
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya tak berselang lama kemudian Tristan dan juga Bintang akhirnya sampai juga dikediamannya. Baru juga ia menginjakkan kaki di rumah dia sudah disuguhkan dengan kehadiran dua Wanita yang sudah setia menunggunya sedari tadi.
"Tristan kamu darimana aja kenapa kamu baru pulang? Dan Wanita ini kenapa kalian bisa bersama pulangnya? Kalian gak lagi habis berkencan kan?"tanya Sandra.
"Tidak. Aku dan dia tidak lagi berkencan atau kemana-mana, aku tadi kebetulan pulangnya tak sengaja melihatnya jadi akhirnya aku pungut dia untuk pulang bareng,"balasnya dengan melirik kearah Bintang.
"Apa maksud dia tidak memberitahu yang sesungguhnya?"batin Bintang nampak heran.
"Ya sudah kamu pasti capek jadi cepat masuklah dan mandilah,"pinta Sandra dengan senyum yang ia tunjukkan pada Tristan.
"Sayang kamu sangat beruntung punya istri seperti Sandra, udah cantik, baik dia juga pengertian kepada suaminya," puji Mamanya yang dengan tulus membanggakan Sandra. Disisi lain Bintang yang mendengarnya ingin sekali ia menutup kupingnya.
"Mama? Mama gak usah seperti itu juga aku kan jadi malu,"balas Sandra dengan manjanya.
"Tapi itu kan kenyataanya sayang. Tidak kaya dia..pemalas dan hanya memikirkan dirinya sendiri," sindir Mamanya dengan menjelekkan Bintang dihadapan mereka.
"Pemalas mau pun rajin yang jelas aku bisa masak untuk kalian, sedangkan dia? Dia hanya tukang perintah yang sifatnya tak kalah jauh seperti anda jadi sama-sama deal kan kita?"balas Bintang yang tak ingin diam ketika harga dirinya terinjak olehnya.
"Kamu? Berani sekali kamu membangkang perkataan Mama? Kamu lihat kan Tristan dia sudah mulai berani?"
"Sudahlah Sandra jangan diladeni, aku ingin mandi jadi aku tingal dulu,"balas Tristan yang ingin pergi, langkahnya terhenti setelah Sandra yang menghalanginya.
"Oh iya sayang mumpung aku ingat, tadi ada pengantar paket yang mengantarkan undangan ini ke kamu? Katanya ini undangan dari salah satu rekan bisnis kamu?"ucap Sandra dengan memberikan satu lembar undangan itu.
"Undangan, siapa yang memberikan undangan ini? rekan bisnis yang mana?"gumamnya kemudian ia segera membuka lembaran putih tersebut.
Segera ia pun membuka lembaran putih tersebut. Kemudian membaca satu persatu isi dari undangan yang sudah berada ditangannya.
"Tuan Roland dia kan seseorang yang baru saja kemaren menawarkan rencana kerja sama, jadi dia orang yang memberikan undangan ini. Dan dia mengundang-ku untuk hadir dalam acara hari jadi Perusahaan miliknya malam ini, wah ...tepat sekali tapi enaknya aku datang apa tidak ya. Dan pastinya ini akan memberikan pengaruh besar juga pada diriku sendiri mau pun nama Perusahaan-ku," gumamnya dengan tersenyum sinisnya.
"Ternyata orang seperti mu masih bisa punya pikiran licik juga ya? Ngomong-ngomong berapa banyak orang yang sudah kamu bodoh'i dengan kebohongan dan kelicikan kamu ini?"sindir Bintang beralih Tristan menatapnya dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Sudahlah jangan pedulikan dia, oh iya siapa yang ingin kamu ajak sayang aku atau Si Bintang ini?"tanya Sandra.
"Sandra? Kenapa kamu malah bertanya sih, kan pasti udah sangatlah jelas jika kamulah orang yang sangat cocok berdampingan dengan Tristan di-acara tersebut, jadi kenapa kamu malah bertanya lagi?"balas Mama mertuanya dengan membelai rambutnya.
"Apa Mama serius jika akulah yang paling cocok untuk datang kesana?"tanya Sandra.
"Iya sayang kamulah yang paling cocok sedangkan Bintang dia hanyalah wanita kampung jika Tristan mengajaknya yang ada Tristan malah akan dibuat malu olehnya nanti," ucap Mamanya Tristan yang dengan percaya dirinya slalu membanggakan Sandra ketimbang Bintang.
"Maaf Ma tapi kayaknya kali ini aku akan mengajak Bintang karena selama ini orang-orang taunya Bintang lah Istriku jadi mana mungkin aku bisa mengajak Sandra yang ada orang-orang akan berfikiran seperti apa nanti?"
"Ide bagus dan aku setuju sama ucapan kamu, ya sudah aku ingin ingin siap-siap jadi tunggulah aku,"ucapnya yang tanpa berkata ia segera pergi dari pandangan ketiganya. Tristan yang melihatnya ia nampak melongo dibuatnya.
"Itu Wanita kenapa bisa sepede itu? Kita belum berkata apa-apa tapi lihat'kan kan seperti apa reaksinya itu?"kesal Sandra.
"Sudahlah jangan hiraukan dia, aku juga ingin siap-siap jadi aku tingal dulu,"balas Tristan yang kemudian ikut menyusul pergi dari pandangan mereka.
"Sudahlah sayang jangan ambil hati, kali ini dia yang menang tapi lihatlah saja nanti Mama ada ide untuknya,"balas Mamanya dengan tersenyum sinis kearah Sandra, Sandra yang paham ia hanya membalas senyuman itu.
"Malam ini Tristan mengajakku datang ke'pesta itu, otomatis aku harus dandan rapi dan berpakaian mewah, sedangkan aku jarang mengenakan pakaian yang bisa dibilang serba mewah.
Terlihat raut wajahnya yang terlihat kebingungan, menatap satu persatu pakaian yang sudah pada berserakan lantaran tidak kunjung menemukan apa yang ia inginkan. Tak lama pandangan Bintang teralihkan pada satu gaun putih yang terlihat mewah dan megah. Ingat jika gaun ini pertama ia pakai dulu. Tak ingin berfikir lama dengan segera ia mengambilnya dan memakainya pada saat ini juga.
Malam yang sunyi dengan adanya angin sepoi-sepoi yang berhasil menusuk kulitnya yang membuatnya terasa sangatlah dingin. Akan tetapi bintang tidak memperdulikan semua itu. Ia menatap kearah langit dan melihat bintang-bintang yang bersinar terang sangatlah indah jika dipandang dan tak mungkin untuk abaikan begitu saja.
Langkahnya yang tadinya berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti, kini langkah itu pun terhenti sembari menyaksikan pemandangan yang sangat indah ini.
Dengan balutan gaun berwarna putih yang membalut tubuhnya dan membuatnya tambah semakin cantik berbeda dari Bintang yang sebelumnya.
Tristan yang tadinya sibuk berbicara dengan Sandra dan Mamanya. Tak berapa lama pandangannya pun teralihkan setelah ia melihat seorang wanita yang berjalan dengan anggun menuju kearahnya.
Mulut yang seketika terkunci, bahkan mata yang tak terlihat mengedipkan sekali pun, perlahan-lahan ia mulai menghampirinya hinga menatapnya hinga dari ujung kaki sampai ujung kepala.
__ADS_1
"Kamu?" ucap Tristan yang nampak gelagapan.
"Kenapa? Apa penampilan saya ini sangat berlebihan?" tanya Bintang yang merasa bingung lantaran Tristan sedari tadi hanya menatapnya tanpa berkata sepatah kata pun padanya.
"Astaga aku benar-benar tidak bisa menyangka kalau Bintang akan secantik ini kalau dia berdandan," batinnya yang kemudian ia pun membalasnya.
"Aku tahu Tristan bertingkah seperti ini karena dia pasti terpesona sama kecantikan-ku ini dan kabar baiknya maka itu artinya aku tidak akan sudah untuk menjebaknya agar ia bisa mencintaiku dan melupakan Sandra nantinya " batinnya dengan berbangga diri.
"Kamu? Punya uang darimana kamu bisa membeli gaun secantik ini. Harusnya orang seperti-mu itu tidak cocok memakai gaun secantik ini, jadi cepat gantilah disana ada banyak orang jadi jangan bikin malu cepat ganti!" gertak Sandra spontan Bintang yang mendengarnya pun sama sekali tidak memperdulikannya.
"Apa kamu tidak salah bicara. Bukankah jika ada banyak orang sudah seharusnya aku berdandan cantik seperti ini. Dan kamu? Saya membeli dengan uang saya sendiri, jadi cocok atau pun tidak itu urusan saya apa anda paham! Atau mungkin kamu takut jika Suami kamu ini perlahan-lahan akan mencintaiku?" balasnya dengan tatapan sinisnya.
"Dia ...Dia berani sekali membantah-ku, awas saja nanti.
"Sandra kamu tuh kenapa sih aku rasa apa yang dikatakan Bintang benar lagi dia sudah sangat cocok mengenakan pakaian itu, jadi apa yang menurut kamu kurang cocok?"timpal Tristan yang nampak kebingungan.
"Tristan kok malah membelanya Wanita ini sih?"tanya Mamanya dengan muka geramnya.
"Sudahlah Ma, menurutku apa yang dikenakan sudah lebih dari cocok untuknya jadi jangan memperpanjang masalah, ini waktunya sudah sangat mepet jadi cepat ayo kita berangkat!" perintah Tristan yang terlebih dulu jalan, sedangkan Bintang yang melirik kearah kedua Wanita siluman itu hanya menunjukkan tatapan senyum liciknya. Dan berlalu ia pun mengikuti langkah Tristan masuk kedalam mobilnya.
"Ma lihat Tristan sepertinya sudah bisa menerima Istri sialnya itu jadi apa yang harus Sandra lakukan apa?"
"Sayang, ingat kamu harus sabar memang kali ini kemenangan berada dalam pihaknya tapi sadarlah ini tidak akan berangsur lama jadi tenanglah sayang tenang,"ucapnya mencoba menenangkan Sandra.
"Baiklah Ma kali ini Sandra akan sabar, tapi bukan Sandra namanya bukan Sandra akan menyerah dalam pertarungan ini. Aku punya ide jadi Mama lihatlah apa yang akan terjadi dalam pesta itu,"timpalnya dengan berbalik menunjukkan senyum sinisnya.
SEKALIAN IJIN PROMO KARYA TEMANKU YA DIJAMIN CERITANYA BAKAL NAGIH KARENA JALAN CERITA SULIT UNTUK DITEBAK. YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰🥰
BERIKUT BLURNYA
__ADS_1
BERSAMBUNG.