
Terduduk disalah satu taman, dihiasi banyaknya aneka bunga pada bermekaran membuat Bintang yang berada disini terlihat sangatlah bahagia. Belum lagi tempat ini tempat favorit bagi Bintang dan juga Tristan sejak sedari dulu.
"Tempat ini? Mungkin kebanyakan orang mengira tempat ini tempat biasa, tapi bagiku tempat ini adalah tempat favorit yang paling aku favoritkan dari banyaknya tempat lain. Tristan? Apa mungkin sekarang ini kamu bisa merasakan kehadiran ku yang berkunjung kemari? Apa kira-kira kamu juga merasakan akan kehadiranku disini untuk mengenang akan dirimu?"
"Apa yang kamu cari disini?"
Satu sahutan telah terdengar dari kupingnya, Bintang yang merasa terkejut mendengar suara tersebut ia lantas membalikkan tubuhnya, melihat kearah belakang siapa seseorang yang barusan menyebutkan kata-kata itu tadi.
"Bagas? Apa yang kamu lakukan disini!"tanya Bintang.
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu mengalihkan pembicaraan ku?"timpal Bagas.
"Harusnya aku yang tanya untuk apa kamu datang kesini apa kamu mengikuti ku?"timpal Bintang.
"Mengikuti atau tidak itu bukanlah urusan nyonya, aku tau ini mungkin tempat favorit kalian semasa dulu tapi apa mungkin nyonya akan tetap datang kesini meskipun dia sudah tiada? Bahkan lima tahun telah berjalan Bukankah itu waktu yang sangatlah lama. Aku rasa bukankah dengan kedatangan nyonya kesini malah akan semakin memperlambat nyonya untuk melupakannya?"
"Kamu tau apa?"ucap Bintang tanpa pandangannya melirik kearah Bagas.
"Kenapa kamu menyuruhku untuk menatapmu?"
__ADS_1
"Bukankah tujuan anda datang kesini hanya ingin meluapkan rasa rindu padanya? Bukankah sekarang anda sudah melihat seseorang yang anda sayang jadi lihatlah! Lihatlah aku dan anggap saja apa yang nyonya lihat saat ini benar-benar Tristan Suami yang sangat anda sayangi ayo tataplah aku!"
"Gak! Aku tidak mau, kamu memang memiliki wajah yang sama percis seperti dirinya, tapi sayangnya kalian tidaklah sama jadi sudahlah lepaskan aku harus pergi!"
Pergi dari pandangannya, air matanya tidak bisa dibohongi jika ketika dirinya menatapnya secara langsung, bayang-bayang akan diri Tristan lagi-lagi selalu terlintas dalam pikirannya niatnya yang ingin pergi, tapi belum juga langkahnya berhasil menjauh dari Bagas, beberapa kata yang berhasil Bagas ucapkan mampu membuat langkah itu terhenti dengan sekejap.
"Katakan saja nyonya! Katakan saja jika Nyonya takut jika nyonya akan mampu mencintai ku kan? Katakan saja jika dengan menatap ku nyonya akan sangat takut jika rasa sakit akan kehilangan seseorang itu akan kembali terulang, katakan saja?"
"Bukan takut untuk mengulang kesalahan yang pernah diperbuat? Tapi sadar jika kalian sangatlah berbeda! Belum lagi posisi dan status kalian yang sangatlah berbeda lah yang membuatku untuk tidak bisa melakukannya? Anggap saja aku hanyalah wanita kesepian yang merindukan akan Suaminya jadi lupakan saja apa yang barusan kamu lihat dan anggap saja kita hanyalah sebatas atasan dan asisten paham!"
__ADS_1
"Paham? Untuk apa aku harus memahami apa isi dan pikiran Nyonya jika pada kenyataannya nyonya sendiri tidaklah paham dengan diri nyonya sendiri! Nyonya terlalu sibuk dengan urusan Perusahaan! Belum lagi sulit untuk melupakannya apa mungkin itu bisa dibilang jika nyonya perduli akan kebahagiaan nyonya sendiri?'
BERSAMBUNG.