
Vano teringat pada Omanya yang berada didalam kamar, dan kamar tidak terkunci. Vano bingung apa yang harus ia lakukan. ia tidak memiliki senjata. pisau lipat yang ia beli berada didalam kamar. ia berniat untuk lari kedapur untuk mengambil pisau sebagai senjata. Tapi ia takut dengan keselamatan Oma nya yang lebih dulu diserang mereka. untuk lari kedapur harus melewati dua orang yang masih sibuk mencari sesuatu di seluruh ruangan.
Vano sedang menyusun rencana dan mulai bertindak.
Ia mengendap berlari menaiki anak tangga penuh hati-hati. Saat sudah berada tangga teratas ia melihat satu pria ingin masuk ke kamar Oma nya, satunya lagi entah berada di mana? atau mungkin dia berada di lantai tiga? begitu kira-kira pikir Vano.
Vano sedang berfikir bagaimana caranya agar pria itu tidak masuk kedalam kamar Omanya. Mata tajam nya melihat sepasang sendal milik Omanya yang berada di pinggir tangga. Untuk mengalihkan pandangan perampok itu, Vano melempar sandal ke belakang nya.
Bluk!
Pria itu sudah memegang handle pintu dan ia menoleh ke belakang melihat ada suara benda jatuh, ia berjalan kearah sandal itu. Dengan cepat Vano berlari ke kamarnya.
"Brakk!
Suara pintu tertutup, pria itu mulai curiga dan berjalan ke arah kamar Vano yang berada di samping Oma. Didalam kamar Vano sudah menyiapkan segalanya, pisau lipat itu sudah berada ditangan. Pria itu mulai membuka pintu perlahan dan membukanya.
"KREKK...
"JEDAR....
kamar tampak gelap, didalam kamar seperti ada Tv sedang menyala. Pria itu penasaran dan ia mencari stok kontak untuk menyalakan lampu. Tangan nya sudah menyentuh saklar yang berada di samping pintu. Saat saklar mau dinyalakan Sebuah tangan sudah menarik tangan Pria itu ke belakang. vano telah memfiting tangan pria itu hingga Cerurit nya jatuh ke lantai.
Prankk!
Aaakkhh....
Sebelum suara jeritannya semakin keras terdengar, Vano membekap mulut pria itu. Tak tinggal diam pria itu melawan, tubuh besarnya berhasil melepaskan diri. Pria itu berhasil menyalakan saklar lampu.
"Sialan! ternyata kau seorang bocah tengik! Pria itu mengambil Cerurit dan melayangkan ke tubuh Vano, dengan cepat Vano merosot kebawah dan mengambil pisau lipatnya yang terjatuh di lantai, dengan gerakan cepat pisau kecil tajam itu menghujam ke pangkal pahanya berkali-kali.
"Suara jeritannya mulai terdengar. Vano meyumpal mulutnya dengan kaos kaki yang ia temui di bawah ranjang. Mengambil lakban hitam di dalam laci. Menarik kedua tangannya ke belakang dan merekatkan dengan lakban. Mulutnya yang sudah tersumpal vano beri lakban lagi, supaya tidak bisa berteriak.
Pria itu gelinjingan di bawah lantai, menahan rasa sakit tapi tidak bisa berteriak bebas. Banyak darah di lantai kamar, Vano mengambil mainan pistolan nya dan memasukan peluru bulat kedalamnya, kalau tidak melihat dari jarak dekat orang tidak akan tahu kalau itu bukan pistol sungguhan.
Terdengar suara langkah orang berlari menaiki tangga, Vano mematikan lampu kamar. ia masih memikirkan Oma nya. Tiba-tiba pintu dibuka, Vano menempel di dinding dekat pintu. ia sudah bersiap untuk mengambil aba-aba. Tapi pintu di tutup kembali.
"Ahh...! Vano bernafas lega. "Syukur dia sudah pergi, bila melihat temannya sudah terkapar di lantai. pasti pria itu akan memanggil yang lainnya, dan itu sulit untuk aku bergerak.
Berapa menit kemudian, tidak terdengar ada langka kaki diluar kamar. Vano membuka pintu perlahan mengeluarkan kepalanya melihat keadaan. "Tidak ada orang, aku harus mengunci kamar Oma."
Saat Vano menutup kamar, tiba-tiba seseorang menyerang dari arah samping dan hampir Cerurit itu mengenai perutnya kalau saja ia tidak ngeles. pria itu terus menyerang Vano dengan membabi-buta. Vano yang sudah terbiasa belajar ilmu bela diri, ia salto ke belakang dan meloncat dengan kedua kaki menendang dada pria itu, hingga Cerurit nya terlepas dan ia mental kebelakang, tersungkur di lantai.
"GLEBUK!
__ADS_1
Aaakkhh...
Sebelum pria itu bangkit dan mengambil Ceruritnya, Vano lebih dulu menendang benda itu dan masuk ke kolong kursi. Vano berlari kearah pria itu mengikat kedua tangan dan kakinya dengan tali sepatu miliknya, yang kebetulan berada di luar kamar.
"Lepaskan brengsek!
Dari lantai atas turun satu Pria dengan wajah garang. Ditangannya membawa golok tajam. Sementara vano masih memegang pisau lipat, tidak ada sedikitpun ketakutan di matanya, Mata tajamnya menyoroti pria itu sangar, nafasnya terdengar kasar dan tersengal. Entah kekuatan darimana yang membuat Vano tidak gentar
"Dasar bodoh! lawan anak kecil saja tidak becus! apa tidak malu dengan tampang bengis mu! umpat temannya kesal.
"Udah Jangan banyak bacot! cepatan lepaskan gue, goblok!
Temannya mulai melepaskan ikatan tali di kaki dan tangannya. Dan pada saat bersamaan mereka lengah, Vano dengan cepat melempar pisau lipat itu dengan tenaga dalam, dan tepat mengenai perutnya.
"Seeeeetttttt!
"Aaaahhhkkk!
Darah segar mengucur dari perut pria itu. Bandit itu mengerang kesakitan seraya memegangi perutnya yang terluka. Saat Vano ingin menghajar satunya lagi, suara pintu kamar terbuka kencang.
"JEDAR.....
"Menyerahlah! atau wanita tua ini akan putus kepalanya!
"Oma.....!" Vano terpekik
"Jangan bergerak! buang pisau mu! teriak pria itu tidak main-main.
Vano melempar belati satunya yang masih tersisa ditangannya. "Apa tujuan kalian datang ke rumah ini! siapa yang menyuruh kalian!" bentak Vano dengan mata sinis nya.
"Berani sekali kau bertanya lantang padaku! Pria itu mengalihkan pandangannya pada dua pria yang satunya sudah terluka.
"Rocky Kenapa kau diam saja disitu, cepat kau Ikat bocah sialan itu!
Pria yang bernama Ricky berjalan mendekati Vano dan mengikat kedua tangannya.
"Kemana Dodot?! kenapa dari tadi tidak kelihatan!
"Saya tidak tahu Bos!
"Kita apakan bocah ini, Bos! dia sudah melukai lucky, perutnya terkena tusuk pisau!
"Apa yang kalian inginkan dari kami! Vano bertanya dengan suara lantang.
__ADS_1
"Dimana kau taroh flash disk milik Tuan Albert!
"Apa...? Helena tercengang "Apa maksud kalian! flash disk apa yang kalian cari?! tanya Helena bingung. keringat jagung sudah keluar dari pori-pori nya.
"Katakan dimana kau taruh flashdisk itu, bila kau tidak kembalikan, Bos kami akan menghancurkan keluarga kalian! dan kau...?! mata pria itu menatap tajam kearah Vano. Kembalikan padaku sekarang! apa kau ingin nenek mu ini mampus!
Vano terdiam, ia sedang mengingat flashdisk yang di maksud para penjahat itu.
"Cepat katakan! teriak laki-laki yang masih mengalungkan Cerurit ke leher Helena.
"Seeettt!
"Aaaawwww! Helena terpekik.
Cerurit itu mengenai kulit Helena, darah menetes jatuh ke baju tidurnya.
"Oma.....! lepaskan Oma ku, BRENGSEK! teriak vano dengan nafas tersengal.
PLAKK!
PLAKK!
Tamparan bertubi-tubi ke wajah Vano, dan ujung bibirnya keluar darah.
"Vano!!! jangankan kau sakiti cucuku!
"Baiklah kalian memilih mati, bukan?!
"Tunggu! kalian bisa minta apa saja padaku, aku akan telpon Daddy ku untuk transfer uang, tapi tolong lepaskan Oma ku dan kalian pergi dari sini!
"Hahahaha..... kau pikir aku mau di bodohi dengan anak ingusan seperti kau!
"Hey nenek tua! apa perlu kau mampus duluan baru ia akan memberikan data itu, karena flashdisk itu milik Bos besar kami dan sangat berpengaruh dengan perusahaan nya."
"Jadi itu yang kalian cari! tiba-tiba Vano bertanya dan ia sudah mengingat flashdisk itu.
"Cepat berikan!....
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
BERSAMBUNG........
JANGAN LUPA, LIKE,VOTE, GIFT, RATE BINTANG 5, SERTAKAN KOMENTARNYA.