
"Gimana Dok keadaan Istri saya dia tidak lagi mengalami luka yang serius kan Dok. Dia baik-baik saja kan?" tanya Tristan yang secara bertubi-tubi dan membuat Dokter yang berada dihadapannya menjadi bingung lantaran harus memberitahu dari mana.
"Maaf apa Tuan ini belum mengetahui betul kondisi yang dialami oleh Istri Tuan ini?"
"Maaf saya belum tahu apa-apa memangnya apa yang terjadi Dok?"
”Jadi begini Tuan dari hasil penelitian yang barusan kami lakukan terdapatlah, sel kanker otak yang ternyata telah tertanam pada tubuh Istri Tuan. Dan karena itulah kondisi Istri Tuan jadi seperti ini. Dan ada kemungkinan besar kalau Istri Tuan sangat sulit untuk bisa disembuhkan karena kanker otak tersebut sudah memasuki stadium 3, belum lagi akibat benturan keras yang barusan terjadi padanya membuatnya harus merelakan jika kedua kornea matanya sudahlah tidak berfungsi lagi jadi..
Deg!
Jantung Tristan seakan berhenti, ia seketika terdiam tanpa berkata apa-apa sama sekali. Dadanya seakan-akan merasa sesak, tangisannya pecah. Bahkan tubuhnya rasanya tidak sanggup lagi untuk berdiri tegap yang seketika tubuh itu pun tersungkur kelantai setelah ia tahu keinginannya untuk menata hidupnya lebih baik lagi dan menjadi seorang Suami yang sempurna nyatanya tidak semudah yang ia bayangkan.
__ADS_1
Buliran demi buliran air mata terus menjatuhi pipinya hinga tidak terhitung berapa jumplahnya. Dokter yang merasakan apa yang dirasakannya seketika membangkitkan tubuhnya.
"Anda tidak boleh terlihat seperti ini, Istri anda sangat membutuhkan dukungan dan perjuangan anda. Jika anda lemah seperti ini bagaimana anda bisa mendukung sepenuhnya."
"Kira-kira apa tidak ada obat untuk bisa menyembuhkan Istri saya Dok. Apa dengan tindakan terapi atau pengobatan alternatif Istri saya masih tidak bisa diselamatkan?
"Setiap manusia didunia ini juga pastinya akan mati Tuan, sama halnya seperti kita sendiri. Biar pun saya Dokter yang biasa menyelamatkan nyawa pasien pada dasarnya saya juga manusia biasa. Jadi berdoalah agar semua doa yang anda panjatkan akan didengar oleh Tuhan ya sudah saya permisi dulu.
"Baik Dok.
"Maafkan aku Bintang. Maafkan aku karena aku belum bisa menjadi Suami yang taat dan setia sama kamu selama ini. Maafkan aku karena aku telah membuatmu merasakan pahitnya penderitaan ini. Aku janji ini adalah terakhir kalinya kamu merasakan penderitaan ini karena sekarang aku gak akan pernah melepaskan mu yang kedua kalinya. Jika selama ini aku sudah membuat keseharian mu dipenuhi dengan rasa kekecewaan dan pahitnya kehidupan mulai sekarang aku akan mengubah semua ini aku akan mengubah hidupku merasakan gimana rasanya hidup bahagia aku janji.
__ADS_1
Mata hitam nan pekat itu mulai perlahan terbuka, mata indahnya mulai melirik ke segala penjuru arah. Langkahnya yang tadinya berhenti kini ia pun mulai bangkit dan bergegas ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan Bintang.
Terbaring dalam keadaan tidak berdaya dalam keadaan tidak sadarkan diri itulah yang dilakukan Bintang saat ini, perlahan-lahan Tristan mulai menghampirinya menggenggam dengan erat tangan mungil sekaligus memberikan kecupan pada Kening wanita yang dicintainya Tristan akhirnya meneteskan air matanya.
Bintang!. Yah, Istri tercintanya itu tertidur pulas di samping tempatnya, senyuman manis terlengkung indah di wajah Bintang yang terlihat sangat cantik biar pun wajah cantiknya mulai tertutup akan wajah pucatnya.
Tangan kanan Laki-laki itu mengelus pelan ujung rambutnya dan tidak mempercayai jika apa yang ia lakukan sangatlah nyata jika semua ini ia tidaklah bermimpi. Dan untuk pertama kalinya ia mampu menyentuhnya biar hanya dalam sekejap.
Dengan penuh perasaan bahagia karena Allah masih mengizinkan dirinya untuk bisa merasakan orang yang dicintainya yang masih berada di sampingnya . Sekali lagi ia mengelus rambut Istrinya, matanya melebar saat merasakan tidak ada gerakan yang dilakukannya.
Bintang membuka pelan matanya saat sebuah pergerakan seakan menganggu tidurnya. Akan yang membuatnya terkejut ia terkejut lantaran sadar jika pandangannya sama sekali tidaklah jelas. Warna gelap gurita yang seketika memenuhi pikiran dan pandangannya membuat ia berteriak.
__ADS_1
Beribu pertanyaan mulai keluar dari pikiran wanita ini, tangannya terus meraba wajahnya yang tidak terlihat jelas pandangnya sama sekali, air mata terus saja mengalir di kedua sudut pipinya, apa ia harus menangis, yah, tentu dia akan menangis.
BERSAMBUNG.