ISTRI YANG TAK DIANGGAP

ISTRI YANG TAK DIANGGAP
118 " Tidak mudah untuk melakukannya "


__ADS_3

Dan tinggal menghitung menit saja pisau itu mungkin sudah akan tertancap pada perut laki-laki yang sedang terbaring disampingnya.


Akan tetapi belum juga ia mampu melakukannya, rasa sadar sudah terlebih dulu hadir dalam benaknya dan secara langsung ia melempar pisau itu dari sudut kanannya. Tristan yang sedari tadi hanya berpura-pura tertidur, ia membuka matanya secara perlahan melihat Wanita dihadapannya yang terlihat dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa kamu tidak jadi membunuhku dengan pisau itu? Bukankah dengan tindakan kamu yang ingin membunuh-ku cara itu sudah membuatmu merasa sangat lega dari rasa benci mu terhadapku?"tanya Tristan dengan sedikit wajah memelas-nya.


"Ingin sekali aku membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri? Tapi aku sadar dosaku sudah terlalu banyak yang sudah aku perbuat dan aku pukul sendiri. Dan dengan membunuhmu itu sama aja aku menambah dosaku semakin banyak lagi, jadi jangan beranggapan jika aku tidak jadi membunuhmu karena aku merasa kasihan karena itu hanyalah mimpi!"


"Aku tau kamu sekarang sudah sangat membenciku? Bahkan dengan tindakan kamu yang ingin membunuhku tadi aku sadar dengan siapa aku berhadapan sekarang jadi sudahlah tidurlah!"


Di hempaskannya selimut yang berbahan bulu halus nan lembut tersebut, ia turun dari ranjang pandangan mata mengarah kearah laki-laki itu

__ADS_1


Klik...


"Apa dia berniat ingin pindah kamar karena merasa takut jika aku akan membunuhnya seperti caraku tadi? Tapi kalau itu memang beneran terjadi syukurlah kalau gitu akan tetapi akan lebih baik kalau kamu tunggu dia sampai satu jam, jika dalam satu jam dia tidaklah kembali itu artinya dia benar-benar mengalah dan tau dengan siapa ia berhadapan sekarang," gumamnya dengan pandangan mata yang masih fokus melirik kearah pintu kamarnya.


"Sudah hampir 20 menit dia pergi dan tidak kunjung kembali, apa dia benar-benar sudah kalah dan lebih memilih untuk tidur sendiri diruang tamu?"


Akan tetapi berbeda dari dugaan dan rencana yang Bintang rencanakan. Gimana belum ada satu jam lamanya Bintang memutuskan untuk menunggu kedatangan Tristan nyatanya ia yang terlebih dulu diserang rasa ngantuk yang akhirnya membuatnya malah jadi tertidur dan lupa tidak mengunci pintunya terlebih dulu. Alhasil Tristan yang sedari tadi sengaja tidaklah masuk bergegas ia pun masuk kedalam kamar setelah hampir satu jam ia berpura-pura tidak akan kembali.


"Aku tidak tau lagi dengan cara apa aku bisa menebus semua kesalahaan-ku ini? Apa dengan balasan nyawa itulah yang mampu membuat amarahmu sedikit mereda?"ucapnya yang kemudian ia pun perlahan-lahan mulai berlutut dan menghampirinya hinga wajah keduanya sangatlah dekat.


"Mungkin sekarang kamu belum bisa memaafkan-ku sepenuhnya, tapi aku janji aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan tetap berusaha mendapatkan pintu maaf darimu aku janji,"gumamnya yang kemudian ia pun mencium kening Bintang tanpa Bintang sadari.

__ADS_1


"Selamat tidur yang nyenyak," gumamnya yang kemudian ia yang hendak akan pergi tangannya pun terhalangi setelah Bintang yang tanpa sadar ia menariknya seakan-akan dalam hatinya ia melarangnya untuk jangan pergi.


Melihat tangannya Bintang yang menggenggam erat lengannya membuat Tristan tersenyum.


"Baiklah jika kamu menghalangiku untuk jangan pergi, baiklah aku akan menemanimu disini," gumamnya yang kemudian ia pun mengambil selimutnya dan berlalu ia pun merebahkan tubuhnya di samping Bintang.


SEMBARI MENUNGGU LANJUTAN CERITA INI MAMPIR DULU DI-KARYA MILIK KAK ( Lili Anti ) DENGAN JUDUL " FIONA " " DIJAMIN CERITANYA BAKAL NAGIH DAN PASTINYA SANGAT SERU untuk dilewatkan YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰🥰



BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2