
"Inilah akibatnya karena kamu sudah dengan beraninya menggagalkan rencana ku. Sekarang kamu sudah tidak berdaya lagi bahkan untuk jalan kamu sudah tidak sanggup lagi jadi apa kamu masih sanggup untuk menolong Wanita mu itu. Oo iya atau mungkin kamu mau melihat dia ikut terluka seperti yang kamu alami sekarang ini," ucapnya dengan tersenyum sinis.
"Jangan berani kamu mendekatinya atau aku akan bertindak kasar sama kamu berhentilah!"teriaknya sembari tangannya yang mengepal perutnya.
"Ooo ancaman yang sangat menakutkan. Dan aku menjadi takut dengan ancaman kamu itu?"
Selangkah Rafa berniat akan berniat ingin mencelakai Bintang, sedangkan Tristan yang serasa tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk berdiri ia dengan berusaha bangkit berlari kearah pisau yang barusan ia buang, datang dan mendekap tubuh Bintang dari pelukannya.
Rafa yang sudah ancang-ancang sedari tadi berniat ingin menusukkan pisau ini, lagi-lagi tusukan itu telah salah sasaran dan tepat mengenai Tristan yang dimana ia telah mendekap tubuh Bintang sedari awal.
Tak kalah, Tristan yang secara diam-diam membawa pisau dirinya seketika langsung menusukkan pisau itu tepat pada perut Rafa. Rintihan sakit sama-sama terdengar dari mulut keduanya, tak hanya satu tusukan Tristan kemudian menusukkan beberapa tusukan lagi tepat mengenai perut Rafa yang membuat diri Rafa tak kalah tragis.
"Kamu sendiri yang menginginkan semua ini Raf! Kamu sudah berani menyakiti Wanita yang sangat aku sayangi maka itu artinya kamu sendiri yang menginginkan akan ajalmu."
Tubuh Rafa yang seketika ikut merosot kebawah, berlumuran banyak darah hinga membuat dirinya tak mampu untuk berkata sepatah kata lagi, disisi lain Tristan yang juga mengalami luka sangat parah.
Rasa sakit yang tidak tertahan telah ia rasa, dengan berusaha ia mendekap dan terus mendekap tubuh yang seketika mati rasa bahkan tenaga yang sedari tadi ia keluarkan untuk bertahan. Pelan-pelan tubuh Tristan akhirnya merosot kebawah menyusul akan Rafa dan pelukan yang ia lakukan perlahan-lahan mulai terlepas kebawah.
__ADS_1
Kedua mata yang tadinya sama-sama terbuka dengan lebar, kini dalam hitungan detik pejaman mata itu mulai kusut. Meringis kesakitan dilantai dengan banyak darah yang keluar hinga mengotori lantai ruangan ini.
Sedangkan Andra dan Andara yang kebetulan datang tepat waktu dan melihat Tuannya tergeletak tidak berdaya dilantai dengan bersimbah darah, segera ia merangkulnya.
"Astaga Tuan apa yang terjadi kenapa Tuan bisa terluka separah ini apa yang terjadi. Tuan yang kuat aku akan segera meminta bantuan jadi Tuan harus kuat!"
"Jangan, kamu tidak perlu susah-susah melakukan itu karena mungkin ini adalah saatnya aku untuk pergi.
"Tuan. Apa yang Tuan katakan kenapa Tuan berkata seperti itu. Aku yakin Tuan pasti kuat dan bisa melewati semua ini jadi aku mohon bertahanlah! Bertahanlah demi nyonya Bintang aku mohon!"
"Innalilahi wa innailaihi rojiun dia telah meninggal,"ucap Andra.
"An ..dara ini mungkin, terakhir kalinya Kakak memandang-mu, jadi kamu bersedia kan mengabulkan permintaan terakhir Kakak ini. Kaka minta jika nanti kakak sudah tiada donorkan lah kedua kornea mata Kakak buat Kak Bintang. Dan Kakak minta jangan beritahu dia jika kakak lah orang yang mendonorkan kornea mata ini untuknya apa kamu bersedia?"
"Kak Tristan jangan berkata seperti itu, jika Kakak tiada siapa yang akan menjaga Andara siapa? Tidak! Andara tidak akan pernah melakukannya tidak akan!"ucap Andara dengan diiringi suara tangisannya.
"Andra kamu adalah asistenku yang sudah aku anggap sudah seperti saudara kandungku sendiri, jadi apa kamu tidak keberatan jika aku minta kamu jagain Andara seperti kamu menjagaku setiap hari, kamu tidak keberatan kan?"
__ADS_1
Belum juga Tristan berkata lagi, tubuhnya tiba-tiba menjadi gemeteran, keringatnya yang tiba-tiba keluar , bahkan wajahnya yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi sangatlah pucat setelah dia mencoba menahan rasa sakit yang sedari tadi ia tahan akibat pisau yang berhasil menembus perutnya, pandangan mata juga mulai rabun, rasanya sudah tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun lagi, melihat Tristan yang sedari tadi terdiam dan orang-orang yang melihatnya tambah semakin panik.
"AH!" ucap Tristan yang menahan rasa sakit. Dan tak mampu menahan dirinya lagi, yang akhirnya membuat dirinya pun terjatuh dipangkuan Adiknya. Melihat hal ini tidak ada kata lain yang bisa diucapkan oleh Andara terkecuali dia hanya bisa menangis
"Aku mohon bertahanlah Kak aku mohon!"ucap Andara yang tak bisa menghentikan air matanya..
Tak bisa banyak yang dilakukan, orang-orang sekarang yang melihat Tristan seperti ini, mereka hanya bisa menangis.
Akan tetapi tuhan berkehendak lain, Perlahan-lahan nafas Tristan mulai sesak, Andra yang melihat kondisi Tristan tambah semakin parah, dengan berat hati dia pun membantunya untuk mengucapkan sebuah kata.
"Tuan ikuti ucapanku, Asyhaduallla illaha ilallah, waashaduanna muhammad darrasuallah, Ikuti sampai ketiga kali.
Setelah berat hati Andra perlahan-lahan membantu Tristan untuk bisa mengucapkan lafal tersebut. Setelah tiga kali ia mengikutinya dengan suara terbata-bata ia pun akhirnya bisa mengucapkan lafal tersebut, perlahan-lahan Tristan pun mulai memejamkan matanya.
Tangisan Andara mau pun Andra pun seketika pecah ketika melihat orang yang paling dia sayangi telah pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Dan dipangkuan Adiknya Tristan pejamkan matanya untuk selama-lamanya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1