GOOOOL!!!! pekik Nathan.
"Kakak curang!" teriak Vana merajuk.
"Siapa yang curang honey..."
"Sudah aku lelah, sejak tadi lari ambil bola terus! ucap Vana dengan nafas tersengal karena lelah dan berakhir duduk di pasar putih itu.
"Begitu ajah nyerah!" Nathan ikut terduduk di samping Vana. "Melihat pantai aku rindu rumah ku di Bali." imbuhnya.
"Bali sangat indah pemandangan alamnya, Mami ku ada di Bali, sudah lama aku tidak kerumah Mami."
"Aku pernah melihat mu di Bali."
"What? really...? kapan..? banyak pertanyaan terlontar dari bibir Vana, membuat Nathan mengeryit.
"Hahahaha... Nathan terbahak.
"Ish, apanya yang lucu sih!
Nathan tersenyum dan meraih dagu Vana "Kau itu mengemaskan kalau lagi kepo."
"Ck! jangan pegang-pegang." cetus Vana menepis tangan Nathan.
"Gadis nakal!" meraih tangan Vana dan menggenggam nya erat "Aku mencintai mu sejak usia mu 12 tahun."
__ADS_1
"Ap-apa..? wajah Vana merona dan menatap tak percaya pria di sampingnya "Bagaimana bisa? kau menguntit ku..?
"Bisa di bilang begitu." ucap Nathan jujur.
Vana menghempaskan tangan Nathan dan ingin pergi dari sana. "Tunggu dulu Vana." menarik kembali tangan Nathan "Aku akan ceritakan semuanya, dulu kita pernah bertemu sebelumnya."
"Kita? bertemu...?! tanya Vana bingung.
"Sini duduk disini, terik panas sudah berangsur pergi, kita ngobrol disini." Mereka duduk di bawah pohon palm yang berada di sekitar pantai.
"Kau masih ingat, saat di sebuah Mall di Bali? kau dan saudara mu membawa minuman dan tak sengaja aku menabraknya, hingga minuman itu terjatuh ke lantai, lalu aku mentraktir kalian berdua untuk menggantikan minuman itu. Tak lama dua wanita kembar datang menghampiri dan membawa kalian pulang."
Seperti berputar lima tahun lalu, Vana mulai mengingat semua kejadian itu. "Aku ingat semuanya, jadi pria yang bersama ku saat itu, dia__?
"Pria itu adalah Aku!"
"Deg!"
Vana membelalakkan matanya dan hampir tak percaya. Nathan mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat, kecuali ia tidak pernah mengaku anak Thomas dan tentang kakak tirinya Matteiw dalang dari rencana pengeboman itu. "Dengar Vana semua itu aku lakukan demi mu. Karena aku sangat mencintaimu dan ingin menjadi penjaga mu."
Vana terdiam dengan wajah tertunduk. "Apa kau marah padaku?' apa menurut mu aku salah mencintaimu? bila kau marah atau terluka karena kejujuran ku, aku siap pergi menjauh darimu, asal kau yang meminta ku pergi."
Vana masih terdiam tatapannya terus melihat pasir putih di depannya, bersama hembusan nafas panjang terdengar lirih.
"Kau tidak ingin bicara, hem..? baiklah kalau kau tak suka aku berada di dekat mu, aku akan pergi dari sisimu." terlihat gurat kekecewaan dari raut wajah Nathan. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pantai
"Jangan pergi!! ucapnya lirih
Nathan tersenyum dan pura-pura tidak mendengar, ia hanya ingin menguji Vana. Nathan terus berjalan tanpa peduli teriakan Vana.
"JANGAN PERGI!!! teriak Vana dan ia berlari mengejar Nathan.
"BUK!"
Vana menabrak punggung Nathan dan memeluknya dari belakang. "AKU JUGA MENCINTAIMU, NATHAN!"
Nathan membalikkan tubuhnya, ia tersenyum dan menatap cinta pada wanita di depannya "Tadi kau bilang apa? aku tidak dengar?"
"Hah! dasar bohong, aku sudah berteriak tadi! gerutu Vana mencabik.
"Tapi aku tidak dengar, coba ulangi.."
"AKU MENCINTAIMU NATHAN!!" PUAS.....
Hahahaha...."I LOVE YOU FOREVER!" Nathan terbahak dan menggendong Vana sambil berlari menuju pantai.
"BYURRR....!!!
💜💜💜
@Besok episode terakhir ya All, Sudah Update kisah "KEMBALI NYA SANG MACAN ASIA" silakan di baca, kalau yang belum tahu caranya bisa klik profil/ foto Bunda ya, dan nanti akan ada karya terbaru.
__ADS_1