
"Jam kunjungan sudah selesai, silakan anda keluar." pinta polwan pada Davina.
Sebelum pergi Davina menelisik wajah Merry "Sekarang Erland sudah tidak memiliki kaki! kejarlah dia bila kau mencintainya. Tapi sayangnya dia juga harus masuk bui, karena perbuatannya padaku!"
Merry mencabik kesal, seraya menatap kepergian Davina.
Davina bernafas lega saat semua masa lalunya telah berakhir. Merry dan Erland akan berakhir di penjara.
"Apa kau baik-baik saja? Robert menelisik wajah istrinya saat masuk kedalam mobil.
Davina tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke bahu lebar itu "Tentu saja, aku sudah lebih baik sekarang, berkat kesabaran suamiku." Robert mengangkat tangan dan membawa masuk istrinya kedalam pelukan.
"Mami, papi.. kok Chika di cuekin." protes gadis cantik itu, terduduk di kursi belakang.
"Kasihan kan mami lagi pusing. Chika ngalah ya, sudah bobo ajah, katanya tadi bilang ngantuk." bujuk Robert.
"Ya udah deh! nanti bangunin Chika ya kalau udah sampai bandara. Chika kangen sama teman-teman sekolah."
"Iya sayang, nanti mami bangunin."
Mobil berjalan menuju Bandara. Sesampainya di Bandara mereka naik pesawat tujuan Bali.
Dua jam kemudian pesawat sampai di Bandara Gusti Ngurah Rai. Mereka masuk kedalam mobil yang sudah di pesan Robert. Satu jam menempuh perjalanan, mobil berhenti di kediaman rumah Robert dan Davina yang terlihat asri dipenuhi pohon merambat dan taman bunga yang berada di depan pintu masuk. Mereka turun dari mobil dan melihat sebuah sedan putih terparkir di teras rumah berlantai dua itu.
"Itu mobil siapa Mas?"
Robert terdiam, sepertinya ia sudah tahu siapa yang datang kerumahnya. Ia hapal betul siapa pemilik mobil tersebut. Robert menggenggam erat tangan istrinya dan berjalan menuju rumah.
"Mas!" Davina bingung dan melirik wajah suaminya yang terlihat tegang "Mas sudah tahu siapa pemilik mobil itu?' Davina terus bertanya, tanpa Ingin melepas tangannya.
"Kau harus menghadapi ini dengan tenang, apapun yang akan terjadi nanti, jangan pernah tinggalkan aku, kau adalah kekuatan ku." ucap Robert tegas dengan nafas kasar.
Davina hanya mengikuti langkah suaminya masuk kedalam rumah. Setelah turun dari mobil Chika berlari masuk melewati mereka berdua.
"Omaaaa..." pekik Chika berlari kearah ibu kandung Robert yang sedang menerima tamu.
"Ehh, Chika sudah pulang, Oma kangen banget sama Chika." wanita paruh baya itu memeluk cucunya yang baru pulang.
"Robert..." panggil Amel, wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya setelah melepaskan pelukan pada cucunya.
Robert bergeming saat ibunya menghampiri dan tak pedulikan keberadaan Davina di sisinya. "Duduklah Nak, kau pasti lelah." merangkul sebelah tangannya.
"Buat apa kau datang kerumah ini! bentak Robert, netranya terlihat tajam menatap wanita yang sedang duduk.
"Robert! apa pantas kau bicara seperti itu pada Kinanti! dia juga bagian dari hidupmu!"
__ADS_1
Robert menghempaskan tangan ibunya "Mama tidak pernah tahu siapa dia! jangan percaya apa yang sudah keluar dari bibirnya. Dan tolong jangan memberi kesempatan orang yang berniat tidak baik!"
"Apa maksud mu tidak baik! Kinan berdiri dan berjalan mendekat. wajahnya terlihat kesal dan marah. "Aku datang kemari baik-baik!"
"kalau kau wanita baik-baik, tidak harus menghasut Mamaku dengan mengatakan Kau adalah bagian dari hidupku! menatap tajam netra Kinan yang terbakar emosi. "Ingat Kinan! aku sudah memiliki istri dan anak!
"Iya aku tahu itu! Lalu agaimana tanggung jawab mu kepada Sabrina! kau malah asik pergi meninggalkan anakmu yang membutuhkan kasih sayangmu juga!"
Melihat pertengkaran suami dan mantannya, Davina melepas genggaman tangan suaminya dan berjalan kearah Chika yang terlihat bingung.
"Chika, kita ke kamar yuk! tak ingin melihat pertengkaran Ayahnya, Davina menarik tangan Chika dan masuk kedalam kamar.
"Sekarang juga kau pergi dari rumah ku! atau aku tidak akan merawat Sabrina!"
"Dasar egois! Sabrina mengalami kelumpuhan itu karena kelakuan istrimu! bisanya kau lepas tanggung jawab!"
"Siapa yang lepas tanggung jawab! aku tetap akan mengobati Sabrina sampai sembuh, tapi kau harus sabar dan jangan mengusik ketenangan kelurgaku!"
"Brengsek kau Robert "PLAKK!"
"Kau berani menampar ku!"
"Kau pantas mendapatkan tamparan itu karena sudah menyakiti ku dan Sabrina!"
Davina yang masih berada di dalam kamar terkejut mendengar suara tamparan keras dan makian kasar yang keluar dari mulut Kinanti.
"Chika didalam kamar ajah ya, ingat pesan mami. jangan keluar dari kamar. Mami mau temani papi dulu." Chika mengangguk dan naik keatas ranjang.
Davina menutup pintu kamar anaknya dan berjalan kearah mereka. Davina terkejut melihat tangan kekar suaminya menjambak rambut Kinan.
"Kau sudah membuat kesabaran ku habis Kinan! maki Robert
"Lepaskan tanganmu Robert! aku akan buat laporan penganiayaan!" teriak Kinan histeris.
"Lepaskan Kinan, Robert! Amel menarik tangan putranya dan memukuli tangannya.
Mendapat cakaran dari kuku-kuku cantik Kinanti di tambah pukulan ibunya sendiri. jambakan tangan Robert terlepas.
"Mas! Davina berjalan mendekat dan melihat banyak luka cakaran di tangan suaminya.
"Kenapa Mama membela wanita ini daripada anak Mama sendiri! Mas Robert selalu berlaku adil pada anaknya, tapi wanita ini selalu ingin di perhatikan lebih!
"Tutup mulutmu Davin! berani kau bentak Mama!" seharusnya kau tidak serakah ingin memiliki Robert sendri, suamimu haruslah adil! Robert memiliki anak dari Kinan, Kinan dan Sabrina berhak mendapat perhatian dan kasih sayang dari Robert!" bentak Amel tak mau kalah.
Davina melotot tajam kearah mertuanya "Apa Mama tidak punya perasaan sedikit pun! aku ini istri sah Mas Robert, kenapa Mama minta keadilan pada suamiku, apa anak haram yang terlahir dari wanita ini, harus di perlakukan melebihi putri raja? sementara Mas Robert sudah berusaha memberikan perhatian pada anaknya sebagai bentuk tanggung jawab!'
__ADS_1
"Berani kau bilang anakku terlahir haram! Kinan yang tak terima mendengar ucapan Davina, kini berbalik menyerang Davin dan menarik kasar rambutnya "Kami melakukannya karena suka sama suka, kalau kau tidak hadir dalam kehidupan Robert, sudah pasti aku yang berada di sisinya saat ini!"
"Lepaskan Kinan! Robert menarik kasar tangan Kinanti. Namun, tangan itu tidak terlepas juga.
"BUGH!"
"BUGH!"
Tangan Davina mulai menyerang balik. Sebuah pukulan telak mengenai wajah Kinanti, darah segar menetes dari sudut bibirnya. Kinan sempoyongan, Amel memegangi tubuh Kinan yang hampir jatuh kelantai.
"Aku tidak akan kasih kau ampun lagi, hari ini juga aku akan ke kantor polisi, untuk membuat laporan penganiayaan dan kecelakaan anakku Sabrina! aku memiliki bukti-bukti yang akan menjerat mu ke pengadilan! Dan kau akan Kehilangan suami dan anakmu selamnya! teriak Kinanti berapi-api, seraya menyungging senyuman puas dan mengejek.
"Cih! Kinan meludah darah ke lantai, dan berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Kinan tunggu! Robert berlari mengejar Kinan yang sudah berada di samping mobil.
"Kinan! jangan nekad, aku akan bertanggung jawab untuk kesembuhan Sabrina!"
"Kau laki-laki brengsek! kau melindungi istrimu agar tidak masuk penjara! kali ini tidak akan aku biarkan istrimu bebas!"
Kinan masuk kedalam mobil dan membanting pintu mobil.
Davina berlari mengambil kunci mobil dan masuk kedalam. Robert terkejut melihat Davina masuk kedalam mobil dengan ekspresi marah.
"Davina! kau mau kemana! teriak Robert sambil memukul kaca mobil.
"Jelas saja aku ingin mengejar wanita itu!"
"Jangan nekad! nanti kita bicarakan baik-baik!" bujuk Robert, terus menenangkan Istrinya yang sudah terbakar emosi.
Davina yang keras kepala tidak menghiraukan panggilan suaminya. Dengan amarah yang meletup-letup ia mengejar sedan putih yang di tumpangi Kinanti.
"Tidak akan aku biarkan kau menang dan merampas suamiku!" teriak Davina pada dirinya seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
๐๐๐
@Yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
๐komen
__ADS_1
@bersambung.....